![]() |
Neraka di Normandia |
Judul: Neraka di Normandia
Penulis: Nino Oktorino
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun: 2013
Tebal: 188 halaman
Ukuran: 14 x 21 cm
Mengenai buku sejarah, ada orang berkata: “Semakin tipis bukunya,
semakin besar bohongnya.” Mungkin ini cuma gurauan yang tidak berdasar dari
orang yang kerap membanggakan ketebalan buku—atau dalam konteks lain: kemegahan
performa atau penampilan—sebagai standar kebenaran dan kelengkapan. Banyak buku
sejarah yang tidak terlalu tebal dalam ukuran yang umum (kurang lebih sekitar
200 halaman), tetapi sangat memadai sebagai sumber informasi—tentu di luar
faktor keakuratan yang mungkin hanya bisa dinilai oleh para ahli.
Banyak buku
sejarah yang masuk dalam golongan itu. Salah satunya adalah buku ini. Berbeda
dengan buku Stephen E. Ambrose yang tebal itu (D-Day—6
Juni 1944, Puncak Pertempuran PD II), buku ini memilih pendekatan yang fragmentaris dan episodik
dalam pengisahan salah satu momen penting dalam sejarah Perang Dunia Ke-2:
pendaratan dan penyerbuan pasukan Sekutu di Normandia, Prancis.
Sebagai seorang
ahli dan direktur The National D-Day
Museum di New Orleans, Ambrose secara luar biasa berupaya menghadirkan sedetail mungkin peristiwa
itu, sehingga pembaca seolah-olah dapat mencium bau mesiu yang memancar keluar
dari senapan para serdadu Sekutu. Seperti suatu acara reality show yang dibukukan, Ambrose memaparkan kengerian peristiwa
itu di hadapan mata pembaca. Jelas, pendekatan itu sangat penting dan
mengagumkan, walaupun pembaca “sambil lalu” sering cepat-cepat melewatkan
uraian seperti di dalam buku itu.
Beberapa pembaca
“sambil lalu” seperti itu mungkin bukannya tidak suka sejarah perang dunia,
melainkan hanyalah seseorang yang berkebutuhan khusus: ia sedang mencari tahu
suatu hal—atau mungkin beberapa hal—dari peristiwa itu. Untuk pembaca
berkebutuhan khusus ini, untungnya ada trilogi karya P.K. Ojong, Perang Eropa, yang salah satunya (Perang Eropa III) mengupas secara khusus
peristiwa Normandia tersebut. Ojong bahkan secara genial meringkaskan
momen-momen di sekitar Normandia dan Prancis hanya dalam separuh buku saja
(sekitar 10 bab, dari 21 bab). Ia melanjutkannya dengan gerakan ofensif pasukan
Sekutu sampai ke wilayah Jerman dan berpuncak pada momen kejatuhan Berlin dan
Kapitulasi Jerman Nazi dalam bab terakhir.
Namun, ada pula
pembaca “sambil lalu” jenis lain. Metode kronologis seperti Ambrose dan Ojong
mungkin memuaskan dari sisi kelengkapan cerita dan suasana (Ambrose) atau
poin-poin penting (Ojong). Bagaimana jika ia mencari sesuatu di balik cerita
dan tonggak-tonggak penting dari peristiwa ini? Atau mencoba melihat sesuatu
dari sudut pandang lain? Atau mungkin ia lebih berfokus pada satu episode
pendek dari peristiwa itu?
Buku “Neraka di
Normandia” ini peka terhadap pembaca “berkebutuhan khusus” seperti itu. Secara
ringkas dan padat, buku ini berfokus pada peristiwa invasi sekutu di Normandia
sampai pasukan Nazi Jerman keluar dari Prancis. Secara jitu dan cerdik pula,
penulis mengupas beberapa “momen di balik layar” dalam peristiwa Normandia. Selain
itu, buku yang tergolong dalam seri “Konflik Bersejarah” ini menyuguhkan
peristiwa itu dari sudut pandang atau kacamata Nazi Jerman.
