Tampaknya tidak perlu dilanjutkan lagi. Ini tidak adil buat BADU. Kasihan BADU. Sebagai tokoh fiktif, dia kelihatannya cuma jadi bulan2an tokoh fiktif lain: AGUS. Jelas, posisi saya mendukung AGUS (kan saya percaya Tuhan…)
Posisi “AGUS” sebenarnya cukup lemah, dalam arti dia pun tidak dapat secara memuaskan membuktikan keberadaan Tuhan. Tapi posisi dia lebih baik dan secara filosofis dapat dipertahankan, karena jenis “filsafat yang dianutnya” – yaitu teisme – tidak menuntut dia membuktikannya secara rasional dalam arti ketat. Ini berbeda dengan “filsafat ateisme” si BADU. Ateisme berdiri di atas suatu tesis yang jelas, suatu tesis yang secara epistemologis hanya bergantung pada pembuktian berdasarkan kemampuan kodrati manusiawi. Teisme – atau kalau mau spesifik: Katolisisme (yaitu sistem kepercayaan seperti yang diajarkan oleh Gereja Katolik) – tidak mendasarkan tesis keberadaan Tuhan pada kemampuan kodrati manusiawi semata. Kemampuan kodrati manusiawi hanya berguna sampai taraf tertentu, selebihnya ada wahyu (yang kalau di dalam Katolisisme “menjelma” di dalam: kitab suci, tradisi, dan magisterium gereja).
Kesimpulan saya pribadi: BADU hanya dapat konsisten jika ia hanya – sekali lagi hanya jika – berpegang pada Deisme (Tuhan ada, tetapi entah mengapa, Dia tidak ikut campur atas alam semesta) atau Agnostisme (Tuhan ada atau tidak ada, keduanya tidak dapat dibuktikan. Jadi, sebaiknya tidak usah dibicarakan). IMHO, ateisme yang konsisten/konsekuen tidak pernah ada. Ateisme Sartre kelihatan konsisten, karena… dibangun di atas bangunan metafisika yang dia bikin sendiri. Konyol…(***)
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan
Selasa, 26 Agustus 2008
Rabu, 20 Agustus 2008
Mengapa Ayu Utami Mengganggu Mimpi-Mimpi Tidur Kita?

Judul Buku: Bilangan Fu
Penulis: Ayu Utami
Genre: Novel, fiksi
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit : Juni 2008
Tebal: x + 537 halaman
Ukuran: 13,5 x 20 cm
Ayu Utami = Sastra Lendir?
Agak sulit mereview buku Ayu Utami yang terbaru. Maksudnya, saya sulit untuk menetapkan sudut pandang yang mau dipakai: sastranya, isi/tema/topiknya, atau Ayu Utaminya (dan segala predikat yang menempel pada dia)?
Penulis: Ayu Utami
Genre: Novel, fiksi
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit : Juni 2008
Tebal: x + 537 halaman
Ukuran: 13,5 x 20 cm
Ayu Utami = Sastra Lendir?
Agak sulit mereview buku Ayu Utami yang terbaru. Maksudnya, saya sulit untuk menetapkan sudut pandang yang mau dipakai: sastranya, isi/tema/topiknya, atau Ayu Utaminya (dan segala predikat yang menempel pada dia)?
Ayu Utami sebenarnya penulis yang kalau dibilang baru, tidak terlalu tepat, tetapi kalau dibilang lama, tidak 100% benar juga. Novelnya yang pertama, Saman, terbit pada tahun 1998 – itu sekitar 10 tahun yang lalu. Jadi, dari segi itu, ia jauh cukup “tua” ketimbang Dee (Dewi Lestari) atau Djenar Maesa Ayu serta para penulis yang muncul pada akhir 1990-an dan 2000-an. Bahkan, banyak orang berujar, Ayulah yang menciptakan “aliran baru” di mana nama-nama tadi dapat dimasukkan dalam genre yang kurang lebih sama.
Namun, Ayu juga dapat dibilang baru, justru dikaitkan dengan “aliran baru” tadi. Ayu, dengan “Saman”-nya, mengawali suatu era baru dalam dunia novel Indonesia. Agak sulit memang untuk memerikan “aliran baru” yang digeluti Ayu dan beberapa perempuan lain tadi. Oleh mereka yang sinis, Ayu dianggap memelopori apa yang disebut dengan berbagai istilah: “sastra lendir”, “sastra selangkangan”, “sastra kelamin”, dan sebagainya.
