Tampilkan postingan dengan label Info Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Buku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 September 2008

Blakanis: Agama Kejujuran Arswendo Atmowiloto


Judul: Blakanis
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Novel, fiksi
Tahun Terbit: 2008
Tebal: 288 halaman

Barangkali, kini sedang musimnya muncul agama-agama baru. Bersamaan dengan Ayu Utami yang mengusung Nabi Parang Jati, Arswendo Atmowiloto pun juga mengusung agamanya sendiri, dengan seorang nabi: Ki Blaka.

Tampak sekilas, selepas dari hotel “prodeo” dulu, Arswendo Atmowiloto memiliki arah yang khusus dalam menulis. Entah bagaimana saya dapat menyebut ciri-corak tulisan-tulisan dia sekeluarnya dia dari “hotel Cipinang”. Ini bukan berarti ada perubahan dalam gaya penulisannya. Tidak. Tidak begitu. Arswendo tetap muncul dengan gayanya yang khas – khas Wendo-an, begitu mungkin istilahnya. Namun, ia seperti memiliki sudut pandang – atau energi – baru dalam menyikapi dunia.

Coba lihat tulisan-tulisannya seperti Menghitung Hari, Abal-Abal, Kisah Para Ratib, Oskep, dan sebagainya. Entah bertema “kepenjaraan” maupun bertema “spiritualitas”, Wendo muncul menjadi figur yang agak berbeda dengan misalnya pada masa-masa Canting, Dua Ibu, atau apalagi Senopati Pamungkas.

Blakanis adalah semacam manifesto – begitu kalau saya boleh membaptis novel ini. Keluar bersama “Horeluya” (dengan penerbit yang sama, spiritualitas yang sama, gaya yang sama, tetapi dengan bungkus yang “lebih Katolik”), “Blakanis” menawarkan semacam kesegaran dari tema spiritualitas yang berumur sudah sangat tua: kejujuran. Ini sebuah manifesto mengenai kejujuran atau tepatnya: hidup jujur. Dalam bahasa Jawa, blaka (baca: “blo-ko”) memang berarti terbuka, jujur, apa adanya, blak-blakan.

Jika di atas disebut sepintas novelnya Ayu Utami, Blakanis-nya Arswendo tidak menawarkan seorang santo seperti Parang Jati-nya Ayu. Parang Jati-nya Ayu adalah seorang kudus yang tampan-rupawan yang harus menanggung dosa dunia, sementara Ki Blaka-nya Arswendo jauh dari kesan “cakep” dan ia tidak merasa harus menanggung dosa siapa-siapa. Ki Blaka adalah semacam nabi yang rumahnya berada persis di sebelah rumah kita masing-masing (dalam novelnya, ia tinggal di semacam bedeng yang berada di daerah Karawang-Bekasi, atau Jawa Barat dan sekitarnya). Memang, ia digambarkan seperti Yohanes Pembaptis – menggunakan tongkat dan berpakaian sederhana (persisnya: selimut bekas dari rumah sakit – namun, toh, bukan itu kesaktian dari nabi barunya Arswendo ini.

Ki Blaka memulai sesuatu yang baru, walaupun tidak terlalu orisinal: hidup dengan jujur. Ia mempraktikkan apa yang dikatakannya. Ia berbicara jujur, blak-blakan, blaka. Jangan kaget, saking jujurnya, ia bahkan berterus terang ingin memegang payudara seorang “pengikut”-nya yang cantik, putih, dan molek, Ai. Dan sebagai pengikut yang baik, Ai pun tidak ragu untuk berkata jujur bahwa ia juga bukan hanya tidak keberatan, tetapi bahkan bersedia “meneteki Ki Blaka.”

Apakah ini semacam agama postmodern atau cuma semacam trend sesaat? Tampaknya iya. Tapi, tampaknya juga tidak. Ki Blaka tidak berniat membentuk agama, tetapi ia menetapkan aturan main: semua orang yang mau mengobrol dengan dia di “padepokan”-nya harus mau berkata jujur.

Bersabdalah Ki Blaka: “Musuh utama kejujuran bukanlah kebohongan, melainkan kepura-puraan. Baik pura-pura jujur atau pura-pura bohong.” Ia tidak memaksa orang untuk jujur. Kejujuran yang dipaksakan bukan merupakan kejujuran lagi, tetapi sudah jatuh ke dalam kepura-puraan.

Kejujuran bukan sesuatu yang hebat dan bagus dalam dirinya sendiri. Orang tidak dapat jujur karena mau memperoleh sesuatu: kesehatan, pelepasan jiwa, atau bahkan kebenaran. Kejujuran yang sejati adalah tanpa pamrih.

Jamil Akamid contohnya. Ia mengira, Ki Blakanis akan mendukungnya karena ia akan berkata jujur – sejujur-jujurnya – mengungkapkan nama, peristiwa, besarnya jumlah uang yang “terlibat” dalam kasusnya. Ia merasa akan menjadi semacam whistle blower yang akan menyingkapkan kebusukan birokrasi di negeri ini, karena ia akan berkata jujur; ia akan membuka semuanya. Ia juga berharap, jika ia membuka mulut, ia bisa lepas dari beban yang dideritanya, baik jasmani maupun rohani.

Tidak. Ki Blaka tidak mengharapkan kejujuran seperti itu. Kejujuran adalah kepolosan, tidak perlu dibuat strateginya, bahkan untuk yang paling bagus sekalipun. Kejujuran harus tanpa pamrih. Satu-satunya niat untuk jujur adalah kejujuran itu sendiri, bukan yang lain. Seperti kata Akamid: “Ki Blaka mengembalikan semua persoalan ke diri saya. Bukan karena dia, karena harus blaka, karena memang niat saya.”

Kepada orang-orang yang sering mengira kejujuran dapat menjadi obat mujarab bagi banyak hal (entah korupsi, sakit-penyakit, rumah tangga yang tak akur, maupun ketidakberesan lainnya), Ki Blaka berseru – dengan jujur tentunya:

“Bersikap jujur adalah pilihan pribadi. Kejujuran tak berarti menjadi sakti, menjadi kebenaran ketika dilakukan banyak orang, apalagi menjadi gerakan. Kalau ini membesar dan dianggap tanda, kita mengulangi lagi kesalahan.”

