Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Agustus 2008

The U.S. vs John Lennon


Director: David Leaf dan Johnn Scheinfeld
Written: David Leaf dan Johnn Scheinfeld
Producer: David Leaf dan Johnn Scheinfeld
Time: 99 minutes
Published Year: 2006


Perang Dingin. Superpower. Amerika. Komunisme. Vietnam. Korban. Mati. Kematian. Rock and Roll. Beatles. Yeah, yeah, yeah. Woodstock. Mariyuana. Ganja. Hashish. LSD. Opium. Seks. $#@!!&%....

Perang, seks, obat, dan rock n’ roll. Mungkin itu beberapa kata kunci yang dapat menjelaskan hiruk-pikuk di sekitar dasawarsa 1960-an dan 1970-an. Zaman berubah, orang-orang berubah. Para baby boomer – mereka yang lahir di sekitar masa Perang Dunia Kedua (PD II) dan juga terutama yang tak lama setelah itu – kini mencapai umur yang matang. Mereka menjadi warga yang cukup sadar akan dinamika sosial serta juga paling aktif dalam menanggapi dinamika tersebut. Pendeknya, para baby boomer tidak lagi dibebani oleh agenda-agenda yang pada masa pra-PD II sangat memenuhi kosakata dan wacana orang-orang tua yang masih hidup dalam romantika perang dan masa-masa keemasan pra-perang, baik di Eropa maupun di Amerika.

Jika ini sebuah opera musik besutan Andrew Lloyd Webber, mungkin ia akan mengawalinya dengan suatu parade pasukan bersenjata yang dihadang oleh sekelompok pemuda(i) berpakaian ala flower generation. Sembari menyelipkan setangkai mawar di ujung bedil sang komandan pasukan, wakil dari pemuda tadi berkata: “Make Love, Not War…” (atau yang lebih klasik: “Say it with flower…not with your weapon…”).

Adegan tadi adalah semacam pralambang mengenai apa yang terjadi pada masa-masa itu dan yang ingin didokumentasikan oleh film ini. Film berdurasi hampir 100 menit ini berpusat pada seorang figur yang sebenarnya lebih dikenal dalam kalangan musik: John Lennon.

Tumbuh sebagai seorang anak yang pemberontak – ditinggal pergi oleh ayahnya ketika masih bayi dan ditinggal mati oleh ibunya dalam usia belia – John kecil ternyata punya bakat anti-kemapanan. Episode dalam masa-masa Beatles mungkin hanya merupakan episode “numpang lewat”. John berkembang dengan bandnya itu, baik secara musik maupun ide. Ini seolah-olah hanya menyiapkan suatu episode lain dalam hidupnya yang menjadi inti dari film ini.

Ketika isi kepala John Lennon mulai berkembang ke arah yang lebih luas, isi kepala Presiden Lyndon B. Johnson (LBJ) di Amerika juga berkembang ke arah yang sedikit berbeda; sesuatu yang agak berbeda dengan isi kepala John F. Kennedy – presiden yang digantikannya karena orang yang belakangan ini mati ditembak di Dallas pada tahun 1963.

LBJ rupanya senang memainkan kartu klasik dalam dunia diplomasi: perang adalah bentuk lain dari diplomasi. Komunisme sudah jelas jahat, dan Tuhan tentu saja tidak menginginkannya. Sebagai bangsa pilihan Tuhan, sudah sepantasnya Amerika Serikat mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengusir setan komunisme dari setiap jengkal tanah di bumi ciptaan Tuhan ini.

Setan itu kini hadir di Vietnam – setelah berhasil menancapkan cakar-cakarnya di Korea. Agenda LBJ sudah jelas: memperhebat sarana-sarana yang diperlukan untuk mengusir setan tersebut dari bumi Asia Tenggara.

Pada saat yang sama, John Lennon – yang tengah “angin-anginan” bersama bandnya, Beatles – sedang mencoba suatu yang baru. Tepatnya: ia tidak mencoba, tetapi memang secara alami masuk ke dalam suatu kawasan yang sama sekali asing bagi dirinya: politik. Proses yang memang alami ini sebenarnya dapat diamati dalam beberapa lirik lagu John dalam Beatles – walaupun banyak sekali lirik lagu Beatles sangat ambigu, misalnya lirik lagu Happiness is a Warm Gun dan Revolution.

Di Amerika, LBJ kalah dalam pemilihan umum presiden pada tahun 1968. Seorang presiden baru dari Partai Republik yang ternyata justru lebih jelek ketimbang LBJ akhirnya terpilih: Richard Nixon (ini membuat kita seolah-olah percaya dengan adagium lama: “Lebih baik kita memilih setan yang sudah dikenal, ketimbang setan yang belum dikenal sama sekali!”). Jika LBJ memilih perang, Nixon memang lebih suka perang. LBJ mengirim banyak tentara Amerika ke Vietnam, sementara Nixon mengirim lebih banyak lagi – bahkan mengampanyekannya.

Sementara itu, John Lennon – di belahan dunia yang lain – ternyata lebih suka “mengirimkan” hal yang lain: ia mencoba mengirimkan apa yang disebutnya sebagai total communication. Apa itu? Ia membungkus dirinya di dalam apa yang disebutnya sebagai "bagisme"(bag = tas), bersama istrinya yang baru: Yoko. Ia melakukannya agar orang mendengarkan pesan perdamaian yang ia sampaikan, tanpa menghakimi penampilan fisiknya (rupanya, orang sering kali memperhatikan penampilan si penyampai pesan ketimbang isi pesannya. Penampilan itu bisa mencakup gender, warna kulit, dan panjangnya rambut).

Sesederhana itu? Iya. Sekonyol itu? Tergantung – tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Masing belum puas? Pada tahun 1969 itu, John juga punya ulah serupa: "Bed Peace" (Bed-in for Peace). Sadar bahwa perkawinannya sedang menjadi komoditas pers, ia dan istrinya melakukan kampanye perdamaian di atas tempat tidur. Tentu, para wartawan mengharapkan pasangan yang baru menikah ini melakukan semacam “atraksi seksual”, sesuatu yang sama sekali tidak mereka dapatkan. Sama dengan bagism, bed peace juga dilakukan demi perdamaian.

“Tidak ada yang memberikan kesempatan damai secara penuh,” begitu ujar John. Dan ia pun mengajak orang-orang menyanyikan Give Peace a Chance. Ya, beri perdamaian kesempatan.

Ada wartawan yang bertanya apakah semua itu efektif? John menjawab: “Ini adalah kemungkinan yang terbaik, fungsional dan efektif.” Si wartawan mendesak: bukankah ini tidak akan mengubah apa-apa. “Memang, kami tidak mengharapkannya dengan mudah. Mereka berpikir bahwa ini dapat dilakukan dalam semalam.”

Toh, itu belum cukup. Jika kedua model kampanye tadi John lakukan di luar Amerika, kini ia mulai secara aktif memasang iklan – benar-benar iklan dalam bentuk papan reklame raksasa – di 11 kota di dunia, termasuk di Amerika (New York dan Los Angeles). Kampanye ini lebih verbal: “War is Over. If You Want It. Happy Christmas from John & Yoko”.

Jadi, ketika John Lennon mulai aktif di Amerika pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, ia muncul sebagai figur yang “sulit”, bahkan “berbahaya”. Nixon dan para pembantunya tahu hal ini.

Ketika John mulai mendarat di Amerika dan mencoba menjadi warga negara negeri ini, ia melakukan sesuatu yang tidak “terlalu manis” di mata pemerintah Amerika. Ia akrab dan aktif dalam kegiatan kelompok perdamaian, kelompok anti-perang, seperti kelompok-kelompok yang dipimpin oleh Abbie Hoffman, Jerry Rubin, Bobbie Seale (Black Panthers), John Sinclair dan Ron Kovic (penulis buku “Born on Fourth July” yang sudah difilmkan). Padahal, Nixon, di lain pihak, sedang secara ketat mengawasi kelompok-kelompok tersebut, kelompok-kelompok yang sedang mempertanyakan kebijakan perangnya di Vietnam.

John Lennon tampak seperti orang bodoh: berteman dengan orang-orang yang akan mempersulit posisinya, terutama posisinya sebagai pemohon kewarganegaraan Amerika Serikat. G. Gordon Liddy, seorang penasihat Nixon, melihatnya secara jelas: John Lennon justru menjadi alat yang sangat berbahaya di tangan kelompok tersebut. “Mereka kini punya amunisi baru,” begitu ujarnya. “Ketika kau memasukkan Bobby Seale dalam timmu, semua polisi akan membencimu. Semua petugas hukum di bumi akan menentangmu.”

Orang yang berpikir positif mungkin berpikir: “John Lennon memilih teman yang salah.” Kemudian dengan sedikit nasihat: “Dia bisa saja tetap bermain musik, menjauh dari obat-obatan, dan tetap mulut tentang apa yang dia suka dan tidak suka tentang Amerika Serikat.” Atau juga: “Nyanyikan saja lagumu dengan tenang.”

Namun, Lennon adalah orang yang polos. Ia senang bergaul dengan para aktivis tersebut karena menganggap mereka mempunyai ide-ide yang sama dengannya. Ia memuji ide-ide mereka, dan mereka pun memuji mantan anggota the Beatles yang sangat populer ini yang ternyata seia-sekata dengan mereka. Klop.

Satu peristiwa telak membuat Nixon dan para penasihatnya berpikir ulang tentang John adalah terkait konser untuk John Sinclair – seorang aktivis yang ditahan oleh kepolisian Michigan – pada 10 Desember 1971. Nixon harus memperhitungkan dengan serius John Lennon setelah peristiwa itu. Peristiwa apa itu? Bagaimana akhir “kucing-kucingan” antara John Lennon dan pemerintahan Amerika Serikat di bawah Nixon? Apakah John Lennon akhirnya memperoleh kewarganegaraan AS? Lalu apa yang menyebabkan John Lennon ditembak mati? Nonton saja sendiri film dokumenter ini.

Ini film dokumenter yang menarik. Selain diisi dengan berbagai dokumentasi wawancara dengan John Lennon dan aktivitasnya pada tahun-tahun itu serta wawancara dengan para aktivis perdamaian di Amerika, film ini juga diisi dengan beberapa cuplikan lagu John Lennon yang terkenal. Oh, ya, beberapa wawancara dilakukan dengan beberapa pengamat sosial-politik dan tokoh humanis seperti Carl Bernstein, Gore Vidal, dan Noam Chomsky, juga wawancara dengan penasihat Nixon, pengacara John Lennon, dan sebagainya.

John Lennon bukan manusia sempurna – ia justru tampak manusiawi dengan ketidaksempurnaannya itu. Namun, toh, kita bisa belajar beberapa hal dari dia, setidaknya untuk urusan perdamaian ini. Peace!

Jumat, 30 Mei 2008

Coldplay Semakin Religius? Ah Masak…?

Saya baca di sini …

http://www.thesun.co.uk/sol/homepage/showbiz/bizarre/article1202492.ece

dan di sini: http://www.americanpapist.com/labels/music.html

….katanya band Coldplay (CP) semakin religius. Enggak tahu apa definisi religius di situ J

Di link pertama antara lain tertulis:

“This latest album — much of which was recorded in churches in Spain and Latin
America
— is full of religious references. It’s as heavy-going as
the Bible but as ultimately as rewarding if that’s your bag.”

Tentu, Anda dan saya, jangan terkecoh dengan ulasan di link tersebut. Kalau hanya merekam lagu – or klip – di “churches in Spain and Latin America”, kita tidak dapat menganggapnya sebagai album atau lagu yang religius. Namun, acuan untuk menjadi religius itu memang tampak cukup kelihatan di beberapa track dari album terbaru mereka (well, sebagaimana yang saya lihat dari link-link di atas).

Religiositas yang ditawarkan CP sudah mulai kelihatan sejak album mereka yang kedua, A Rush of Blood to the Head. Tentu, ini kalau religiositas diartikan secara luas (bukan urusan di sekitar agama dan Tuhan per se saja).

Coba kita lihat track God Put a Smile upon Your Face (album kedua).

“Where do we go, nobody knows

Don't ever say you're on your way down when

God gave you style and gave you grace,

And put a smile upon your face oh yeah”

Jelas, ada semacam optimisme di situ. Barangkali banyak lagu yang berupaya memberi semangat pendengarnya, namun tidak begitu banyak lagu yang berisi kalimat ini: “God gave you style and gave you grace, and put a smile upon your face…”

Memang, lagu tadi tidak langsung menjadi religius hanya gara-gara menyebut kata “God” di situ. Toh, fakta tersebut sedikit menyiratkan bahwa bagi Chris Martin – penulis lirik utama CP – optimisme juga tanpa malu-malu bisa diakui berasal dari sesuatu yang lebih tinggi ketimbang manusia sendiri – Tuhan.

Namun, ada juga lirik lagu yang agak subtil dari CP – sampai sekarang saya tidak dapat menangkap maknanya (mungkin ada yang mau share apa sih maksud lagu itu sebenarnya – murni cinta-cintaan sepasang anak manusia atau ada acuan ke tempat lain). Lagu tersebut, ‘Til Kingdom Come, merupakan hidden track dari album CP ketiga, X&Y.

Antara lain, liriknya berbunyi begini:

“For you I'd wait 'til kingdom come

Until my day, my day is done

And say you'll come and set me free

Just say you'll wait, you'll wait for me”

Entah memang religius atau tidak, kedua link di atas membuka lagi semacam perdebatan lama yang sudah lama terpendam – atau tidak? – di dalam para penggemar dan pengamat musik: hubungan antara agama dan musik. Tentu, ada lagu, album musik, atau pemusik yang secara tegas dapat disebut sebagai lagu, album atau pemusik rohani (religius). Ini bisa dilihat dari judul lagu, lirik lagu, cover album, atau bahkan penampilan si pemusik. Sebaliknya, ada juga lagu, album musik, atau pemusik yang secara tegas dapat disebut – kalau tidak: menyebut diri – sebagai anti-rohani. Di dalam sejarah musik, kita dapat dengan mudah menemuinya (paling gampang adalah yang kedua).

Namun, tidak sedikit pula – bahkan barangkali yang paling banyak – album, lagu, atau pemusik yang sebenarnya tidak ingin disebut religius dalam arti ketat. “Gua bermain musik tentang cinta, manusia, dan lingkungan,” begitu misalnya. Namun, tidak selalu mudah bagi para pengamat, penggemar atau “non-penggemar” untuk menilai klaim ini. Misalnya, ada orang berkata bahwa lagu “Stairway to Heaven”-nya Led Zeppelin memiliki acuan yang anti-religius atau bahkan salah satu lagu Stevie Wonder. Untuk kasus ini, memang tidak mudah untuk menarik kesimpulan. Sebagai musisi, Led Zeppelin atau Stevie Wonder tidak dapat dengan mudah digolongkan ke dalam band religius atau band anti-religius.

Barangkali, untuk sekadar mengambil kesimpulan atas tulisan yang tidak bermutu ini (hehehehehe), suatu lagu, album atau pemusik tidak dapat dinilai dari segi religiositasnya saja. Suatu lagu yang baik seharusnya juga menyentuh segi terdalam manusia – di mana religiositas memang salah satunya, membuatnya untuk berempati dan bersimpati, menggerakkan emosi terdalam yang positif, dan akhirnya melahirkan tindakan atau perbuatan nyata yang membawanya melangkah ke arah yang lebih baik bagi diri sendiri dan orang lain (begitu kali, ya?).

Menurut hemat saya, kedua link di atas (bahwa album CP ke-4 bersifat religius) dan juga jargon-jargon “bahwa pemusik, lagu atau album tertentu adalah musik setan” merupakan upaya-upaya dari orang-orang yang berusaha menarik “lagu-lagu yang temanya biasa saja” untuk menjadi “sangat religius” atau juga “anti-religius”. Padahal, biarkan konsumen memilih, pun biarkan lagu-lagu yang didengarkannya setiap hari menggerakkan emosi dan hati, suatu gerakan positif yang dapat mengubah diri dan orang lain.

Akhirnya, tidak ada lagu yang bisa 100% memuaskan para pendengarnya (*iklan mode: on*). Begitu juga barangkali lagu-lagu CP, termasuk album teranyarnya. Jadi, bagi para pembaca, ini semacam warning: hanya untuk yang berminat dan berani saja…!

Sebagai penutup, inilah kesimpulan saya: kerinduan para penggemar CP cukup terpenuhi dengan hadirnya album tersebut. Oh ya, menurut link-link di atas, album fisik CP yang keempat ini – yang katanya akan berjudul Viva la Vida (atau Death And All His Friends) – akan keluar bulan Juni 2008 ini. Siap-siap di toko CD/kaset (jangan beli yang bajakan).

Jumat, 18 April 2008

Mudahan-mudahan Ini Bukan Gosip Jalanan: Slank Jadi Anggota DPR

Ada waktunya ketika batas antara seni dan politik menjadi cair (ini belum termasuk kalau kita berbicara tentang “seni berpolitik” yang entah masuk kategori seni atau kategori politik). Batas ini sebenarnya memang cair bahkan boleh dibilang tidak ada, karena baik “seni” maupun “politik” merupakan salah satu aspek saja dalam dimensi kemanusiaan kita. Keduanya merupakan ekspresi dari hakikat kemanusiaan kita.

Seni – apa pun bentuknya – adalah ekspresi jiwa manusia dan sejenis refleksi atas kenyataan yang dituangkan dalam untaian atau urutan bentuk-bentuk yang dapat diapresiasi dari segi estetika. Tentu, “bentuk-bentuk” yang dimaksud di sini dapat mencakup pelbagai ekspresi, seperti lukisan, tarian, lagu, pahatan atau apa pun yang tidak dapat dibatasi dalam kaidah-kaidah baku seni (kita, misalnya, tidak mengenal apa yang disebut sebagai “seni instalasi” pada abad ke-19 – tentunya kita tidak akan masuk dalam diskusi apakah istilah “seni instalasi” merupakan istilah yang tepat dan “non-problematis”).

Jika tadi dikatakan bahwa seni merupakan refleksi atas kenyataan, itu bukan berarti kasusnya harus demikian. Seni bisa saja tidak merupakan refleksi tetapi lebih merupakan hasil “kontemplasi lepas”. Namun, orang boleh berdebat apakah memang ada suatu seni yang tidak terkait dengan kenyataan.

Toh, kita sering menyaksikan betapa seni hampir selalu merupakan refleksi atas kenyataan – entah kenyataan itu berada di alam khayalan murni atau berada secara riil konkret di dalam kantong/dompet si seniman, entah kenyataan itu adalah sebentuk utopia surealis atau semacam lanskap yang terbentang secara telanjang di depan mata.

Slank adalah seniman. Seni yang mereka geluti adalah seni musik. Jadi, bentuk-bentuk yang lahir dari hasil ekspresi atau refleksi Slank adalah bentuk-bentuk yang bersifat “bebunyian” yang dapat diapresiasi indah atau jelek oleh kuping kita (walaupun konser Slank tampaknya dapat juag diapresiasi oleh mata kita – tapi kita tidak berbicara tentang ini karena ini bukan blog musikJ).

John Lennon dulu hampir mirip dengan Slank. Bono dari U2 juga demikian. Juga Bob Dylan. John Lennon pernah menulis “Give Peace a Chance” bersama band pribadinya dan juga pernah menulis beberapa track bersama Beatles – band yang melegenda – yang berisi syair-syair “sosial”. John dan banyak musisi lain merasa tidak kebal terhadap panggilan hati nurani mereka untuk merefleksikan kenyataan sosial yang ada di depan mereka atau yang mereka alami. Oleh karena itu, lahirlah lagu-lagu anti-perang, anti-kemampanan, kritik atas kapitalisme dan sebagainya.

Dalam minggu-minggu terakhir ini, beberapa media massa di Indonesia memberitakan kabar tentang rencana Dewan Kehormatan DPR untuk menggugat Slank (silakan cari sendiri beritanya via Google). Mengapa? Slank dianggap menghina DPR di dalam lagunya yang berjudul “Gosip Jalanan”. Belakangan, orang-orang di DPR tersebut membatalkan rencana ini – entah apa alasan di balik pembatalan ini.

Sudah banyak tanggapan diberikan atas rencana orang-orang di DPR itu, termasuk yang resmi berasal dari Gank Potlot sendiri – nama markas Slank. Salah satunya adalah: “Jika akan menggugat Slank, justru DPR membuktikan bahwa gosip itu memang kenyataan.”

Kita tidak akan masuk ke diskusi tentang benar-tidaknya isi lagu “Gosip Jalanan” (Walaupun begitu, kita akan terhenyak heran kalau lagu itu justru memang benar-benar cuma gosip). Namun, kita akan bertanya: apakah Slank masih menjadi seniman ketika mereka menulis lagu seperti itu? Jawabannya, jika mengacu definisi “seni” di atas: tentu saja mereka tetap menjadi seniman – justru lagu itu semakin mengukuhkan jati diri mereka sebagai seniman. Barangkali, Slank mirip pelukis Dede Eri Supria, yang lukisan-lukisannya memperlihatkan realisme tertentu, tetapi “dipotret” (atau tepatnya: disajikan) sedemikian rupa sehingga tampak agak “surealis” (sori, saya tidak terlalu paham ilmu seni rupa. Jadi, istilahnya mungkin tidak begitu tepat, tetapi Anda semua pasti paham apa yang saya maksud kalau melihat lukisan Dede Eri Supria). Suatu realitas yang sedikit didandani dengan teknik “seni” sedemikian rupa, agar orang dapat menikmatinya, menyelaminya, dan mengamini kebenarannya. Dede dan Slank mungkin agak mirip di sini.

Begitulah. Slank adalah seniman. Namun, apakah lagu “Gosip Jalanan” membuat mereka menjadi semacam politisi? Sama seperti John Lennon, Bob Dylan, dan Bono – kecuali barangkali Bono – tetap menjadi pemusik atau seniman saja, begitu juga Slank. Satu atau dua lagu mengenai kenyataan yang bersifat sosial atau politis, tidak akan pernah membuat seorang seniman menjadi politisi atau ilmuwan sosial. Mungkin mereka malah terlalu jujur saja sebagai seniman – atau lebih tepat: mempunyai daya refleksi yang kuat atas kenyataan, suatu kenyataan yang tidak dibatasi oleh sekat ruang dan waktu.

Sebagai seniman, Slank bebas berekspresi dan berefleksi. Masak mereka hanya boleh merefleksikan kisah anak sekolah yang jatuh cinta, anak gadis yang ditaksir tetangganya, atau sepasang muda-mudi yang didamprat oleh si ayah pemudi karena pulang malam? Jangkauan refleksi seniman tak terbatas. Boleh dong, kalau seniman merefleksikan kejadian di Senayan juga?

Jika sudah begini persoalannya, saya justru berdoa agar Slank-lah yang menjadi wakil saya di DPR, di Senayan. Mengapa? Daya refleksi dan ekspresi mereka luas, tulus, jujur dan to the point. Semoga ini bukan cuma gosip jalanan…

Rabu, 09 April 2008

Nominasi AMI Award 2008

BIDANG POP
Artis Solo Wanita Terbaik
Astrid / Jadikan Aku Yang Kedua (Cilapop 2006)
Bunga Citra Lestari / Aku Tak Mau Sendiri (Cinta Pertama)
Gita Gutawa / Bukan Permainan (Gita Gutawa)
Melly / Gantung (Mindnsoul)
Rossa / Ayat Ayat Cinta (Ost. Ayat Ayat Cinta)

Artis Solo Pria Terbaik
Ari Lasso / Cinta Terakhir (Selalu Ada)
Glenn Fredly / Kisah Yang Salah (Happy Sunday)
Ihsan / Bunga (Karena Aku Lelaki) (The Winner)
Iwan Fals / Masih Bisa Cinta (50:50)
Rio Febrian / Jenuh (Rio F3brian)

Duo/Kolaborasi/Grup Terbaik
Ari Lasso & Bunga Citra Lestari / Aku dan Dirimu (The Best Of)
GIGI / Nakal (Peace, Love ‘n Respect)
Letto / Sebelum Cahaya (Don’t Make Me Sad)
Peterpan / Dibalik Awan (Hari Yang Cerah….)
Ungu / Kekasih Gelapku (Untukmu Selamanya)

Lagu Terbaik
11 Januari / Dewa Bujana & Armand Maulana (GIGI)
Andai Ku Tahu / Pasha (Ungu)
I’m Sorry Goodbye / Melly (Krisdayanti)
Kekasih Gelapku / Enda (Ungu)
Sebelum Cahaya / Noe & Cornel (Letto)

Produser / Penata Musik Terbaik
11 Januari / Armand Maulana, Thomas Ramdhan & Gusti Hendy (GIGI)
Andai Ku Tahu / Pasha, Oncy, Enda, Rowman & Makki (Ungu)
Dibalik Awan / Ariel, Reza, Uki & Loekman (Peterpan)
I’m Sorry Goodbye / Anto Hoed & Melly (Krisdayanti)
Luluh / Irfan (Samsons)
Sebelum Cahaya / Patuh, Arian, Noe, Dedi (Letto)

Album Terbaik
50 : 50 / Iwan Fals (Indrawati Widjaja – Musica Studios)
Breaktrhu (English Version) / Nidji (Noey, Capung,Indrawati Widjaja – Musica Studios)
Gita Gutawa / Gita Gutawa (Erwin Gutawa – SBME)
Hari Yang Cerah…. / Peterpan (Noey, Capung - Musica Studios)
Peace, Love ‘n Respect / GIGI (Armand Maulana, Dewa Bujana, Thomas Ramdhan, Gusti Hendy – SBME)
Surgamu / Ungu (Krisna J. Sandrach, Ungu – Trinity Optima)

BIDANG ROCK
Artis Solo Pria / Wanita Rock Terbaik
Aby / Tuhan Kirim Kamu (Ost. D’ Bijis)
Izzy / Kamu Nyata (Ost. D’ Bijis)
Melanie Subono / Gua Rock n Roll (My Self)
Malenie Subono / Lagi Gampang (My Self)

Duo / Kolaborasi / Grup Rock Terbaik
Andra & The Backbone / Musnah (Andra & The Backbone)
Padi / Sang Penghibur (Tak Hanya Diam)
Pas Band / Gladiator ( The Best Of)
Slank Featuring Nirina / Pandangan Pertama (Ost. Get Married)
The Rock / Munajat Cinta (Master Mister Ahmad Dhani)