Mengapa begitu? Aliran tadi – dan juga Ayu Utami sendiri – barangkali memang baru, jika apa yang disebut sebagai – kita pilih satu istilah saja – “sastra lendir” memang merupakan fenomena baru dan belum ada antesedennya dalam dunia sastra atau dunia novel di Indonesia.
Namun, pertama-tama, harus dijawab dulu apa itu “sastra lendir”? Menurut beberapa tulisan yang terbaca, tulisan Ayu Utami – dan genre yang “diciptakannya” – disebut demikian karena mereka mencoba menyajikan unsur-unsur seksual di dalam novelnya secara lebih “terbuka”.
Apakah memang belum pernah ada tulisan semacam itu sebelum Ayu? Mari kita sorot N.H. Dini. Pada ”Pada Sebuah Kapal”, misalnya, Dini juga memasukkan unsur-unsur ”serupa” ke dalamnya. Memang, Dini tidak melakukannya dengan cara yang sama dengan Ayu. Toh, pada waktu itu, orang juga bisa mengatakan bahwa hal-hal semacam itu – yang dilakukan Dini – merupakan hal yang baru dan bahkan ”revolusioner”. Apakah dengan demikian N.H. Dini bisa diklaim sebagai pelopor aliran ”sastra lendir”? Lalu, kebetulan, saya juga sedang membaca novel-novel Arswendo ”Blakanis” (dan mereview ulang ”Kisah Para Ratib”). Di dalamnya, ada juga unsur-unsur seperti itu. Apakah Arswendo juga penganut ”sastra lendir”?
Tampaknya, unsur-unsur seperti itu bukanlah sesuatu yang haram – apalagi baru – di dalam khazanah pernovelan di Indonesia. Memang, ”lendir”-nya memang tidak harus keluar atau tampak jelas – Ayu memang membuatnya semakin jelas (mungkin karena dia adalah anak zamannnya barangkali? Atau lebih tepat: ini lebih merupakan selera, gaya, dan tuntutan cerita), karena toh N.H. Dini dapat melakukannya pada dasawarsa-dasawarsa yang telah lampau, dengan cara yang berbeda.
Barangkali, ”sastra lendir” adalah istilah yang insinuatif . Mengapa, siapa, dan apa dari maksud insinuasi ini, itu di luar tulisan ini untuk membahasnya. Namun, kalau tulisan ini boleh berkata, Ayu Utami justru seorang trend setter, bukan terkait ”sastra lendir”, tetapi terkait kekuatan bernarasi dan berdeskripsinya.
Ayu dan Deskripsi vs Narasi
Ketika saya mencoba membaca ”Bilangan Fu”, saya kebetulan membaca tulisan Goenawan Mohammad (GM) di Bentara Budaya, Kompas (11 Juli 2008). Dalam suatu kesempatan di depan para sastrawan/budayawan yang dulu pernah berseberangan dengannya, GM mencoba melihat perbedaan, kekuatan, dan kelemahan antara sastra yang menitikberatkan antara narasi dan sastra yang bertitik berat pada deskripsi.
Tanpa memasuki diskusi GM di situ (dan tidak 100% menggunakan analisis dia di situ), tulisan ini mencoba melihat bagaimana tulisan Ayu bermetamorfosis dari hanya sekadar bernarasi di dalam ”Saman” menjadi semakin berseimbang antara narasi dan deskripsi di dalam ”Bilangan Fu”.
Coba lihat, bagaimana ia bermewah-mewah dengan kutipan dari berbagai artikel (fiktif maupun bukan), kumpulan kliping (fiktif maupun bukan), analisis mendalam bahkan nyaris lengkap atas berbagai mitologi (Nyi Rara Kidul, Watugunung, dan sebagainya) serta paparan nyaris panjang (atau memang panjang?) dari Babad Tanah Jawi. [Ada satu hal yang menarik bagi saya, sampai sejauh mana Ayu meminta izin media-media massa yang namanya disebut dalam artikel atau kliping tadi. Mengingat banyak berita yang tampaknya imajiner, tentu koran seperti Kompas seharusnya dimintai izin secara resmi oleh Ayu sebelum dicantumkan di dalam novel ini].