Masih belum puas? Jika kejujuran dilakukan tanpa pamrih, tentunya tidak ada yang perlu dilakukan secara terpaksa. Dengan begitu, tampaknya menjadi jujur pun dapat melahirkan ketidakberesan lainnya – jika kejujuran dilakukan dengan pamrih:
“Masalah utama yang dihadapi dengan kejujuran ketika menjadi nilai bersama dalam kelompok adalah ketika dilakukan dengan terlalu berlebihan, terlalu bersemangat.”

Sampai sejauh mana agama yang “terlalu jujur” ini bertahan? Seharusnya tidak bertahan lama (siapa sih yang tahan hidup jujur?) Ya. Ki Blaka dan para pengikutnya pun digerebek. Jelas, nabi yang mempraktikkan hidup jujur tentu sangat membahayakan penguasa – tentu saja penguasa yang tidak jujur (penguasa tentunya tidak pernah takut dengan seseorang yang cuma mengajarkan kejujuran, tanpa mempraktikkannya). Para petinggi mulai menginterogasi Ki Blaka, karena banyak sesi “tanya-jawab” di padepokan Ki Blaka berakhir rusuh.

Itu belum seberapa. Kejujuran ternyata sempat mewabah ke luar lingkungan kampung “Blakanis”. Murid-murid di suatu sekolah tidak lagi mencontek, beberapa orang mulai tidak mau mempergunakan mata uang dolar dan tidak menggunakan barang-barang impor. Para murid di suatu sekolah di Jambi – yang tidak mau mencontek lagi itu – seperti sedang kerasukan “roh blaka” ketika mereka menyanyikan koor: “blaka, blaka, blaka...” pada saat mereka akan mengerjakan soal ulangan. Adegan ini dapat dibayangkan seperti suatu adegan dari potongan dalam film “The Wall” garapan Pink Floyd, ketika tembang "Another Brick in the Wall (Part 2)” mengalun mengiringi bocah-bocah sekolah yang memberontak mulai menjungkirbalikkan kursi dan meja-meja sekolah (bedanya, anak-anak sekolah di “Blakanis” lebih “memberontak” melawan diri mereka sendiri, sementara anak-anak sekolah dalam “The Wall” memberontak melawan tirani sekolah).

Itu jelas tidak wajar dan menakutkan (tentunya bagi mereka yang tidak biasa jujur). Bagi beberapa orang, novel ini juga mungkin memang terlalu ”jujur” dan malah “kering” (“jujur”, “polos”, dan “kering” memang saudara yang berdekatan). Tokoh-tokohnya sering terasa “dingin”. Jika dibandingkan dengan “Horeluya”, “Blakanis” memang tidak berupaya mengaduk-aduk perasaan pembaca (Arswendo sebenarnya ahli dalam hal “pengadukan” ini – sebagaimana tampak dari serial Keluarga Cemara). Ki Blaka sedang mengajar dan, sayangnya, ajarannya sangat tidak populer. Jadilah, pembaca, halaman demi halaman, bersusah payah mengikuti logika Ki Blaka dan para pengikutnya – yang disebut “blakanis” – yang “meniduri” kejujuran semampu mereka (barangkali karena bukan penganut “agama kejujuran”, saya kadang-kadang merasa agak sedikit bosan dengan khotbah sang nabi?)

Jikalau Ki Blaka tampaknya kesulitan dalam mengajarkan agama “kejujuran”-nya, Arswendo tidak terlalu sulit – justru terbilang sangat berhasil – dalam hal ini: mencoba strategi bercerita yang – konon – dipakai oleh Umar Kayam dalam “Para Priyayi” (saya sebut “konon” karena saya masih belum membacanya), yaitu strategi bercerita bukan dari sudut pandang tunggal. Semua pengikut Ki Blaka punya cerita yang sah untuk diceritakan, dari si Mareto, Suster Emak, Ali, Eyang Brondol, Lola, Windi, dan sebagainya. (Siapa tahu, Anda, begitu mencoba untuk hidup jujur, juga punya hal lain yang dapat diceritakan?)

Strategi Arswendo memang berhasil. Cerita mengalir lancar pada bagian “kesaksian”, yaitu ketika para Blakanis menuturkan kesaksian dan pengalaman mereka. Pada bagian “khotbah” Ki Blaka, narasi lincah Arswendo berubah menjadi semacam verbalisme kejujuran yang memang sangat memikat dan menawan hati (karena revolusioner walaupun tidak serbabaru) namun terasa agak sulit diikuti – mungkin terutama oleh mereka yang jarang jujur dalam hidupnya (semoga kita tidak termasuk di dalamnya).

Jika agak sulit menghubungkan Parang Jati dengan Ayu Utami, saya agak lebih mudah membayangkan Ki Blaka yang santai dan blak-blakan dengan figur Arswendo sendiri. Celotehan jujur para tokoh yang ada dalam novel ini boleh dibilang berhasil dan mengalir lancar karena memang begitulah gaya Arswendo. Ki Blaka berhasil mengajarkan “agama kejujuran” justru karena Arswendo yang berhasil menceritakan kisahnya…

Jadi, walaupun berlaku jujur itu memang agak berat dilakukan akhir-akhir ini, toh Arswendo sudah cukup jujur berbagi cerita tentang kejujuran di dalam bukunya yang satu ini. Semoga kita bisa ketularan untuk jujur...

Rabu, 20 Agustus 2008

Mengapa Ayu Utami Mengganggu Mimpi-Mimpi Tidur Kita?



Judul Buku: Bilangan Fu
Penulis: Ayu Utami
Genre: Novel, fiksi
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit : Juni 2008
Tebal: x + 537 halaman
Ukuran: 13,5 x 20 cm

Ayu Utami = Sastra Lendir?
Agak sulit mereview buku Ayu Utami yang terbaru. Maksudnya, saya sulit untuk menetapkan sudut pandang yang mau dipakai: sastranya, isi/tema/topiknya, atau Ayu Utaminya (dan segala predikat yang menempel pada dia)?


Ayu Utami sebenarnya penulis yang kalau dibilang baru, tidak terlalu tepat, tetapi kalau dibilang lama, tidak 100% benar juga. Novelnya yang pertama, Saman, terbit pada tahun 1998 – itu sekitar 10 tahun yang lalu. Jadi, dari segi itu, ia jauh cukup “tua” ketimbang Dee (Dewi Lestari) atau Djenar Maesa Ayu serta para penulis yang muncul pada akhir 1990-an dan 2000-an. Bahkan, banyak orang berujar, Ayulah yang menciptakan “aliran baru” di mana nama-nama tadi dapat dimasukkan dalam genre yang kurang lebih sama.