Barangkali, cara
penulis mengambil sudut pandang yang tersaji dalam buku ini adalah gambaran
dari pergeseran selera banyak orang dalam mengikuti terjangan dari banjir
informasi pada era digital yang serbasibuk ini. Di tengah situasi seperti ini,
rasa ingin tahu sering berfokus pada sesuatu yang unik dan tidak lazim atau
yang sudah diketahui oleh banyak orang. Barangkali,
begitulah minat kita terhadap buku sering diarahkan. Buku-buku tebal dan detail
kerap tidak tuntas dibaca. Buku-buku praktis yang informasinya ringkas dan
padat sering lebih bermanfaat. Penulis “Neraka di Normandia” tampaknya paham
situasi psikologis banyak orang dewasa ini. Pembaca bisa mencari informasi
detail tentang peristiwa Normandia dari buku karya Ambrose dan Ojong.
Buku ini justru menyajikan
penjelasan bagi para pembaca “sambil lalu” yang mungkin sudah sering mendengar
peristiwa Normandia tetapi justru bertanya: Mengapa benteng pertahanan Jerman
di Normandia mudah ditembus? Mengapa barisan pertahanan Jerman seolah-olah
lambat bereaksi? Di dalam buku yang tidak setebal buku Ojong atau Ambrose ini,
pembaca diajak masuk ke dalam intrik-intrik rahasia kubu Nazi Jerman di seputar
peristiwa Normandia—sebelum dan sesudahnya, sampai saat mereka mundur dari
Prancis.
Dengan dihiasi
oleh foto-foto ilustrasi yang menarik—beberapa cukup unik—buku ini secara
kronologis membagi episode penyerangan Sekutu di Prancis ke dalam 5 bab. Bab
pertama berisi berbagai peristiwa dan spekulasi di kubu Jerman menjelang
invansi. Ancaman invasi pihak Sekutu bukan hal yang baru bagi Jerman. Setelah
keluar dari Dunkirk pada tahun 1940, berkali-kali Inggris atau bersama dengan
sekutu-sekutunya berjanji untuk menyerang barisan pertahanan Jerman (terutama
di Prancis dan front Barat lainnya). Bab ini membeberkan bagaimana sebenarnya
pihak Jerman sudah “menunggu-nunggu” serangan balasan itu, termasuk pada tahun
1944 itu.
Reaksi para
petinggi militer Jerman terhadap berbagai ancaman Sekutu tersebut—serta
pertentangan di antara mereka mengenai solusi atas ancaman tersebut—diuraikan
lengkap dalam buku ini. Buku ini memperlihatkan bagaimana Erwin Rommel di satu
pihak, Gerd von Rundstedt, Heinz Guderian, dan Geyr von Schewppenburg di pihak
lain—semuanya adalah para petinggi militer Jerman—serta Adolf Hitler sendiri di
pihak yang berbeda pula, memiliki pandangan sendiri-sendiri dalam
mempertahankan front Barat (terutama Prancis).
Hitler, yang mencoba menghindari para perwiranya saling sikut—membuat
keputusan yang kelihatannya “adil” tetapi justru fatal. Keputusan fatal itu,
ditambah kehebatan Sekutu dalam merencanakan penyerbuan—termasuk kecerdikan
satuan intelijen mereka dan kesembronoan para petinggi militer Jerman yang
tidak mendengarkan laporan intelijen mereka sendiri dalam membaca tanda-tanda
adanya serangan—menjadi faktor-faktor yang menentukan kesuksesan invansi Sekutu
di Normandia.
Bab 2
membentangkan bagaimana reaksi lambat pihak Nazi Jerman dalam membaca adanya
tanda-tanda invansi (tanggal 5 Juni malam), saat-saat invansi, sampai pada
akhir hari pertama invansi (6 Juni malam). Walaupun serangan ini sangat cepat
dan tak terduga, pasukan Sekutu tidak mampu segera memukul mundur barisan
pertahanan Jerman di berbagai pos pertahanan. Para petinggi militer Jeman
memang bingung dengan berbagai informasi yang tidak jelas dari barisan
depan—sesuatu yang memang menguntungkan pihak Sekutu. Namun, para serdadu
Jerman di lapangan bertempur dengan gagah berani. Figur-figur kunci dari
barisan pertahanan Jerman—baik di markas OB wilayah Barat [Paris], di markas
pusat, maupun di lapangan—diulas dalam bab ini. Baik aksi dan pikiran mereka
dipaparkan secara menarik dan hidup di sini.
