Selasa, 10 Maret 2009

Coldplay vs Radiohead—And The Winner is Nobody…(or Dollar?)

Britrock – beberapa menyebutnya britpop – barangkali hanyalah salah satu fenomena dalam dunia musik, entah di Inggris maupun di dunia. Tidak begitu jelas dari mana sebenarnya asal muasal aliran ini. Sama seperti berbagai jenis musik yang lain, aliran ini muncul sebagai akibat pengaruh banyak jenis musik. Britrock mengambil berbagai elemen – terutama dari musik rock – yang banyak mendominasi di Inggris, dari psychelic rock, hard rock, blues, jazz, third wave, bahkan punk. Boleh dibilang, aliran ini merupakan “alternative rock” asli Inggris, berpadanan dengan aliran grunge di Amerika

Sebagai aliran, britrock muncul pada era ketika teknologi komputer sedang naik daun dan kejenuhan atas perang dingin sedang memuncak. Pada waktu itu, katakanlah awal 1990-an, musik di Inggris didominasi oleh semacam ”gerakan retro” yang mencoba menggali tradisi rock asli Inggris ke dalam dapur rekaman. Jika ditanya, mereka sering menyebut nama-nama ”dinosaurus rock” sebagai patron atau kiblat, seperti Pink Floyd, Led Zeppelin, Beatles, Rolling Stones, Cream, King Crimson, Genesis, Yes, U2, dan sebagainya.

Ada beberapa nama band yang patut disebut sebagai pengusung aliran britrock ini, seperti Oasis, Blur, Suede, Travis, dan Radiohead. Menjelang tahun 2000-an, muncul nama seperti Coldplay dan pada masa-masa selanjutnya muncul Muse dan Artic Monkeys.

Apa yang dapat diceritakan mengenai band-band itu? Barangkali ini: ada 2 nama yang ternyata masih “nyangkut” dalam ajang penganugerahan Grammy Award 2009 yang digelar pada 8 Februari 2009 yang lalu. Kedua nama itu adalah Radiohead – yang boleh dibilang sudah out of date dari segi “umur” – dan Coldplay – yang boleh dibilang sedang berada di puncak (atau justru sedang mulai memasuki siklus “menurun”?)

Ada yang sedikit luput dari perhatian peminat music rock umumnya dan musik britrock pada khususnya dari ajang penganugerahan Grammy Award 2009 tersebut. Dua raksasa Inggris tersebut – Coldplay dan Radiohead – sama-sama mendapat nominasi yang cukup banyak berdasarkan penilaian pada album terbaru mereka masing-masing: Viva la Vida or Death and All His Friends (Coldplay) dan In Rainbows (Radiohead). Coldplay mendapat nominasi untuk 7 kategori, sementara Radiohead mendapat nominasi untuk 4 kategori (sebenarnya, 4 kategori tidaklah terlalu banyak. Namun, untuk musisi “tua” sekelas Radiohead, jumlah itu termasuk banyak).

Di luar masalah kategorisasi yang agak rumit – dan sedikit banyak membingungkan orang awam (termasuk saya) – tentunya banyak hal lain yang menjadi pertimbangan. Tentunya, kita bisa bertanya-tanya: mengapa lagu “House of Cards” Radiohead bisa menjadi salah satu nominasi Best Rock Song (bersama dengan “Violet Hill” Coldplay), sementara album yang menjadi “rumah” bagi lagu tersebut – In Rainbows – justru tidak dinominasikan dalam kategori Best Rock Album (tetapi malah dinominasikan dalam Best Alternative Music Album)? Memang, hal-hal macam ini sering menjadi misteri yang hanya diketahui oleh para juri/panitia Grammy dan Tuhan sendiri.

Pada kategori di mana keduanya memperoleh nominasi bersama-sama, siapa yang akan unggul: Coldplay atau Radiohead? Mereka mendapatkan kategori yang sama pada kategori-kategori ini: Album of the Year (album baru dari masing-masing band), Best Rock Performance By A Duo Or Group With Vocals (“Violet Hill” untuk Coldplay dan “House of Cards” untuk Radiohead), dan Best Rock Song (“Violet Hill” untuk Coldplay dan “House of Cards” untuk Radiohead).

Apa kesan yang muncul ketika kita mendengar kedua album tersebut? Kesan pertama: In Rainbows-nya Radiohead memang tetap memperlihatkan watak asli band yang dikomandani Thom Yorke. Konsisten. Begitu lugas, tanpa tedeng aling-aling. Nomor-nomornya tidak begitu berbeda dengan album sebelum ini, “Hail to the Thief” – bahkan menurut saya, In Rainbows lebih depresif dan skizofrenik. Jika Hail to the Thief masih menyimpan nomor “lembut-reflektif” seperti “Sail to the Moon”, album baru ini seolah hampir tidak menyisakan lagi kesempatan para pendengar untuk sedikit mengambil napas.

Viva la Vida memang sangat eksperimental dan inovatif. Chris Martin mencoba beberapa bebunyian baru – termasuk organ gereja dalam nomor “Lost”, nomor yang cukup ngepop dalam album ini. Lirik-liriknya “sangat politis”, yang menyuarakan kejatuhan suatu imperium, kematian, dan bahkan perang. Gitar Jonny Buckland pun sangat menawan. Ia semakin “U2” dalam beberapa nomor – kita sebuat saja: semakin agresif.

Namun, secara keseluruhan, Viva tidak jauh beranjak dari sound yang selama ini dimainkan oleh Coldplay. Bebunyian musik mereka tetap muncul sebagai kombinasi nada-nada segar dan “pop” yang sangat kontras dengan apa yang dilakukan oleh Radiohead. Namun, bagi penikmat musik “rock” pada umumnya, Viva dan album-album Coldplay lainnya tetap merupakan wakil yang cukup representatif dan segar dari musik rock kontemporer.

Zaman sudah berubah. Kita memang tidak dapat lagi menikmati zaman-zaman ketika Led Zeppelin memainkan nomor-nomor indah yang merupakan paduan antara hard rock dan blues yang sangat kental.

Namun, apa yang terjadi pada Grammy Award 2009 kemarin? Siapa yang menang antara Coldplay versus Radiohead? Ternyata, keduanya tidak menang duel di mana mereka bertemu dalam satu kategori. Konyol. Grammy Award untuk kategori di mana mereka saling bertemu justru dimenangkan oleh artis/musisi lain. Tentu saja, mereka mendapat “jatah” Grammy masing-masing, namun tidak dalam kategori di mana mereka saling bertemu (Apakah kita boleh berpikir bahwa ini adalah hasil “ilmu sulap” panitia? Tentu spekulasi semacam itu bukanlah sesuatu yang diharamkan).

Coldplay meraih Grammy untuk 3 kategori: Song of The Year (Viva La Vida), Best Pop Performance by a Duo or Group with Vocals (Viva La Vida), dan Best Rock Album (Viva La Vida or Death and All His Friend). Sementara itu, Radiohead memperoleh 2 Grammy untuk Best Alternative Music Album (In Rainbows) dan Best Boxed Or Special Limited Edition Package (In Rainbows – Grammy ini sebenarnya diperuntukkan untuk para art director album tersebut ketimbang untuk Radiohead sendiri).

Panitia atau para juri Grammy tampaknya lebih merasa aman jika “memenangkan” kedua band di kategori-kategori di mana keduanya tidak berduel. Secara tidak langsung para juri Grammy mengakui bahwa keduanya “juara” di kategori yang berbeda.

Dari “pengakuan” ini – jika memang benar begitu – apakah ini harus ditafsirkan dari sudut yang 100% murni musik atau terkait dengan bisnis? Keduanya tampak sangat masuk akal. Secara musikal, Grammy tetap mengakui bahwa kedua pengusung britrock tetap mempunyai sesuatu – katakanlah kualitas – yang dapat ditawarkan kepada kuping-kuping penikmat musik rock pada umumnya, walau dengan 2 kategori berbeda: “rock murni” (untuk Coldplay) dan “alternative rock” (untuk Radiohead).

Panitia Grammy – boleh dibilang “para dewa” dalam bisnis musik – tidak ingin membunuh selera musik sebagian besar penggemar musik dunia. Ini pun berarti pengakuan bahwa aliran britrock masih kuat bercokol baik dalam bisnis musik maupun di dalam relung-relung telinga para penikmat musik. Britrock masih merupakan magnet atau semacam gaya bermusik bagi musisi-musisi dunia. Sementara itu, katakanlah Amerika, lebih banyak memproduksi musik yang lebih bersifat “trash metal” (entah model Metallica atau yang lain) atau berlabel “hip metal”, “nu metal” “atau juga “nu rock”.

Jika diamati, kedua band memang berhasil menggiring telinga penikmat musik rock. Radiodhead bermain di telinga para penikmat yang lebih menyukai cita rasa rock yang lebih “suram”, “muram”—kalau tak bisa dibilang: “keras”, sementara Coldplay menguasai telinga para penikmat musik rock yang lebih enjoy dengan bebunyian yang lebih soft atau fresh. Namun, “kekerasan” musikalitas Radiohead tidak bertumbuh menjadi semacam “metal” seperti yang dijual oleh band-band Amerika (Limp Bizkit, misalnya). Radiohead lebih dapat dilihat sebagai “Pink Floyd zaman internet”: sesuatu yang lebih enigmatik dan maskulin, tetapi tetap aman dimainkan di kamar-kamar tidur. Sementara itu, Coldplay memenuhi benak orang sebagai band “pop rock pasca perang dingin”. Ia tidak terkesan murahan, tetapi tetap jauh lebih “feminim” ketimbang Radiohead. Ia memainkan sesuatu yang rock, tetapi bukan Pink Floyd, apalagi Led Zeppelin. Ia semacam Beatles – kebetulan personilnya sama-sama berjumlah 4 orang – yang lahir kembali lewat mesin-mesin digital.

Pengakuan dari Grammy pun cukup penting dari segi bisnis. Coba lihat band-band Indonesia seperti Dewa19, Padi, Peterpan, Sheila on 7, Nidji, Ungu, Samsons. Orang lebih mudah mengasosiasikan band-band tersebut dengan semacam “band britrock” ketimbang band metal. Bayangkan jika ikon atau simbol dari band-band tersebut (baca: bisnis musik lokal, seperti di Indonesia) “dimatikan” dengan cara tidak dimenangkan dalam suatu ajang sekelas Grammy, apa yang terjadi? (Ini mungkin berlebihan. Jawabannya: mungkin tidak terjadi apa-apa. Indonesia punya aura, kultur, dan kuping tersendiri, yang berbeda dengan apa yang ada di Inggris dan Amerika).

