Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juni 2012

Soegija: Garin Nurgroho Tidak Bernarasi tapi Berpuisi (Suatu Apologi)




Anatomi Kekecewaan
Beberapa teman mengungkapkan rasa kecewa setelah menonton “Soegija”. Saya awalnya termasuk dalam barisan kecewa juga, tetapi mencoba mengendapkan lagi apa yang saya tonton. Saya mencoba menangkap getar-getar kreatif yang dimunculkan film itu. Namun, izinkan saya membuat anatomi kekecewaan umum yang muncul setelah menonton film itu.

Kekecewaan pertama adalah terkait dengan fakta bahwa film ini ternyata bukan film biografis. Kebanyakan orang “tertipu” di bagian ini. Mereka mengira akan disuguhi oleh suatu biografi yang kurang lebih lengkap atau utuh dari Monsiyur Soegijapranata, dengan kisah yang berfokus pada kehidupan beliau. Kekecewaan kedua adalah bahwa film ini bukan film “agama Katolik”. Bagi yang datang ke bioskop dan mengira bahwa mereka akan disuguhi tontonan yang bersifat Katolik tentu kecewa besar. Film ini rupanya menyisakan sedikit hal-hal yang berbau Katolik. Itu pun dalam bentuk yang subtil dan “simbolik”.

Saya akan berangkat dari dua “kekecewaan” di atas dengan membahas beberapa “keluhan” atas hal-hal lain yang menurut saya “cukup objektif”, yaitu “konsistensi penceritaan yang lemah” dan “beberapa hal yang kurang akurat”. Misalnya, bagaimana Mariyem yang awalnya tidak suka pada Hendrick tiba-tiba berboncengan motor dengan mesra. Juga, bagaimana ibunda Ling Ling (Olga) tiba-tiba muncul di dalam gereja. Di beberapa situs Katolik, saya membaca kritik bahwa pakaian uskup yang digunakan juga tidak kontekstual (begitu juga beberapa hal lain)—saya tidak tahu apakah ini benar atau tidak. Belum lagi, penilaian—yang mungkin objektif atau tidak—bahwa akting para bintang dalam film ini tidak memuaskan. Beberapa orang menilai, justru akting para bintang Belanda (Wouter Zweers dan Wouter Braaf) lebih bagus ketimbang, misalnya, akting Olga Lidya.

Tulisan ini mencoba mengupas dua “kekecewaan” besar di atas dengan sedikit-sedikit “keluhan” yang lain.

Soegija: Cara Garin Berpuisi dengan Gambar dan Monolog
Ketika film ini akhirnya “jatuh” ke tangan Garin Nugroho, kita semua tahu betapa “bahaya” yang menghadang para penonton. Reputasi Garin sebagai pembuat film “esoterik” cukup tersebar di mana-mana. Masih membekas dalam benak banyak orang, karya-karya semisal “Opera Jawa”, “Daun di Atas Bantal”, “Bulan Tertusuk Ilalang”, dan “Mata Tertutup”. Orang merasa, jika menonton film besutan Garin Nugroho seperti masuk ke dunia lain.

Mengapa Puskat Pictures sebagai produsen “Soegija” sampai memilih Garin? Tampaknya pemilihan ini memang sangat disengaja. Para produsen—atau siapa pun yang berada di balik gagasan pembuatan film ini—tampaknya menginginkan sesuatu yang berbeda, dan terutama sesuatu yang tidak hanya bisa dinikmati oleh orang Katolik saja.

Idealisme mereka tampaknya bak gayung bersambut dengan Garin Nugroho yang baru selesai dengan proyek film “Mata Tertutup” (2011) yang juga sangat idealis itu—setidaknya menurut saya. Benturan yang kreatif ini tampaknya berbuah pada suatu tekad bahwa film tentang Albertus Soegijapranata itu tidak akan mereproduksi kehidupan uskup pribumi pertama di Indonesia itu mentah-mentah, tetapi mengolahnya secara kreatif dan kontekstual. Atau karena sutradaranya Garin, film ini akan bersifat film “ala Garin Nugroho”. Begitulah.