Praktis, reaksi
“normal” pihak Nazi Jerman baru muncul satu hari setelah D-Day, yaitu keesokan
harinya pada tanggal 7 Juni. Walaupun sepertinya sudah kehilangan momen, Nazi
Jerman berhasil “memperlambat” invansi sampai sekitar satu bulan
sesudahnya—tentu dengan pengorbanan yang banyak dan akhirnya suatu kekalahan
yang memalukan. Pada Bab 3, terurai bagaimana Marsekal Rommel mulai berupaya
mengambil peran yang dulu pernah melahirkan sebutan “Rubah Gurun” bagi dirinya:
ia mencoba mengumpulkan pasukan dari unit-unit tersisa—terutama divisi-divisi
panser—untuk menutup serangan Sekutu, terutama pasukan Amerika yang berniat
merebut pelabuhan Cherbourg di utara, sementara pasukan Inggris yang mau
menduduki Caen di tenggara Normandia.
Upaya Rommel dan
berbagai komandan di lapangan seolah-olah berhasil menggagalkan invansi Sekutu.
Namun, keterlambatan reaksi pada hari pertama menubuatkan malapetaka
selanjutnya. Pasukan Sekutu memang tidak mengira bahwa mereka akan berhadapan
dengan serdadu Jerman yang gigih dan ganas di lapangan—sehingga jadwal atau
waktu yang ditargetkan dalam merebut tempat-tempat tertentu menjadi mulur. Toh, pihak Jerman pun mengalami
“pengeroposan” dari dalam tubuhnya sendiri. Ini berpuncak pada upaya pembunuhan
terhadap Adolf Hitler pada bulan Juli yang dilakukan oleh suatu konspirasi di
antara beberapa perwira militer dan berbagai tokoh sipil. Bab ini membeberkan
bagaimana para konspirator sempat berhasil mengelabui para komandan di lapangan
sehingga mengira bahwa Der Fuhrer memang benar-benar telah tewas—suatu
kesalahan fatal.
Usaha kudeta 20
Juli yang gagal itu sebenarnya tidak memberikan banyak kontribusi bagi
pergerakan pasukan Sekutu di lapangan—hanya barangkali munculnya ketegangan
dalam hubungan di antara sesama prajurit Jerman. Buku ini menyimpulkan bahwa
“pada awal Agustus 1944, tentara Jerman berada di tepi kehancuran karena
kekalahannya di medan perang maupun strategi tidak waras Hitler, bukan karena
pengkhianatan dari dalam” (hlm. 120).
Begitulah. Kegagahberanian para serdadu Jerman di lapangan tidak
disertai oleh strategi yang matang dan cepat di tingkat atas. Dalam Bab 4, tampak
terlihat bagaimana memasuki bulan Agustus pihak Jerman praktis tinggal
bertahan. Memang, pasukan Sekutu masih jauh dari menang, karena sebagian besar
Prancis masih dikangkangi Jerman. Namun, baik Sekutu maupun pihak Jerman sudah
tahu bahwa mereka hanya menunggu waktu saja. Pihak sekutu sudah bisa
mempersiapkan kuda-kuda yang lebih baik, sementara Jerman seperti kehabisan
waktu dan semangat. Saat pasukan Jerman “terkepung” di daerah yang nanti akan
dikenal sebagai “Kantong Falaise” (16 Agustus), tampaknya akhir perang di
Prancis sudah di ambang mata. Kantong ini menyerupai tapal kuda dengan panjang
sekitar 64 kilometer dan lebar 21 kilometer—pasukan Inggris di sebelah utara,
sementara pasukan Amerika di sebelah selatan. Selama sekitar 5 hari, sampai 21
Agustus, kedua pihak bertempur di sana. Sekutu mencatat sekitar 50 ribu
prajurit Jerman tertawan, sementara 10 ribu yang lain tewas di dalam “kantong”
tersebut. Tanggal 27 Agustus, Jerman berhasil menyeberangkan banyak prajurinya
ke tepi sungai Seine.