Barangkali cara bercerita seperti ini memang cukup membosankan – apalagi bagi mereka yang terbiasa dengan ”Saman” yang kata-katanya sangat, sangat naratif dan pendek-lincah. Dalam ”Bilangan Fu”, kata-kata dan kalimat-kalimat naratif, pendek-lincah pun tetap hadir, namun diimbangi oleh kalimat-kalimat yang sangat deskriptif.
Trend-setterkah Ayu untuk bagian ini? Ya dan tidak. Tidak, karena tentunya sudah banyak novelis atau prosais yang melakukan metode serupa. Mungkin, kita ingat dengan Sutan Takdir Alisyahbana (STA) dalam Grotta Azzurra (GA). Walaupun Ignas Kleden menilai bahwa novel STA tersebut sebagai ”gagal” (Ignas Kleden, ”STA dan Novel-novelnya”, Kompas, 11 Juli 2008) – karena STA hanya memenuhi novelnya dengan makna-makna referensial dan hampir tidak memberikan pembaca makna tekstual yang lahir dari teks-teks novel tesebut – mengingatkan kita lagi bahwa novel STA tersebut merupakan upaya pertama di negeri ini untuk memunculkan apa yang disebut sebagai ”novel ide”.
Mengapa STA gagal? Novel GA berisi banyak ide-ide besar tentang berbagai hal tetapi tidak dilibatkan dalam event-meaning dialectic dari cerita. Jadi, tokoh, peristiwa dan sebagainya hanya latar yang sebenarnya dapat dihilangkan dari cerita tanpa menghilangkan substansi gagasan yang ingin dituangkan STA. Apakah Ayu begitu juga dengan ”Bilangan Fu”? Jika menggunakan kriteria Kleden di atas, tentunya tidak. Ayu dalam novel terbarunya ini tetap menjalin berbagai ide besarnya dengan tokoh-tokoh ”konkret” dan ”berdarah daging”, sehingga berbagai ide besarnya tersebut tidak dapat dipahami tanpa memahami makna tekstual yang muncul dari teks novel. Memakai istilah Kleden, bolehlah kita berkata bahwa ide-ide besar dalam ”Bilangan Fu” lahir dari peristiwa di dalam novel, terjalin erat dengannya.
Mungkin, kita akan melihat kemiripan dan perbedaan yang juga tak kalah mengejutkannya apabila Bilangan Fu-nya Ayu dibandingkan dengan 3 novel pertama Iwan Simatupang (Merahnya Merah, Ziarah, dan Kering). Apakah Ayu berhasil melampaui Iwan? Ini pertanyaan yang menarik tetapi mungkin belum bisa dijawab sekarang.
Ayu dan Agama Barunya
Keterjalinan antara ide-ide besar yang diusungnya dengan berbagai tokoh dan peristiwa di dalam ”Bilangan Fu” cukup memikat. Ayu secara terampil menggunakan kemampuan bermetaforanya untuk menuangkan ide-ide besar itu (untuk bagian ini, GA-nya STA berhasil dilewati Ayu).
Dengan ide-ide besar tersebut, Ayu bak nabi yang memproklamirkan agama baru: agama yang non-modernis, non-militeristis, dan non-monoteistis. Suatu agama yang mengemohi kemodernan dan ciri-ciri militer tampaknya bukan hal yang baru – setidaknya dalam dunia imaji Parang Jati, tokoh ”agama baru” dalam novel ini. Namun, hal yang lebih baru dan cukup revolusioner adalah sifat non-monoteistisnya.
Agama ini seolah-olah membuat pengakuan atas sifat absolut-intoleran dalam keberagamaan yang monoteistis. Jika Tuhan adalah satu, tentu yang bukan Tuhan dapat dipaksa untuk tunduk menyembah yang satu tersebut (kebetulan, banyak sekali yang berada di luar ”yang satu” itu). Penyembahan atas yang satu rupanya sering diiringi dengan penyangkalan dan pemusnahan yang lain – realitas yang berada di luar yang satu itu.
Tuhan itu satu, kebenaran itu satu, dan para pengemban Tuhan serta kebenaran yang satu itu pun juga satu: suatu umat yang kudus, yang satu, benar dan bahkan ilahi. Semua yang ada di luarnya harus disangkal, dibasmi serta ditumpas. Modernisme dan militerisme hanya alat – yang tidak selalu harus bersifat benar, tetapi rupanya selalu efektif dalam penumpasan segala hal yang berada di luar ”yang satu” tadi.
Karakter Parang Jati – nabi Bilangan Fu – memang cukup ambivalen. Ia sepintas mirip dengan Yesus – tidak diketahui orang tuanya (bahkan ia memang muncul sendiri begitu saja), berbeda dengan orang kebanyakan (punya jari tangan 12 – sehingga ia tergolong di antara orang-orang cacat), serta sedikit melakukan Khotbah di Bukit. Agama Parang Jati adalah antitesis agama Farisi (ini bukan hanya sepintas, tetapi memang tampaknya disengaja Ayu untuk mirip dengan para antagonis Yesus dalam Perjanjian Baru). Jika agama Farisi tidak segan-segan menggunakan militerisme dan modernisme dalam mengokohkan agama monoteismenya, agama Parang Jati bahkan tidak menganjurkan ”pemanjatan yang kotor”, yaitu cara yang lazim dalam pemanjatan gunung: menggunakan paku dan bor.
Namun, Parang Jati – walaupun hampir dikorbankan di meja persembahan oleh ayah angkatnya (mirip dengan Ishak yang hampir dikorbankan oleh ayah kandungnya – juga mengalami kejatuhan: bercinta dengan ibu tirinya. Tampaknya, Parang Jati lebih manusiawi ketimbang Yesus: bukan hanya pernah digoda dosa, tetapi juga ikut-ikutan berdosa.
Toh, itu semua tidak menyurutkan Ayu untuk mengedepankan Parang Jati – tepatnya agama Parang Jati – sebagai filosofi dan praktek hidup yang ditawarkan di tengah-tengah kejahiliahan kaum beragama pada masa senjakala modernisme ini.
Dengan menggunakan banyak simbol dari mitologi Jawa (seperti Nyi Rara Kidul dan Watugunung) serta alur kisah dan figur dalam Alkitab, Ayu mencoba bertutur mengenai kesederhanaan spiritualitas, yaitu spiritualitas yang menghormati alam dan kelemahan manusia.
Kesimpulan
Ayu tetap terdepan dibanding para novelis perempuan – baik yang ”berlendir” maupun tidak. Ia mencoba untuk keluar dari ”metode kuna” yang dipakainya dalam dua novelnya yang terdahulu. Ia bukan hanya keluar, tetapi juga mencoba membuat tren baru dalam bercerita. Tetap layak dianugerahi gelar “ratu metafor”, Ayu kini mulai merambah tradisi yang cukup baru (atau tidak?)
Menjawab pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini, Ayu menganggu mimpi-mimpi tidur kita karena: ternyata ia tidak begitu “berlendir”, berpotensi melampaui STA, dan mengajak kita merayakan kematian monoteisme. Bagaimana?
Lalu, apakah novel ini bagus untuk dibaca? Saya mengembalikannya kepada selera dan agenda pencarian jati diri Anda. Tapi, sama seperti semua resensi adalah menipu, maka resensi yang satu pun juga menipu. Mengapa tertipu? Karena tidak ada orang yang dapat menikmati buah manggis setelah dikunyah orang lain. Jika Anda ingin menikmati buah manggis, pergilah ke toko buah, beli, dan nikmati sendiri.***
Selasa, 06 Mei 2008
Mengapa Saya Bukan Ateis? (2)
BADU: “Saya mau kembali ke masalah ‘konsep’ tadi. Kamu membantah bukti saya tadi –Tuhan yang bertentangan dengan dirinya sendiri – dengan mengatakan bahwa itu cuma konsep. Bukankah Tuhan sendiri cuma konsep?”
AGUS: “Benar. Kata Tuhan dan pengertian di dalamnya memang konsep dan sebagai konsep dapat dikonsep ulang, diperbaiki, bahkan dibuang kalau sudah gak diperlukan lagi.”
BADU: “Bukankah itu bukti bahwa Tuhan memang hanya konsep?”
AGUS: “Konsep tentang Tuhan berbeda dengan Tuhan itu sendiri.”
BADU: “Kita tidak dapat berpikir tanpa konsep, di luar konsep. Ingat itu!”
AGUS: “Maksudnya?”