Entah bagaimana benturan kreatif itu berproses, tampaknya gagasan pokok yang mencuat adalah: film itu akan berfokus pada idealisme Soegija, bukan pada sosok historisnya belaka. Sosok historis tetap muncul, tetapi hanya sekelebatan. Lebih jauh, idealisme Soegija ditarik sampai batas-batasnya yang paling ekstrem: idealisme yang mengkritik kekinian Indonesia. Melihat proses benturan kreatif itu, tidak heran kalau Garin Nugroho justru menjadi orang yang tepat mengolahnya. Saya bahkan melihat “kemiripan” kemasan—cuma mirip, memang—antara “Soegija” dan “Mata Tertutup”.

Kini, apa yang kita lihat di layar bioskop kemarin? Apa yang kita lihat adalah bagaimana Garin Nugroho tengah berpuisi, tepatnya puisi tentang idealisme Soegija dalam bentuk visual. Berbeda dengan film sejarah lain, seperti “Gie” (2005) atau bahkan “Tjoet Nya’ Dhien” (1988), “Soegija” garapan Garin tidak berangkat dari asumsi bahwa tokoh atau peristiwa historis yang hendak “difilmkan” akan muncul secara linear dengan detail yang tegas. Tidak.

“Soegija” tidak muncul sebagai narasi yang utuh sebagaimana layaknya film sejarah. “Soegija” muncul sebagai puisi dengan alat utamanya berupa gambar visual dan dialog-dialog pendek. Tidak heran, ada beberapa gambar dalam “Soegija” yang muncul secara “mewah” atau bahkan “berlebihan”. Ini misalnya adegan orang-orang yang jatuh tumbang dimangsa peluru. Begitu juga dengan gambar-gambar lain. Sementara itu, dialog-dialog pendek muncul secara “tidak wajar”. Dialog-dialog itu lebih mirip dengan monolog. Monolog-monolog itu mencuatkan satire, karikatur, bahkan yel-yel para demonstran. Tidak heran, film ini meninggalkan banyak kutipan yang memorable, seperti: “Di rumah sakit ini, semua adalah pasien”, “Kalau jadi politikus, jangan haus kekuasaan. Kalau tidak, nanti jadi benalunya negara”, “Jangan lagi ada curiga, kebencian dan permusuhan”, dan masih banyak lagi. Ciri khas dari monolog dalam “Soegija” itu adalah: walaupun ia ada dalam konteks dialog, misalnya menjawab atau bertanya pada karakter lain dalam film, jawaban atau pertanyaan itu tidak terkait dengan pertanyaan karakter lain tersebut—atau tidak menuntut jawaban konkret karakter lain. Misalnya, jawaban Mariyem pada Robert di rumah sakit: “Di sini aku Maria, aku adalah ibu dari semua pasien di sini”. Jawaban ini seolah-olah ditujukan untuk penonton, bukan pada Robert. Dan pola yang sama hampir memenuhi semua “dialog” dalam film, misalnya antara Soegija dan koster Toegimin (diperankan Butet Kartaredjasa).

Baik gambar maupun monolog-monolog itu menjadi senjata utama dalam puisi Garin Nugroho yang berjudul “Soegija”. Garin secara bebas menghadirkan idealisme Soegijapranata untuk, misalnya—dan terutama—menegur situasi masa sekarang. Gambar dan monolog-monolog itu seperti mantra-mantra yang diulang-ulang, ditekankan sedemikian rupa, seperti kata-kata—atau suku-suku kata—dalam syair-syair Sutardji Calzoum Bachri. Dalam syair-syair Sutardji, kata-kata adalah mantra—orang boleh tidak peduli dengan narasi atau kisah yang ada di dalamnya, karena misi Sutardji adalah membebaskan kata—“kata yang hendak dibebaskan dari kungkungan pengertian dan dikembalikannya pada fungsi kata seperti dalam mantra,” begitu biasanya orang berkomentar mengenai fungsi “kata” dalam syair-syair Sutardji.

Inilah sebabnya mengapa “Soegija” bukan film biografi, juga bukan merupakan film sejarah seperti pada umumnya: puisi Garin sama sekali tidak mementingkan narasi. Ada memang semacam narasi, seperti narasi Mariyem, narasi Ling Ling, narasi Hendrick, narasi Robert, narasi Suzuki. Tapi narasi-narasi itu pun muncul ibarat penggalan-penggalan puisi yang mengumbar gambar dan monolog. Tidak heran, karakterisasi atau plot dari beberapa “narasi” tidak berkembang—atau setidaknya membingungkan, misalnya mengapa Mariyem akhirnya mau dibonceng Hendrick, atau ke mana saja ibunda Ling Ling dibawa tentara Jepang dan lalu mengapa ia muncul mendadak di dalam gereja. Sebagai puisi, pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada konsistensi narasi benar-benar tidak berguna. Apa yang penting dalam setiap narasi—atau lebih tepat penggalan puisi—itu adalah gambar dan monolog yang muncul.