Saat pertempuran
di kantong Falaise berkobar, pihak Sekutu melancarkan operansi Anvil untuk
membebaskan wilayah-wilayah lain di Prancis. Ini menjadi ulasan utama Bab 5. Operasi
ini pun berhasil membebaskan satu demi satu wilayah Prancis, seperti Toulon dan
Marseille, serta wilayah selatan dan barat daya Prancis lainnya—di pesisir
Teluk Biskaya. Paris pun akhirnya jatuh setelah Mayor Jenderal Dietrich von
Choltitz, komandan pasukan Jerman di kota itu, menandatangani penyerahan
pasukan Jerman pada pukul 3 siang, 25 Agustus 1944. Ini sekaligus merupakan
langkah nekat setelah ia sempat menolak perintah Hitler untuk membumihanguskan
kota tersebut. Dengan begitu, sejak akhir Agustus, pasukan Sekutu sedikit demi
sedikit menyapu semua kekuatan Jerman di bumi Prancis. Marsekal Model, sebagai
panglima Front Wilayah Barat, mengirimkan pesan kepada Hitler untuk meminta
izin menarik pasukan mundur ke garis pertahanan yang lebih kokoh di Dinding
Barat (yang sebelumnya dikenal sebagai Garis Siegfried), yaitu garis pertahanan
Jerman sebelum perang. Siap dimaki-maki, usulan Model ini justru dikabulkan
Hitler. Dengan demikian, pasukan Nazi Jerman secara resmi mundur dari Prancis.
Saat Brussels jatuh ke tangan Sekutu pada 3 September, babak pertarungan baru
akan dimulai di wilayah baru, di luar Prancis.
Mungkin, satu hal
yang perlu ditambahkan dalam buku ini adalah peta-peta konkret dari setiap
perkembangan atau perubahan posisi pasukan Sekutu dan/atau Jerman. Para pembaca
yang selalu diburu-buru waktu ingin segera tahu bagaimana posisi terakhir
pasukan Sekutu dan Jerman dalam setiap momen. Memang penulis sempat memberikan
peta penempatan pasukan Jerman di Prancis, terutama Normandia, dan sekitarnya
(halaman 40) serta posisi-posisi penyerbuan atau titik-titik masuk pasukan Sekutu
(Amerika, Inggris, dan Kanada) di pantai Normandia (halaman 57). Namun,
bagaimana pergerakan pasukan Sekutu yang akhirnya menusuk ke sekitar Paris
serta bagaimana gerakan mundur pihak Nazi Jerman, kurang disertai oleh peta
yang memadai.
Akibatnya, kita
hanya bisa menebak-nebak bagaimana sebenarnya rupa “kantong Falaise” yang
terkenal itu—terutama bagaimana sebenarnya posisi pasukan Sekutu membuat
“jepitan” atau “potongan” yang mencekik para serdadu Hitler tersebut. Bagi yang
awam dengan wilayah Prancis—kebanyakan orang masuk dalam kategori ini—peta-peta
itu sangat penting untuk mengonkretkan imajinasi kualitatif yang mereka peroleh
dari pembacaan teks-teks. Katakanlah, itu semacam visualiasi kuantitatif
tentang seberapa banyak pasukan Sekutu mencaplok wilayah yang sebelumnya
dikuasai Nazi Jerman dan seberapa banyak pihak yang terakhir ini semakin
terjepit dan akhirnya seolah-olah lari tunggang-langgang.
Namun, ketiadaan
peta-peta semacam itu tidak mengurangi penggambaran bagaimana trengginasnya
para prajurit Sekutu dalam mengusir Nazi Jerman dari bumi Prancis. Dalam lima bab ringkas-padat, kegelisahan
hati kita terkait impotensi mesin perang Jerman bisa terjawab tuntas. Berbagai
figur dari barisan pertahanan Jerman—beserta foto dan penjelasan aksi
mereka—menjadi kekuatan tersendiri buku ini yang bisa kita nikmati. Akhirnya, setelah
mundur dari Prancis, balaperang Nazi Jerman seolah-olah “dibiarkan” pihak Sekutu
untuk mengumpulkan tenaga serta mengatur strategi dalam perang selanjutnya.
Babak berikut setelah “Neraka di Normandia” pun dipersiapkan. Namun, itu masih
menunggu buku yang lain, barangkali.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar