Konon, ada suatu analisis yang mengatakan bahwa jika di tengah-tengah suatu masyarakat sering muncul orang-orang yang mengaku Ratu Adil, mengaku orang yang dulu pernah hilang (dan kini muncul kembali), mengaku menemukan harta karun yang bisa menutupi utang negara, mengaku menemukan teknologi canggih dengan jalan yang “luar biasa” – dan berbagai pengakuan-pengakuan lainnya – biasanya masyarakat tersebut sedang “sakit”.
Dalam jangka waktu satu tahun ini, Indonesia rupanya sering “kedatangan” orang-orang seperti itu, misalnya orang yang mengaku berhasil menemukan teknologi pengubah air menjadi bahan bakar (Blue Energy); orang yang mengaku dapat menghentikan aliran lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur; orang yang mengaku sebagai Supriyadi (pahlawan perintis kemerdekaan, Menteri Keamanan RI yang tak pernah muncul setelah ditunjuk Bung Karno) dan sebagainya.
Terakhir adalah kasus padi “varietas unggul” yang dikenal sebagai Super Toy HL2. Walaupun tidak ada tokoh atau orang yang “sakti” atau “misterius” terkait dengan kasus ini, namun kehebohan dan hiruk-pikuk yang menyertainya dapat disejajarkan dengan kasus Blue Energy atau kasus “kembalinya Supriyadi”.
Awal-mulanya adalah berita kegagalan panen padi jenis tersebut yang dilaporkan oleh para petani di berbagai daerah di Pulau Jawa. Mereka mengaku merasa tertipu karena membeli dan menggunakan padi jenis tersebut, yang menurut pesan sponsor merupakan padi “super” karena padi tersebut dapat dipanen 3 kali dalam setahun – tanpa menanam kembali itu (silakan cari sendiri beritanya di internet).
Berita tersebut mungkin biasa saja, seandainya tidak melibatkan nama Susilo Bambang Yudoyono, kebetulan orang yang sedang menjabat sebagai presiden di negeri ini. SBY – begitu nama presiden ini biasa diakronimkan – rupanya agak jengah dengan berita yang terkait dengan kegagalan panen padi jenis “super”, yaitu Super Toy HL. Mengapa harus jengah? Wajar bila ia jengah, karena pasalnya komisaris PT Sinar Harapan Indopangan (SHI), Heru Lelono, adalah salah seorang anggota tim penasihat presiden – Tim Cikeas, begitu sebutannya (PT SHI adalah perusahaan yang memproduksi dan memasarkan padi “super” tersebut, yang darinyalah para petani mendapatkan/membeli bibit padi tersebut). Dan kedua, ini yang membuat semakin jengah: SBY “tampak” melakukan promosi atas padi jenis tersebut – setidaknya memang begitulah yang dibaca oleh para lawan politiknya.
Entah “kejengahan” tesebut pantas atau tidak (juga tidak jelas siapakah yang sebenarnya jengah: SBY atau para pembantunya). Namun, yang pasti, pada acara berbuka puasa hari Sabtu lalu (6/9/2008), pejabat humas kepresidenan merilis transkrip pidato SBY pada acara “launching” padi jenis tersebut tahun lalu (Kompas, 7/9/2008). Transkrip yang dibagikan itu memperlihatkan “posisi netral” presiden dalam urusan “padi super” tadi. Jadi, tidak benar – begitu hal yang ingin diluruskan oleh tim kepresidenan – bahwa Presiden SBY mempromosikan padi “super” tadi. Lagipula, SBY sudah memanggil Heru Lelono untuk meminta penjelasan (baca di Detik).
Terlepas entah bagaimana posisi SBY dengan urusan ini, ada hal yang menarik yang perlu dicermati: mengapa padi “ajaib” yang dapat dipanen 3 kali dalam setahun – tanpa menanam kembali itu – lebih disukai ketimbang padi konvensional. Mungkin kalau ini ditanyakan, orang akan mencibir dan menjawab: “Tentu saja, padi seperti itu lebih disukai, karena lebih produktif dan lebih murah.” Iya, ya. Itu pertanyaan bodoh. Yang lebih produktif dan lebih murah pasti lebih disukai.
Namun, mengapa begitu? Lebih tepat lagi: mengapa Presiden SBY dan Tim Cikeasnya kok dengan mudah terbuai oleh tawaran atau bujukan yang ternyata belum terbukti valid – baik secara ilmiah maupun secara birokratis (ternyata, dari pengakuan Menteri Pertanian, padi tersebut belum melewati prosedur resmi dan normal untuk dapat disebut sebagai varietas unggul). Jadi, apa yang ditawarkan oleh SHI dan Heru Lelono tidak lebih daripada “kucing dalam karung” – tentu kucing dalam karung masih lebih berharga ketimbang padi “super” yang ternyata tidak “super”.