Album Rock Terbaik
Andra & The Backbone / Andra & The Backbone (Arnel Affandi, Andra Ramadhan – EMI Music Indonesia)
Master Mister Ahmad Dhani / The Rock (Ahmad Dhani - EMI Music Indonesia)
Slow But Sure / Slank (Slank Rec – Virgo Ramayana)
Tak Hanya Diam / Padi (Piyu, Jan Djuhana – Sony BMG Music Entertainment)
Top Up / Nidji (Noey, Capung, Indrawati Widjaja – Musica Studios)

BIDANG ALTERNATIVE
Karya Produksi Alternative Terbaik
Efek Rumah Kaca / Cinta Melulu (Efek Rumah Kaca) ( Paviliun Records)
Mocca / The Best Thing (Colours) (Ari ‘Aru’, Mocca – Ffwd Records)
Santamonica / Anais Lullaby (Todays Of Yesterday) (Joseph Saryuf)
Ubiet / (Cerke) (Tony Prabowo – Musikita Records)
White Shoes & The Couples Company / Aksi Kucing (Skenario Masa Muda) (Akasara Records)

BIDANG RHYTHM & BLUES
Karya Produksi R&B Terbaik
Dewi Sandra / Bukan Salah Diriku (RRP – Universal Music Ind.)
Maliq & D’Essentials / Heaven (Eki Puradiredja, A. Puradiredja – Swara Bumi – Warner Music Ind.)
Ressa Herlambang / Janji Putih ( Ressa Herlambang – Sony BMG Music Entertainment)
Tofu / Takkan (Iso Eddy – Sony BMG Music Entertainment)
Tompi / Salahkah (E_Motion Rnt – RPM)

BIDANG RAP
Karya Produksi Rap Terbaik
Bondan & F2B / Kroncong Protol (Jan Djuhana, Bondan Prakoso - Sony BMG Music Entertainment)
Daviuz / Gong Xi Fat Cai (Tori S - AIM Rec – Aquarius)
Gunkz / Alien (Andika Naliputra – EMI Music Indonesia)
Neo / Boss (AIM Rec – Aquarius)
Soul Id / Ini Rindu (Rizky Rekordz – Universal Music Ind.)

BIDANG DANCE / ELECTRONIC
Karya Produksi Dance / Electronic Terbaik
Agrikulture / Gosip (Agrikulture – Aquarius)
Andezz / Pergi ( Cat 2 Records)
David Fanreza / E.G.P. (Emang Gua Pikirin) (Maheswara)
DJ Rommy / Unity In Diversity (Dj Romy – Platinium Records)
Melly Featuring BBB / Let’s Dance Together (Anto Hoed – Aquiarius)

BIDANG REGGAE
Karya Produksi Reggae Terbaik
Iwan Fals / Mabok cinta (Indrawati Widjaja – Musica Studios)
Ras Muhammad / Musik Reggae Ini ( Mohamad Edgar – Jah Star Records)
Slank / Slalu Begitu (Slank Records – Virgo Ramayana Records)
Souljah / Bersamamu (Souljah – Offbeat Music)
Tipe X / Kamu Penipu (MS Aji, Tipe X – PopsMusik – Aquarius)

BIDANG KOLABORASI
Karya Produksi Kolaborasi Terbaik
Ari Lasso & Bunga Citra Lestari / Aku Dan Dirimu (Ari Lasso – Aquarius)
Harvey Malaihollo & Dian PP / Aku Sadari (Seno M. Hardjo, Target Pop – RPM)
Melly & Andhika / Butterfly (Anto Hoed, Melly – Aquarius)
Musisi Jalanan & GIGI / Ikan Laut (Jan Djuhana - Sony BMG Music Entertainment)
Slank Featuring Nirina / Pandangan Pertama (Slank Records – Virgo Ramayana Records)

BIDANG PENUNJANG PRODUKSI
Produser Rekaman Terbaik

Andra & The Backbone / Arnel Affandi, Andra Ramadhan – EMI Music Indonesia (Andra & The Backbone)
Cinta Pertama / Arie S. Widjaja – Aquarius (Bunga Citra Lestari)
Gita Gutawa / Erwin Gutawa - Sony BMG Music Entertainment (Gita Gutawa)
Hari Yang Cerah…. / Noey, Capung – Musica Studios (Peterpan)
Peace, Love ‘n Respect / Armand, Budjana, Thomas, Hendy - Sony BMG Music Entertainment (GIGI)

Grafis Desain Terbaik
Don’t Make Me Sad / Agustinus Supredo, mocko feedback VGA (Letto)
Sahabat (Selamanya) / Just_ibn (Aikon)
Slow But Sure / Dj Brique, Bembeng (Slank)
Tak Hanya Diam / Udisain (Padi)
Colours / Ryoichi, Indra (Mocca)

Peramu Rekam Terbaik
11 Januari / Stephan Santoso (GIGI)
Aku Tak Mau Sendiri / Tommy (Bunga Citra Lestari)
Bersama Bintang / Eko Sulistyo (Drive)
Bukan Permainan / Eko Sulistyo (Gita Gutawa)
Musnah / Don I Bart, Edot “ Edit, Andra & The Backbone (Andra & The Backbone)

BIDANG UMUM (BEST OF THE BEST)
Pendatang Baru Terbaik

Gita Gutawa / Gita Gutawa (Gita Gutawa)
Drive / Tak Terbalas (Esok Lebih Baik)
D’Cinnamons / Ku Yakin Cinta (Good Morning)
Bibus / Bukan Pacarmu (Love Love Love)
The S.I.G.I.T. / Horse (Visible Idea Of Perfection)