Namun, Ayu juga dapat dibilang baru, justru dikaitkan dengan “aliran baru” tadi. Ayu, dengan “Saman”-nya, mengawali suatu era baru dalam dunia novel Indonesia. Agak sulit memang untuk memerikan “aliran baru” yang digeluti Ayu dan beberapa perempuan lain tadi. Oleh mereka yang sinis, Ayu dianggap memelopori apa yang disebut dengan berbagai istilah: “sastra lendir”, “sastra selangkangan”, “sastra kelamin”, dan sebagainya.

Mengapa begitu? Aliran tadi – dan juga Ayu Utami sendiri – barangkali memang baru, jika apa yang disebut sebagai – kita pilih satu istilah saja – “sastra lendir” memang merupakan fenomena baru dan belum ada antesedennya dalam dunia sastra atau dunia novel di Indonesia.

Namun, pertama-tama, harus dijawab dulu apa itu “sastra lendir”? Menurut beberapa tulisan yang terbaca, tulisan Ayu Utami – dan genre yang “diciptakannya” – disebut demikian karena mereka mencoba menyajikan unsur-unsur seksual di dalam novelnya secara lebih “terbuka”.

Apakah memang belum pernah ada tulisan semacam itu sebelum Ayu? Mari kita sorot N.H. Dini. Pada ”Pada Sebuah Kapal”, misalnya, Dini juga memasukkan unsur-unsur ”serupa” ke dalamnya. Memang, Dini tidak melakukannya dengan cara yang sama dengan Ayu. Toh, pada waktu itu, orang juga bisa mengatakan bahwa hal-hal semacam itu – yang dilakukan Dini – merupakan hal yang baru dan bahkan ”revolusioner”. Apakah dengan demikian N.H. Dini bisa diklaim sebagai pelopor aliran ”sastra lendir”? Lalu, kebetulan, saya juga sedang membaca novel-novel Arswendo ”Blakanis” (dan mereview ulang ”Kisah Para Ratib”). Di dalamnya, ada juga unsur-unsur seperti itu. Apakah Arswendo juga penganut ”sastra lendir”?

Tampaknya, unsur-unsur seperti itu bukanlah sesuatu yang haram – apalagi baru – di dalam khazanah pernovelan di Indonesia. Memang, ”lendir”-nya memang tidak harus keluar atau tampak jelas – Ayu memang membuatnya semakin jelas (mungkin karena dia adalah anak zamannnya barangkali? Atau lebih tepat: ini lebih merupakan selera, gaya, dan tuntutan cerita), karena toh N.H. Dini dapat melakukannya pada dasawarsa-dasawarsa yang telah lampau, dengan cara yang berbeda.

Barangkali, ”sastra lendir” adalah istilah yang insinuatif . Mengapa, siapa, dan apa dari maksud insinuasi ini, itu di luar tulisan ini untuk membahasnya. Namun, kalau tulisan ini boleh berkata, Ayu Utami justru seorang trend setter, bukan terkait ”sastra lendir”, tetapi terkait kekuatan bernarasi dan berdeskripsinya.

Ayu dan Deskripsi vs Narasi
Ketika saya mencoba membaca ”Bilangan Fu”, saya kebetulan membaca tulisan Goenawan Mohammad (GM) di Bentara Budaya, Kompas (11 Juli 2008). Dalam suatu kesempatan di depan para sastrawan/budayawan yang dulu pernah berseberangan dengannya, GM mencoba melihat perbedaan, kekuatan, dan kelemahan antara sastra yang menitikberatkan antara narasi dan sastra yang bertitik berat pada deskripsi.

Tanpa memasuki diskusi GM di situ (dan tidak 100% menggunakan analisis dia di situ), tulisan ini mencoba melihat bagaimana tulisan Ayu bermetamorfosis dari hanya sekadar bernarasi di dalam ”Saman” menjadi semakin berseimbang antara narasi dan deskripsi di dalam ”Bilangan Fu”.

Coba lihat, bagaimana ia bermewah-mewah dengan kutipan dari berbagai artikel (fiktif maupun bukan), kumpulan kliping (fiktif maupun bukan), analisis mendalam bahkan nyaris lengkap atas berbagai mitologi (Nyi Rara Kidul, Watugunung, dan sebagainya) serta paparan nyaris panjang (atau memang panjang?) dari Babad Tanah Jawi. [Ada satu hal yang menarik bagi saya, sampai sejauh mana Ayu meminta izin media-media massa yang namanya disebut dalam artikel atau kliping tadi. Mengingat banyak berita yang tampaknya imajiner, tentu koran seperti Kompas seharusnya dimintai izin secara resmi oleh Ayu sebelum dicantumkan di dalam novel ini].

Barangkali cara bercerita seperti ini memang cukup membosankan – apalagi bagi mereka yang terbiasa dengan ”Saman” yang kata-katanya sangat, sangat naratif dan pendek-lincah. Dalam ”Bilangan Fu”, kata-kata dan kalimat-kalimat naratif, pendek-lincah pun tetap hadir, namun diimbangi oleh kalimat-kalimat yang sangat deskriptif.

Trend-setterkah Ayu untuk bagian ini? Ya dan tidak. Tidak, karena tentunya sudah banyak novelis atau prosais yang melakukan metode serupa. Mungkin, kita ingat dengan Sutan Takdir Alisyahbana (STA) dalam Grotta Azzurra (GA). Walaupun Ignas Kleden menilai bahwa novel STA tersebut sebagai ”gagal” (Ignas Kleden, ”STA dan Novel-novelnya”, Kompas, 11 Juli 2008) – karena STA hanya memenuhi novelnya dengan makna-makna referensial dan hampir tidak memberikan pembaca makna tekstual yang lahir dari teks-teks novel tesebut – mengingatkan kita lagi bahwa novel STA tersebut merupakan upaya pertama di negeri ini untuk memunculkan apa yang disebut sebagai ”novel ide”.

Mengapa STA gagal? Novel GA berisi banyak ide-ide besar tentang berbagai hal tetapi tidak dilibatkan dalam event-meaning dialectic dari cerita. Jadi, tokoh, peristiwa dan sebagainya hanya latar yang sebenarnya dapat dihilangkan dari cerita tanpa menghilangkan substansi gagasan yang ingin dituangkan STA. Apakah Ayu begitu juga dengan ”Bilangan Fu”? Jika menggunakan kriteria Kleden di atas, tentunya tidak. Ayu dalam novel terbarunya ini tetap menjalin berbagai ide besarnya dengan tokoh-tokoh ”konkret” dan ”berdarah daging”, sehingga berbagai ide besarnya tersebut tidak dapat dipahami tanpa memahami makna tekstual yang muncul dari teks novel. Memakai istilah Kleden, bolehlah kita berkata bahwa ide-ide besar dalam ”Bilangan Fu” lahir dari peristiwa di dalam novel, terjalin erat dengannya.

Mungkin, kita akan melihat kemiripan dan perbedaan yang juga tak kalah mengejutkannya apabila Bilangan Fu-nya Ayu dibandingkan dengan 3 novel pertama Iwan Simatupang (Merahnya Merah, Ziarah, dan Kering). Apakah Ayu berhasil melampaui Iwan? Ini pertanyaan yang menarik tetapi mungkin belum bisa dijawab sekarang.

Ayu dan Agama Barunya
Keterjalinan antara ide-ide besar yang diusungnya dengan berbagai tokoh dan peristiwa di dalam ”Bilangan Fu” cukup memikat. Ayu secara terampil menggunakan kemampuan bermetaforanya untuk menuangkan ide-ide besar itu (untuk bagian ini, GA-nya STA berhasil dilewati Ayu).

Dengan ide-ide besar tersebut, Ayu bak nabi yang memproklamirkan agama baru: agama yang non-modernis, non-militeristis, dan non-monoteistis. Suatu agama yang mengemohi kemodernan dan ciri-ciri militer tampaknya bukan hal yang baru – setidaknya dalam dunia imaji Parang Jati, tokoh ”agama baru” dalam novel ini. Namun, hal yang lebih baru dan cukup revolusioner adalah sifat non-monoteistisnya.

Agama ini seolah-olah membuat pengakuan atas sifat absolut-intoleran dalam keberagamaan yang monoteistis. Jika Tuhan adalah satu, tentu yang bukan Tuhan dapat dipaksa untuk tunduk menyembah yang satu tersebut (kebetulan, banyak sekali yang berada di luar ”yang satu” itu). Penyembahan atas yang satu rupanya sering diiringi dengan penyangkalan dan pemusnahan yang lain – realitas yang berada di luar yang satu itu.

Tuhan itu satu, kebenaran itu satu, dan para pengemban Tuhan serta kebenaran yang satu itu pun juga satu: suatu umat yang kudus, yang satu, benar dan bahkan ilahi. Semua yang ada di luarnya harus disangkal, dibasmi serta ditumpas. Modernisme dan militerisme hanya alat – yang tidak selalu harus bersifat benar, tetapi rupanya selalu efektif dalam penumpasan segala hal yang berada di luar ”yang satu” tadi.

Karakter Parang Jati – nabi Bilangan Fu – memang cukup ambivalen. Ia sepintas mirip dengan Yesus – tidak diketahui orang tuanya (bahkan ia memang muncul sendiri begitu saja), berbeda dengan orang kebanyakan (punya jari tangan 12 – sehingga ia tergolong di antara orang-orang cacat), serta sedikit melakukan Khotbah di Bukit. Agama Parang Jati adalah antitesis agama Farisi (ini bukan hanya sepintas, tetapi memang tampaknya disengaja Ayu untuk mirip dengan para antagonis Yesus dalam Perjanjian Baru). Jika agama Farisi tidak segan-segan menggunakan militerisme dan modernisme dalam mengokohkan agama monoteismenya, agama Parang Jati bahkan tidak menganjurkan ”pemanjatan yang kotor”, yaitu cara yang lazim dalam pemanjatan gunung: menggunakan paku dan bor.

Namun, Parang Jati – walaupun hampir dikorbankan di meja persembahan oleh ayah angkatnya (mirip dengan Ishak yang hampir dikorbankan oleh ayah kandungnya – juga mengalami kejatuhan: bercinta dengan ibu tirinya. Tampaknya, Parang Jati lebih manusiawi ketimbang Yesus: bukan hanya pernah digoda dosa, tetapi juga ikut-ikutan berdosa.

Toh, itu semua tidak menyurutkan Ayu untuk mengedepankan Parang Jati – tepatnya agama Parang Jati – sebagai filosofi dan praktek hidup yang ditawarkan di tengah-tengah kejahiliahan kaum beragama pada masa senjakala modernisme ini.

Dengan menggunakan banyak simbol dari mitologi Jawa (seperti Nyi Rara Kidul dan Watugunung) serta alur kisah dan figur dalam Alkitab, Ayu mencoba bertutur mengenai kesederhanaan spiritualitas, yaitu spiritualitas yang menghormati alam dan kelemahan manusia.

Kesimpulan
Ayu tetap terdepan dibanding para novelis perempuan – baik yang ”berlendir” maupun tidak. Ia mencoba untuk keluar dari ”metode kuna” yang dipakainya dalam dua novelnya yang terdahulu. Ia bukan hanya keluar, tetapi juga mencoba membuat tren baru dalam bercerita. Tetap layak dianugerahi gelar “ratu metafor”, Ayu kini mulai merambah tradisi yang cukup baru (atau tidak?)

Menjawab pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini, Ayu menganggu mimpi-mimpi tidur kita karena: ternyata ia tidak begitu “berlendir”, berpotensi melampaui STA, dan mengajak kita merayakan kematian monoteisme. Bagaimana?

Lalu, apakah novel ini bagus untuk dibaca? Saya mengembalikannya kepada selera dan agenda pencarian jati diri Anda. Tapi, sama seperti semua resensi adalah menipu, maka resensi yang satu pun juga menipu. Mengapa tertipu? Karena tidak ada orang yang dapat menikmati buah manggis setelah dikunyah orang lain. Jika Anda ingin menikmati buah manggis, pergilah ke toko buah, beli, dan nikmati sendiri.***

Senin, 14 Juli 2008

The Gospel according to the Simpsons




Judul : The Gospel according to the Simpsons
Subjudul : The Spiritual Life of the World’s Most Animated Family
Penulis : Mark I. Pinsky
Pengantar : Tony Campolo
Penerbit : Westminster John Knox, Louisville, Kentucky, USA
Tebal : xiv + 193
Tahun Terbit : 2001

Perut gendut, rambut botak, dan suka minum bir-makan donat. Jika ada orang yang paling tidak mungkin menjadi presiden Amerika Serikat, pastilah dia orangnya. Namun, bagaimana dia menjadi seorang penulis Injil kita yang terbaru – The Gospel according to the Simpsons (Injil menurut Keluarga Simpson). Si penulis tidak hanya menulis sendirian; ia mengikutsertakan istrinya – yang rambutnya bersanggul aneh; anak laki-lakinya – Anda barangkali akan bersyukur bahwa anak ini tidak tinggal di lingkungan rumah Anda; anak perempuannya – anak yang menyenangkan, walaupun tidak berdasarkan kriteria yang umum; dan entah bisa menulis atau tidak: bayi perempuan yang jarang tampil tanpa empeng-nya.

Homer Simpson, si kepala keluarga, memang tipikal kepala keluarga dari golongan menengah-bawah masyarakat Amerika. Jika suatu keluarga diminta menulis suatu Injil, mungkin memang dialah orang yang tepat – atau tidak tepat? – untuk itu. Sebelum Anda terburu-buru menilai atau memberi keputusan tepat atau tidaknya hal ini, coba baca buku ini dulu – atau review dari saya ini.

Injil ini bukan sembarang Injil. Selain berisi “kebenaran yang akan membebaskan Anda”, ada juga semacam “kebenaran yang akan memerangkap Anda”. Ini semacam kebenaran yang tidak dibuat-buat: polos, nyentrik, dan menyentil jiwa – kalau tidak bisa dibilang: “menyindir jiwa”.

Injil ini ditulis oleh orang-orang yang tidak sempurna. Itu sudah jelas. Lalu, apa yang diharapkan dari Injil semacam ini? Setelah menonton sekitar 150 episode The Simpsons (film kartun karya Matt Groening), Mark Pinsky memberikan jawaban berikut:


“The Simpsons is a situation comedy about modern life that includes a
significant spiritual dimension; because of that, it more accurately reflects
the faith lives of Americans than any other show in the medium.”


Tidak meyakinkan, memang, jawaban seperti itu. Apalagi kalau kita melihat tingkah laku Homer yang tampaknya saleh dengan berdoa memohon kepada Tuhan – tetapi dengan gaya mencobai-Nya. Ia berdoa: jika Tuhan sepakat untuk membiarkan segala sesuatu berjalan apa adanya, Homer juga sepakat untuk tidak meminta yang lain. Konfirmasi atas kesepakatan ini, ia berdoa, adalah dalam bentuk “absolutely no sign”. Tentu saja, tidak ada tanda apa pun dari Tuhan – sebagaimana biasanya dalam kebanyak doa-doa kita.

Lalu, sebagai ungkapan rasa syukur, Homer mempersembahkan kepada Tuhan semacam “kurban persembahan”, yaitu sejumlah kue dan sekotak susu. Ia bertanya kepada Tuhan: apakah Tuhan ingin agar Homer sendiri yang memakan “kurban persembahan” itu. Jika iya, ia juga meminta “no sign”. Setelah menunggu beberapa saat, Homer mengucapkan ucapan syukur yang cukup saleh: “Thy will be done”.

Homer tampaknya berusaha semampunya untuk menjadi Kristen yang baik. Ia mengajak keluarganya hari Minggu ke Gereja. Walaupun tampak penuh trik, Homer tidak pernah malu untuk membawa persoalan kehidupan sehari-harinya langsung kepada Sumber dan meminta-Nya untuk menolongnya dalam persoalan tersebut. Dan jangan dikira Tuhan tidak pernah menjawab doa-doa Homer – atau sebaliknya: Tuhan seolah-olah mau saja dibodohi oleh Homer. Ketika ia kebingungan dalam mengatasi persoalan putrinya yang bertalenta, Lisa, Homer juga meminta tanda dari Tuhan. Tiba-tiba, ia melihat seorang storekeeper menaruh suatu tanda di atas jendela rumahnya, bertuliskan: “Musical Instruments: The Way to Encourage a Gifted Child”. Dan Homer pun langsung tahu jawaban Tuhan atas masalah yang dihadapinya: ia membelikan saksofon untuk Lisa, yang menjadi instrumen musik kesayangan Lisa, bahkan semacam “awal karier” baginya.

Kesinisan Homer terhadap agama – dan juga Tuhan – sebenarnya merupakan sindiran halus atas cara orang kebanyakan di Amerika – dan mungkin di bagian lain di dunia – dalam hal beragama dan ber-Tuhan. Gerutuan, celetukan, dan apa saja yang keluar dari mulut Homer mewakili hal-hal tersebut. Coba perhatikan, betapa mudahnya kita menebak bahwa isi kepala Homer sebagai “isi kepala” orang-orang sekuler – tetapi tetap mencoba hidup religius sebagai tradisi nenek moyang – di Amerika (dan juga di tempat lain):

“He’s always happy. No wait, He’s always mad.” (Definisi Homer tentang sifat Tuhan)

“Perfect teeth. Nice smell. A class act, all the way.” (Deskripsi Homer tentang bagaimana Tuhan menampakkan diri kepadanya di dalam mimpi)

“You know, the one with all the well meaning rules that don’t work in real life. Uh, Christianity.” (Jawaban Homer ketika ditanya Bart: apakah agamanya)

“Kids, let me tell you about another so-called wicked guy. He had long hair and some wild ideas. He didn’t always do what other people thought was right. And that man’s name was…I forget. But the point is…I forget that too.” (Komparasi Homer antara dirinya dengan Yesus yang memiliki ide orisinil dan anti-kemapanan, sehingga dibenci masyarakat).

Dibanding Homer, Lisa, putrinya yang pertama – anaknya yang kedua, jauh lebih “bermoral”. Pinsky bahkan bertanya: Tidakkah Lisa sebenarnya merupakan figur yang merepresentasikan Yesus? Pinksky menulis satu bab khusus tentang Lisa (salah satu bab favorit saya di dalam buku ini) – Does Lisa Speak for Jesus? “There’s Something Wrong with That Kid. She’s So Moral.”

Dibanding kakaknya Bart atau bahkan ayahnya, Lisa seolah-olah di “dunia yang lain”. Ia memiliki standar hidup yang tinggi – bahkan paling tinggi (termasuk dibandingkan dengan ibunya). Penilaian sang ayah: “There’s something wrong with that kid. She’s so moral,” benar-benar mewakili siapa sebenarnya Lisa. Lisa adalah antitesis Homer, ayahnya.

Matt Groening pun berujar:


“I like her idealism, her stubbornness…[her] politics, convictions, and ability
to learn from mistakes. If I had to be suddenly transmorphed into the Simpsons cartoon universe, I’d like to be Lisa Simpson.”

Pinsky membantah pendapat yang menyamakan Lisa dengan Karl Marx. Ia justru menyamakan Lisa dengan Yesus sendiri. Ada beberapa alasan yang membuatnya membuat penilaian ini:


1. Lisa mendukung orang-orang miskin, tak berkuasa, tertindas, dan kritis
atas orang-orang kaya (Ketika Bart memberi kabar bahwa Richie Rich meninggal,
Lisa menjawab: “Perhaps he realized how shallow the pursuit of money was and
took his own life.” Atau ketika kakeknya mendapat uang 100 ribu dolar, ia
meminta kakeknya memberikan kepada orang miskin, sambil berkata: “The people who deserve it are on the street and they’re in the slums. They’re little children
who need more library books, and they’re families who can’t make ends
meet.”)
2. Lisa mempermasalahkan kebijaksanaan konvensional, tanpa memandang betapa
tidak populernya tindakan seperti itu (Ketika diminta menyanyi lagu kebangsaan
Amerika sebagai Little Miss Springfield, Lisa berkata: “Before I sing the national anthem, I’d like to say that college football drains funds that are badly needed for education and the arts.” Lisa berulang-ulang memakai kesempatan “menjadi populer”, tetapi justru menggunakannya untuk mengkritik yang lain.)
3. Lisa percaya pada konsep penatalayanan terhadap bumi dan sumber-sumber dayanya, serta mempertahankan hak-hak Tuhan atas makhluk-makhluk yang lemah.
4. Lisa merasa kasihan dengan orang-orang yang dicemooh atau direndahkan, memberikan penghiburan dan rasa belas kasih kepada orang-orang yang tak dicintai


Di luar keluarga Simpsons, film kartun tersebut banyak mengkarikaturkan berbagai macam penganut denominasi, Evangelikal (Ned Flanders), Katolik (Major Quimby), bahkan agama-agama lain seperti Yahudi dan Hindu. Semua pemeluk tersebut dikarikaturkan, ditarik sampai ke titik ekstrem, hanya untuk dipertontonkan segi-segi inkonsistensinya. Intinya, bukannya tidak ada denominasi atau agama yang sempurna; tetapi seperti Homer, masalahnya adalah tidak ada manusia yang sempurna.

Buku yang terdiri dari 13 bab ini – dengan satu kata pengantar, satu pendahuluan, dan sebuah penjelasan tentang metodologi yang dipakai – memang benar-benar memikat. Kita disadarkan akan realitas keberagamaan kita sendiri, yang memang sering tidak bisa melebihi tingkat “kesalehan” Homer Simpson dan keluarganya.

Bersama Homer Simpson dan anggota keluarganya, kita mungkin dapat memulai jadi orang beragama yang baik.

Kamis, 05 Juni 2008

The Gospel according to Peanuts


Bagaimana kalau seekor anjing dan sekelompok bocah kecil menulis Injil? Suatu Injil yang kira-kira berisi dialog seperti ini:

“You know what the trouble with you is, Charlie Brown?”
“No; And I don’t want to know! LEAVE ME ALONE!”
“The whole trouble with you is you won’t listen to what the whole trouble with you is!”

Tiba-tiba saja, saya mendapatkan sebuah buku yang agak lusuh di meja saya. Entah siapa yang mengirim atau tidak sengaja meletakkannya di meja saya yang “agak” berantakan. Buku tersebut lusuh, karena memang sudah tua (selidik punya selidik, ternyata seorang teman meminta saya membacanya karena ia kecewa karena buku tersebut tidak jadi diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia).

Buku ini merupakan edisi Inggris (diterbitkan oleh penerbit Fontana, Inggris, 1966) dari buku dengan judul yang sama yang diterbitkan oleh Westminster John Knox, Amerika Serikat (tahun 1965). Westminster John Knox menerbitkan seri “The Gospel according to…” (salah satunya – The Gospel according to Oprah, dalam versi Indonesianya: Injil menurut Oprah – sudah pernah saya resensi di sini di tempat lain.

Bagi Anda yang berminat mendalami Peanuts dan hal yang terkait, mungkin Anda dapat mejelajahi link-link di bawah ini:
http://www.snoopy.com/
http://en.wikipedia.org/wiki/Peanuts
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Gospel_According_to_Peanuts (link ini berisi versi WJK atas buku ini dengan cover yang berbeda).

But, mari kita bicara tentang buku ini. Peanuts menandai lahirnya sebuah era, yaitu kebangkitan komik strip setelah era Perang Dunia Ke-2. Selain Peanuts, Amerika juga kebanjiran komik-komik hero. Namun, Peanuts tetaplah sesuatu yang unik. Sekelompok bocah, dengan Charlie Brown sebagai pusatnya, dan seekor anjing – Snoopy, yang menjadi trade mark dan sering “dibajak” di seluruh dunia – merupakan daya pikat tersendiri. Pencipta dan penulis komik Peanuts, Charles M. Schulz. Schulz adalah seseorang yang berlatar Presbiterian. Dan hal ini kadang-kadang menjadi jelas dalam karyanya.

Buku ini, yang ditulis oleh Robert L. Short, barangkali menjadi pelopor bagi suatu genre – kalau ini mau dibilang sebagai genre: suatu perenungan yang mendalam atas segala sesuatu dengan media komik. Perenungan tersebut tidak selalu bersifat filosofis atau teologis, namun tetap memiliki kedalaman tertentu.

Penggunaan karakter anak-anak membuat perenungan tersebut kadang terdengar sinis, satiris, atau ironis. Namun, kalau ditelaah lebih jauh, anak-anak adalah wakil dari manusia juga – yaitu ketika manusia berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan terakhir, tertinggi, dan terdalam mereka: waktu, hidup, mati, Tuhan, dan kemanusiaan itu sendiri. Tidak mengherankan bahwa semua persoalan-persoalan rumit tersebut justru menjadi nyata dan “kena” ketika diperbincangkan oleh anak-anak. Bukankah memang anak-anak yang suka heran mengapa orang bisa meninggal dan mengapa ada kehidupan ketimbang tidak ada – bukankah orang tua biasanya memang sok tahu (karena memang tidak tahu)?

Jadi, penggunaan karakter anak-anak adalah salah satu bentuk kejeniusan Schulz. Anak-anak itu innocent, politically correct. Komentar anak terhadap “kasus-kasus berat” sering tak terduga dan tetap memiliki kedalaman yang luar biasa. Coba simak yang satu ini, dialog antara Charlie Brown dan, Linus, adik Lucy, temannya:

Charlie Brown: “Life is just too much for me…I’ve been confused right from the
day I was born…I think the whole trouble is that we’re thrown into life to fast…
we’re not really prepared.”
Linus: “What did you want…a chance to warm up
first?”