Orang dapat menduga mengapa SBY dan Timnya terkecoh: entah politis atau psikologis-spiritual. Politis, tentu saja SBY butuh sesuatu yang dapat dipakai untuk bahan kampanye menghadapi pemilu tahun depan. Jelas, padi “super” adalah bahan yang bagus untuk kampanye dan menarik massa – terutama dari kalangan petani. Jika Super Toy HL2 benar-benar padi super, SBY akan muncul sebagai figur juruselamat di tengah produksi padi yang tengah menurun. Siapa sih yang tidak ingin dikenal massa petani – di atas kertas mayoritas orang Indonesia masih tergolong dalam kelompok ini – sebagai orang yang dengan sukses “meningkatkan taraf kehidupan” mereka? Soeharto sudah pernah melakukannya, dan cukup berhasil.
Namun, jika alasannya psikologis-spiritual, bagaimana? Mungkin ini yang agak sulit. SBY dan Timnya tentu bukan figur bodoh yang percaya dengan orang-orang yang mengaku dapat melakukan “mukjizat”, yang entah bagaimana caranya dapat “membuat hidup yang sulit menjadi mudah” (atau mereka memang percaya?) Apa boleh buat. Ini menambah daftar panjang catatan para pejabat – tentu lebih banyak yang di luar kalangan ini – yang lebih suka duduk menanti datangnya Ratu Adil atau orang-orang yang dapat menciptakan jalan pintas menuju “Indonesia yang Adil dan Makmur, Gemah Ripah Loh Jinawi”. Orang-orang yang dapat menciptakan jalan pintas ini dipercaya dapat membuat semacam “loncatan kemajuan” – entah dalam bidang teknologi, finansial, atau bahkan politik. Intinya, “loncatan” ini akan mengurangi – bahkan menghilangkan – penderitaan atau kondisi “tidak enak” yang kini dialami oleh banyak orang di negeri ini.
Masalahnya, kalau pejabat – yang pendidikannya lebih tinggi dan lebih kaya – percaya dengan “orang-orang ajaib” ini, apalagi yang bukan pejabat (seperti yang menulis tulisan ini). Kalau besok ada orang yang datang ke rumah Anda, dan menawarkan bahwa ia mempunyai panci ajaib yang dapat memasak nasi “tak berkesudahan” – artinya Anda tidak perlu beli beras lagi seumur hidup – apakah Anda percaya? Anjuran saya: sebaiknya percaya saja, toh yang lebih pintar dan lebih kaya ketimbang Anda (dan saya) juga percaya…
Tampilkan postingan dengan label komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunikasi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 09 September 2008
Selasa, 26 Agustus 2008
The U.S. vs John Lennon

Director: David Leaf dan Johnn Scheinfeld
Written: David Leaf dan Johnn Scheinfeld
Producer: David Leaf dan Johnn Scheinfeld
Time: 99 minutes
Published Year: 2006
Perang Dingin. Superpower. Amerika. Komunisme. Vietnam. Korban. Mati. Kematian. Rock and Roll. Beatles. Yeah, yeah, yeah. Woodstock. Mariyuana. Ganja. Hashish. LSD. Opium. Seks. $#@!!&%....
Perang, seks, obat, dan rock n’ roll. Mungkin itu beberapa kata kunci yang dapat menjelaskan hiruk-pikuk di sekitar dasawarsa 1960-an dan 1970-an. Zaman berubah, orang-orang berubah. Para baby boomer – mereka yang lahir di sekitar masa Perang Dunia Kedua (PD II) dan juga terutama yang tak lama setelah itu – kini mencapai umur yang matang. Mereka menjadi warga yang cukup sadar akan dinamika sosial serta juga paling aktif dalam menanggapi dinamika tersebut. Pendeknya, para baby boomer tidak lagi dibebani oleh agenda-agenda yang pada masa pra-PD II sangat memenuhi kosakata dan wacana orang-orang tua yang masih hidup dalam romantika perang dan masa-masa keemasan pra-perang, baik di Eropa maupun di Amerika.
Jika ini sebuah opera musik besutan Andrew Lloyd Webber, mungkin ia akan mengawalinya dengan suatu parade pasukan bersenjata yang dihadang oleh sekelompok pemuda(i) berpakaian ala flower generation. Sembari menyelipkan setangkai mawar di ujung bedil sang komandan pasukan, wakil dari pemuda tadi berkata: “Make Love, Not War…” (atau yang lebih klasik: “Say it with flower…not with your weapon…”).
Adegan tadi adalah semacam pralambang mengenai apa yang terjadi pada masa-masa itu dan yang ingin didokumentasikan oleh film ini. Film berdurasi hampir 100 menit ini berpusat pada seorang figur yang sebenarnya lebih dikenal dalam kalangan musik: John Lennon.
Tumbuh sebagai seorang anak yang pemberontak – ditinggal pergi oleh ayahnya ketika masih bayi dan ditinggal mati oleh ibunya dalam usia belia – John kecil ternyata punya bakat anti-kemapanan. Episode dalam masa-masa Beatles mungkin hanya merupakan episode “numpang lewat”. John berkembang dengan bandnya itu, baik secara musik maupun ide. Ini seolah-olah hanya menyiapkan suatu episode lain dalam hidupnya yang menjadi inti dari film ini.
Ketika isi kepala John Lennon mulai berkembang ke arah yang lebih luas, isi kepala Presiden Lyndon B. Johnson (LBJ) di Amerika juga berkembang ke arah yang sedikit berbeda; sesuatu yang agak berbeda dengan isi kepala John F. Kennedy – presiden yang digantikannya karena orang yang belakangan ini mati ditembak di Dallas pada tahun 1963.
LBJ rupanya senang memainkan kartu klasik dalam dunia diplomasi: perang adalah bentuk lain dari diplomasi. Komunisme sudah jelas jahat, dan Tuhan tentu saja tidak menginginkannya. Sebagai bangsa pilihan Tuhan, sudah sepantasnya Amerika Serikat mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengusir setan komunisme dari setiap jengkal tanah di bumi ciptaan Tuhan ini.
Setan itu kini hadir di Vietnam – setelah berhasil menancapkan cakar-cakarnya di Korea. Agenda LBJ sudah jelas: memperhebat sarana-sarana yang diperlukan untuk mengusir setan tersebut dari bumi Asia Tenggara.
Pada saat yang sama, John Lennon – yang tengah “angin-anginan” bersama bandnya, Beatles – sedang mencoba suatu yang baru. Tepatnya: ia tidak mencoba, tetapi memang secara alami masuk ke dalam suatu kawasan yang sama sekali asing bagi dirinya: politik. Proses yang memang alami ini sebenarnya dapat diamati dalam beberapa lirik lagu John dalam Beatles – walaupun banyak sekali lirik lagu Beatles sangat ambigu, misalnya lirik lagu Happiness is a Warm Gun dan Revolution.
Di Amerika, LBJ kalah dalam pemilihan umum presiden pada tahun 1968. Seorang presiden baru dari Partai Republik yang ternyata justru lebih jelek ketimbang LBJ akhirnya terpilih: Richard Nixon (ini membuat kita seolah-olah percaya dengan adagium lama: “Lebih baik kita memilih setan yang sudah dikenal, ketimbang setan yang belum dikenal sama sekali!”). Jika LBJ memilih perang, Nixon memang lebih suka perang. LBJ mengirim banyak tentara Amerika ke Vietnam, sementara Nixon mengirim lebih banyak lagi – bahkan mengampanyekannya.
Sementara itu, John Lennon – di belahan dunia yang lain – ternyata lebih suka “mengirimkan” hal yang lain: ia mencoba mengirimkan apa yang disebutnya sebagai total communication. Apa itu? Ia membungkus dirinya di dalam apa yang disebutnya sebagai "bagisme"(bag = tas), bersama istrinya yang baru: Yoko. Ia melakukannya agar orang mendengarkan pesan perdamaian yang ia sampaikan, tanpa menghakimi penampilan fisiknya (rupanya, orang sering kali memperhatikan penampilan si penyampai pesan ketimbang isi pesannya. Penampilan itu bisa mencakup gender, warna kulit, dan panjangnya rambut).
Sesederhana itu? Iya. Sekonyol itu? Tergantung – tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Masing belum puas? Pada tahun 1969 itu, John juga punya ulah serupa: "Bed Peace" (Bed-in for Peace). Sadar bahwa perkawinannya sedang menjadi komoditas pers, ia dan istrinya melakukan kampanye perdamaian di atas tempat tidur. Tentu, para wartawan mengharapkan pasangan yang baru menikah ini melakukan semacam “atraksi seksual”, sesuatu yang sama sekali tidak mereka dapatkan. Sama dengan bagism, bed peace juga dilakukan demi perdamaian.
“Tidak ada yang memberikan kesempatan damai secara penuh,” begitu ujar John. Dan ia pun mengajak orang-orang menyanyikan Give Peace a Chance. Ya, beri perdamaian kesempatan.
Ada wartawan yang bertanya apakah semua itu efektif? John menjawab: “Ini adalah kemungkinan yang terbaik, fungsional dan efektif.” Si wartawan mendesak: bukankah ini tidak akan mengubah apa-apa. “Memang, kami tidak mengharapkannya dengan mudah. Mereka berpikir bahwa ini dapat dilakukan dalam semalam.”
Toh, itu belum cukup. Jika kedua model kampanye tadi John lakukan di luar Amerika, kini ia mulai secara aktif memasang iklan – benar-benar iklan dalam bentuk papan reklame raksasa – di 11 kota di dunia, termasuk di Amerika (New York dan Los Angeles). Kampanye ini lebih verbal: “War is Over. If You Want It. Happy Christmas from John & Yoko”.
Jadi, ketika John Lennon mulai aktif di Amerika pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, ia muncul sebagai figur yang “sulit”, bahkan “berbahaya”. Nixon dan para pembantunya tahu hal ini.
Ketika John mulai mendarat di Amerika dan mencoba menjadi warga negara negeri ini, ia melakukan sesuatu yang tidak “terlalu manis” di mata pemerintah Amerika. Ia akrab dan aktif dalam kegiatan kelompok perdamaian, kelompok anti-perang, seperti kelompok-kelompok yang dipimpin oleh Abbie Hoffman, Jerry Rubin, Bobbie Seale (Black Panthers), John Sinclair dan Ron Kovic (penulis buku “Born on Fourth July” yang sudah difilmkan). Padahal, Nixon, di lain pihak, sedang secara ketat mengawasi kelompok-kelompok tersebut, kelompok-kelompok yang sedang mempertanyakan kebijakan perangnya di Vietnam.
John Lennon tampak seperti orang bodoh: berteman dengan orang-orang yang akan mempersulit posisinya, terutama posisinya sebagai pemohon kewarganegaraan Amerika Serikat. G. Gordon Liddy, seorang penasihat Nixon, melihatnya secara jelas: John Lennon justru menjadi alat yang sangat berbahaya di tangan kelompok tersebut. “Mereka kini punya amunisi baru,” begitu ujarnya. “Ketika kau memasukkan Bobby Seale dalam timmu, semua polisi akan membencimu. Semua petugas hukum di bumi akan menentangmu.”
Orang yang berpikir positif mungkin berpikir: “John Lennon memilih teman yang salah.” Kemudian dengan sedikit nasihat: “Dia bisa saja tetap bermain musik, menjauh dari obat-obatan, dan tetap mulut tentang apa yang dia suka dan tidak suka tentang Amerika Serikat.” Atau juga: “Nyanyikan saja lagumu dengan tenang.”
Namun, Lennon adalah orang yang polos. Ia senang bergaul dengan para aktivis tersebut karena menganggap mereka mempunyai ide-ide yang sama dengannya. Ia memuji ide-ide mereka, dan mereka pun memuji mantan anggota the Beatles yang sangat populer ini yang ternyata seia-sekata dengan mereka. Klop.
Satu peristiwa telak membuat Nixon dan para penasihatnya berpikir ulang tentang John adalah terkait konser untuk John Sinclair – seorang aktivis yang ditahan oleh kepolisian Michigan – pada 10 Desember 1971. Nixon harus memperhitungkan dengan serius John Lennon setelah peristiwa itu. Peristiwa apa itu? Bagaimana akhir “kucing-kucingan” antara John Lennon dan pemerintahan Amerika Serikat di bawah Nixon? Apakah John Lennon akhirnya memperoleh kewarganegaraan AS? Lalu apa yang menyebabkan John Lennon ditembak mati? Nonton saja sendiri film dokumenter ini.
Ini film dokumenter yang menarik. Selain diisi dengan berbagai dokumentasi wawancara dengan John Lennon dan aktivitasnya pada tahun-tahun itu serta wawancara dengan para aktivis perdamaian di Amerika, film ini juga diisi dengan beberapa cuplikan lagu John Lennon yang terkenal. Oh, ya, beberapa wawancara dilakukan dengan beberapa pengamat sosial-politik dan tokoh humanis seperti Carl Bernstein, Gore Vidal, dan Noam Chomsky, juga wawancara dengan penasihat Nixon, pengacara John Lennon, dan sebagainya.
John Lennon bukan manusia sempurna – ia justru tampak manusiawi dengan ketidaksempurnaannya itu. Namun, toh, kita bisa belajar beberapa hal dari dia, setidaknya untuk urusan perdamaian ini. Peace!
Written: David Leaf dan Johnn Scheinfeld
Producer: David Leaf dan Johnn Scheinfeld
Time: 99 minutes
Published Year: 2006
Perang Dingin. Superpower. Amerika. Komunisme. Vietnam. Korban. Mati. Kematian. Rock and Roll. Beatles. Yeah, yeah, yeah. Woodstock. Mariyuana. Ganja. Hashish. LSD. Opium. Seks. $#@!!&%....
Perang, seks, obat, dan rock n’ roll. Mungkin itu beberapa kata kunci yang dapat menjelaskan hiruk-pikuk di sekitar dasawarsa 1960-an dan 1970-an. Zaman berubah, orang-orang berubah. Para baby boomer – mereka yang lahir di sekitar masa Perang Dunia Kedua (PD II) dan juga terutama yang tak lama setelah itu – kini mencapai umur yang matang. Mereka menjadi warga yang cukup sadar akan dinamika sosial serta juga paling aktif dalam menanggapi dinamika tersebut. Pendeknya, para baby boomer tidak lagi dibebani oleh agenda-agenda yang pada masa pra-PD II sangat memenuhi kosakata dan wacana orang-orang tua yang masih hidup dalam romantika perang dan masa-masa keemasan pra-perang, baik di Eropa maupun di Amerika.
Jika ini sebuah opera musik besutan Andrew Lloyd Webber, mungkin ia akan mengawalinya dengan suatu parade pasukan bersenjata yang dihadang oleh sekelompok pemuda(i) berpakaian ala flower generation. Sembari menyelipkan setangkai mawar di ujung bedil sang komandan pasukan, wakil dari pemuda tadi berkata: “Make Love, Not War…” (atau yang lebih klasik: “Say it with flower…not with your weapon…”).
Adegan tadi adalah semacam pralambang mengenai apa yang terjadi pada masa-masa itu dan yang ingin didokumentasikan oleh film ini. Film berdurasi hampir 100 menit ini berpusat pada seorang figur yang sebenarnya lebih dikenal dalam kalangan musik: John Lennon.
Tumbuh sebagai seorang anak yang pemberontak – ditinggal pergi oleh ayahnya ketika masih bayi dan ditinggal mati oleh ibunya dalam usia belia – John kecil ternyata punya bakat anti-kemapanan. Episode dalam masa-masa Beatles mungkin hanya merupakan episode “numpang lewat”. John berkembang dengan bandnya itu, baik secara musik maupun ide. Ini seolah-olah hanya menyiapkan suatu episode lain dalam hidupnya yang menjadi inti dari film ini.
Ketika isi kepala John Lennon mulai berkembang ke arah yang lebih luas, isi kepala Presiden Lyndon B. Johnson (LBJ) di Amerika juga berkembang ke arah yang sedikit berbeda; sesuatu yang agak berbeda dengan isi kepala John F. Kennedy – presiden yang digantikannya karena orang yang belakangan ini mati ditembak di Dallas pada tahun 1963.
LBJ rupanya senang memainkan kartu klasik dalam dunia diplomasi: perang adalah bentuk lain dari diplomasi. Komunisme sudah jelas jahat, dan Tuhan tentu saja tidak menginginkannya. Sebagai bangsa pilihan Tuhan, sudah sepantasnya Amerika Serikat mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengusir setan komunisme dari setiap jengkal tanah di bumi ciptaan Tuhan ini.
Setan itu kini hadir di Vietnam – setelah berhasil menancapkan cakar-cakarnya di Korea. Agenda LBJ sudah jelas: memperhebat sarana-sarana yang diperlukan untuk mengusir setan tersebut dari bumi Asia Tenggara.
Pada saat yang sama, John Lennon – yang tengah “angin-anginan” bersama bandnya, Beatles – sedang mencoba suatu yang baru. Tepatnya: ia tidak mencoba, tetapi memang secara alami masuk ke dalam suatu kawasan yang sama sekali asing bagi dirinya: politik. Proses yang memang alami ini sebenarnya dapat diamati dalam beberapa lirik lagu John dalam Beatles – walaupun banyak sekali lirik lagu Beatles sangat ambigu, misalnya lirik lagu Happiness is a Warm Gun dan Revolution.
Di Amerika, LBJ kalah dalam pemilihan umum presiden pada tahun 1968. Seorang presiden baru dari Partai Republik yang ternyata justru lebih jelek ketimbang LBJ akhirnya terpilih: Richard Nixon (ini membuat kita seolah-olah percaya dengan adagium lama: “Lebih baik kita memilih setan yang sudah dikenal, ketimbang setan yang belum dikenal sama sekali!”). Jika LBJ memilih perang, Nixon memang lebih suka perang. LBJ mengirim banyak tentara Amerika ke Vietnam, sementara Nixon mengirim lebih banyak lagi – bahkan mengampanyekannya.
Sementara itu, John Lennon – di belahan dunia yang lain – ternyata lebih suka “mengirimkan” hal yang lain: ia mencoba mengirimkan apa yang disebutnya sebagai total communication. Apa itu? Ia membungkus dirinya di dalam apa yang disebutnya sebagai "bagisme"(bag = tas), bersama istrinya yang baru: Yoko. Ia melakukannya agar orang mendengarkan pesan perdamaian yang ia sampaikan, tanpa menghakimi penampilan fisiknya (rupanya, orang sering kali memperhatikan penampilan si penyampai pesan ketimbang isi pesannya. Penampilan itu bisa mencakup gender, warna kulit, dan panjangnya rambut).
Sesederhana itu? Iya. Sekonyol itu? Tergantung – tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Masing belum puas? Pada tahun 1969 itu, John juga punya ulah serupa: "Bed Peace" (Bed-in for Peace). Sadar bahwa perkawinannya sedang menjadi komoditas pers, ia dan istrinya melakukan kampanye perdamaian di atas tempat tidur. Tentu, para wartawan mengharapkan pasangan yang baru menikah ini melakukan semacam “atraksi seksual”, sesuatu yang sama sekali tidak mereka dapatkan. Sama dengan bagism, bed peace juga dilakukan demi perdamaian.
“Tidak ada yang memberikan kesempatan damai secara penuh,” begitu ujar John. Dan ia pun mengajak orang-orang menyanyikan Give Peace a Chance. Ya, beri perdamaian kesempatan.
Ada wartawan yang bertanya apakah semua itu efektif? John menjawab: “Ini adalah kemungkinan yang terbaik, fungsional dan efektif.” Si wartawan mendesak: bukankah ini tidak akan mengubah apa-apa. “Memang, kami tidak mengharapkannya dengan mudah. Mereka berpikir bahwa ini dapat dilakukan dalam semalam.”
Toh, itu belum cukup. Jika kedua model kampanye tadi John lakukan di luar Amerika, kini ia mulai secara aktif memasang iklan – benar-benar iklan dalam bentuk papan reklame raksasa – di 11 kota di dunia, termasuk di Amerika (New York dan Los Angeles). Kampanye ini lebih verbal: “War is Over. If You Want It. Happy Christmas from John & Yoko”.
Jadi, ketika John Lennon mulai aktif di Amerika pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, ia muncul sebagai figur yang “sulit”, bahkan “berbahaya”. Nixon dan para pembantunya tahu hal ini.
Ketika John mulai mendarat di Amerika dan mencoba menjadi warga negara negeri ini, ia melakukan sesuatu yang tidak “terlalu manis” di mata pemerintah Amerika. Ia akrab dan aktif dalam kegiatan kelompok perdamaian, kelompok anti-perang, seperti kelompok-kelompok yang dipimpin oleh Abbie Hoffman, Jerry Rubin, Bobbie Seale (Black Panthers), John Sinclair dan Ron Kovic (penulis buku “Born on Fourth July” yang sudah difilmkan). Padahal, Nixon, di lain pihak, sedang secara ketat mengawasi kelompok-kelompok tersebut, kelompok-kelompok yang sedang mempertanyakan kebijakan perangnya di Vietnam.
John Lennon tampak seperti orang bodoh: berteman dengan orang-orang yang akan mempersulit posisinya, terutama posisinya sebagai pemohon kewarganegaraan Amerika Serikat. G. Gordon Liddy, seorang penasihat Nixon, melihatnya secara jelas: John Lennon justru menjadi alat yang sangat berbahaya di tangan kelompok tersebut. “Mereka kini punya amunisi baru,” begitu ujarnya. “Ketika kau memasukkan Bobby Seale dalam timmu, semua polisi akan membencimu. Semua petugas hukum di bumi akan menentangmu.”
Orang yang berpikir positif mungkin berpikir: “John Lennon memilih teman yang salah.” Kemudian dengan sedikit nasihat: “Dia bisa saja tetap bermain musik, menjauh dari obat-obatan, dan tetap mulut tentang apa yang dia suka dan tidak suka tentang Amerika Serikat.” Atau juga: “Nyanyikan saja lagumu dengan tenang.”
Namun, Lennon adalah orang yang polos. Ia senang bergaul dengan para aktivis tersebut karena menganggap mereka mempunyai ide-ide yang sama dengannya. Ia memuji ide-ide mereka, dan mereka pun memuji mantan anggota the Beatles yang sangat populer ini yang ternyata seia-sekata dengan mereka. Klop.
Satu peristiwa telak membuat Nixon dan para penasihatnya berpikir ulang tentang John adalah terkait konser untuk John Sinclair – seorang aktivis yang ditahan oleh kepolisian Michigan – pada 10 Desember 1971. Nixon harus memperhitungkan dengan serius John Lennon setelah peristiwa itu. Peristiwa apa itu? Bagaimana akhir “kucing-kucingan” antara John Lennon dan pemerintahan Amerika Serikat di bawah Nixon? Apakah John Lennon akhirnya memperoleh kewarganegaraan AS? Lalu apa yang menyebabkan John Lennon ditembak mati? Nonton saja sendiri film dokumenter ini.
Ini film dokumenter yang menarik. Selain diisi dengan berbagai dokumentasi wawancara dengan John Lennon dan aktivitasnya pada tahun-tahun itu serta wawancara dengan para aktivis perdamaian di Amerika, film ini juga diisi dengan beberapa cuplikan lagu John Lennon yang terkenal. Oh, ya, beberapa wawancara dilakukan dengan beberapa pengamat sosial-politik dan tokoh humanis seperti Carl Bernstein, Gore Vidal, dan Noam Chomsky, juga wawancara dengan penasihat Nixon, pengacara John Lennon, dan sebagainya.
John Lennon bukan manusia sempurna – ia justru tampak manusiawi dengan ketidaksempurnaannya itu. Namun, toh, kita bisa belajar beberapa hal dari dia, setidaknya untuk urusan perdamaian ini. Peace!
Label:
film,
komunikasi,
media,
Musik,
sosial-politik internasional
Kamis, 27 Maret 2008
Semoga Memang Hanya Situs Porno yang akan Diblokir…
Pemerintah Indonesia cukup sibuk akhir-akhir ini. Setelah ribut-ribut BLBI, kasus jaksa, dan penolakan calon gubernur BI oleh DPR, kini pemerintah meluncurkan “program sampingan”: pemblokiran situs-situs porno. Rencananya, pemblokiran ini akan dilakukan pada bulan April 2008. Anda dapat membaca beritanya, antara lain, di sini: http://www.chip.co.id/special-reports/wawancara-khusus-dengan-menkominfo-m-nuh.html (wawancara dengan majalah Chip-Online)
Ini menarik. Entah dari mana ide tersebut datang, rencana ini seyogianya ditanggapi secara positif. Bahkan, orang bertanya-tanya: mengapa baru sekarang?
Situs porno sudah hadir semenjak internet muncul di Indonesia pada awal atau pertengahan dasawarsa 1990-an. Situs tersebut memang sangat “menarik”, tetapi juga “mengganggu”. Ia “menarik” terutama bagi mereka yang menggemari “ketelanjangan” sebagai hiburan – apakah “ketelanjangan” sebagai seni dapat dicari dalam situs porno, itu adalah lain soal (saya agak meragukannya karena kedua “ketelanjangan” itu memiliki dimensi yang berbeda). Dan, tentu saja situs itu “mengganggu”. Saya bukan seorang moralis atau semacam penganut agama yang fanatik dan buta (walaupun itu ada sisi benarnya juga). Namun, kategori “mengganggu” di sini lebih bernuansa edukatif, ketimbang moral.
“Ketelanjangan” begitu saja merupakan gejala yang normal dalam hidup manusia. Namun, tidak ada yang “begitu saja” di bawah langit kapitalisme. Kapitalisme – entah apa Anda artikan kata ini – siap mengubah apa saja yang di bawah kolongnya menjadi segepok uang, atau setidaknya setumpuk kepentingan. “Ketelanjangan” juga menjadi salah satu korbannya. Tidak ada yang dapat “telanjang” dengan bebas, murni, dan innocent di bawah langit kapitalisme. “Telanjang” selalu berarti uang, keuntungan, posisi, dan kepentingan di bawah langit kapitalisme.
Coba pikirkan: si model yang difoto telanjang mendapat uang (tentu, ia tidak akan mau difoto telanjang jika ada pekerjaan lain yang lebih memadai dengan penghasilan yang kurang lebih sama). Si fotografer – dengan sedikit dibumbui seni dan hobi/minat – pasti juga tertarik mengambil gambar si model karena… dibayar. Tidak ada fotografer yang menjepret kameranya tanpa diiming-imingi akan dibayar. Si pemilik situs tentunya bukan orang bodoh yang mau saja memajang hasil jepretan si fotografer jika tanpa keuntungan.
Logika di atas berlaku untuk “media porno” mana pun: video atau yang lain. Semua bergerak karena ada “invisible hand”, yaitu sesuatu yang menggerakkan roda uang berputar, supaya setidaknya memperoleh uang yang sedikit berlebih (kalau perlu lebihnya banyak).
“Ketelanjangan” sudah menjadi komoditas: ia bisa diekspor, diimpor, diperbanyak, dibakukan, dan diorganisir sedemikian rupa sehingga mudah diperoleh, massal, dan instan. “Ketelanjangan” bukan lagi sesuatu yang alami dan innocent.
Rencana pemerintah sangatlah baik dan harus ditanggapi positif. Namun…
Namun, benarkah pemerintah akan konsisten dengan HANYA memblokir situs-situs porno. Di beberapa tempat, ada kekhawatiran bahwa pemerintah bisa saja dititipi oleh pihak-pihak tertentu untuk memblokir situs-situs lain juga. Situs-situs lain ini adalah – boleh jadi – situs-situs yang kritis terhadap pemerintah, situs-situs yang berisi forum diskusi yang sering mengkritik kebijakan pemerintah atau berisi diskusi yang cukup pans, entah masalah budaya, politik, agama, atau topik-topik lain.
Jika kekhawatiran ini terbukti, pemerintah benar-benar menghapuskan “ketelanjangan” lain yang masih tersisa, dan masih bersifat alami dan “innocent”, yaitu “ketelanjangan” dalam berbicara, berpendapat, dan beropini. Pemerintah sedang membunuh “ketelanjangan” yang fungsional, suatu “ketelanjangan” yang perlu dan pokok dalam sistem demokrasi seperti yang sering menjadi jargon dalam rapat-rapat politik berbagai partai di negeri ini.
Pemerintah seharusnya bisa mengajari rakyatnya untuk berpikir secara “telanjang”, terbuka, apa adanya, tanpa ditutupi, mengenai suatu pokok yang dipergumulkan. Rakyat punya hak bertanya, hak menjawab. Biarlah rakyat sendiri yang mendiskusikan masalah-masalah mereka, masalah-masalah yang mereka pergumulkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dapat berpikir kritis, atau setidaknya: mereka dapat dilatih untuk berpikir kritis. Itu adalah tanda masyarakat yang sehat dan dewasa; suatu masyarakat yang tidak takut dengan isu-isu, tetapi justru menanggai isu dengan pikiran dan diskusi yang terbuka.