Jalinan kisah atau para tokoh dalam “Soegija” lebih merupakan puisi-puisi visual yang disatukan dengan benang merah yang bernama Soegijapranata, atau lebih tepatnya: idealisme tokoh Soegijapranata. Ibarat menikmati syair-syair gila karya Sutardji Calzoum Bachri, kita seharusnya tidak mencari apa yang ada di balik “kata”—atau gambar dan monolog dalam film ini—tetapi justru menyusuri gambar demi gambar, monolog demi monolog, yaitu “kata-kata” visual dalam film ini. Ibarat

Puisi Garin, Harapan Penonton, dan “Genre Baru”
Tentu tidak mudah bagi orang menikmati puisi visual ala Garin seperti itu. Saya pun tidak. Masih ada rasa kosong, suwung atau ngelangut setelah keluar dari bioskop. Kesan yang langsung muncul adalah film “Soegija” adalah suatu kritik atas masa kini kita, bukan film tentang masa lalu kita. Ada perasaan tertipu, ada perasaan “lho kok gitu, yah”, dan terutama ada perasaan yang membuat kepala pusing karena sibuk berpikir. Mungkin harapan penonton terlalu besar ketika menonton film ini. Mereka mau mencari semacam “biografi visual” dari seorang Soegijapranata. Apa yang didapatkan mereka ternyata suatu kolase puisi yang subtil, ibarat mendengar syair-syair gila karya Sutardji Calzoum Bachri.

“Soegija” sebenarnya tontonan yang berat. Untuk bagian ini, saya merasa tertipu. Namun, saya merasakan juga pembebasan setelah menonton film ini. Seorang uskup pribumi pertama di Indonesia ternyata memiliki gagasan yang melampaui masa hidupnya. Anehnya, hal ini justru berhasil disampaikan melalui “film ala Garin Nugroho”. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana idealisme Soegijapranata bisa dipakai mengkritik politisi masa kini—supaya tidak menjadi “benalu negara”, begitu salah satu “monolog” dalam film itu—jika hanya difilmkan sebagai film sejarah biasa. Puisi Garin memang agak mengecewakan jika dilihat dari standar film sejarah yang umum dan lazim, tetapi justru menenteramkan hati karena ternyata idealisme masa lalu dekat pula dengan persoalan-persoalan hidup masa kini. Puisi Garin mengajak penonton untuk tidak hanya menengok masa lalu, tetapi justru menantang masa kini mereka.

Hal lain yang bisa dipelajari dari puisi Garin ini adalah kemungkinan untuk lahirnya suatu “genre baru” dalam film-film sejarah kita. Dengan format seperti di atas, “Soegija” tampaknya membentuk semacam pola yang baru dalam film bertema sejarah. Film sejarah yang berpuisi? Entahlah apa namanya. Garin tampaknya sengaja bereksperimen dengan film ini. Ia keluar dari genre film sejarah pada umumnya dengan meninggalkan teknik bernarasi yang umum: tokoh sejarah “dihisap” rohnya dan disalurkan secara bebas, secara puitik. Tokoh sejarah itu tersisa sosoknya secara karikatural, tetapi rohnya membayang di keseluruhan film. Entah apakah penonton yang “tertipu” mau peduli dengan keunikan ini atau tidak. Namun, menurut saya, Garin sebenarnya berhasil memperkaya khazanah film-film sejarah di Indonesia, setidaknya dalam hal kemasan dan teknik bercerita. Ia tidak berfokus pada kelaziman film sejarah yang berfokus pada tokoh dan peristiwa tertentu—tetapi justru berfokus pada gagasan atau ide yang ada di balik tokoh dan peristiwa. Ini monumental.

Epilog: Pak Besut
Sejak awal, ada yang tidak wajar pada karakter Pak Besut. Pernah mendengar istilah “breaking the fourth wall”? Dalam film dan semua karya fiksi, ada aturan bahwa karakter dalam film tidak boleh—dan memang tidak bisa—berbicara pada penonton/pembaca. Atau, bisa juga diartikan: karakter dalam film tidak boleh membahas atau bekomentar tentang film itu sendiri. Itu adalah suatu tabu. Jika ada film yang melakukannya, film itu biasanya film yang bernuansa komedi. Banyak contoh untuk hal ini—dan biasanya memang film komedi/parodi.

Kehadiran Pak Besut—karakter yang katanya penyiar radio—itu masuk dalam kategori ini. Ia berkali-kali muncul dengan corong radionya “menyapa” penonton. Isi ucapannya memang tidak mengomentari isi film—sebagaimana halnya dalam film yang “breaking the fourth wall”—tetapi dengan wajah dan mata yang langsung menatap kamera (baca: menatap penonton), Pak Besut benar-benar “breaking the fourth wall”—apalagi ia adalah seorang penyiar radio, bukan penyiar televisi (jadi buat apa mata dan wajahnya menatap lurus-lurus ke hadapan kamera, seperti reporter TV zaman sekarang?). Ia tampaknya sengaja dihadirkan Garin sebagai narator yang berupaya mempertahankan unsur naratif dalam film dengan menceritakan kejadian-kejadian objektif, sekaligus menegaskan idealisme film: mengkritik masa kini penonton.

Menurut definisinya, “the fourth wall” adalah suatu ciptaan para penulis karya-karya fiksi yang memisahkan antara dunia fiksi yang dibuatnya dengan para pembaca. Jadi, dunia fiksi karya penulis terjamin ke-fiksi-annya. Namun, jika suatu karya yang katanya fiksi melanggar “the fourth wall”, ada dugaan bahwa karyanya memang karya komedi/parodi, atau suatu kesengajaan dari si penulis yang memang mau mendekonstruksi karya fiksinya sendiri. Dalam hal terakhir, dekonstruksi karya fiksi dengan cara melanggar “the fourth wall” berarti mencoba melumerkan dan meleburkan dunia fiksi ke dunia nyata.

Dengan demikian, film “Soegija” didekonstruksi oleh Garin Nugroho sendiri—melalui tokoh Pak Besut—sehingga apa yang bersifat “film” (fiksi) menjadi cair, menjadi sesuatu yang hadir langsung di depan mata penonton (baca: orang-orang masa kini) dan menyatu dengan problem-problem mereka. Ini barangkali salah satu trik mengontemporerkan idealisme Soegija di masa kini.***

Selasa, 26 Agustus 2008

The U.S. vs John Lennon


Director: David Leaf dan Johnn Scheinfeld
Written: David Leaf dan Johnn Scheinfeld
Producer: David Leaf dan Johnn Scheinfeld
Time: 99 minutes
Published Year: 2006


Perang Dingin. Superpower. Amerika. Komunisme. Vietnam. Korban. Mati. Kematian. Rock and Roll. Beatles. Yeah, yeah, yeah. Woodstock. Mariyuana. Ganja. Hashish. LSD. Opium. Seks. $#@!!&%....

Perang, seks, obat, dan rock n’ roll. Mungkin itu beberapa kata kunci yang dapat menjelaskan hiruk-pikuk di sekitar dasawarsa 1960-an dan 1970-an. Zaman berubah, orang-orang berubah. Para baby boomer – mereka yang lahir di sekitar masa Perang Dunia Kedua (PD II) dan juga terutama yang tak lama setelah itu – kini mencapai umur yang matang. Mereka menjadi warga yang cukup sadar akan dinamika sosial serta juga paling aktif dalam menanggapi dinamika tersebut. Pendeknya, para baby boomer tidak lagi dibebani oleh agenda-agenda yang pada masa pra-PD II sangat memenuhi kosakata dan wacana orang-orang tua yang masih hidup dalam romantika perang dan masa-masa keemasan pra-perang, baik di Eropa maupun di Amerika.

Jika ini sebuah opera musik besutan Andrew Lloyd Webber, mungkin ia akan mengawalinya dengan suatu parade pasukan bersenjata yang dihadang oleh sekelompok pemuda(i) berpakaian ala flower generation. Sembari menyelipkan setangkai mawar di ujung bedil sang komandan pasukan, wakil dari pemuda tadi berkata: “Make Love, Not War…” (atau yang lebih klasik: “Say it with flower…not with your weapon…”).

Adegan tadi adalah semacam pralambang mengenai apa yang terjadi pada masa-masa itu dan yang ingin didokumentasikan oleh film ini. Film berdurasi hampir 100 menit ini berpusat pada seorang figur yang sebenarnya lebih dikenal dalam kalangan musik: John Lennon.

Tumbuh sebagai seorang anak yang pemberontak – ditinggal pergi oleh ayahnya ketika masih bayi dan ditinggal mati oleh ibunya dalam usia belia – John kecil ternyata punya bakat anti-kemapanan. Episode dalam masa-masa Beatles mungkin hanya merupakan episode “numpang lewat”. John berkembang dengan bandnya itu, baik secara musik maupun ide. Ini seolah-olah hanya menyiapkan suatu episode lain dalam hidupnya yang menjadi inti dari film ini.

Ketika isi kepala John Lennon mulai berkembang ke arah yang lebih luas, isi kepala Presiden Lyndon B. Johnson (LBJ) di Amerika juga berkembang ke arah yang sedikit berbeda; sesuatu yang agak berbeda dengan isi kepala John F. Kennedy – presiden yang digantikannya karena orang yang belakangan ini mati ditembak di Dallas pada tahun 1963.

LBJ rupanya senang memainkan kartu klasik dalam dunia diplomasi: perang adalah bentuk lain dari diplomasi. Komunisme sudah jelas jahat, dan Tuhan tentu saja tidak menginginkannya. Sebagai bangsa pilihan Tuhan, sudah sepantasnya Amerika Serikat mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengusir setan komunisme dari setiap jengkal tanah di bumi ciptaan Tuhan ini.

Setan itu kini hadir di Vietnam – setelah berhasil menancapkan cakar-cakarnya di Korea. Agenda LBJ sudah jelas: memperhebat sarana-sarana yang diperlukan untuk mengusir setan tersebut dari bumi Asia Tenggara.

Pada saat yang sama, John Lennon – yang tengah “angin-anginan” bersama bandnya, Beatles – sedang mencoba suatu yang baru. Tepatnya: ia tidak mencoba, tetapi memang secara alami masuk ke dalam suatu kawasan yang sama sekali asing bagi dirinya: politik. Proses yang memang alami ini sebenarnya dapat diamati dalam beberapa lirik lagu John dalam Beatles – walaupun banyak sekali lirik lagu Beatles sangat ambigu, misalnya lirik lagu Happiness is a Warm Gun dan Revolution.

Di Amerika, LBJ kalah dalam pemilihan umum presiden pada tahun 1968. Seorang presiden baru dari Partai Republik yang ternyata justru lebih jelek ketimbang LBJ akhirnya terpilih: Richard Nixon (ini membuat kita seolah-olah percaya dengan adagium lama: “Lebih baik kita memilih setan yang sudah dikenal, ketimbang setan yang belum dikenal sama sekali!”). Jika LBJ memilih perang, Nixon memang lebih suka perang. LBJ mengirim banyak tentara Amerika ke Vietnam, sementara Nixon mengirim lebih banyak lagi – bahkan mengampanyekannya.

Sementara itu, John Lennon – di belahan dunia yang lain – ternyata lebih suka “mengirimkan” hal yang lain: ia mencoba mengirimkan apa yang disebutnya sebagai total communication. Apa itu? Ia membungkus dirinya di dalam apa yang disebutnya sebagai "bagisme"(bag = tas), bersama istrinya yang baru: Yoko. Ia melakukannya agar orang mendengarkan pesan perdamaian yang ia sampaikan, tanpa menghakimi penampilan fisiknya (rupanya, orang sering kali memperhatikan penampilan si penyampai pesan ketimbang isi pesannya. Penampilan itu bisa mencakup gender, warna kulit, dan panjangnya rambut).

Sesederhana itu? Iya. Sekonyol itu? Tergantung – tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Masing belum puas? Pada tahun 1969 itu, John juga punya ulah serupa: "Bed Peace" (Bed-in for Peace). Sadar bahwa perkawinannya sedang menjadi komoditas pers, ia dan istrinya melakukan kampanye perdamaian di atas tempat tidur. Tentu, para wartawan mengharapkan pasangan yang baru menikah ini melakukan semacam “atraksi seksual”, sesuatu yang sama sekali tidak mereka dapatkan. Sama dengan bagism, bed peace juga dilakukan demi perdamaian.

“Tidak ada yang memberikan kesempatan damai secara penuh,” begitu ujar John. Dan ia pun mengajak orang-orang menyanyikan Give Peace a Chance. Ya, beri perdamaian kesempatan.

