Tampilkan postingan dengan label media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label media. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Januari 2009

Nubuat "Helter Skelter" Charles Manson, Barack Obama, dan Indonesia

Setelah Barack Obama diambil sumpahnya pada 20 Januari 2009 yang lalu – dan sumpahnya diulangi karena ada kesalahan “kecil” pada keesokan harinya – Amerika Serikat secara resmi membuka lembar sejarah baru: memiliki presiden keturunan Afro-Amerika yang pertama.

Sebagai orang luar, kita mungkin tidak begitu mampu menyelami perasaan atau emosi campur-aduk yang sudah pasti dialami oleh banyak warga negara Paman Sam tersebut. Bayangkan, salah satu negara yang cukup “rasis” di dunia, ternyata terbukti dapat melampaui penghalang atau batu sandungan yang selama ini menghantui kehidupan bermasyarakat di sana: warna kulit. Rasisme berdasarkan warna kulit memang hanya merupakan salah satu bentuk rasisme – juga termasuk salah satu saja di Amerika – di samping hal-hal lain. Namun, rasisme jenis ini terbukti yang sukar punah dan “paling betah” bercokol di dalam benak manusia, entah di Amerika Serikat maupun bukan.

Gerakan Ku Klux Klan adalah salah satu bentuk kelompok atau kegiatan rasis yang cukup lama bertahan dan juga cukup terkenal di Amerika Serikat. Di samping gerakan tersebut, masih banyak gerakan-gerakan yang lain. (Bagi yang ingin mengetahui lebih jauh tentang rasisme di Amerika Serikat, klik di sini



Semua gerakan tersebut – walaupun dapat dikategorikan sebagai “anti-kulit hitam” – memiliki latar belakang ideologi yang cukup beragam: dari yang hanya sekadar anti-kulit hitam sampai yang “meramalkan” kebangkitan kaum kulit hitam.

Ketika Obama selesai membacakan sumpahnya, saya teringat dengan salah satu film yang pernah saya tonton beberapa tahun sebelumnya: “Helter Skelter” (2004). Film ini dibuat berdasarkan suatu buku yang ditulis oleh Vincent Bugliosi, seorang jaksa. Bugliosi adalah jaksa yang mengajukan kasus yang sangat terkenal. Kasus Helter Skelter, atau Kasus Pembunuhan Tate-LaBianca, atau Kasus Charles Manson



Charles Manson barangkali seorang psikopat. Ia banyak mengambil bahan-bahan bagi “nubuat gila”-nya dari lagu-lagu the Beatles dan Alkitab. Dari judul lagu Beatles yang terkenal, “Helter Skelter” (album White Album), dan digabungkan dari berbagai ayat dalam Alkitab (terutama Kitab Wahyu), Manson meramalkan kedatangan suatu perang antar-ras, ras kulit hitam dan ras kulit putih. (Bagi yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai “nubuat Helter Skelter”, silakan klik di sini



Manson menyuruh para pengikutnya untuk membunuh Sharon Tate (yang sedang mengandung) beserta seisi rumahnya dan juga membunuh pasangan LaBianca – semuanya berdasarkan suatu nubuat: nubuat Helter Skelter. Garis besar nubuat yang dilihat oleh Charles Manson adalah sekitar kebangkitan ras kulit hitam di atas kulit putih. Kulit hitam akan menjadi kekuatan yang menindas kulit putih. Pembunuhan yang mereka lakukan menjadi semacam suatu “pertanda” bahwa perang antar-ras tersebut akan dimulai (atau lebih tepat: pembunuhan itulah yang memicu perang tersebut).

Bugliosi awalnya kesulitan mencari motif Charles Manson dan kawan-kawannya. Berdasarkan temuan polisi, sama sekali sulit untuk menentukan siapa yang menjadi dalang pembunuhan Sharon Tate dan pasangan LaBianca. Khusus untuk kasus Sharon Tate, polisi sempat mencurigai seorang centeng rumah Tate dan juga akhirnya sempat mencurigai Roman Polanski, suami Sharon sendiri.



Namun, dari hasil “pengakuan” salah seorang mantan pengikut Manson, Bugliosi baru tahu bahwa Manson – di samping sebagai seorang pemimpin kelompok hippies – juga berperan sebagai seorang “nabi” bagi kelompok tersebut. Sebagai “nabi”, ia banyak mencomot dan menafsirkan lirik lagu Beatles dan ayat-ayat Alkitab (terutama Kitab Wahyu). Hasil comotan dan tafsiran tersebut berujung pada nubuat perang antar-ras tadi. Dari situlah, Bugliosi memperoleh motif — jika tidak, Bugliosi sama sekali tidak punya kasus apa-apa. (Bagi yang ingin mengetahui Charles Manson dan kasus pembunuhan Tate-LaBianca, silakan klik di sini



Itu terjadi pada tahun 1969. Bagaimana sekarang? Entah apa komentar Manson ketika memandang seorang presiden “kulit hitam” yang kini “menduduki” White House. Apakah Barack Obama merepresentasikan suatu supremasi kulit hitam terhadap kulit putih? Barangkali, dalam pikiran Manson, memang demikian. Tidak masuk akal bagi orang seperti Manson bahwa ada seorang kulit hitam bisa menjadi presiden dari sebuah negara yang mayoritas penduduknya kulit putih – seperti Amerika Serikat.

Manson boleh berpendapat bahwa nubuat “Helter Skelter”-nya sudah atau hampir digenapi. Itu Charles Manson, seorang yang mungkin agak psikopat. Namun, bagaimana dengan kita yang “lebih normal” daripada Manson? Apakah kita punya fobia semacam itu atau malah mengidap psikopat yang sama? Kalau iya, berarti kita boleh menjadi pengikut Charles Manson (hehehehe….).

Tapi, tidak. Saya berharap, kita tidak rasis, tidak juga psikopat atau menderita sejenis fobia tertentu. Jadi, satu-satunya ketidaksukaan atau ketidaksetujuan yang masuk akal terhadap terpilihnya Barack Obama adalah ketidaksetujuan berdasarkan “alasan politis” tertentu, seperti misalnya: Obama ternyata pro-choice (bahkan mungkin pro-abortionist). Untuk bagian ini, saya benar-benar kontra-Obama. Tapi, ini sebatas alasan politis atau moral yang konkret, bukan warna kulit atau hal lainnya yang tidak relevan.

Lalu, bagaimana di Indonesia? Apakah orang Indonesia menderita semacam rasisme atau fobia tertentu – katakanlah terhadap salah satu ras/suku tertentu? Tentu, sangat disayangkan memang. Sama seperti Manson – semoga tidak separah dia – sikap rasis atau fobia semacam itu memang tampaknya sangat masuk akal, yaitu sejenis akal yang menciptakan tembok-tembok yang menutupi seseorang dari dunia luar. Di dalam tembok – di dalam dunia bentukannya sendiri itu – semuanya tampak masuk akal. Kebencian atau ketidaksukaan berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) menjadi sesuatu yang sangat rasional dan justru mutlak diperlukan. Diperlukan? Ya, diperlukan untuk memapankan dunia fiktif hasil ciptaannya sendiri. Orang semacam ini bukannya tidak mau “sembuh”. Problem mereka adalah bahwa mereka tidak tahu bahwa mereka sebenarnya sedang “sakit”.

Tidak heran jika Manson dan para pengikutnya yang ditahan atas kasus pembunuhan Tate-LaBianca tersebut beberapa kali mengalami penolakan atas permohonan pembebasan bersyarat. Barangkali, mereka yang menolak berpendapat: orang seperti mereka tidak mungkin sembuh, karena toh nyatanya mereka sendiri tidak merasa sakit.

Suara pukulan gendang yang meramaikan Tahun Baru Imlek kemarin membuat kita sadar bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya tidak serasis seperti golongan Ku Klux Klan atau sefobia seperti Charles Manson. Masyarakat Indonesia – syukurlah – sudah agak terbiasa dengan fenomena perbedaan dan relasi antar-suku, ras, dan agama. Ini cukup melegakan.

Namun begitu, isu-isu sensitif terkait pemilihan umum sering mengemuka. Dulu, menjelang pemilu demokratis pertama pasca-tumbangnya Orde Baru – yaitu pemilu tahun 1999 – isu SARA dan gender sempat merebak terkait dengan munculnya salah satu partai dan calon presiden dari partai tersebut. Walaupun mereka yang menyebarkan kebencian terkait SARA dan gender tersebut belum termasuk dalam kalangan “Mansonmaniac” – apalasi sampai melahirkan “nubuat Helter Skelter” – namun tak ayal, hal itu membuat kita sedikit tersadar bahwa masyarakat di sini masih sensitif dengan hal-hal tersebut. Rasisme atas nama SARA dan gender masih seperti “bara dalam sekam”, yang sewaktu-waktu dalam melumat dan membakar struktur sosial yang sudah bagus dibangun oleh para pendiri republik ini. Begitu juga dengan kasus-kasus pembakaran tempat ibadah dan konflik horisontal di berbagai daerah seperti Maluku, Kalimantan, dan sebagainya.

Kita sadar bahwa tidak semua anggota masyarakat Indonesia seterbuka dan setoleran seperti warga kulit putih yang dengan rela dan sadar memilih Barack Obama sebagai pemimpin mereka. Mungkin, untuk mencapai masyarakat yang 100% toleran, kita masih membutuhkan banyak waktu. Dan untuk itu, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Namun, sambil mengerjakan pekerjaan rumah, tentu kita tidak dilarang untuk mendengarkan lagu “Helter Skelter” dari The Beatles:

When I get to the bottom I go back to the top of the slide

Where I stop and I turn and I go for a ride

Till I get to the bottom and I see you again.



Do you, don't you want me to love you

I'm coming down fast but I'm miles above you

Tell me tell me tell me come on tell me the answer

You may be a lover but you ain't no dancer.



Helter skelter helter skelter

Helter skelter.

Selasa, 26 Agustus 2008

The U.S. vs John Lennon


Director: David Leaf dan Johnn Scheinfeld
Written: David Leaf dan Johnn Scheinfeld
Producer: David Leaf dan Johnn Scheinfeld
Time: 99 minutes
Published Year: 2006


Perang Dingin. Superpower. Amerika. Komunisme. Vietnam. Korban. Mati. Kematian. Rock and Roll. Beatles. Yeah, yeah, yeah. Woodstock. Mariyuana. Ganja. Hashish. LSD. Opium. Seks. $#@!!&%....

Perang, seks, obat, dan rock n’ roll. Mungkin itu beberapa kata kunci yang dapat menjelaskan hiruk-pikuk di sekitar dasawarsa 1960-an dan 1970-an. Zaman berubah, orang-orang berubah. Para baby boomer – mereka yang lahir di sekitar masa Perang Dunia Kedua (PD II) dan juga terutama yang tak lama setelah itu – kini mencapai umur yang matang. Mereka menjadi warga yang cukup sadar akan dinamika sosial serta juga paling aktif dalam menanggapi dinamika tersebut. Pendeknya, para baby boomer tidak lagi dibebani oleh agenda-agenda yang pada masa pra-PD II sangat memenuhi kosakata dan wacana orang-orang tua yang masih hidup dalam romantika perang dan masa-masa keemasan pra-perang, baik di Eropa maupun di Amerika.

Jika ini sebuah opera musik besutan Andrew Lloyd Webber, mungkin ia akan mengawalinya dengan suatu parade pasukan bersenjata yang dihadang oleh sekelompok pemuda(i) berpakaian ala flower generation. Sembari menyelipkan setangkai mawar di ujung bedil sang komandan pasukan, wakil dari pemuda tadi berkata: “Make Love, Not War…” (atau yang lebih klasik: “Say it with flower…not with your weapon…”).

Adegan tadi adalah semacam pralambang mengenai apa yang terjadi pada masa-masa itu dan yang ingin didokumentasikan oleh film ini. Film berdurasi hampir 100 menit ini berpusat pada seorang figur yang sebenarnya lebih dikenal dalam kalangan musik: John Lennon.

Tumbuh sebagai seorang anak yang pemberontak – ditinggal pergi oleh ayahnya ketika masih bayi dan ditinggal mati oleh ibunya dalam usia belia – John kecil ternyata punya bakat anti-kemapanan. Episode dalam masa-masa Beatles mungkin hanya merupakan episode “numpang lewat”. John berkembang dengan bandnya itu, baik secara musik maupun ide. Ini seolah-olah hanya menyiapkan suatu episode lain dalam hidupnya yang menjadi inti dari film ini.

Ketika isi kepala John Lennon mulai berkembang ke arah yang lebih luas, isi kepala Presiden Lyndon B. Johnson (LBJ) di Amerika juga berkembang ke arah yang sedikit berbeda; sesuatu yang agak berbeda dengan isi kepala John F. Kennedy – presiden yang digantikannya karena orang yang belakangan ini mati ditembak di Dallas pada tahun 1963.

LBJ rupanya senang memainkan kartu klasik dalam dunia diplomasi: perang adalah bentuk lain dari diplomasi. Komunisme sudah jelas jahat, dan Tuhan tentu saja tidak menginginkannya. Sebagai bangsa pilihan Tuhan, sudah sepantasnya Amerika Serikat mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengusir setan komunisme dari setiap jengkal tanah di bumi ciptaan Tuhan ini.

Setan itu kini hadir di Vietnam – setelah berhasil menancapkan cakar-cakarnya di Korea. Agenda LBJ sudah jelas: memperhebat sarana-sarana yang diperlukan untuk mengusir setan tersebut dari bumi Asia Tenggara.

Pada saat yang sama, John Lennon – yang tengah “angin-anginan” bersama bandnya, Beatles – sedang mencoba suatu yang baru. Tepatnya: ia tidak mencoba, tetapi memang secara alami masuk ke dalam suatu kawasan yang sama sekali asing bagi dirinya: politik. Proses yang memang alami ini sebenarnya dapat diamati dalam beberapa lirik lagu John dalam Beatles – walaupun banyak sekali lirik lagu Beatles sangat ambigu, misalnya lirik lagu Happiness is a Warm Gun dan Revolution.

Di Amerika, LBJ kalah dalam pemilihan umum presiden pada tahun 1968. Seorang presiden baru dari Partai Republik yang ternyata justru lebih jelek ketimbang LBJ akhirnya terpilih: Richard Nixon (ini membuat kita seolah-olah percaya dengan adagium lama: “Lebih baik kita memilih setan yang sudah dikenal, ketimbang setan yang belum dikenal sama sekali!”). Jika LBJ memilih perang, Nixon memang lebih suka perang. LBJ mengirim banyak tentara Amerika ke Vietnam, sementara Nixon mengirim lebih banyak lagi – bahkan mengampanyekannya.

Sementara itu, John Lennon – di belahan dunia yang lain – ternyata lebih suka “mengirimkan” hal yang lain: ia mencoba mengirimkan apa yang disebutnya sebagai total communication. Apa itu? Ia membungkus dirinya di dalam apa yang disebutnya sebagai "bagisme"(bag = tas), bersama istrinya yang baru: Yoko. Ia melakukannya agar orang mendengarkan pesan perdamaian yang ia sampaikan, tanpa menghakimi penampilan fisiknya (rupanya, orang sering kali memperhatikan penampilan si penyampai pesan ketimbang isi pesannya. Penampilan itu bisa mencakup gender, warna kulit, dan panjangnya rambut).

Sesederhana itu? Iya. Sekonyol itu? Tergantung – tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Masing belum puas? Pada tahun 1969 itu, John juga punya ulah serupa: "Bed Peace" (Bed-in for Peace). Sadar bahwa perkawinannya sedang menjadi komoditas pers, ia dan istrinya melakukan kampanye perdamaian di atas tempat tidur. Tentu, para wartawan mengharapkan pasangan yang baru menikah ini melakukan semacam “atraksi seksual”, sesuatu yang sama sekali tidak mereka dapatkan. Sama dengan bagism, bed peace juga dilakukan demi perdamaian.

“Tidak ada yang memberikan kesempatan damai secara penuh,” begitu ujar John. Dan ia pun mengajak orang-orang menyanyikan Give Peace a Chance. Ya, beri perdamaian kesempatan.

Ada wartawan yang bertanya apakah semua itu efektif? John menjawab: “Ini adalah kemungkinan yang terbaik, fungsional dan efektif.” Si wartawan mendesak: bukankah ini tidak akan mengubah apa-apa. “Memang, kami tidak mengharapkannya dengan mudah. Mereka berpikir bahwa ini dapat dilakukan dalam semalam.”

Toh, itu belum cukup. Jika kedua model kampanye tadi John lakukan di luar Amerika, kini ia mulai secara aktif memasang iklan – benar-benar iklan dalam bentuk papan reklame raksasa – di 11 kota di dunia, termasuk di Amerika (New York dan Los Angeles). Kampanye ini lebih verbal: “War is Over. If You Want It. Happy Christmas from John & Yoko”.

Jadi, ketika John Lennon mulai aktif di Amerika pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, ia muncul sebagai figur yang “sulit”, bahkan “berbahaya”. Nixon dan para pembantunya tahu hal ini.

Ketika John mulai mendarat di Amerika dan mencoba menjadi warga negara negeri ini, ia melakukan sesuatu yang tidak “terlalu manis” di mata pemerintah Amerika. Ia akrab dan aktif dalam kegiatan kelompok perdamaian, kelompok anti-perang, seperti kelompok-kelompok yang dipimpin oleh Abbie Hoffman, Jerry Rubin, Bobbie Seale (Black Panthers), John Sinclair dan Ron Kovic (penulis buku “Born on Fourth July” yang sudah difilmkan). Padahal, Nixon, di lain pihak, sedang secara ketat mengawasi kelompok-kelompok tersebut, kelompok-kelompok yang sedang mempertanyakan kebijakan perangnya di Vietnam.

John Lennon tampak seperti orang bodoh: berteman dengan orang-orang yang akan mempersulit posisinya, terutama posisinya sebagai pemohon kewarganegaraan Amerika Serikat. G. Gordon Liddy, seorang penasihat Nixon, melihatnya secara jelas: John Lennon justru menjadi alat yang sangat berbahaya di tangan kelompok tersebut. “Mereka kini punya amunisi baru,” begitu ujarnya. “Ketika kau memasukkan Bobby Seale dalam timmu, semua polisi akan membencimu. Semua petugas hukum di bumi akan menentangmu.”

Orang yang berpikir positif mungkin berpikir: “John Lennon memilih teman yang salah.” Kemudian dengan sedikit nasihat: “Dia bisa saja tetap bermain musik, menjauh dari obat-obatan, dan tetap mulut tentang apa yang dia suka dan tidak suka tentang Amerika Serikat.” Atau juga: “Nyanyikan saja lagumu dengan tenang.”

Namun, Lennon adalah orang yang polos. Ia senang bergaul dengan para aktivis tersebut karena menganggap mereka mempunyai ide-ide yang sama dengannya. Ia memuji ide-ide mereka, dan mereka pun memuji mantan anggota the Beatles yang sangat populer ini yang ternyata seia-sekata dengan mereka. Klop.

Satu peristiwa telak membuat Nixon dan para penasihatnya berpikir ulang tentang John adalah terkait konser untuk John Sinclair – seorang aktivis yang ditahan oleh kepolisian Michigan – pada 10 Desember 1971. Nixon harus memperhitungkan dengan serius John Lennon setelah peristiwa itu. Peristiwa apa itu? Bagaimana akhir “kucing-kucingan” antara John Lennon dan pemerintahan Amerika Serikat di bawah Nixon? Apakah John Lennon akhirnya memperoleh kewarganegaraan AS? Lalu apa yang menyebabkan John Lennon ditembak mati? Nonton saja sendiri film dokumenter ini.

Ini film dokumenter yang menarik. Selain diisi dengan berbagai dokumentasi wawancara dengan John Lennon dan aktivitasnya pada tahun-tahun itu serta wawancara dengan para aktivis perdamaian di Amerika, film ini juga diisi dengan beberapa cuplikan lagu John Lennon yang terkenal. Oh, ya, beberapa wawancara dilakukan dengan beberapa pengamat sosial-politik dan tokoh humanis seperti Carl Bernstein, Gore Vidal, dan Noam Chomsky, juga wawancara dengan penasihat Nixon, pengacara John Lennon, dan sebagainya.

John Lennon bukan manusia sempurna – ia justru tampak manusiawi dengan ketidaksempurnaannya itu. Namun, toh, kita bisa belajar beberapa hal dari dia, setidaknya untuk urusan perdamaian ini. Peace!

Senin, 09 Juni 2008

J.R.R. Tolkien: Simbolisasi Gandalf, Frodo, dan Aragorn

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa J.R.R. Tolkien – penulis novel trilogi terkenal: The Lord of the Rings – adalah seorang Katolik yang saleh. Anda yang mau membaca biografi Tolkien, dapat ke link ini: http://en.wikipedia.org/wiki/J._R._R._Tolkien

Namun, di sini, saya mau membahas sedikit, mengenai unsur-unsur Katolisisme dalam berbagai tulisannya. Memang, tidak semua tulisan Tolkien akan saya bahas – paling-paling cuma yang populer saja, yaitu trilogi the Lord of the Rings (kok, standar, yaah?).

Anda yang tertarik dengan topik ini bisa mendatangi link-link berikut ini:
http://www.catholicqanda.com/LOTR.html
http://tolkienandchristianity.blogspot.com/
http://treasuresofgrace.com/tolkien/
http://www.tolkiensociety.org/

Namun, saya ingin menguji tesis yang dibuat oleh salah satu link di atas (nggak tahu link yang mana – cari saja sendiri): tiga tokoh dalam trilogi The Lord of the Rings (Gandalf, Frodo, dan Aragorn) adalah simbolisasi dari Yesus Kristus sendiri, terutama terkait dengan fungsi-Nya: Imam, Nabi, dan Raja.

Mari kita lihat satu per satu apa yang sudah dilakukan oleh karakter-karakter di atas sehingga bisa disebut sebagai “simbolisasi Kristus”.

Gandalf. Jelas, dia adalah tokoh yang paling “rohani” ketimbang Frodo dan Aragorn: pakaian yang putih (awalnya abu-abu), membawa tongkat, jenggot putih panjang melambai-lambai, kata-katanya sangat bijak dan penuh dengan nasihat. Orang tidak akan terlalu sulit untuk melihat persamaan karakter Gandalf dan berbagai karakter dalam Alkitab. Tentu dengan Yesus, kita juga akan melihat beberapa kemiripan, seperti misalnya transformasi dari Gandalf the Grey menjadi Gandalf the White, yang terjadi ketika Gandalf seolah-olah – atau sebaiknya: “dikira” – mati (The Fellowship of the Ring). Tentu, Yesus bukanlah seolah-olah mati; Dia memang mati beneran. Namun, toh, pengalaman “tersingkirkan”, “mati” (atau “dikira mati”), “terbuang”, “kalah” yang dialami oleh mereka berdua memang cukup dekat dan agak mirip.

Lalu, pengalaman “bangkit dari kematian” yang dialami oleh Gandalf pun cukup mirip. Gandalf ternyata tidak kalah – dan juga tidak mati! Ia mengalami suatu proses yang barangkali memang harus dia lewati. Ia kembali sebagai pemenang, dengan berubah menjadi seseorang yang lebih bijak, dengan suatu status yang lebih tinggi: “the white”, dengan jubah putihnya. Kesamaannya dengan peristiwa Yesus memang ada, walaupun peristiwa Yesus jauh lebih transformatif dan lebih mendalam. Toh, kesan “mukjizat” dan unsur surprise tetap kelihatan dan – dalam kasus Gandalf terutama – sangat menghibur (dalam kebangkitan Yesus pun, peristiwa itu sangat menghibur dan membuat suka cita sebagaimana terdengar dari madah paskah).

Frodo. Ini agak sulit. Perjalanan susah payah Frodo ke Gunung Mordor jelas memiliki paralel dengan perjalanan Yesus ke Bukit Golgota. Namun, jika Frodo pernah sekali dua kali tampak putus asa (seperti kelihatan dalam Two Tower), Yesus jelas tidak pernah putus asa (walaupun dalam satu doa-Nya ia sempat berucap: “jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku (Mat. 26:39). Namun, Yesus segera menambahkan: “tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Salib yang dipanggul Yesus tidak identik dengan cincin yang dibawa Frodo walaupun keduanya merupakan beban yang menyakitkan. Salib pada Yesus sarat dengan lambang pengorbanan, bukan lambang kekuasaan sebagaimana cincin yang dibawa Frodo. Frodo sekali-dua kali tergoda menggunakan cincin (akhirnya ia secara sadar menggunakannya pada akhir trilogi) – ini wajar karena cincin tersebut merupakan lambang kekuasaan, sesuatu yang sangat nikmat dan menyilaukan mata. Salib Kristus tidak menyilaukan mata dan jauh dari kenikmatan duniawi. Ia justru disingkirkan – bahkan saya yakin, jika Kristus diberi kesempatan oleh Bapa-Nya untuk memilih antara memanggul salib dan tidak memanggul salib, secara manusiawi, Ia pasti memilih tidak memanggul salib.

Namun, kesamaannya jelas: Kristus dan Frodo sama-sama harus menanggung beban, penderitaan, sesuatu yang barangkali tidak mereka inginkan, namun sudah ada di depan mata dan di atas pundah mereka. Keduanya tetap setia sampai garis akhir perjuangan, dengan sedikit perbedaan: Kristus tidak tergoda untuk memanfaatkan salib (memangnya ada salib yang bisa dimanfaatkan. Hehehehe) sementara Frodo sempat tergoda menggunakan cincin. Jelas karakter pribadi kedua tokoh memang berbeda, sementara media yang diperjuangkan juga berbeda: cincin lambang kekuasaan dan salib tanda penderitaan dan penebusan. Cincin harus dimusnahkan, sementara salib harus dipikul, ditegakkan antara bumi dan langit.

Aragorn. Sepintas, wajah-wajah Yesus dalam berbagai lukisan populer sudah agak mirip dengan karakter yang dimainkan oleh Vigo Mortensen dalam film garapan Peter Jakcon atas trilogi Tolkien. Namun, Aragorn dalam novel-novel asli Tolkien, menurut hemat saya pribadi, jauh lebih agung dan berwibawa. Jelaslah, citra seorang raja mesianik dalam Alkitab lebih cocok dengan gambaran dalam novel ketimbang film. Namun, memang bukan itu yang penting. Apakah Aragorn memiliki kemiripan dengan Yesus sebagai Raja Mesianik?

Tentu, tidak, kalau dilihat bahwa Aragorn adalah seorang raja yang berpedang dan menunggang kuda – dua hal yang agak asing dengan Yesus. Namun, walaupun begitu, Yesus tetaplah seorang “raja”, karena tahkta Daud memang akan diberikan kepada-Nya: “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya.” (Luk. 1:32). Jelas takhta di situ adalah takhta raja, bukan yang lain. Namun, bagaimanakah Yesus menjadi raja?

Tipologi raja mesianik dalam Perjanjian Lama banyak yang cocok dan memang digenapi secara telak oleh Yesus, tetapi tentunya bukan yang “naik kuda” dan “mengayunkan pedang”. Namun, peristiwa Yesus yang di-raja-kan tidak muncul secara dramatis atau mentah dalam keempat Injil. Para penulis Injil memang menceritakan kepercayaan para pengikut-Nya bahwa guru yang diikuti adalah seorang raja, walaupun dengan sedikit perbedaan dan sedikit koreksi di sana-sana. Toh, figur raja yang sangat dinanti-nantikan – jika memang dalam arti seperti inilah Yesus “menjadi raja” – memiliki kemiripannya dengan karakter Aragorn. Aragorn pun mengisi takhta yang sudah lama kosong – dan ia memperolehnya dengan tidak mudah, penuh perjuangan. Jelas, ada kemiiripan sedikit di sini (tentunya tidak perlu dilebih-lebihkan atau dipaksakan).

Kembali kepada Tolkien. Seberapa Kristenkah Tolkien – atau seberapa Katolikkah Tolkien? Ini agak sulit dijawab. Link-link di atas menunjukkan banyak unsur yang dapat membantu kita mengidentifikasikan berbagai unsur Katolik – atau setidaknya Kristiani – dalam tulisan-tulisan Tolkien. Namun, sakramentalitas adalah hal yang cukup kelihatan dalam kisah-kisah Tolkien, yaitu simbol-simbol dari kejahatan atau kebaikan. Simbol-simbol tersebut sangat riil, nyata dan insani. Manusia-manusia yang terlibat di dalam – melalui dan bersama – simbol-simbol itu begitu dipengaruhi dan mempengaruhi manusia lain. Jelas, itu bukan simbol dalam arti “konseptualistis”, yang abstrak dan mengawang-awang. Simbol “konseptualistis” seperti itu pasti tidak berpengaruh apa-apa terhadap manusia, karena kita dapat mengabaikan dan melarikan diri darinya. Namun, simbol-simbol dalam tulisan Tolkien sangat menyentuh, menjadi “hidup” dan “mati” bagi orang-orang yang berinteraksi dan terkait dengannya: orang harus memilih atau menolak – tidak bisa apatis. Dengan simbol itu, manusia-manusia di dalam kisah Tolkien dapat menjadi hidup atau bahkan mati (jadi, jangan salah pilih…). Simbol itu – sekali lagi – riil. Itulah “sakramentalitas Katolik” ala Tolkien.

Sebagai penutup, mungkin saya harus mengutip salah satu tulisan favorit saya dari Tolkien:

The only cure for sagging or fainting faith is Communion. Though always itself
perfect and complete and inviolate, the Blessed Sacrament does not operate
completely and once for all in any of us. Like the act of faith it must be
continuous and grow by exercise. Frequency is of the highest effect. Seven times
a week is more nourishing than seven times at intervals. . . .[ Excerpted from a
letter to Tolkien's son Michael written on November 1, 1962 (Letters of J. R. R.
Tolkien, Humphrey Carpenter, ed., Houghton Mifflin Co. [1981], pp. 337-9)]

Rabu, 09 April 2008

Fitna: Siapa Difitnah dan Siapa Memfitnah?

Masih ingat The Da Vinci Code? Film yang diangkat dari novel Dan Brown dan dibintangi Tom Hanks itu ternyata menjadi suatu film yang cukup laris juga ketika diputar (tidak semua film yang berasal dari novel yang cukup laris juga ikut-ikutan laris).

Orang tentu menduga: masuk akal jika film tersebut laris, karena toh novelnya pun laris (bahkan novelnya jauh lebih laris di mana filmnya tidak selaris ketimbang novelnya – ini kebalikan dari trilogi The Lord of the Rings di mana filmnya jauh lebih laris ketimbang novelnya). Tidak heran jika mereka yang sudah membaca novelnya juga masih ingin melihat bagaimana versi layar lebar novel tersebut.

Namun, kita dapat memikirkannya dari sisi lain: isi film tersebut. Orang berpikir bahwa isi filmlah yang seharusnya membuat orang tertarik untuk menonton film. Lalu, apa isi film The Da Vinci Code? Isinya kurang lebih sama dengan isi novelnya: suatu kisah thriller yang bersendikan pada plot “terbongkarnya” rahasia sepanjang hampir 2000 tahun, yaitu bahwa Yesus ternyata menikah dengan Maria Magdalena. Rahasia ini ditutup-tutupi oleh Gereja selama masa tersebut dan baru terbongkar oleh seorang detektif (Mr. Langdon) dalam petualangannya. Jelas, gagasan “Yesus menikah dengan Maria Magdalena” merupakan penjungkirbalikkan atas akidah dari tradisi keagamaan tertentu.

Kini muncul film Fitna, hasil karya Geert Wilders, seorang anggota parlemen Belanda. Saya sudah lihat filmnya. Filmnya biasa-biasa saja. Saya mengira film itu berisi suatu kisah cerita, ternyata hanya suatu potongan-potongan dokumenter saja. Banyak dari potongan-potongan film dokumenter tersebut sebenarnya sudah diketahui oleh umum, karena potongan-potongan film tersebut berasal dari berita yang disiarkan oleh berbagai stasiun televisi internasional.

Lalu di mana letak menarik atau sisi kontroversial film tersebut? Potongan-potongan film dokumenter tersebut terutama berisi berita terkait aksi-aksi terorisme semenjak peristiwa 11 September 2001, termasuk cuplikan hasil aksi-aksi tersebut. Kalau itu masih belum cukup, si pembuat film juga memasukkan berbagai khotbah keagamaan yang terasa “galak” yang menurut si pembuat film memiliki kontribusi dalam mendorong aksi-aksi terorisme tadi. Tentu kita tahu, aksi terorisme dan khotbah-khotbah keagamaan tersebut berasal dari kelompok mana.

Masalahnya adalah: apakah film tersebut menggambarkan apa sebenarnya dari agama yang dimaksud? Atau, lebih tepat, apakah ideologi yang dianut kelompok tersebut memang mewakili agama tersebut?

Ada fakta yang tidak dapat disangkal: kelompok teroris – entah yang diperlihatkan cuplikan aksinya dalam film tersebut atau tidak – memang memiliki pandangan dunia atau ideologi tersendiri. Pandangan dunia ini muncul sebagai hasil dari interpretasi atas tradisi sebagaimana yang termaktub dalam suatu agama, entah dalam bentuk kitab suci atau yang lain. Kita dapat berdebat apakah interpretasi kelompok ini sahih atau tidak – apalagi jika ternyata kelompok ini bukan satu-satunya dalam tradisi keagamaan tersebut. Tidak heran jika terjadi “perang interpretasi” dalam tradisi keagamaan tersebut, yaitu perang yang terjadi di antara berbagai kelompok di dalam tradisi agama tersebut untuk memperebutkan wacana “siapa penafsir paling benar”.

Sejauh “perang” tersebut terjadi secara fair, terbuka, tidak terjadi pemaksaan, bersifat dialogis dan tidak mengikutsertakan kekerasan atau tindak kriminal yang melanggar Hak Asasi Manusia, barangkali “perang” itu menjadi sah-sah saja. Perbedaan wacana dan interpretasi adalah biasa. Namun tidak boleh suatu kelompok memaksakan penafsirannya kepada kelompok lain, apalagi dengan menggunakan kekerasan.

Jelaslah, kelompok yang digambarkan dalam film Fitna adalah kelompok yang memaksakan penafsirannya. Lucunya, mereka memaksakan penafsirannya bukan hanya kepada kelompok lain di dalam tradisi agamanya sendiri, tetapi mereka memaksakannya kepada semua umat manusia di muka bumi.

Kembali ke film Fitna. Film itu hanya memotret satu sisi dalam suatu tradisi keagamaan tertentu. Ia tidak memotret keseluruhan kenyataan. Dari segi itu, film ini memang kurang atau “cacat”. Namun, dari segi lain – yaitu potret atas suatu kelompok dalam suatu tradisi keagamaan – film itu cukup akurat.

Orang tentu tidak boleh melebih-lebihkan film itu. Film itu memiliki kelebihan, tetapi hanya sampai batas tertentu. Ia benar dalam satu sisi, tetapi keliru, bahkan sangat keliru dari sisi lain. Dari sudut ini, kita tidak perlu tersinggung terlalu jauh atas film ini. Film ini hanya memotret kelompok tertentu dari suatu tradisi keagamaan yang besar, namun hanya sampai sebatas itu. Film ini tidak dan memang gagal memotret tradisi keagamaan tersebut secara luas dan menyeluruh.

So, kita tidak perlu naik darah. Biasa saja. Toh, The Da Vinci Code boleh beredar di Indonesia – suatu film yang sebenarnya langsung menusuk akidah tradisi keagamaan tertentu di Indonesia. Kita memang harus fair, rendah hati, dan tetap membaca tanda-tanda zaman.

Kamis, 27 Maret 2008

Semoga Memang Hanya Situs Porno yang akan Diblokir…

Pemerintah Indonesia cukup sibuk akhir-akhir ini. Setelah ribut-ribut BLBI, kasus jaksa, dan penolakan calon gubernur BI oleh DPR, kini pemerintah meluncurkan “program sampingan”: pemblokiran situs-situs porno. Rencananya, pemblokiran ini akan dilakukan pada bulan April 2008. Anda dapat membaca beritanya, antara lain, di sini: http://www.chip.co.id/special-reports/wawancara-khusus-dengan-menkominfo-m-nuh.html (wawancara dengan majalah Chip-Online)

Ini menarik. Entah dari mana ide tersebut datang, rencana ini seyogianya ditanggapi secara positif. Bahkan, orang bertanya-tanya: mengapa baru sekarang?

Situs porno sudah hadir semenjak internet muncul di Indonesia pada awal atau pertengahan dasawarsa 1990-an. Situs tersebut memang sangat “menarik”, tetapi juga “mengganggu”. Ia “menarik” terutama bagi mereka yang menggemari “ketelanjangan” sebagai hiburan – apakah “ketelanjangan” sebagai seni dapat dicari dalam situs porno, itu adalah lain soal (saya agak meragukannya karena kedua “ketelanjangan” itu memiliki dimensi yang berbeda). Dan, tentu saja situs itu “mengganggu”. Saya bukan seorang moralis atau semacam penganut agama yang fanatik dan buta (walaupun itu ada sisi benarnya juga). Namun, kategori “mengganggu” di sini lebih bernuansa edukatif, ketimbang moral.

“Ketelanjangan” begitu saja merupakan gejala yang normal dalam hidup manusia. Namun, tidak ada yang “begitu saja” di bawah langit kapitalisme. Kapitalisme – entah apa Anda artikan kata ini – siap mengubah apa saja yang di bawah kolongnya menjadi segepok uang, atau setidaknya setumpuk kepentingan. “Ketelanjangan” juga menjadi salah satu korbannya. Tidak ada yang dapat “telanjang” dengan bebas, murni, dan innocent di bawah langit kapitalisme. “Telanjang” selalu berarti uang, keuntungan, posisi, dan kepentingan di bawah langit kapitalisme.

Coba pikirkan: si model yang difoto telanjang mendapat uang (tentu, ia tidak akan mau difoto telanjang jika ada pekerjaan lain yang lebih memadai dengan penghasilan yang kurang lebih sama). Si fotografer – dengan sedikit dibumbui seni dan hobi/minat – pasti juga tertarik mengambil gambar si model karena… dibayar. Tidak ada fotografer yang menjepret kameranya tanpa diiming-imingi akan dibayar. Si pemilik situs tentunya bukan orang bodoh yang mau saja memajang hasil jepretan si fotografer jika tanpa keuntungan.

Logika di atas berlaku untuk “media porno” mana pun: video atau yang lain. Semua bergerak karena ada “invisible hand”, yaitu sesuatu yang menggerakkan roda uang berputar, supaya setidaknya memperoleh uang yang sedikit berlebih (kalau perlu lebihnya banyak).

“Ketelanjangan” sudah menjadi komoditas: ia bisa diekspor, diimpor, diperbanyak, dibakukan, dan diorganisir sedemikian rupa sehingga mudah diperoleh, massal, dan instan. “Ketelanjangan” bukan lagi sesuatu yang alami dan innocent.

Rencana pemerintah sangatlah baik dan harus ditanggapi positif. Namun…

Namun, benarkah pemerintah akan konsisten dengan HANYA memblokir situs-situs porno. Di beberapa tempat, ada kekhawatiran bahwa pemerintah bisa saja dititipi oleh pihak-pihak tertentu untuk memblokir situs-situs lain juga. Situs-situs lain ini adalah – boleh jadi – situs-situs yang kritis terhadap pemerintah, situs-situs yang berisi forum diskusi yang sering mengkritik kebijakan pemerintah atau berisi diskusi yang cukup pans, entah masalah budaya, politik, agama, atau topik-topik lain.

Jika kekhawatiran ini terbukti, pemerintah benar-benar menghapuskan “ketelanjangan” lain yang masih tersisa, dan masih bersifat alami dan “innocent”, yaitu “ketelanjangan” dalam berbicara, berpendapat, dan beropini. Pemerintah sedang membunuh “ketelanjangan” yang fungsional, suatu “ketelanjangan” yang perlu dan pokok dalam sistem demokrasi seperti yang sering menjadi jargon dalam rapat-rapat politik berbagai partai di negeri ini.

Pemerintah seharusnya bisa mengajari rakyatnya untuk berpikir secara “telanjang”, terbuka, apa adanya, tanpa ditutupi, mengenai suatu pokok yang dipergumulkan. Rakyat punya hak bertanya, hak menjawab. Biarlah rakyat sendiri yang mendiskusikan masalah-masalah mereka, masalah-masalah yang mereka pergumulkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dapat berpikir kritis, atau setidaknya: mereka dapat dilatih untuk berpikir kritis. Itu adalah tanda masyarakat yang sehat dan dewasa; suatu masyarakat yang tidak takut dengan isu-isu, tetapi justru menanggai isu dengan pikiran dan diskusi yang terbuka.

Semoga pemerintah dapat membedakan: mana “ketelanjangan” yang perlu diberangus dan mana “ketelanjangan” yang perlu dalam kehidupan demokrasi yang sehat. Semoga…