Itu berarti, musik ala band-band Inggris (alias britrock) masih akan tetap laku diproduksi dan dijual di seluruh dunia (termasuk di Indonesia) karena ada pengakuan bahwa musik semacam itu masih di atas angin; inilah suatu pengakuan yang menggabungkan unsur yang murni musik dan unsur bisnis. Selain itu, kedua album dari dua band tersebut untuk pertama kalinya dirilis di luar label raksasa yang biasa memayungi karya-karya mereka selama ini: EMI. EMI memang raksasa. Kesukseskan mantan “anak asuh” EMI – di luar haribaan pelukan EMI – patut dirayakan oleh “musuh-musuh” mereka di Amerika. Itu adalah hukuman untuk EMI (“kompetitor dari Inggris”). Entah hal yang terakhir ini benar atau tidak.

Barangkali, di balik perang antara Coldplay dan Radiohead, kita juga bisa menyimpulkan bahwa pemenang di antara kedua band tersebut adalah: cita rasa seni yang murni dan tulus serta sedikit cita rasa dollar (?)…***

Daftar Lengkap Pemenang Grammy Award 2009

http://en.wikipedia.org/wiki/51st_Grammy_Awards

http://www.billboard.com/bbcom/news/plant-krauss-coldplay-wayne-score-grammy-1003939582.story

Kamis, 29 Januari 2009

Nubuat "Helter Skelter" Charles Manson, Barack Obama, dan Indonesia

Setelah Barack Obama diambil sumpahnya pada 20 Januari 2009 yang lalu – dan sumpahnya diulangi karena ada kesalahan “kecil” pada keesokan harinya – Amerika Serikat secara resmi membuka lembar sejarah baru: memiliki presiden keturunan Afro-Amerika yang pertama.

Sebagai orang luar, kita mungkin tidak begitu mampu menyelami perasaan atau emosi campur-aduk yang sudah pasti dialami oleh banyak warga negara Paman Sam tersebut. Bayangkan, salah satu negara yang cukup “rasis” di dunia, ternyata terbukti dapat melampaui penghalang atau batu sandungan yang selama ini menghantui kehidupan bermasyarakat di sana: warna kulit. Rasisme berdasarkan warna kulit memang hanya merupakan salah satu bentuk rasisme – juga termasuk salah satu saja di Amerika – di samping hal-hal lain. Namun, rasisme jenis ini terbukti yang sukar punah dan “paling betah” bercokol di dalam benak manusia, entah di Amerika Serikat maupun bukan.

Gerakan Ku Klux Klan adalah salah satu bentuk kelompok atau kegiatan rasis yang cukup lama bertahan dan juga cukup terkenal di Amerika Serikat. Di samping gerakan tersebut, masih banyak gerakan-gerakan yang lain. (Bagi yang ingin mengetahui lebih jauh tentang rasisme di Amerika Serikat, klik di sini



Semua gerakan tersebut – walaupun dapat dikategorikan sebagai “anti-kulit hitam” – memiliki latar belakang ideologi yang cukup beragam: dari yang hanya sekadar anti-kulit hitam sampai yang “meramalkan” kebangkitan kaum kulit hitam.

Ketika Obama selesai membacakan sumpahnya, saya teringat dengan salah satu film yang pernah saya tonton beberapa tahun sebelumnya: “Helter Skelter” (2004). Film ini dibuat berdasarkan suatu buku yang ditulis oleh Vincent Bugliosi, seorang jaksa. Bugliosi adalah jaksa yang mengajukan kasus yang sangat terkenal. Kasus Helter Skelter, atau Kasus Pembunuhan Tate-LaBianca, atau Kasus Charles Manson



Charles Manson barangkali seorang psikopat. Ia banyak mengambil bahan-bahan bagi “nubuat gila”-nya dari lagu-lagu the Beatles dan Alkitab. Dari judul lagu Beatles yang terkenal, “Helter Skelter” (album White Album), dan digabungkan dari berbagai ayat dalam Alkitab (terutama Kitab Wahyu), Manson meramalkan kedatangan suatu perang antar-ras, ras kulit hitam dan ras kulit putih. (Bagi yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai “nubuat Helter Skelter”, silakan klik di sini



Manson menyuruh para pengikutnya untuk membunuh Sharon Tate (yang sedang mengandung) beserta seisi rumahnya dan juga membunuh pasangan LaBianca – semuanya berdasarkan suatu nubuat: nubuat Helter Skelter. Garis besar nubuat yang dilihat oleh Charles Manson adalah sekitar kebangkitan ras kulit hitam di atas kulit putih. Kulit hitam akan menjadi kekuatan yang menindas kulit putih. Pembunuhan yang mereka lakukan menjadi semacam suatu “pertanda” bahwa perang antar-ras tersebut akan dimulai (atau lebih tepat: pembunuhan itulah yang memicu perang tersebut).

Bugliosi awalnya kesulitan mencari motif Charles Manson dan kawan-kawannya. Berdasarkan temuan polisi, sama sekali sulit untuk menentukan siapa yang menjadi dalang pembunuhan Sharon Tate dan pasangan LaBianca. Khusus untuk kasus Sharon Tate, polisi sempat mencurigai seorang centeng rumah Tate dan juga akhirnya sempat mencurigai Roman Polanski, suami Sharon sendiri.



Namun, dari hasil “pengakuan” salah seorang mantan pengikut Manson, Bugliosi baru tahu bahwa Manson – di samping sebagai seorang pemimpin kelompok hippies – juga berperan sebagai seorang “nabi” bagi kelompok tersebut. Sebagai “nabi”, ia banyak mencomot dan menafsirkan lirik lagu Beatles dan ayat-ayat Alkitab (terutama Kitab Wahyu). Hasil comotan dan tafsiran tersebut berujung pada nubuat perang antar-ras tadi. Dari situlah, Bugliosi memperoleh motif — jika tidak, Bugliosi sama sekali tidak punya kasus apa-apa. (Bagi yang ingin mengetahui Charles Manson dan kasus pembunuhan Tate-LaBianca, silakan klik di sini



Itu terjadi pada tahun 1969. Bagaimana sekarang? Entah apa komentar Manson ketika memandang seorang presiden “kulit hitam” yang kini “menduduki” White House. Apakah Barack Obama merepresentasikan suatu supremasi kulit hitam terhadap kulit putih? Barangkali, dalam pikiran Manson, memang demikian. Tidak masuk akal bagi orang seperti Manson bahwa ada seorang kulit hitam bisa menjadi presiden dari sebuah negara yang mayoritas penduduknya kulit putih – seperti Amerika Serikat.

Manson boleh berpendapat bahwa nubuat “Helter Skelter”-nya sudah atau hampir digenapi. Itu Charles Manson, seorang yang mungkin agak psikopat. Namun, bagaimana dengan kita yang “lebih normal” daripada Manson? Apakah kita punya fobia semacam itu atau malah mengidap psikopat yang sama? Kalau iya, berarti kita boleh menjadi pengikut Charles Manson (hehehehe….).

Tapi, tidak. Saya berharap, kita tidak rasis, tidak juga psikopat atau menderita sejenis fobia tertentu. Jadi, satu-satunya ketidaksukaan atau ketidaksetujuan yang masuk akal terhadap terpilihnya Barack Obama adalah ketidaksetujuan berdasarkan “alasan politis” tertentu, seperti misalnya: Obama ternyata pro-choice (bahkan mungkin pro-abortionist). Untuk bagian ini, saya benar-benar kontra-Obama. Tapi, ini sebatas alasan politis atau moral yang konkret, bukan warna kulit atau hal lainnya yang tidak relevan.

Lalu, bagaimana di Indonesia? Apakah orang Indonesia menderita semacam rasisme atau fobia tertentu – katakanlah terhadap salah satu ras/suku tertentu? Tentu, sangat disayangkan memang. Sama seperti Manson – semoga tidak separah dia – sikap rasis atau fobia semacam itu memang tampaknya sangat masuk akal, yaitu sejenis akal yang menciptakan tembok-tembok yang menutupi seseorang dari dunia luar. Di dalam tembok – di dalam dunia bentukannya sendiri itu – semuanya tampak masuk akal. Kebencian atau ketidaksukaan berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) menjadi sesuatu yang sangat rasional dan justru mutlak diperlukan. Diperlukan? Ya, diperlukan untuk memapankan dunia fiktif hasil ciptaannya sendiri. Orang semacam ini bukannya tidak mau “sembuh”. Problem mereka adalah bahwa mereka tidak tahu bahwa mereka sebenarnya sedang “sakit”.

Tidak heran jika Manson dan para pengikutnya yang ditahan atas kasus pembunuhan Tate-LaBianca tersebut beberapa kali mengalami penolakan atas permohonan pembebasan bersyarat. Barangkali, mereka yang menolak berpendapat: orang seperti mereka tidak mungkin sembuh, karena toh nyatanya mereka sendiri tidak merasa sakit.

Suara pukulan gendang yang meramaikan Tahun Baru Imlek kemarin membuat kita sadar bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya tidak serasis seperti golongan Ku Klux Klan atau sefobia seperti Charles Manson. Masyarakat Indonesia – syukurlah – sudah agak terbiasa dengan fenomena perbedaan dan relasi antar-suku, ras, dan agama. Ini cukup melegakan.

Namun begitu, isu-isu sensitif terkait pemilihan umum sering mengemuka. Dulu, menjelang pemilu demokratis pertama pasca-tumbangnya Orde Baru – yaitu pemilu tahun 1999 – isu SARA dan gender sempat merebak terkait dengan munculnya salah satu partai dan calon presiden dari partai tersebut. Walaupun mereka yang menyebarkan kebencian terkait SARA dan gender tersebut belum termasuk dalam kalangan “Mansonmaniac” – apalasi sampai melahirkan “nubuat Helter Skelter” – namun tak ayal, hal itu membuat kita sedikit tersadar bahwa masyarakat di sini masih sensitif dengan hal-hal tersebut. Rasisme atas nama SARA dan gender masih seperti “bara dalam sekam”, yang sewaktu-waktu dalam melumat dan membakar struktur sosial yang sudah bagus dibangun oleh para pendiri republik ini. Begitu juga dengan kasus-kasus pembakaran tempat ibadah dan konflik horisontal di berbagai daerah seperti Maluku, Kalimantan, dan sebagainya.

Kita sadar bahwa tidak semua anggota masyarakat Indonesia seterbuka dan setoleran seperti warga kulit putih yang dengan rela dan sadar memilih Barack Obama sebagai pemimpin mereka. Mungkin, untuk mencapai masyarakat yang 100% toleran, kita masih membutuhkan banyak waktu. Dan untuk itu, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Namun, sambil mengerjakan pekerjaan rumah, tentu kita tidak dilarang untuk mendengarkan lagu “Helter Skelter” dari The Beatles:

When I get to the bottom I go back to the top of the slide

Where I stop and I turn and I go for a ride

Till I get to the bottom and I see you again.



Do you, don't you want me to love you

I'm coming down fast but I'm miles above you

Tell me tell me tell me come on tell me the answer

You may be a lover but you ain't no dancer.



Helter skelter helter skelter

Helter skelter.

Rabu, 21 Januari 2009

Text of Obama's Speech for His Inauguration as 44th President

My fellow citizens,

I stand here today humbled by the task before us, grateful for the trust you have bestowed, mindful of the sacrifices borne by our ancestors. I thank President Bush for his service to our nation, as well as the generosity and cooperation he has shown throughout this transition.

Forty-four Americans have now taken the presidential oath. The words have been spoken during rising tides of prosperity and the still waters of peace. Yet, every so often the oath is taken amidst gathering clouds and raging storms. At these moments, America has carried on not simply because of the skill or vision of those in high office, but because We the People have remained faithful to the ideals of our forbearers, and true to our founding documents.

So it has been. So it must be with this generation of Americans.

That we are in the midst of crisis is now well understood. Our nation is at war, against a far-reaching network of violence and hatred. Our economy is badly weakened, a consequence of greed and irresponsibility on the part of some, but also our collective failure to make hard choices and prepare the nation for a new age. Homes have been lost; jobs shed; businesses shuttered. Our health care is too costly; our schools fail too many; and each day brings further evidence that the ways we use energy strengthen our adversaries and threaten our planet.

These are the indicators of crisis, subject to data and statistics. Less measurable but no less profound is a sapping of confidence across our land — a nagging fear that America's decline is inevitable, and that the next generation must lower its sights.

Today I say to you that the challenges we face are real. They are serious and they are many. They will not be met easily or in a short span of time. But know this, America — they will be met.

On this day, we gather because we have chosen hope over fear, unity of purpose over conflict and discord.

On this day, we come to proclaim an end to the petty grievances and false promises, the recriminations and worn out dogmas, that for far too long have strangled our politics.

We remain a young nation, but in the words of Scripture, the time has come to set aside childish things. The time has come to reaffirm our enduring spirit; to choose our better history; to carry forward that precious gift, that noble idea, passed on from generation to generation: the God-given promise that all are equal, all are free, and all deserve a chance to pursue their full measure of happiness.

In reaffirming the greatness of our nation, we understand that greatness is never a given. It must be earned. Our journey has never been one of short-cuts or settling for less. It has not been the path for the faint-hearted — for those who prefer leisure over work, or seek only the pleasures of riches and fame. Rather, it has been the risk-takers, the doers, the makers of things — some celebrated but more often men and women obscure in their labor, who have carried us up the long, rugged path towards prosperity and freedom.

For us, they packed up their few worldly possessions and traveled across oceans in search of a new life.

For us, they toiled in sweatshops and settled the West; endured the lash of the whip and plowed the hard earth.

For us, they fought and died, in places like Concord and Gettysburg; Normandy and Khe Sahn.

Time and again these men and women struggled and sacrificed and worked till their hands were raw so that we might live a better life. They saw America as bigger than the sum of our individual ambitions; greater than all the differences of birth or wealth or faction.

This is the journey we continue today. We remain the most prosperous, powerful nation on Earth. Our workers are no less productive than when this crisis began. Our minds are no less inventive, our goods and services no less needed than they were last week or last month or last year. Our capacity remains undiminished. But our time of standing pat, of protecting narrow interests and putting off unpleasant decisions — that time has surely passed. Starting today, we must pick ourselves up, dust ourselves off, and begin again the work of remaking America.

For everywhere we look, there is work to be done. The state of the economy calls for action, bold and swift, and we will act — not only to create new jobs, but to lay a new foundation for growth. We will build the roads and bridges, the electric grids and digital lines that feed our commerce and bind us together. We will restore science to its rightful place, and wield technology's wonders to raise health care's quality and lower its cost. We will harness the sun and the winds and the soil to fuel our cars and run our factories. And we will transform our schools and colleges and universities to meet the demands of a new age. All this we can do. All this we will do.

Now, there are some who question the scale of our ambitions — who suggest that our system cannot tolerate too many big plans. Their memories are short. For they have forgotten what this country has already done; what free men and women can achieve when imagination is joined to common purpose, and necessity to courage.

What the cynics fail to understand is that the ground has shifted beneath them— that the stale political arguments that have consumed us for so long no longer apply. The question we ask today is not whether our government is too big or too small, but whether it works — whether it helps families find jobs at a decent wage, care they can afford, a retirement that is dignified. Where the answer is yes, we intend to move forward. Where the answer is no, programs will end. And those of us who manage the public's dollars will be held to account — to spend wisely, reform bad habits, and do our business in the light of day — because only then can we restore the vital trust between a people and their government.

Nor is the question before us whether the market is a force for good or ill. Its power to generate wealth and expand freedom is unmatched, but this crisis has reminded us that without a watchful eye, the market can spin out of control — and that a nation cannot prosper long when it favors only the prosperous. The success of our economy has always depended not just on the size of our Gross Domestic Product, but on the reach of our prosperity; on the ability to extend opportunity to every willing heart — not out of charity, but because it is the surest route to our common good.

As for our common defense, we reject as false the choice between our safety and our ideals. Our Founding Fathers, faced with perils we can scarcely imagine, drafted a charter to assure the rule of law and the rights of man, a charter expanded by the blood of generations. Those ideals still light the world, and we will not give them up for expedience's sake. And so to all other peoples and governments who are watching today, from the grandest capitals to the small village where my father was born: know that America is a friend of each nation and every man, woman, and child who seeks a future of peace and dignity, and we are ready to lead once more.

Recall that earlier generations faced down fascism and communism not just with missiles and tanks, but with sturdy alliances and enduring convictions. They understood that our power alone cannot protect us, nor does it entitle us to do as we please. Instead, they knew that our power grows through its prudent use; our security emanates from the justness of our cause, the force of our example, the tempering qualities of humility and restraint.

We are the keepers of this legacy. Guided by these principles once more, we can meet those new threats that demand even greater effort — even greater cooperation and understanding between nations. We will begin to responsibly leave Iraq to its people, and forge a hard-earned peace in Afghanistan. With old friends and former foes, we will work tirelessly to lessen the nuclear threat, and roll back the specter of a warming planet. We will not apologize for our way of life, nor will we waver in its defense, and for those who seek to advance their aims by inducing terror and slaughtering innocents, we say to you now that our spirit is stronger and cannot be broken; you cannot outlast us, and we will defeat you.

For we know that our patchwork heritage is a strength, not a weakness. We are a nation of Christians and Muslims, Jews and Hindus — and non-believers. We are shaped by every language and culture, drawn from every end of this Earth; and because we have tasted the bitter swill of civil war and segregation, and emerged from that dark chapter stronger and more united, we cannot help but believe that the old hatreds shall someday pass; that the lines of tribe shall soon dissolve; that as the world grows smaller, our common humanity shall reveal itself; and that America must play its role in ushering in a new era of peace.

To the Muslim world, we seek a new way forward, based on mutual interest and mutual respect. To those leaders around the globe who seek to sow conflict, or blame their society's ills on the West — know that your people will judge you on what you can build, not what you destroy. To those who cling to power through corruption and deceit and the silencing of dissent, know that you are on the wrong side of history; but that we will extend a hand if you are willing to unclench your fist.

To the people of poor nations, we pledge to work alongside you to make your farms flourish and let clean waters flow; to nourish starved bodies and feed hungry minds. And to those nations like ours that enjoy relative plenty, we say we can no longer afford indifference to suffering outside our borders; nor can we consume the world's resources without regard to effect. For the world has changed, and we must change with it.

As we consider the road that unfolds before us, we remember with humble gratitude those brave Americans who, at this very hour, patrol far-off deserts and distant mountains. They have something to tell us, just as the fallen heroes who lie in Arlington whisper through the ages. We honor them not only because they are guardians of our liberty, but because they embody the spirit of service; a willingness to find meaning in something greater than themselves. And yet, at this moment — a moment that will define a generation — it is precisely this spirit that must inhabit us all.

For as much as government can do and must do, it is ultimately the faith and determination of the American people upon which this nation relies. It is the kindness to take in a stranger when the levees break, the selflessness of workers who would rather cut their hours than see a friend lose their job which sees us through our darkest hours. It is the firefighter's courage to storm a stairway filled with smoke, but also a parent's willingness to nurture a child, that finally decides our fate.

Our challenges may be new. The instruments with which we meet them may be new. But those values upon which our success depends — honesty and hard work, courage and fair play, tolerance and curiosity, loyalty and patriotism — these things are old. These things are true. They have been the quiet force of progress throughout our history. What is demanded then is a return to these truths. What is required of us now is a new era of responsibility — a recognition, on the part of every American, that we have duties to ourselves, our nation, and the world, duties that we do not grudgingly accept but rather seize gladly, firm in the knowledge that there is nothing so satisfying to the spirit, so defining of our character, than giving our all to a difficult task.

This is the price and the promise of citizenship.

This is the source of our confidence— the knowledge that God calls on us to shape an uncertain destiny.

This is the meaning of our liberty and our creed — why men and women and children of every race and every faith can join in celebration across this magnificent mall, and why a man whose father less than sixty years ago might not have been served at a local restaurant can now stand before you to take a most sacred oath.

So let us mark this day with remembrance, of who we are and how far we have traveled. In the year of America's birth, in the coldest of months, a small band of patriots huddled by dying campfires on the shores of an icy river. The capital was abandoned. The enemy was advancing. The snow was stained with blood. At a moment when the outcome of our revolution was most in doubt, the father of our nation ordered these words be read to the people:

"Let it be told to the future world...that in the depth of winter, when nothing but hope and virtue could survive ... that the city and the country, alarmed at one common danger, came forth to meet [it]."

America. In the face of our common dangers, in this winter of our hardship, let us remember these timeless words. With hope and virtue, let us brave once more the icy currents, and endure what storms may come. Let it be said by our children's children that when we were tested we refused to let this journey end, that we did not turn back nor did we falter; and with eyes fixed on the horizon and God's grace upon us, we carried forth that great gift of freedom and delivered it safely to future generations.

Thank you. God bless you. And God bless the United States of America.

Sumber: http://www.msnbc.msn.com/id/28751183/

Selasa, 09 Desember 2008

Mata Dunia

Sekilas meninjau Mata Dunia yang lain...(baru uji coba)
Enjoy...

Kamis, 11 September 2008

Blakanis: Agama Kejujuran Arswendo Atmowiloto


Judul: Blakanis
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Novel, fiksi
Tahun Terbit: 2008
Tebal: 288 halaman

Barangkali, kini sedang musimnya muncul agama-agama baru. Bersamaan dengan Ayu Utami yang mengusung Nabi Parang Jati, Arswendo Atmowiloto pun juga mengusung agamanya sendiri, dengan seorang nabi: Ki Blaka.

Tampak sekilas, selepas dari hotel “prodeo” dulu, Arswendo Atmowiloto memiliki arah yang khusus dalam menulis. Entah bagaimana saya dapat menyebut ciri-corak tulisan-tulisan dia sekeluarnya dia dari “hotel Cipinang”. Ini bukan berarti ada perubahan dalam gaya penulisannya. Tidak. Tidak begitu. Arswendo tetap muncul dengan gayanya yang khas – khas Wendo-an, begitu mungkin istilahnya. Namun, ia seperti memiliki sudut pandang – atau energi – baru dalam menyikapi dunia.

Coba lihat tulisan-tulisannya seperti Menghitung Hari, Abal-Abal, Kisah Para Ratib, Oskep, dan sebagainya. Entah bertema “kepenjaraan” maupun bertema “spiritualitas”, Wendo muncul menjadi figur yang agak berbeda dengan misalnya pada masa-masa Canting, Dua Ibu, atau apalagi Senopati Pamungkas.

Blakanis adalah semacam manifesto – begitu kalau saya boleh membaptis novel ini. Keluar bersama “Horeluya” (dengan penerbit yang sama, spiritualitas yang sama, gaya yang sama, tetapi dengan bungkus yang “lebih Katolik”), “Blakanis” menawarkan semacam kesegaran dari tema spiritualitas yang berumur sudah sangat tua: kejujuran. Ini sebuah manifesto mengenai kejujuran atau tepatnya: hidup jujur. Dalam bahasa Jawa, blaka (baca: “blo-ko”) memang berarti terbuka, jujur, apa adanya, blak-blakan.

Jika di atas disebut sepintas novelnya Ayu Utami, Blakanis-nya Arswendo tidak menawarkan seorang santo seperti Parang Jati-nya Ayu. Parang Jati-nya Ayu adalah seorang kudus yang tampan-rupawan yang harus menanggung dosa dunia, sementara Ki Blaka-nya Arswendo jauh dari kesan “cakep” dan ia tidak merasa harus menanggung dosa siapa-siapa. Ki Blaka adalah semacam nabi yang rumahnya berada persis di sebelah rumah kita masing-masing (dalam novelnya, ia tinggal di semacam bedeng yang berada di daerah Karawang-Bekasi, atau Jawa Barat dan sekitarnya). Memang, ia digambarkan seperti Yohanes Pembaptis – menggunakan tongkat dan berpakaian sederhana (persisnya: selimut bekas dari rumah sakit – namun, toh, bukan itu kesaktian dari nabi barunya Arswendo ini.

Ki Blaka memulai sesuatu yang baru, walaupun tidak terlalu orisinal: hidup dengan jujur. Ia mempraktikkan apa yang dikatakannya. Ia berbicara jujur, blak-blakan, blaka. Jangan kaget, saking jujurnya, ia bahkan berterus terang ingin memegang payudara seorang “pengikut”-nya yang cantik, putih, dan molek, Ai. Dan sebagai pengikut yang baik, Ai pun tidak ragu untuk berkata jujur bahwa ia juga bukan hanya tidak keberatan, tetapi bahkan bersedia “meneteki Ki Blaka.”

Apakah ini semacam agama postmodern atau cuma semacam trend sesaat? Tampaknya iya. Tapi, tampaknya juga tidak. Ki Blaka tidak berniat membentuk agama, tetapi ia menetapkan aturan main: semua orang yang mau mengobrol dengan dia di “padepokan”-nya harus mau berkata jujur.

Bersabdalah Ki Blaka: “Musuh utama kejujuran bukanlah kebohongan, melainkan kepura-puraan. Baik pura-pura jujur atau pura-pura bohong.” Ia tidak memaksa orang untuk jujur. Kejujuran yang dipaksakan bukan merupakan kejujuran lagi, tetapi sudah jatuh ke dalam kepura-puraan.

Kejujuran bukan sesuatu yang hebat dan bagus dalam dirinya sendiri. Orang tidak dapat jujur karena mau memperoleh sesuatu: kesehatan, pelepasan jiwa, atau bahkan kebenaran. Kejujuran yang sejati adalah tanpa pamrih.

Jamil Akamid contohnya. Ia mengira, Ki Blakanis akan mendukungnya karena ia akan berkata jujur – sejujur-jujurnya – mengungkapkan nama, peristiwa, besarnya jumlah uang yang “terlibat” dalam kasusnya. Ia merasa akan menjadi semacam whistle blower yang akan menyingkapkan kebusukan birokrasi di negeri ini, karena ia akan berkata jujur; ia akan membuka semuanya. Ia juga berharap, jika ia membuka mulut, ia bisa lepas dari beban yang dideritanya, baik jasmani maupun rohani.

Tidak. Ki Blaka tidak mengharapkan kejujuran seperti itu. Kejujuran adalah kepolosan, tidak perlu dibuat strateginya, bahkan untuk yang paling bagus sekalipun. Kejujuran harus tanpa pamrih. Satu-satunya niat untuk jujur adalah kejujuran itu sendiri, bukan yang lain. Seperti kata Akamid: “Ki Blaka mengembalikan semua persoalan ke diri saya. Bukan karena dia, karena harus blaka, karena memang niat saya.”

Kepada orang-orang yang sering mengira kejujuran dapat menjadi obat mujarab bagi banyak hal (entah korupsi, sakit-penyakit, rumah tangga yang tak akur, maupun ketidakberesan lainnya), Ki Blaka berseru – dengan jujur tentunya:

“Bersikap jujur adalah pilihan pribadi. Kejujuran tak berarti menjadi sakti, menjadi kebenaran ketika dilakukan banyak orang, apalagi menjadi gerakan. Kalau ini membesar dan dianggap tanda, kita mengulangi lagi kesalahan.”

Masih belum puas? Jika kejujuran dilakukan tanpa pamrih, tentunya tidak ada yang perlu dilakukan secara terpaksa. Dengan begitu, tampaknya menjadi jujur pun dapat melahirkan ketidakberesan lainnya – jika kejujuran dilakukan dengan pamrih:
“Masalah utama yang dihadapi dengan kejujuran ketika menjadi nilai bersama dalam kelompok adalah ketika dilakukan dengan terlalu berlebihan, terlalu bersemangat.”

Sampai sejauh mana agama yang “terlalu jujur” ini bertahan? Seharusnya tidak bertahan lama (siapa sih yang tahan hidup jujur?) Ya. Ki Blaka dan para pengikutnya pun digerebek. Jelas, nabi yang mempraktikkan hidup jujur tentu sangat membahayakan penguasa – tentu saja penguasa yang tidak jujur (penguasa tentunya tidak pernah takut dengan seseorang yang cuma mengajarkan kejujuran, tanpa mempraktikkannya). Para petinggi mulai menginterogasi Ki Blaka, karena banyak sesi “tanya-jawab” di padepokan Ki Blaka berakhir rusuh.

Itu belum seberapa. Kejujuran ternyata sempat mewabah ke luar lingkungan kampung “Blakanis”. Murid-murid di suatu sekolah tidak lagi mencontek, beberapa orang mulai tidak mau mempergunakan mata uang dolar dan tidak menggunakan barang-barang impor. Para murid di suatu sekolah di Jambi – yang tidak mau mencontek lagi itu – seperti sedang kerasukan “roh blaka” ketika mereka menyanyikan koor: “blaka, blaka, blaka...” pada saat mereka akan mengerjakan soal ulangan. Adegan ini dapat dibayangkan seperti suatu adegan dari potongan dalam film “The Wall” garapan Pink Floyd, ketika tembang "Another Brick in the Wall (Part 2)” mengalun mengiringi bocah-bocah sekolah yang memberontak mulai menjungkirbalikkan kursi dan meja-meja sekolah (bedanya, anak-anak sekolah di “Blakanis” lebih “memberontak” melawan diri mereka sendiri, sementara anak-anak sekolah dalam “The Wall” memberontak melawan tirani sekolah).

Itu jelas tidak wajar dan menakutkan (tentunya bagi mereka yang tidak biasa jujur). Bagi beberapa orang, novel ini juga mungkin memang terlalu ”jujur” dan malah “kering” (“jujur”, “polos”, dan “kering” memang saudara yang berdekatan). Tokoh-tokohnya sering terasa “dingin”. Jika dibandingkan dengan “Horeluya”, “Blakanis” memang tidak berupaya mengaduk-aduk perasaan pembaca (Arswendo sebenarnya ahli dalam hal “pengadukan” ini – sebagaimana tampak dari serial Keluarga Cemara). Ki Blaka sedang mengajar dan, sayangnya, ajarannya sangat tidak populer. Jadilah, pembaca, halaman demi halaman, bersusah payah mengikuti logika Ki Blaka dan para pengikutnya – yang disebut “blakanis” – yang “meniduri” kejujuran semampu mereka (barangkali karena bukan penganut “agama kejujuran”, saya kadang-kadang merasa agak sedikit bosan dengan khotbah sang nabi?)

Jikalau Ki Blaka tampaknya kesulitan dalam mengajarkan agama “kejujuran”-nya, Arswendo tidak terlalu sulit – justru terbilang sangat berhasil – dalam hal ini: mencoba strategi bercerita yang – konon – dipakai oleh Umar Kayam dalam “Para Priyayi” (saya sebut “konon” karena saya masih belum membacanya), yaitu strategi bercerita bukan dari sudut pandang tunggal. Semua pengikut Ki Blaka punya cerita yang sah untuk diceritakan, dari si Mareto, Suster Emak, Ali, Eyang Brondol, Lola, Windi, dan sebagainya. (Siapa tahu, Anda, begitu mencoba untuk hidup jujur, juga punya hal lain yang dapat diceritakan?)

Strategi Arswendo memang berhasil. Cerita mengalir lancar pada bagian “kesaksian”, yaitu ketika para Blakanis menuturkan kesaksian dan pengalaman mereka. Pada bagian “khotbah” Ki Blaka, narasi lincah Arswendo berubah menjadi semacam verbalisme kejujuran yang memang sangat memikat dan menawan hati (karena revolusioner walaupun tidak serbabaru) namun terasa agak sulit diikuti – mungkin terutama oleh mereka yang jarang jujur dalam hidupnya (semoga kita tidak termasuk di dalamnya).

Jika agak sulit menghubungkan Parang Jati dengan Ayu Utami, saya agak lebih mudah membayangkan Ki Blaka yang santai dan blak-blakan dengan figur Arswendo sendiri. Celotehan jujur para tokoh yang ada dalam novel ini boleh dibilang berhasil dan mengalir lancar karena memang begitulah gaya Arswendo. Ki Blaka berhasil mengajarkan “agama kejujuran” justru karena Arswendo yang berhasil menceritakan kisahnya…

Jadi, walaupun berlaku jujur itu memang agak berat dilakukan akhir-akhir ini, toh Arswendo sudah cukup jujur berbagi cerita tentang kejujuran di dalam bukunya yang satu ini. Semoga kita bisa ketularan untuk jujur...

Selasa, 09 September 2008

Super Toy = Mainan Super = Blunder Politik atau Spiritualitas tak Sehat?

Konon, ada suatu analisis yang mengatakan bahwa jika di tengah-tengah suatu masyarakat sering muncul orang-orang yang mengaku Ratu Adil, mengaku orang yang dulu pernah hilang (dan kini muncul kembali), mengaku menemukan harta karun yang bisa menutupi utang negara, mengaku menemukan teknologi canggih dengan jalan yang “luar biasa” – dan berbagai pengakuan-pengakuan lainnya – biasanya masyarakat tersebut sedang “sakit”.

Dalam jangka waktu satu tahun ini, Indonesia rupanya sering “kedatangan” orang-orang seperti itu, misalnya orang yang mengaku berhasil menemukan teknologi pengubah air menjadi bahan bakar (Blue Energy); orang yang mengaku dapat menghentikan aliran lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur; orang yang mengaku sebagai Supriyadi (pahlawan perintis kemerdekaan, Menteri Keamanan RI yang tak pernah muncul setelah ditunjuk Bung Karno) dan sebagainya.

Terakhir adalah kasus padi “varietas unggul” yang dikenal sebagai Super Toy HL2. Walaupun tidak ada tokoh atau orang yang “sakti” atau “misterius” terkait dengan kasus ini, namun kehebohan dan hiruk-pikuk yang menyertainya dapat disejajarkan dengan kasus Blue Energy atau kasus “kembalinya Supriyadi”.

Awal-mulanya adalah berita kegagalan panen padi jenis tersebut yang dilaporkan oleh para petani di berbagai daerah di Pulau Jawa. Mereka mengaku merasa tertipu karena membeli dan menggunakan padi jenis tersebut, yang menurut pesan sponsor merupakan padi “super” karena padi tersebut dapat dipanen 3 kali dalam setahun – tanpa menanam kembali itu (silakan cari sendiri beritanya di internet).

Berita tersebut mungkin biasa saja, seandainya tidak melibatkan nama Susilo Bambang Yudoyono, kebetulan orang yang sedang menjabat sebagai presiden di negeri ini. SBY – begitu nama presiden ini biasa diakronimkan – rupanya agak jengah dengan berita yang terkait dengan kegagalan panen padi jenis “super”, yaitu Super Toy HL. Mengapa harus jengah? Wajar bila ia jengah, karena pasalnya komisaris PT Sinar Harapan Indopangan (SHI), Heru Lelono, adalah salah seorang anggota tim penasihat presiden – Tim Cikeas, begitu sebutannya (PT SHI adalah perusahaan yang memproduksi dan memasarkan padi “super” tersebut, yang darinyalah para petani mendapatkan/membeli bibit padi tersebut). Dan kedua, ini yang membuat semakin jengah: SBY “tampak” melakukan promosi atas padi jenis tersebut – setidaknya memang begitulah yang dibaca oleh para lawan politiknya.

Entah “kejengahan” tesebut pantas atau tidak (juga tidak jelas siapakah yang sebenarnya jengah: SBY atau para pembantunya). Namun, yang pasti, pada acara berbuka puasa hari Sabtu lalu (6/9/2008), pejabat humas kepresidenan merilis transkrip pidato SBY pada acara “launching” padi jenis tersebut tahun lalu (Kompas, 7/9/2008). Transkrip yang dibagikan itu memperlihatkan “posisi netral” presiden dalam urusan “padi super” tadi. Jadi, tidak benar – begitu hal yang ingin diluruskan oleh tim kepresidenan – bahwa Presiden SBY mempromosikan padi “super” tadi. Lagipula, SBY sudah memanggil Heru Lelono untuk meminta penjelasan (baca di Detik).

Terlepas entah bagaimana posisi SBY dengan urusan ini, ada hal yang menarik yang perlu dicermati: mengapa padi “ajaib” yang dapat dipanen 3 kali dalam setahun – tanpa menanam kembali itu – lebih disukai ketimbang padi konvensional. Mungkin kalau ini ditanyakan, orang akan mencibir dan menjawab: “Tentu saja, padi seperti itu lebih disukai, karena lebih produktif dan lebih murah.” Iya, ya. Itu pertanyaan bodoh. Yang lebih produktif dan lebih murah pasti lebih disukai.

Namun, mengapa begitu? Lebih tepat lagi: mengapa Presiden SBY dan Tim Cikeasnya kok dengan mudah terbuai oleh tawaran atau bujukan yang ternyata belum terbukti valid – baik secara ilmiah maupun secara birokratis (ternyata, dari pengakuan Menteri Pertanian, padi tersebut belum melewati prosedur resmi dan normal untuk dapat disebut sebagai varietas unggul). Jadi, apa yang ditawarkan oleh SHI dan Heru Lelono tidak lebih daripada “kucing dalam karung” – tentu kucing dalam karung masih lebih berharga ketimbang padi “super” yang ternyata tidak “super”.

Orang dapat menduga mengapa SBY dan Timnya terkecoh: entah politis atau psikologis-spiritual. Politis, tentu saja SBY butuh sesuatu yang dapat dipakai untuk bahan kampanye menghadapi pemilu tahun depan. Jelas, padi “super” adalah bahan yang bagus untuk kampanye dan menarik massa – terutama dari kalangan petani. Jika Super Toy HL2 benar-benar padi super, SBY akan muncul sebagai figur juruselamat di tengah produksi padi yang tengah menurun. Siapa sih yang tidak ingin dikenal massa petani – di atas kertas mayoritas orang Indonesia masih tergolong dalam kelompok ini – sebagai orang yang dengan sukses “meningkatkan taraf kehidupan” mereka? Soeharto sudah pernah melakukannya, dan cukup berhasil.

Namun, jika alasannya psikologis-spiritual, bagaimana? Mungkin ini yang agak sulit. SBY dan Timnya tentu bukan figur bodoh yang percaya dengan orang-orang yang mengaku dapat melakukan “mukjizat”, yang entah bagaimana caranya dapat “membuat hidup yang sulit menjadi mudah” (atau mereka memang percaya?) Apa boleh buat. Ini menambah daftar panjang catatan para pejabat – tentu lebih banyak yang di luar kalangan ini – yang lebih suka duduk menanti datangnya Ratu Adil atau orang-orang yang dapat menciptakan jalan pintas menuju “Indonesia yang Adil dan Makmur, Gemah Ripah Loh Jinawi”. Orang-orang yang dapat menciptakan jalan pintas ini dipercaya dapat membuat semacam “loncatan kemajuan” – entah dalam bidang teknologi, finansial, atau bahkan politik. Intinya, “loncatan” ini akan mengurangi – bahkan menghilangkan – penderitaan atau kondisi “tidak enak” yang kini dialami oleh banyak orang di negeri ini.

Masalahnya, kalau pejabat – yang pendidikannya lebih tinggi dan lebih kaya – percaya dengan “orang-orang ajaib” ini, apalagi yang bukan pejabat (seperti yang menulis tulisan ini). Kalau besok ada orang yang datang ke rumah Anda, dan menawarkan bahwa ia mempunyai panci ajaib yang dapat memasak nasi “tak berkesudahan” – artinya Anda tidak perlu beli beras lagi seumur hidup – apakah Anda percaya? Anjuran saya: sebaiknya percaya saja, toh yang lebih pintar dan lebih kaya ketimbang Anda (dan saya) juga percaya…

Jumat, 05 September 2008

Kartu Palin di Saku McCain (dan Kartu di Indonesia)


Mungkin dapat disebut sebagai kejutan jika John McCain – calon presiden dari Partai Republik – memilih Sarah Palin (29/8/2008) menjadi calon wakilnya dalam menghadapi pemilu presiden Amerika Serikat November 2008 mendatang.

Setelah “babak belur” dalam hal image dan isu – tentunya pasca-konvensi Partai Demokrat beberapa hari sebelumnya sebelumnya – John McCain mencoba untuk meraih kembali popularitas yang tampaknya agak meredup. Upaya itu menunjukkan sedikit tanda keberhasilan ketika ia memilih Sarah Palin – gubernur negara bagian Alaska – sebagai calon wakilnya.

Itu adalah langkah yang cukup berani, namun di lain pihak memang agak strategis. Rasa sakit hati yang barangkali tersisa di dalam hati para pendukung Hillary Clinton dicoba untuk dijadikan “kartu truf” oleh McCain. McCain tampaknya tahu benar bahwa sebenarnya masih banyak pendukung Hillary yang tidak begitu rela ketika kandidat mereka – mantan First Lady era Bill Clinton – itu menyerahkan kursi calon presiden Partai Demokrat ke tangan Barack Obama.

Ada beberapa isu yang membuat rasa sakit itu menjadi tambah terasa “sakit” bagi para pendukung Hilary. Pertama, status gender Hillary. Bagaimanapun juga, seorang calon presiden perempuan adalah sesuatu yang sangat menarik, terutama di dalam tradisi kepresidenan di Amerika Serikat. Ada semacam sentimen gender ketika Hillary naik menjadi salah satu calon presiden dari Partai Demokrat. Bagi beberapa perempuan – atau bahkan mungkin banyak -- di Amerika Serikat, hal ini adalah semacam puncak pengharapan dari janji-janji dari “freedom, liberty, and equality” yang merupakan slogan dari pendirian negara tersebut. Ada masanya ketika perempuan tidak boleh mengikuti pemilu, dan ada masanya pula ketika perempuan boleh mengikutinya. Ada masanya ketika perempuan tidak atau belum mencapai kursi nomor satu di negeri itu, dan mereka berpikir, mengapa tidak ada pula masanya bagi kaum perempuan untuk meraih kursi tersebut.