Ada wartawan yang bertanya apakah semua itu efektif? John menjawab: “Ini adalah kemungkinan yang terbaik, fungsional dan efektif.” Si wartawan mendesak: bukankah ini tidak akan mengubah apa-apa. “Memang, kami tidak mengharapkannya dengan mudah. Mereka berpikir bahwa ini dapat dilakukan dalam semalam.”

Toh, itu belum cukup. Jika kedua model kampanye tadi John lakukan di luar Amerika, kini ia mulai secara aktif memasang iklan – benar-benar iklan dalam bentuk papan reklame raksasa – di 11 kota di dunia, termasuk di Amerika (New York dan Los Angeles). Kampanye ini lebih verbal: “War is Over. If You Want It. Happy Christmas from John & Yoko”.

Jadi, ketika John Lennon mulai aktif di Amerika pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, ia muncul sebagai figur yang “sulit”, bahkan “berbahaya”. Nixon dan para pembantunya tahu hal ini.

Ketika John mulai mendarat di Amerika dan mencoba menjadi warga negara negeri ini, ia melakukan sesuatu yang tidak “terlalu manis” di mata pemerintah Amerika. Ia akrab dan aktif dalam kegiatan kelompok perdamaian, kelompok anti-perang, seperti kelompok-kelompok yang dipimpin oleh Abbie Hoffman, Jerry Rubin, Bobbie Seale (Black Panthers), John Sinclair dan Ron Kovic (penulis buku “Born on Fourth July” yang sudah difilmkan). Padahal, Nixon, di lain pihak, sedang secara ketat mengawasi kelompok-kelompok tersebut, kelompok-kelompok yang sedang mempertanyakan kebijakan perangnya di Vietnam.

John Lennon tampak seperti orang bodoh: berteman dengan orang-orang yang akan mempersulit posisinya, terutama posisinya sebagai pemohon kewarganegaraan Amerika Serikat. G. Gordon Liddy, seorang penasihat Nixon, melihatnya secara jelas: John Lennon justru menjadi alat yang sangat berbahaya di tangan kelompok tersebut. “Mereka kini punya amunisi baru,” begitu ujarnya. “Ketika kau memasukkan Bobby Seale dalam timmu, semua polisi akan membencimu. Semua petugas hukum di bumi akan menentangmu.”

Orang yang berpikir positif mungkin berpikir: “John Lennon memilih teman yang salah.” Kemudian dengan sedikit nasihat: “Dia bisa saja tetap bermain musik, menjauh dari obat-obatan, dan tetap mulut tentang apa yang dia suka dan tidak suka tentang Amerika Serikat.” Atau juga: “Nyanyikan saja lagumu dengan tenang.”

Namun, Lennon adalah orang yang polos. Ia senang bergaul dengan para aktivis tersebut karena menganggap mereka mempunyai ide-ide yang sama dengannya. Ia memuji ide-ide mereka, dan mereka pun memuji mantan anggota the Beatles yang sangat populer ini yang ternyata seia-sekata dengan mereka. Klop.

Satu peristiwa telak membuat Nixon dan para penasihatnya berpikir ulang tentang John adalah terkait konser untuk John Sinclair – seorang aktivis yang ditahan oleh kepolisian Michigan – pada 10 Desember 1971. Nixon harus memperhitungkan dengan serius John Lennon setelah peristiwa itu. Peristiwa apa itu? Bagaimana akhir “kucing-kucingan” antara John Lennon dan pemerintahan Amerika Serikat di bawah Nixon? Apakah John Lennon akhirnya memperoleh kewarganegaraan AS? Lalu apa yang menyebabkan John Lennon ditembak mati? Nonton saja sendiri film dokumenter ini.

Ini film dokumenter yang menarik. Selain diisi dengan berbagai dokumentasi wawancara dengan John Lennon dan aktivitasnya pada tahun-tahun itu serta wawancara dengan para aktivis perdamaian di Amerika, film ini juga diisi dengan beberapa cuplikan lagu John Lennon yang terkenal. Oh, ya, beberapa wawancara dilakukan dengan beberapa pengamat sosial-politik dan tokoh humanis seperti Carl Bernstein, Gore Vidal, dan Noam Chomsky, juga wawancara dengan penasihat Nixon, pengacara John Lennon, dan sebagainya.

John Lennon bukan manusia sempurna – ia justru tampak manusiawi dengan ketidaksempurnaannya itu. Namun, toh, kita bisa belajar beberapa hal dari dia, setidaknya untuk urusan perdamaian ini. Peace!