Buku ini terdiri dari beberapa bab. Bab pertama membahas mengenai hubungan antara gereja (baca: agama) dan seni. Bab ini menurut saya menjadi “kaca mata” penulis dalam melihat karya Schulz, Peanuts. Tidak ada yang salah dengan “kaca mata” tersebut. Tapi, “kaca mata” hanyalah salah satu “kaca mata” di antara berbagai “kaca mata”. Saya lebih suka melihat Peanuts sebagaimana di atas, sesuatu yang lebih besar ketimbang gereja dan kekristenan – suatu pesan yang lebih filosofis, human, dan universal. Namun, penilaian kembali kepada para penikmat Peanuts di seluruh dunia.

Namun, “kaca mata” penulis tetap aktual dan “mengena” dengan kondisi sekarang: ketidakmampuan kalangan agama (baca: gereja) dalam menyapa manusia melalui karya seni. Jelas, penulis melihat Peanuts berhasil melakukannya secara baik – sesuatu yang saya setujui. Bab-bab lain dari buku ini, terutama Bab II (“The Whole Trouble”: Original Sin), Bab III (The Wages of Sin Is “Aaaugh”), dan Bab V (The Hound of Heaven) merupakan pembeberan penuh kutipan atas hasil penglihatan melalui “kaca mata” tadi. Apa itu dosa dan situasi paradoks dosa sangat kelihatan dalam dialog-dialog di Peanuts. Selain dua kutipan dialog di atas – yang diambil dari Bab II, dialog berikut juga memperlihatkan siatuasi paradoks keberdosaan manusia:

Lucy: “Discouraged again, eh, Charlie Brown? You know what your trouble is? The whole trouble with you is that you’re YOU!”
Charlie: “Well, what in the world can I do about that?”
Lucy: “I don’t pretend to be able to give advice… I merely point out the trouble!”

“Trouble” atau “whole trouble” sering digunakan oleh Schulz untuk mewakili dosa, situasi serbadosa dan serbasalah yang dialami manusia. Dialog-dialog para bocah Peanuts secara jitu menyoroti hal ini, sekaligus menyimpulkan – tanpa perlu menggurui siapa pun (tentu ada saja orang dewasa yang tersinggung membaca komentar bocah-bocah yang hobinya nyeletuk seperti Charlie Brown dan kawan-kawan. Tapi, kebanyakan di antara kita, tidak begitu, kan?)

Kedosaan atau keserbasalahan itu, menurut penulis, disimbolkan secara baik oleh Schulz pada “security-blanket” yang dimiliki oleh Linus, adik Lucy (hlm. 58). Karakter Linus sebenarnya jauh lebih filosofis dan “cerdas” ketimbang Charlie Brown. Namun, Schulz juga memperlihatkan “kelemahan” tertentu dari Linus: keterikatakan pada sesuatu. Dalam beberapa episoden Peanuts, karakter Linus digambarkan “depresi”, “gelisah”, atau “cemas”, karena tidak menemukan “security-blanket”-nya pada saat-saat ia mengalami semacam “bad day”. Jadi, “blanket” di sini bukan hanya sesuatu yang membuat manusia terikat, tetapi juga membuat manusia nyaman di tengah-tengah situasi tidak nyamannya.

Terkait dengan situasi paradoksal dosa itu, penulis juga mengangkat suatu istilah yang cukup sering diceletukkan baik oleh Charlie Brown maupun karakter lain dalam Peanuts, yaitu istilah: “Good Grief” (ini menjadi pokok dalam Bab IV buku ini). Istilah ini tampaknya memang bertolak belakang: apakah sesuatu yang bersifat “grief” bisa menjadi good”? Saya setuju dengan pendekatan yang dipakai penulis yang langsung memperlihatkan bahwa itulah sebenarnya inti kekristenan. Inilah inti dari Gospel (Injil), seperti kata penulis (hlm. 83): “This is why the gospel, or ‘good news’, is never good news except to those who are already ‘meek and lowly’ or ‘of a humble and contrite spirit’.”

Problem ini dihadapi oleh karakter Lucy yang bertanya-tanya mengapa Allah yang mahakuasa mengizinkan atau seolah-olah membiarkan terjadinya penderitaan di dunia ini. Seperti katanya kepada Charlia Brown suatu saat:

Lucy: “Sometimes I get discouraged”
Charlie: “Well, Lucy, life does have its ups and downs, you know…”
Lucy: “But why?” Why SHOULD it?! Why can’t my life be all “UPS”? If I want all “ups”, why can’t I have them? Why can’t I just move from one “up” to another “up”? Why can’t I just go from an “up” to and “UPPER-UP”? I DON’T WANT ANY “DOWNS”! I JUST WANT “UPS” AND “UPS” AND “UPS”!
Charlie: “I can’t stand it…”

Namun, inti “good grief” dari Injil (dan juga Peanuts) jelas jauh luas ketimbang menerima irama “up” dan “down” dalam hidup. Seperti kata penulis, dengan mengutip Paulus: “Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. (Rm. 6:6-8). Ini adalah sesuatu yang lebih dalam, memang. Suatu pengorbanan yang membawa ke kemenangan yang lebih mulia, yang tak selalu dapat dicerna oleh akal kita.

Mungkin ada yang bingung ketika membaca tulisan ini: mengapa saya tidak menyebut-nyebut karakter Snoopy – karakter yang jarang berbicara (tentu karena dia adalah seekor anjing, yang dalam beberapa episode sering digambarkan “berkata-kata dalam hati”)? Saya sengaja menyisakannya untuk bagian terakhir. Si penulis mempunyai gambaran yang sangat dahsyat tentang Snoopy: Snoopy adalah gambaran Yesus Kristus sendiri! Karakter Snoopy adalah semacam “Kristus kecil”, yang menjadi simbol “ambivalen” dari karya Kristus sendiri: “humbling the exalted and exalting the humble.” (Yoh. 9: 39: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.”). Ambivalensi Kristus dengan tepat digambarkan Snoopy: bijak-mulia, tetapi sering diremehkan.