Kedua, status “kulit putih” Hillary. Diakui atau tidak, walaupun dengan tradisi demokrasi dan penegakan hak asasi manusia yang sangat tua, Amerika Serikat selalu punya tendensi untuk menjadi seperti “negara-negara yang sering diperangi olehnya”, yaitu rasis dan intoleran. Tentu, kita tidak berbicara tentang hukum formal, yang di dalamnya tidak akan mungkin kita menemukan teks-teks atau pasal-pasal yang bersifat rasis dan intoleran. Kita berbicara tentang praktik dan sentimen orang per orang, kelompok per kelompok (yang tentunya sama saja di seluruh muka bumi ini). Bagi banyak orang – terutama dari kubu Demokrat – yang mereka hadapi pada bulan-bulan sebelum konvensi adalah pilihan antara: seorang calon presiden kulit putih atau seorang calon presiden kulit hitam. Itu saja. Tentu sentimen dan subjektivitas akan sangat menentukan di sini, dan bukan rahasia lagi jika banyak di antara pendukung Partai Demokrat yang lebih peka dengan isu ras dan warna kulit ini. Bagi mereka, Hillary Clinton jelas lebih “preferable” ketimbang Barack Obama.

Hasil konvensi Partai Demokrat sudah diketahui bersama: Barack Obama menjadi calon presiden resmi dan Joe Biden menjadi calon wakilnya. Ini kombinasi yang cukup baik dan memang cukup menjanjikan, sebagaimana hal ini tampak dari pemberitaan yang sangat antusias dari berbagai media, baik di Amerika Serikat maupun di dunia internasional.

Lalu apa strategi Republik dan McCain untuk mengimbangi suasana hangat yang seolah-olah menempatkan kubu Demokrat di atas angin itu? Kedua isu itu rupanya dipahami betul oleh kubu McCain, ditambah satu isu klasik dalam “pertempuran” antara Republik dan Demokrat: bumbu-bumbu moralitas.

Sebagai partai liberal, Partai Demokrat terkenal dengan dukungannya pada gerakan pro-choice, yaitu semacam gerakan yang pandangannya memberikan toleransi bagi upaya aborsi yang dilakukan oleh kaum perempuan hamil jika mereka menghendaki. Oleh kubu Republik, pro-choice ini tidak lebih dipandang sebagai pro-abortion atau pro-abortionist. Isu ini sangat klasik, sehingga hampir selalu mewarnai debat di antara kedua kubu (walaupun tidak semua Demokrat memilih posisi pro-choice, sebagaimana tidak semua Republik memilih posisi pro-life, istilah yang hampir selalu setara dengan istilah “anti-aborsi”).

Di samping kedua isu terkait “Hillary” tadi, kubu McCain juga memanfaatkan isu pro-life versus pro-choice ini. Mengapa? Calon wakil presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden adalah seorang Katolik yang ternyata sangat pro-choice (sama seperti beberapa Demokrat lain yang terkenal, seperti Nancy Pelosi dan John F. Kerry). Sebagai Katolik, tentunya posisi politik Biden tampak bermasalah, karena Gereja Katolik sangat menentang pandangan pro-choice. Alhasil, Joe Biden tampak sebagai seorang Katolik yang munafik di mata banyak kalangan Kristen – bukan hanya Katolik. Image Biden yang semacam ini benar-benar dimainkan oleh McCain (jumlah orang Katolik di Amerika memangt cukup banyak walaupun bukan yang paling banyak. Ini dapat “dimanfaatkan” jika situasi menjadi “too close to call”).

Dua isu terkait Hilary dan Joe Biden yang “bercacat” benar-benar dijadikan kartu truf oleh McCain ketika ia memilih Sarah Palin. Palin langsung menjadi antitesis bagi ketiga hal itu: Dia perempuan, kulit putih, dan anti-aborsi (alias pro-life) – di luar faktor usia yang masih muda dan latar belakang lintas-denominasi yang biasanya sangat disukai di sana. Pilihan ini membuktikan bahwa McCain tampaknya tidak lagi memedulikan kritiknya pada Obama yang mengaitkan usia muda Obama dengan ketidaklayakannya menduduki Gedung Putih. Palin sendiri adalah pemegang rekor dalam urusan perempuan pertama yang menjabat gubernur negara bagian dan juga yang termuda dalam sejarah di Amerika Serikat.

McCain kini punya kartu truf di sakunya: Sarah Palin. Apakah ini akan bermanfaat bagi kubu Republik dalam permainan kartu riil pada bulan November yang akan datang, hal itu masih akan dibuktikan nanti.

Apa manfaatnya bagi kita di Indonesia jika kita mencermati hal-hal di atas? Mungkin tidak banyak. Jika ada yang dapat dipelajari secara banyak adalah “teknik-teknik bermain kartu truf” sebagaimana halnya yang sudah biasa dilakukan oleh banyak politisi di sini (bahkan, boleh jadi jika politisi lokal lebih lihai dalam bermain kartu, entah itu truf, poker, bridge, remi atau domino…)

Selamat bermain kartu…

Selasa, 26 Agustus 2008

The U.S. vs John Lennon


Director: David Leaf dan Johnn Scheinfeld
Written: David Leaf dan Johnn Scheinfeld
Producer: David Leaf dan Johnn Scheinfeld
Time: 99 minutes
Published Year: 2006


Perang Dingin. Superpower. Amerika. Komunisme. Vietnam. Korban. Mati. Kematian. Rock and Roll. Beatles. Yeah, yeah, yeah. Woodstock. Mariyuana. Ganja. Hashish. LSD. Opium. Seks. $#@!!&%....

Perang, seks, obat, dan rock n’ roll. Mungkin itu beberapa kata kunci yang dapat menjelaskan hiruk-pikuk di sekitar dasawarsa 1960-an dan 1970-an. Zaman berubah, orang-orang berubah. Para baby boomer – mereka yang lahir di sekitar masa Perang Dunia Kedua (PD II) dan juga terutama yang tak lama setelah itu – kini mencapai umur yang matang. Mereka menjadi warga yang cukup sadar akan dinamika sosial serta juga paling aktif dalam menanggapi dinamika tersebut. Pendeknya, para baby boomer tidak lagi dibebani oleh agenda-agenda yang pada masa pra-PD II sangat memenuhi kosakata dan wacana orang-orang tua yang masih hidup dalam romantika perang dan masa-masa keemasan pra-perang, baik di Eropa maupun di Amerika.

Jika ini sebuah opera musik besutan Andrew Lloyd Webber, mungkin ia akan mengawalinya dengan suatu parade pasukan bersenjata yang dihadang oleh sekelompok pemuda(i) berpakaian ala flower generation. Sembari menyelipkan setangkai mawar di ujung bedil sang komandan pasukan, wakil dari pemuda tadi berkata: “Make Love, Not War…” (atau yang lebih klasik: “Say it with flower…not with your weapon…”).

Adegan tadi adalah semacam pralambang mengenai apa yang terjadi pada masa-masa itu dan yang ingin didokumentasikan oleh film ini. Film berdurasi hampir 100 menit ini berpusat pada seorang figur yang sebenarnya lebih dikenal dalam kalangan musik: John Lennon.

Tumbuh sebagai seorang anak yang pemberontak – ditinggal pergi oleh ayahnya ketika masih bayi dan ditinggal mati oleh ibunya dalam usia belia – John kecil ternyata punya bakat anti-kemapanan. Episode dalam masa-masa Beatles mungkin hanya merupakan episode “numpang lewat”. John berkembang dengan bandnya itu, baik secara musik maupun ide. Ini seolah-olah hanya menyiapkan suatu episode lain dalam hidupnya yang menjadi inti dari film ini.

Ketika isi kepala John Lennon mulai berkembang ke arah yang lebih luas, isi kepala Presiden Lyndon B. Johnson (LBJ) di Amerika juga berkembang ke arah yang sedikit berbeda; sesuatu yang agak berbeda dengan isi kepala John F. Kennedy – presiden yang digantikannya karena orang yang belakangan ini mati ditembak di Dallas pada tahun 1963.

LBJ rupanya senang memainkan kartu klasik dalam dunia diplomasi: perang adalah bentuk lain dari diplomasi. Komunisme sudah jelas jahat, dan Tuhan tentu saja tidak menginginkannya. Sebagai bangsa pilihan Tuhan, sudah sepantasnya Amerika Serikat mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengusir setan komunisme dari setiap jengkal tanah di bumi ciptaan Tuhan ini.

Setan itu kini hadir di Vietnam – setelah berhasil menancapkan cakar-cakarnya di Korea. Agenda LBJ sudah jelas: memperhebat sarana-sarana yang diperlukan untuk mengusir setan tersebut dari bumi Asia Tenggara.

Pada saat yang sama, John Lennon – yang tengah “angin-anginan” bersama bandnya, Beatles – sedang mencoba suatu yang baru. Tepatnya: ia tidak mencoba, tetapi memang secara alami masuk ke dalam suatu kawasan yang sama sekali asing bagi dirinya: politik. Proses yang memang alami ini sebenarnya dapat diamati dalam beberapa lirik lagu John dalam Beatles – walaupun banyak sekali lirik lagu Beatles sangat ambigu, misalnya lirik lagu Happiness is a Warm Gun dan Revolution.

Di Amerika, LBJ kalah dalam pemilihan umum presiden pada tahun 1968. Seorang presiden baru dari Partai Republik yang ternyata justru lebih jelek ketimbang LBJ akhirnya terpilih: Richard Nixon (ini membuat kita seolah-olah percaya dengan adagium lama: “Lebih baik kita memilih setan yang sudah dikenal, ketimbang setan yang belum dikenal sama sekali!”). Jika LBJ memilih perang, Nixon memang lebih suka perang. LBJ mengirim banyak tentara Amerika ke Vietnam, sementara Nixon mengirim lebih banyak lagi – bahkan mengampanyekannya.

Sementara itu, John Lennon – di belahan dunia yang lain – ternyata lebih suka “mengirimkan” hal yang lain: ia mencoba mengirimkan apa yang disebutnya sebagai total communication. Apa itu? Ia membungkus dirinya di dalam apa yang disebutnya sebagai "bagisme"(bag = tas), bersama istrinya yang baru: Yoko. Ia melakukannya agar orang mendengarkan pesan perdamaian yang ia sampaikan, tanpa menghakimi penampilan fisiknya (rupanya, orang sering kali memperhatikan penampilan si penyampai pesan ketimbang isi pesannya. Penampilan itu bisa mencakup gender, warna kulit, dan panjangnya rambut).