Semoga pemerintah dapat membedakan: mana “ketelanjangan” yang perlu diberangus dan mana “ketelanjangan” yang perlu dalam kehidupan demokrasi yang sehat. Semoga…
Ini menarik. Entah dari mana ide tersebut datang, rencana ini seyogianya ditanggapi secara positif. Bahkan, orang bertanya-tanya: mengapa baru sekarang?
Situs porno sudah hadir semenjak internet muncul di Indonesia pada awal atau pertengahan dasawarsa 1990-an. Situs tersebut memang sangat “menarik”, tetapi juga “mengganggu”. Ia “menarik” terutama bagi mereka yang menggemari “ketelanjangan” sebagai hiburan – apakah “ketelanjangan” sebagai seni dapat dicari dalam situs porno, itu adalah lain soal (saya agak meragukannya karena kedua “ketelanjangan” itu memiliki dimensi yang berbeda). Dan, tentu saja situs itu “mengganggu”. Saya bukan seorang moralis atau semacam penganut agama yang fanatik dan buta (walaupun itu ada sisi benarnya juga). Namun, kategori “mengganggu” di sini lebih bernuansa edukatif, ketimbang moral.
“Ketelanjangan” begitu saja merupakan gejala yang normal dalam hidup manusia. Namun, tidak ada yang “begitu saja” di bawah langit kapitalisme. Kapitalisme – entah apa Anda artikan kata ini – siap mengubah apa saja yang di bawah kolongnya menjadi segepok uang, atau setidaknya setumpuk kepentingan. “Ketelanjangan” juga menjadi salah satu korbannya. Tidak ada yang dapat “telanjang” dengan bebas, murni, dan innocent di bawah langit kapitalisme. “Telanjang” selalu berarti uang, keuntungan, posisi, dan kepentingan di bawah langit kapitalisme.
Coba pikirkan: si model yang difoto telanjang mendapat uang (tentu, ia tidak akan mau difoto telanjang jika ada pekerjaan lain yang lebih memadai dengan penghasilan yang kurang lebih sama). Si fotografer – dengan sedikit dibumbui seni dan hobi/minat – pasti juga tertarik mengambil gambar si model karena… dibayar. Tidak ada fotografer yang menjepret kameranya tanpa diiming-imingi akan dibayar. Si pemilik situs tentunya bukan orang bodoh yang mau saja memajang hasil jepretan si fotografer jika tanpa keuntungan.
Logika di atas berlaku untuk “media porno” mana pun: video atau yang lain. Semua bergerak karena ada “invisible hand”, yaitu sesuatu yang menggerakkan roda uang berputar, supaya setidaknya memperoleh uang yang sedikit berlebih (kalau perlu lebihnya banyak).
“Ketelanjangan” sudah menjadi komoditas: ia bisa diekspor, diimpor, diperbanyak, dibakukan, dan diorganisir sedemikian rupa sehingga mudah diperoleh, massal, dan instan. “Ketelanjangan” bukan lagi sesuatu yang alami dan innocent.
Rencana pemerintah sangatlah baik dan harus ditanggapi positif. Namun…
Namun, benarkah pemerintah akan konsisten dengan HANYA memblokir situs-situs porno. Di beberapa tempat, ada kekhawatiran bahwa pemerintah bisa saja dititipi oleh pihak-pihak tertentu untuk memblokir situs-situs lain juga. Situs-situs lain ini adalah – boleh jadi – situs-situs yang kritis terhadap pemerintah, situs-situs yang berisi forum diskusi yang sering mengkritik kebijakan pemerintah atau berisi diskusi yang cukup pans, entah masalah budaya, politik, agama, atau topik-topik lain.
Jika kekhawatiran ini terbukti, pemerintah benar-benar menghapuskan “ketelanjangan” lain yang masih tersisa, dan masih bersifat alami dan “innocent”, yaitu “ketelanjangan” dalam berbicara, berpendapat, dan beropini. Pemerintah sedang membunuh “ketelanjangan” yang fungsional, suatu “ketelanjangan” yang perlu dan pokok dalam sistem demokrasi seperti yang sering menjadi jargon dalam rapat-rapat politik berbagai partai di negeri ini.
Pemerintah seharusnya bisa mengajari rakyatnya untuk berpikir secara “telanjang”, terbuka, apa adanya, tanpa ditutupi, mengenai suatu pokok yang dipergumulkan. Rakyat punya hak bertanya, hak menjawab. Biarlah rakyat sendiri yang mendiskusikan masalah-masalah mereka, masalah-masalah yang mereka pergumulkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dapat berpikir kritis, atau setidaknya: mereka dapat dilatih untuk berpikir kritis. Itu adalah tanda masyarakat yang sehat dan dewasa; suatu masyarakat yang tidak takut dengan isu-isu, tetapi justru menanggai isu dengan pikiran dan diskusi yang terbuka.
Semoga pemerintah dapat membedakan: mana “ketelanjangan” yang perlu diberangus dan mana “ketelanjangan” yang perlu dalam kehidupan demokrasi yang sehat. Semoga…
Langganan:
Postingan (Atom)