Barangkali, kalau penilaian penulis atas Snoopy terlalu tinggi, saya lebih baik melanjutkan pendekatan pertama di atas: jika anak-anak TIDAK DAPAT dikatakan menggurui jika mereka berceloteh tentang hidup, mati, waktu dan Tuhan….apalagi seekor anjing. Seekor anjing jelas jauh lebih innocent. Jelas, karakter “tanpa dosa” Snoopy bisa dengan bebas menjadi hakim atas siapa saja – bukan hanya pembaca – tetapi juga para karakter manusia di dalam Peanuts. Jadi, jika para bocah menjadi “guru bagi pembaca” tanpa perlu “menggurui pembaca”, maka karakter Snoopy dapat menjadi “manusia yang arif-bijak bagi semua orang (baik pembaca atau bukan)” tanpa perlu “menjadi manusia”.

Akhirnya, untuk menutup review ini, mungkin lebih bagus kalau saya mengutip suatu dialog antara Charlie Brown dan Linus, saudara Lucy – Charlie dan Linus sedang berdiri mengelilingi pohon yang masih kecil:

Charlie: “It’s a beatitul little tree, isn’t it?”
Linus: “Yes, it is…”
Charlie: “It’s a shame that we won’t be around to see it when it’s fully grown.”
Linus: “Why? Where are we going?”

Kamis, 15 Mei 2008

Kesucian Politik: Melawan Politik Amnesia dengan Politik Anamnesis




Mutiara Andalas sudah selesai menulis bukunya. Judulnya: Kesucian Politik: Agama dan Politik di Tengah Krisis Kemanusiaan, dengan diberi kata pengantar oleh Christianto Wibisono.

Buku yang diterbitkan dalam rangka mengenang Tragedi Kemanusiaan 1998 ini berangkat dari 1 gagasan: kita cenderung melupakan tragedi atau menyebut tragedi dengan sebutan lain atau melihatnya dari sudut mereka yang tidak menjadi “korban tragedi” tersebut.

Mutiara Andalas tidak sepakat di sini. Ia membuat semacam politik anamnesis, yaitu upaya melawan politik amnesia terhadap korban. Ia mencoba mengangkat tragedi kemanusiaan Mei 1998, Tragedi Semanggi I dan II dan tragedi lainnya dari kaca mata korban. Biarkan korban yang berbicara dan biarkan para aktivis, para pendamping dan teolog berbicara dari sisi korban.

Pengalaman dan keberpihakan Mutiara Andalas dalam mendampingi para korban tragedi kemanusiaan 1998 (Tragedi Mei 1998-Semanggi I-Semanggi II) membuatnya menulis:


Kisah korban dan keluarga korban sering membuat saya tak
kuasa meneteskan air mata. Kisah hidup mereka menjadi sangat dekat di pelupuk
mata saya.

Ia yang meneteskan air matanya kemudian merefleksikan semuanya – terutama dari kaca mata iman. Dan pada gilirannya, ia mengundang pembaca untuk mendekati tragedi kemanusiaan dari perspektif iman kita masing-masing. Jadi, di dalamnya, kita akan berjumpa dengan praksis iman dari individu atau komunitas beriman dari berbagai tradisi, terutama kristiani (Para ibu Plaza de Mayo, Rigoberta Menchu, Aung San Suu Kyi, Elie Wiesel, Hannah Arendt, Jon Sobrino, dan para korban tragedi kemanusiaan 1998 di Indonesia) dalam berhadapan dengan isu kemanusiaan, seperti diskriminasi rasial, perkosaan massal, kekerasan militer, dan rezim kriminal.

Dengan begitu, Mutiara Andalas merangkum pengalaman, perasaan, pemikiran dan kesaksian mereka semua sehingga terbentuk suatu pemahaman atau visi-misi yang baru dalam memandang fakta/isu kemanusiaan tersebut. Itulah yang disebutnya sebagai politik anamnesis (yaitu suatu politik yang lahir dari sikap iman yang memihak dan mengenang para korban kemanusiaan).

Akhirnya, tujuan utama buku ini seperti dituturkan olehnya:


Buku ini mengundang kita sebagai pembaca untuk mengingat korban dan keluarga korban dari ancaman pelupaan sosial... Saya juga mengundang pembaca untuk menjadi pribadi-pribadi yang solider dengan paguyuban keluarga korban dalam melawan rezim kejahatan terhadap kemanusiaan. Kisah korban masa lalu akan menghilang jika kita tidak mengingatnya bersama keluarga korban sekarang.



Sabtu, 02 Februari 2008

Setelah Yudas, Kini Giliran Oprah…




Info Buku

Judul Asli : The Gospel according to Oprah
Judul Indonesia : Injil menurut Oprah
Penulis : Marcia Z. Nelson
Kata Pengantar : Andar Ismail
Ukuran Buku : 13 x 20 cm
Tebal : xii + 218 cm
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta


Yup…

Memangnya hanya seorang pria yang mati bunuh diri pada abad pertama masehi, yang bisa menulis Injil? Ketika kita bertanya-tanya bagaimana Yudas yang akhirnya mati bunuh diri dapat dipercaya telah menulis Injil, kini hadir di hadapan Anda: Injil menurut Oprah (The Gospel according to Oprah).

Jika secara luas Injil dapat disebut sebagai kabar baik dari Tuhan yang dialami oleh seseorang – kemudian orang itu membagikannya kepada orang lain agar dapat mengalami hal yang sama – maka seorang ratu talk show dari abad ke-20 (dan ke-21) ternyata juga mengalami kabar baik tersebut!

Injil menurut Oprah merupakan suatu undangan bagi Anda untuk turut mengalami dan merasakan apa yang dialami dan dirasakan Oprah Winfrey, seorang ratu talk show paling populer. Dibesarkan dalam lingkungan Kristen yang taat, suara hati Kristen Oprah telah terasah, apalagi dengan pengalaman mewawancarai ratusan orang di dalam berbagai acara Oprah Winfrey Show. Melalui kerajaan multimedianya, Oprah menyebarkan Injil – dalam arti sesungguhnya – yaitu apa yang telah ia alami dan ia terima dari Tuhan. Oprah mengajarkan bagaimana Injil yang diterimanya dapat pula meringankan orang-orang dengan berbagai permasalahan dalam hidup sehari-hari mereka – dalam bahasa sehari-hari pula: dari korban pelecehan sampai orang-orang yang tidak bisa berdandan. Ia memperlihatkan bahwa mengkhotbahkan Injil bukan berarti berbicara mengenai surga-neraka, tetapi juga mengajarkan bagaimana seorang ibu dapat mengatur lemari pakaiannya atau juga bagaimana seorang istri dapat mengampuni suaminya yang berselingkuh.

Baca buku ini, dan cari tahu mengapa orang suka menyaksikan acara TV-nya, membaca majalahnya, berdiskusi di situs webnya.