Sesederhana itu? Iya. Sekonyol itu? Tergantung – tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Masing belum puas? Pada tahun 1969 itu, John juga punya ulah serupa: "Bed Peace" (Bed-in for Peace). Sadar bahwa perkawinannya sedang menjadi komoditas pers, ia dan istrinya melakukan kampanye perdamaian di atas tempat tidur. Tentu, para wartawan mengharapkan pasangan yang baru menikah ini melakukan semacam “atraksi seksual”, sesuatu yang sama sekali tidak mereka dapatkan. Sama dengan bagism, bed peace juga dilakukan demi perdamaian.

“Tidak ada yang memberikan kesempatan damai secara penuh,” begitu ujar John. Dan ia pun mengajak orang-orang menyanyikan Give Peace a Chance. Ya, beri perdamaian kesempatan.

Ada wartawan yang bertanya apakah semua itu efektif? John menjawab: “Ini adalah kemungkinan yang terbaik, fungsional dan efektif.” Si wartawan mendesak: bukankah ini tidak akan mengubah apa-apa. “Memang, kami tidak mengharapkannya dengan mudah. Mereka berpikir bahwa ini dapat dilakukan dalam semalam.”

Toh, itu belum cukup. Jika kedua model kampanye tadi John lakukan di luar Amerika, kini ia mulai secara aktif memasang iklan – benar-benar iklan dalam bentuk papan reklame raksasa – di 11 kota di dunia, termasuk di Amerika (New York dan Los Angeles). Kampanye ini lebih verbal: “War is Over. If You Want It. Happy Christmas from John & Yoko”.

Jadi, ketika John Lennon mulai aktif di Amerika pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, ia muncul sebagai figur yang “sulit”, bahkan “berbahaya”. Nixon dan para pembantunya tahu hal ini.

Ketika John mulai mendarat di Amerika dan mencoba menjadi warga negara negeri ini, ia melakukan sesuatu yang tidak “terlalu manis” di mata pemerintah Amerika. Ia akrab dan aktif dalam kegiatan kelompok perdamaian, kelompok anti-perang, seperti kelompok-kelompok yang dipimpin oleh Abbie Hoffman, Jerry Rubin, Bobbie Seale (Black Panthers), John Sinclair dan Ron Kovic (penulis buku “Born on Fourth July” yang sudah difilmkan). Padahal, Nixon, di lain pihak, sedang secara ketat mengawasi kelompok-kelompok tersebut, kelompok-kelompok yang sedang mempertanyakan kebijakan perangnya di Vietnam.

John Lennon tampak seperti orang bodoh: berteman dengan orang-orang yang akan mempersulit posisinya, terutama posisinya sebagai pemohon kewarganegaraan Amerika Serikat. G. Gordon Liddy, seorang penasihat Nixon, melihatnya secara jelas: John Lennon justru menjadi alat yang sangat berbahaya di tangan kelompok tersebut. “Mereka kini punya amunisi baru,” begitu ujarnya. “Ketika kau memasukkan Bobby Seale dalam timmu, semua polisi akan membencimu. Semua petugas hukum di bumi akan menentangmu.”

Orang yang berpikir positif mungkin berpikir: “John Lennon memilih teman yang salah.” Kemudian dengan sedikit nasihat: “Dia bisa saja tetap bermain musik, menjauh dari obat-obatan, dan tetap mulut tentang apa yang dia suka dan tidak suka tentang Amerika Serikat.” Atau juga: “Nyanyikan saja lagumu dengan tenang.”

Namun, Lennon adalah orang yang polos. Ia senang bergaul dengan para aktivis tersebut karena menganggap mereka mempunyai ide-ide yang sama dengannya. Ia memuji ide-ide mereka, dan mereka pun memuji mantan anggota the Beatles yang sangat populer ini yang ternyata seia-sekata dengan mereka. Klop.

Satu peristiwa telak membuat Nixon dan para penasihatnya berpikir ulang tentang John adalah terkait konser untuk John Sinclair – seorang aktivis yang ditahan oleh kepolisian Michigan – pada 10 Desember 1971. Nixon harus memperhitungkan dengan serius John Lennon setelah peristiwa itu. Peristiwa apa itu? Bagaimana akhir “kucing-kucingan” antara John Lennon dan pemerintahan Amerika Serikat di bawah Nixon? Apakah John Lennon akhirnya memperoleh kewarganegaraan AS? Lalu apa yang menyebabkan John Lennon ditembak mati? Nonton saja sendiri film dokumenter ini.

Ini film dokumenter yang menarik. Selain diisi dengan berbagai dokumentasi wawancara dengan John Lennon dan aktivitasnya pada tahun-tahun itu serta wawancara dengan para aktivis perdamaian di Amerika, film ini juga diisi dengan beberapa cuplikan lagu John Lennon yang terkenal. Oh, ya, beberapa wawancara dilakukan dengan beberapa pengamat sosial-politik dan tokoh humanis seperti Carl Bernstein, Gore Vidal, dan Noam Chomsky, juga wawancara dengan penasihat Nixon, pengacara John Lennon, dan sebagainya.

John Lennon bukan manusia sempurna – ia justru tampak manusiawi dengan ketidaksempurnaannya itu. Namun, toh, kita bisa belajar beberapa hal dari dia, setidaknya untuk urusan perdamaian ini. Peace!

Mengapa Saya Bukan Ateis? (Tamat)

Tampaknya tidak perlu dilanjutkan lagi. Ini tidak adil buat BADU. Kasihan BADU. Sebagai tokoh fiktif, dia kelihatannya cuma jadi bulan2an tokoh fiktif lain: AGUS. Jelas, posisi saya mendukung AGUS (kan saya percaya Tuhan…)

Posisi “AGUS” sebenarnya cukup lemah, dalam arti dia pun tidak dapat secara memuaskan membuktikan keberadaan Tuhan. Tapi posisi dia lebih baik dan secara filosofis dapat dipertahankan, karena jenis “filsafat yang dianutnya” – yaitu teisme – tidak menuntut dia membuktikannya secara rasional dalam arti ketat. Ini berbeda dengan “filsafat ateisme” si BADU. Ateisme berdiri di atas suatu tesis yang jelas, suatu tesis yang secara epistemologis hanya bergantung pada pembuktian berdasarkan kemampuan kodrati manusiawi. Teisme – atau kalau mau spesifik: Katolisisme (yaitu sistem kepercayaan seperti yang diajarkan oleh Gereja Katolik) – tidak mendasarkan tesis keberadaan Tuhan pada kemampuan kodrati manusiawi semata. Kemampuan kodrati manusiawi hanya berguna sampai taraf tertentu, selebihnya ada wahyu (yang kalau di dalam Katolisisme “menjelma” di dalam: kitab suci, tradisi, dan magisterium gereja).

Kesimpulan saya pribadi: BADU hanya dapat konsisten jika ia hanya – sekali lagi hanya jika – berpegang pada Deisme (Tuhan ada, tetapi entah mengapa, Dia tidak ikut campur atas alam semesta) atau Agnostisme (Tuhan ada atau tidak ada, keduanya tidak dapat dibuktikan. Jadi, sebaiknya tidak usah dibicarakan). IMHO, ateisme yang konsisten/konsekuen tidak pernah ada. Ateisme Sartre kelihatan konsisten, karena… dibangun di atas bangunan metafisika yang dia bikin sendiri. Konyol…(***)

Rabu, 20 Agustus 2008

Mengapa Ayu Utami Mengganggu Mimpi-Mimpi Tidur Kita?



Judul Buku: Bilangan Fu
Penulis: Ayu Utami
Genre: Novel, fiksi
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit : Juni 2008
Tebal: x + 537 halaman
Ukuran: 13,5 x 20 cm

Ayu Utami = Sastra Lendir?
Agak sulit mereview buku Ayu Utami yang terbaru. Maksudnya, saya sulit untuk menetapkan sudut pandang yang mau dipakai: sastranya, isi/tema/topiknya, atau Ayu Utaminya (dan segala predikat yang menempel pada dia)?


Ayu Utami sebenarnya penulis yang kalau dibilang baru, tidak terlalu tepat, tetapi kalau dibilang lama, tidak 100% benar juga. Novelnya yang pertama, Saman, terbit pada tahun 1998 – itu sekitar 10 tahun yang lalu. Jadi, dari segi itu, ia jauh cukup “tua” ketimbang Dee (Dewi Lestari) atau Djenar Maesa Ayu serta para penulis yang muncul pada akhir 1990-an dan 2000-an. Bahkan, banyak orang berujar, Ayulah yang menciptakan “aliran baru” di mana nama-nama tadi dapat dimasukkan dalam genre yang kurang lebih sama.

Namun, Ayu juga dapat dibilang baru, justru dikaitkan dengan “aliran baru” tadi. Ayu, dengan “Saman”-nya, mengawali suatu era baru dalam dunia novel Indonesia. Agak sulit memang untuk memerikan “aliran baru” yang digeluti Ayu dan beberapa perempuan lain tadi. Oleh mereka yang sinis, Ayu dianggap memelopori apa yang disebut dengan berbagai istilah: “sastra lendir”, “sastra selangkangan”, “sastra kelamin”, dan sebagainya.

Mengapa begitu? Aliran tadi – dan juga Ayu Utami sendiri – barangkali memang baru, jika apa yang disebut sebagai – kita pilih satu istilah saja – “sastra lendir” memang merupakan fenomena baru dan belum ada antesedennya dalam dunia sastra atau dunia novel di Indonesia.

Namun, pertama-tama, harus dijawab dulu apa itu “sastra lendir”? Menurut beberapa tulisan yang terbaca, tulisan Ayu Utami – dan genre yang “diciptakannya” – disebut demikian karena mereka mencoba menyajikan unsur-unsur seksual di dalam novelnya secara lebih “terbuka”.