Album Terbaik
Gita Gutawa / Gita Gutawa (Erwin Gutawa - Sony BMG Music Entertainment)
Peace, Love ‘n Respect / GIGI (Armand, Budjana, Thomas, Hendy - Sony BMG Music Entertainment)
Andra & The Backbone / Andra & The Backbone (Arnel Affandi, Andra Ramadhan – EMI Music Indonesia)
Tak Hanya Diam / Padi (Piyu, Jan Djuhana - Sony BMG Music Entertainment)
Top Up / Nidji (Noey, Capung, Indrawati Widjaja – Musica Studios)

Karya Produksi Terbaik
11 Januari / GIGI (Armand, Budjana, Thomas, Hendy - Sony BMG Music Entertainment)
Andai Ku Tahu / Ungu ( Krisna J. Sandrach, Ungu – Trinity Optima)
Bersama Bintang / Drive (Piyu, E-Motion Ent – RPM)
Biarlah / Nidji (Noey, Capung, Indrawati Widjaja – Musica Studios)
Bukan Permainan / Gita Gutawa ( Erwin Gutawa - Sony BMG Music Entertainment)

NB: Kategori nominasi di atas hanya sebagian saja. Kalau mau lengkap, silakah Anda baca sendiri majalah Rolling Stone Indonesia edisi April 2008. Oke?

Jumat, 14 Maret 2008

"Abbey Road" dalam kenangan…

Saya sebulan ini lagi “sibuk” mendengar kembali koleksi lawas favorit saya: The Beatles. Saya suka band ini sejak saya duduk di sekolah menengah pertama (SMP) tahun 1980-an dulu. Saya masih ingat, waktu itu format media musik yang paling umum adalah … KASET.

Harga kaset waktu itu tidak lebih dari 2000 rupiah (persisnya saya agak lupa). Tentu, itu jangan dinilai dengan nilai mata uang sekarang. Saya tidak tahu apakah uang sebesar itu lumayan besar atau justru lumayan “murah” untuk ukuran sekarang.

Saya hampir selalu membeli kaset-kaset Beatles dengan menggunakan uang jajan yang diberikan oleh orang tua. Lumayan. Saya masih ingat, waktu itu saya sering mendapat sekitar 500 rupiah sebagai uang jajan saya setiap hari. Jika 1 kaset waktu itu sekitar 2000 rupiah, berarti saya harus tidak jajan sebanyak 4 hari (kebetulan saya berjalan kaki untuk berangkat dan pulang sekolah).

Pengorbanan itu – kalau mau disebut pengorbanan :) -- tidaklah sia-sia. Saya menjadi kolektor kaset Beatles yang cukup lengkap. Waktu itu saya membeli seri “The Compleat Beatles” keluaran Aquarius.

Tapi… itu adalah dulu.
Pada tahun 1990an (sekitar 10-15 tahun kemudian), saya mulai memutuskan untuk mengubah format media musik favorit saya. Masih dengan sistem menabung :), saya mulai mengganti kaset-kaset Beatles saya dengan format CD.

Well, beberapa minggu terakhir saya sering mendengarkan Abbey Road, salah satu masterpiece band asal Liverpool, Inggris, ini. Lagu-lagu dalam album tersebut sungguh mempesona saya, apalagi jika mengingat bahwa mereka membuatnya pada tahun 1960-an (akhir). Saya sering menyebut lagu-lagu dalam album tersebut sebagai “alternatif rock”. Iringan lagu-lagu yang dibawakan secara medley pada side B (ini kan sebutan khas media kaset, ya?) benar-benar memperlihatkan rock n roll dalam tahapnya yang paling lanjut – tanpa berubah menjadi progresif rock atau hard rock (2 jenis yg terakhir ini diteruskan secara baik oleh band2 seperti Yes dan Led Zeppelin). Ya, Abbey Road (dan juga White Album serta Sgt. Pepper’s – kebetulan tahun rilisnya berurutan: 1967, 1968, 1969) adalah salah satu jembatan budaya dan musik rock pada waktu itu.

BTW, isi postingan saya ini sebenarnya gak ada hubungannya dengan isi album, tetapi terkait dengan gambar2 yg saya temukan di dunia online terkait dengan cover album tersebut. Gambar di atas adalah gambar asli dari cover album tersebut. Semua orang pasti sudah banyak yang tahu (kalau gak tahu, ya sekarang mulai diketahui secara resmi...)

Namun bagaimana dengan gambar berikut ini? Itu adalah versi resmi (eh, resmi gak sih ya?) plesetan ala the Simpsons atas album tersebut.




Cukup meyakinkan memang: Homer paling depan (wajar karena dia adalah kepala keluarga seperti John yang adalah frontman band ini); Marge di tempat kedua, mengambil tempat Ringo (Ringo = Marge = tipe pengalah dalam suatu band/keluarga?); Bart di tempat ketiga, persis di posisi Paul (Paul = Bart = karakter utama di belakang layar band ini atau keluarga ini. Maksudnya sering menjadi “pencetus” karya2: entah bermutu [Paul] atau tak bermutu [Bart]… Hehehehe); Lisa di tempat keempat, mengambil tempat persis George (jelas personifikasinya: Lisa adalah orang yang juga pendiam, tetapi sebenarnya intelek dan cukup soulful/spiritualis, sama dengan George).

Ada beberapa versi lagi seperti di bawah ini:





Bagaimana? Sudah ada gambar yang menurut Anda cukup mewakili suasana hati, minat, dan imajinasi Anda? Kalau belum, coba cari saja di jagat online, masukkan keyword: Abbey Road, mungkin Anda akan menemukan yg serupa!

Sabtu, 02 Februari 2008

Mengapa Musik Padi Selalu Terdengar Menarik?


Setiap kali membeli album Padi, aku selalu berkata dalam hati: “Pasti kali ini bakalan jelek.” Ternyata tebakan aku selalu meleset. Padi adalah salah satu band yang tidak pernah bikin album jelek -- ini yang ngomong pendengar fanatik Padi, kali ya?

Mereka bikin album dengan determinasi yang tinggi. Mereka mengejar kualitas.

Album “Tak Hanya Diam” adalah contohnya… (album ini dirilis 12 November 2007 kemarin)

Album ini dibuka dengan “Sang Penghibur”. Jelas musikalitas lagu ini kuat banget. Intro gitar yang melayang benar-benar membuat aku mengawang. Seperti biasa, dalam lagu ada cengkok-cengkok khas padi. Nilai aku: ****

“Harmony” adalah balada album ini. Tidak sekelas dengan “Kasih tak Sampai”, tetapi benar-benar menyentuh dan sangat manis. Piyu ambil lead vocal dengan dibackingi pada bagian2 tertentu oleh Fadly. Dan seperti “Kasih tak Sampai”, background yang membuat lagu ini seperti melambung ke angkasa diberikan oleh kelompok Improptu. Nilai aku: *****

“Belum Terlambat” memiliki cengkok-cengkok yang mudah dihapal dan cepat akrab di telinga. Cengkoknya punya bakat utk mudah dihapal oleh pengamen. Tapi, musikalitasnya tetap khas Padi. Nilai aku:*****

Singel keempat, “Rencana Besar”, rada unik, karena memasukkan lirik berbahasa Inggris. Persis pada lirik Inggris tersebut, lagu ini punya cengkok khas Padi. Lirik pada lagu ini sangat optimis dan inspiring. Nilai aku:****

Singel kelima, “Terluka”, dipersembahkan Padi untuk korban lumpur Lapindo. Lagu ini adalah yang paling rock dan dark dari semua lagu di album ini. Semua instrumen keluar/muncul dengan sangat hard dan menonjol. Semuanya membentuk aransemen yang kompak, serasi, tetapi semua bunyi2an keluar!!!. Mantap tenan. Nilai aku:*****

“Jika Engkau Bersedih”, singel keenam. Ini termasuk romantis dalam album ini. Cukup menawan. Tapi, jika kita mendengar lagu ini, hati kita cenderung semakin nelangsa, karena bebunyian pada lagu ini justru membuat hati kita miris dan sepi. Bener-bener menyayat hati. Pada bagian epilog, suara latar choir juga terdengar “melempar” jiwa ke awan. Ceille... Nilai aku: *****

“Teruslah Bernyanyi”, singel ketujuh. Kalau aku denger lagu ini, aku jadi inget lagu Beatles “Flying” atau “Hey Jude”. Ada bagian intro di mana semua personel – or banyak orang – nyanyi berame-rame. Cuma bagian itu pada lagu ini cukup unik: range nadanya tidak begitu jauh/tinggi. Jadi, terdengar seperti orang bergumam. Nilai aku: ****

Singel ke-8, “Ode” adalah ciptaan Fadly dan dinyanyikan dia sendiri. Ini memang khas Fadly yang konon paling banyak menyerap pengaruh dari band2 britrock kayak Blur. Lagu ini semacam “dark ballad” ala Fadly. Dengerin jimbe yang dimainkan Yoyok. Cukup sensasional untuk kuping awam kayak aku yg biasa mendengar bunyai “bedug Inggris”. Nilai aku: ****

“Jangan Datang Malam Ini”. Cengkok2nya menawan, terutama di bagian “Malam ini…”, “Maafkan…”. Dan cengkok tersebut kayaknya dinyanyiin dengan double vocal. Termasuk lagu bagus di album ini. Nilai aku: *****

“Aku Bisa Menjadi Kekasih”. Banyak yang bilang kalo singel terakhir ini meramu banyak unsur musik, dan terutama pada awal lagu cukup bersifat “reggeae”. IMHO, aku tetap bilang, lagu ini cukup ngerock dengan instrumen drum yang cukup menonjol. Nilai aku: *****

Secara umum, Padi sangat menjaga musikalitas lagu-lagu mereka. Boleh dibilang, walaupun mereka berpredikat sebagai “band pop” seperti Dewa, Sheila on 7, Peterpan, namun mereka tetap memberi tempat yang luas bagi para personel untuk bermain. Bunyi2an gitar, drum, dan bas sangat dominan dalam album ini. Jadi, instrumen musik tidak pernah cuma jadi “tempelan” dalam lagu-lagu Padi.

Komunitas Padi memang tidak akan pernah besar. Mereka tetap akan kecil. Tinggal bagaimana promosi dari pihak Sony aja. Ada beberapa lagu dalam album ini yang “ear-catching”. But, IMHO, lagu2 tersebut tetap khas Padi. Aku sendiri ragu, apakah lagu2 Padi yang “ear-catching” tsb benar-benar akan memikat pasar yang lebih luas. Aku agak ragu…. Kita sedang berbicara tentang musik yang matang di sini, yang orientasinya pada artistik dalam segi musikalitas…
Hanya Tuhan yang tahu…