Apakah memang belum pernah ada tulisan semacam itu sebelum Ayu? Mari kita sorot N.H. Dini. Pada ”Pada Sebuah Kapal”, misalnya, Dini juga memasukkan unsur-unsur ”serupa” ke dalamnya. Memang, Dini tidak melakukannya dengan cara yang sama dengan Ayu. Toh, pada waktu itu, orang juga bisa mengatakan bahwa hal-hal semacam itu – yang dilakukan Dini – merupakan hal yang baru dan bahkan ”revolusioner”. Apakah dengan demikian N.H. Dini bisa diklaim sebagai pelopor aliran ”sastra lendir”? Lalu, kebetulan, saya juga sedang membaca novel-novel Arswendo ”Blakanis” (dan mereview ulang ”Kisah Para Ratib”). Di dalamnya, ada juga unsur-unsur seperti itu. Apakah Arswendo juga penganut ”sastra lendir”?

Tampaknya, unsur-unsur seperti itu bukanlah sesuatu yang haram – apalagi baru – di dalam khazanah pernovelan di Indonesia. Memang, ”lendir”-nya memang tidak harus keluar atau tampak jelas – Ayu memang membuatnya semakin jelas (mungkin karena dia adalah anak zamannnya barangkali? Atau lebih tepat: ini lebih merupakan selera, gaya, dan tuntutan cerita), karena toh N.H. Dini dapat melakukannya pada dasawarsa-dasawarsa yang telah lampau, dengan cara yang berbeda.

Barangkali, ”sastra lendir” adalah istilah yang insinuatif . Mengapa, siapa, dan apa dari maksud insinuasi ini, itu di luar tulisan ini untuk membahasnya. Namun, kalau tulisan ini boleh berkata, Ayu Utami justru seorang trend setter, bukan terkait ”sastra lendir”, tetapi terkait kekuatan bernarasi dan berdeskripsinya.

Ayu dan Deskripsi vs Narasi
Ketika saya mencoba membaca ”Bilangan Fu”, saya kebetulan membaca tulisan Goenawan Mohammad (GM) di Bentara Budaya, Kompas (11 Juli 2008). Dalam suatu kesempatan di depan para sastrawan/budayawan yang dulu pernah berseberangan dengannya, GM mencoba melihat perbedaan, kekuatan, dan kelemahan antara sastra yang menitikberatkan antara narasi dan sastra yang bertitik berat pada deskripsi.

Tanpa memasuki diskusi GM di situ (dan tidak 100% menggunakan analisis dia di situ), tulisan ini mencoba melihat bagaimana tulisan Ayu bermetamorfosis dari hanya sekadar bernarasi di dalam ”Saman” menjadi semakin berseimbang antara narasi dan deskripsi di dalam ”Bilangan Fu”.

Coba lihat, bagaimana ia bermewah-mewah dengan kutipan dari berbagai artikel (fiktif maupun bukan), kumpulan kliping (fiktif maupun bukan), analisis mendalam bahkan nyaris lengkap atas berbagai mitologi (Nyi Rara Kidul, Watugunung, dan sebagainya) serta paparan nyaris panjang (atau memang panjang?) dari Babad Tanah Jawi. [Ada satu hal yang menarik bagi saya, sampai sejauh mana Ayu meminta izin media-media massa yang namanya disebut dalam artikel atau kliping tadi. Mengingat banyak berita yang tampaknya imajiner, tentu koran seperti Kompas seharusnya dimintai izin secara resmi oleh Ayu sebelum dicantumkan di dalam novel ini].

Barangkali cara bercerita seperti ini memang cukup membosankan – apalagi bagi mereka yang terbiasa dengan ”Saman” yang kata-katanya sangat, sangat naratif dan pendek-lincah. Dalam ”Bilangan Fu”, kata-kata dan kalimat-kalimat naratif, pendek-lincah pun tetap hadir, namun diimbangi oleh kalimat-kalimat yang sangat deskriptif.

Trend-setterkah Ayu untuk bagian ini? Ya dan tidak. Tidak, karena tentunya sudah banyak novelis atau prosais yang melakukan metode serupa. Mungkin, kita ingat dengan Sutan Takdir Alisyahbana (STA) dalam Grotta Azzurra (GA). Walaupun Ignas Kleden menilai bahwa novel STA tersebut sebagai ”gagal” (Ignas Kleden, ”STA dan Novel-novelnya”, Kompas, 11 Juli 2008) – karena STA hanya memenuhi novelnya dengan makna-makna referensial dan hampir tidak memberikan pembaca makna tekstual yang lahir dari teks-teks novel tesebut – mengingatkan kita lagi bahwa novel STA tersebut merupakan upaya pertama di negeri ini untuk memunculkan apa yang disebut sebagai ”novel ide”.

Mengapa STA gagal? Novel GA berisi banyak ide-ide besar tentang berbagai hal tetapi tidak dilibatkan dalam event-meaning dialectic dari cerita. Jadi, tokoh, peristiwa dan sebagainya hanya latar yang sebenarnya dapat dihilangkan dari cerita tanpa menghilangkan substansi gagasan yang ingin dituangkan STA. Apakah Ayu begitu juga dengan ”Bilangan Fu”? Jika menggunakan kriteria Kleden di atas, tentunya tidak. Ayu dalam novel terbarunya ini tetap menjalin berbagai ide besarnya dengan tokoh-tokoh ”konkret” dan ”berdarah daging”, sehingga berbagai ide besarnya tersebut tidak dapat dipahami tanpa memahami makna tekstual yang muncul dari teks novel. Memakai istilah Kleden, bolehlah kita berkata bahwa ide-ide besar dalam ”Bilangan Fu” lahir dari peristiwa di dalam novel, terjalin erat dengannya.

Mungkin, kita akan melihat kemiripan dan perbedaan yang juga tak kalah mengejutkannya apabila Bilangan Fu-nya Ayu dibandingkan dengan 3 novel pertama Iwan Simatupang (Merahnya Merah, Ziarah, dan Kering). Apakah Ayu berhasil melampaui Iwan? Ini pertanyaan yang menarik tetapi mungkin belum bisa dijawab sekarang.

Ayu dan Agama Barunya
Keterjalinan antara ide-ide besar yang diusungnya dengan berbagai tokoh dan peristiwa di dalam ”Bilangan Fu” cukup memikat. Ayu secara terampil menggunakan kemampuan bermetaforanya untuk menuangkan ide-ide besar itu (untuk bagian ini, GA-nya STA berhasil dilewati Ayu).

Dengan ide-ide besar tersebut, Ayu bak nabi yang memproklamirkan agama baru: agama yang non-modernis, non-militeristis, dan non-monoteistis. Suatu agama yang mengemohi kemodernan dan ciri-ciri militer tampaknya bukan hal yang baru – setidaknya dalam dunia imaji Parang Jati, tokoh ”agama baru” dalam novel ini. Namun, hal yang lebih baru dan cukup revolusioner adalah sifat non-monoteistisnya.

Agama ini seolah-olah membuat pengakuan atas sifat absolut-intoleran dalam keberagamaan yang monoteistis. Jika Tuhan adalah satu, tentu yang bukan Tuhan dapat dipaksa untuk tunduk menyembah yang satu tersebut (kebetulan, banyak sekali yang berada di luar ”yang satu” itu). Penyembahan atas yang satu rupanya sering diiringi dengan penyangkalan dan pemusnahan yang lain – realitas yang berada di luar yang satu itu.

Tuhan itu satu, kebenaran itu satu, dan para pengemban Tuhan serta kebenaran yang satu itu pun juga satu: suatu umat yang kudus, yang satu, benar dan bahkan ilahi. Semua yang ada di luarnya harus disangkal, dibasmi serta ditumpas. Modernisme dan militerisme hanya alat – yang tidak selalu harus bersifat benar, tetapi rupanya selalu efektif dalam penumpasan segala hal yang berada di luar ”yang satu” tadi.

Karakter Parang Jati – nabi Bilangan Fu – memang cukup ambivalen. Ia sepintas mirip dengan Yesus – tidak diketahui orang tuanya (bahkan ia memang muncul sendiri begitu saja), berbeda dengan orang kebanyakan (punya jari tangan 12 – sehingga ia tergolong di antara orang-orang cacat), serta sedikit melakukan Khotbah di Bukit. Agama Parang Jati adalah antitesis agama Farisi (ini bukan hanya sepintas, tetapi memang tampaknya disengaja Ayu untuk mirip dengan para antagonis Yesus dalam Perjanjian Baru). Jika agama Farisi tidak segan-segan menggunakan militerisme dan modernisme dalam mengokohkan agama monoteismenya, agama Parang Jati bahkan tidak menganjurkan ”pemanjatan yang kotor”, yaitu cara yang lazim dalam pemanjatan gunung: menggunakan paku dan bor.

Namun, Parang Jati – walaupun hampir dikorbankan di meja persembahan oleh ayah angkatnya (mirip dengan Ishak yang hampir dikorbankan oleh ayah kandungnya – juga mengalami kejatuhan: bercinta dengan ibu tirinya. Tampaknya, Parang Jati lebih manusiawi ketimbang Yesus: bukan hanya pernah digoda dosa, tetapi juga ikut-ikutan berdosa.

Toh, itu semua tidak menyurutkan Ayu untuk mengedepankan Parang Jati – tepatnya agama Parang Jati – sebagai filosofi dan praktek hidup yang ditawarkan di tengah-tengah kejahiliahan kaum beragama pada masa senjakala modernisme ini.

Dengan menggunakan banyak simbol dari mitologi Jawa (seperti Nyi Rara Kidul dan Watugunung) serta alur kisah dan figur dalam Alkitab, Ayu mencoba bertutur mengenai kesederhanaan spiritualitas, yaitu spiritualitas yang menghormati alam dan kelemahan manusia.

Kesimpulan
Ayu tetap terdepan dibanding para novelis perempuan – baik yang ”berlendir” maupun tidak. Ia mencoba untuk keluar dari ”metode kuna” yang dipakainya dalam dua novelnya yang terdahulu. Ia bukan hanya keluar, tetapi juga mencoba membuat tren baru dalam bercerita. Tetap layak dianugerahi gelar “ratu metafor”, Ayu kini mulai merambah tradisi yang cukup baru (atau tidak?)

Menjawab pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini, Ayu menganggu mimpi-mimpi tidur kita karena: ternyata ia tidak begitu “berlendir”, berpotensi melampaui STA, dan mengajak kita merayakan kematian monoteisme. Bagaimana?

Lalu, apakah novel ini bagus untuk dibaca? Saya mengembalikannya kepada selera dan agenda pencarian jati diri Anda. Tapi, sama seperti semua resensi adalah menipu, maka resensi yang satu pun juga menipu. Mengapa tertipu? Karena tidak ada orang yang dapat menikmati buah manggis setelah dikunyah orang lain. Jika Anda ingin menikmati buah manggis, pergilah ke toko buah, beli, dan nikmati sendiri.***