BADU: “Konsep dalam arti tertentu adalah suatu realitas…”
AGUS: “Tunggu, tunggu. Berarti, karena Tuhan ada konsepnya, bukankah kamu harus konsekuen dengan mengatakan bahwa Tuhan juga harus ada dalam realitas…”
BADU: “Bukan begitu. Hanya konsep yang logis dan rasionallah yang ada dalam realitas.”
AGUS: “Contohnya?”
BADU: “Konsep2 dalam ilmu eksakta dan sebagainya. Konsep tentang relativitas dalam fisika, konsep tentang evolusi dalam biologi, dan konsep2 lain.”
AGUS: “Pernahkah kamu mendengar bahwa konsep geosentris – matahari dan semuanya mengelilingi bumi dan bumi adalah pusat alam semesta – menjadi sesuatu yang dipegang oleh banyak orang pada masa tertentu?”
BADU: “Ya, saya pernah dengar, tetapi…”
AGUS: “Tunggu, tunggu. Aristoteles, Ptolemeus, dan banyak ilmuwan pada masa tertentu berpegang pada suatu konsep. Ini wajar. Konsep digunakan sbg hipotesis. Hipotesis harus dianggap benar kalau belum dibuktikan keliru. Datang Nicolaus Copernicus dan Galileo Galilei. Walaupun agak sulit, akhirnya hipotesis tandingan mereka – baca ‘konsep mereka’ – dianggap lebih benar dan memang akhirnya dibuktikan sebagai benar. Ini artinya apa? Dalam dunia ilmiah, konsep2 datang dan pergi; yang lama diganti dengan yang baru, diperbaiki, dipertajam dsb.”
BADU: “Bukankah itu bukti bahwa konsep tentang Tuhan dapat keliru sehingga Tuhan sebenarnya kemungkinan bisa tidak ada.”
AGUS: “Hahahahaha. Ron, Ron. Kita muter2 lagi. Lha, seperti Copernicus dan Galileo, ajukan konsep atau hipotesis tandingan terhadap konsep/hipotesis orang beragama yang mengatakan bahwa Tuhan itu ada. Ajukan konsep atau hipotesis bahwa Tuhan tidak ada! Ini baru namanya ilmiah…”
BADU: “Gimana saya dapat mengajukan konsep atau hipotesis bahwa Tuhan tidak ada jika saya yakin akan ketidakberadaan Dia?”
AGUS: “Justru itu. Suatu konsep atau hipotesis harus bersedia diuji secara ilmiah, bukan berdasarkan keyakinan.”
BADU: “Oke. Buktikan konsep/hipotesis kalian bahwa Tuhan memang ada.”
AGUS: “Tuhanlah yang menjadi penggerak pertama yang tidak digerakkan. Tuhanlah yang meletakkan ‘sel purba’, yang pada saat Big Bang menjadi ribuan bahkan jutaan galaksi. Sekarang ajukan konsep/hipotesis tandingannya dari sudut pandang ateis…”
BADU: “Tunggu. Dari mana kamu tahu, bahwa Tuhanlah yang meletakkan sel purba dan membuat Big Bang?”
AGUS: “Berdasarkan penalaran logis secara induktif. Segala sesuatu di dunia ini ada penyebabnya. Dan di antara semua penyebab itu, ada yang menjadi sebab bagi yang lain, yaitu suatu sebab yang tidak disebabkan. Semacam: penyebab awal, suatu penggerak awal, yang tidak digerakkan dan tidak disebabkan.”
BADU: “Gila! Apakah penyebab ini dapat dilihat dan dibuktikan?”
AGUS: “Tidak dapat dilihat, tetapi dapat dibuktikan dengan menggunakan logika. Itulah yang namanya logika induktif.”
BADU: “Tetapi tetap kelihatan tidak logis di dalam pikiran saya.”
AGUS: “Sekali lagi. Buktikan atau ajukan konsep atau hipotesis yang logis mengenai munculnya sel purba tersebut.”
BADU: “Saya bukan ahli kosmologi atau astronomi. Seharusnya keberadaan sel purba tersebut dapat dibuktikan secara logis dan ilmiah tanpa membawa-bawa konsep ‘penyebab awal’.”
AGUS: “Buktikan dong…Selama belum dapat dibuktikan, saya masih akan berpegang pada hipotesis awal saya: Tuhan memang ada. Kamu dapat menyanggahnya hanya dengan mengajukan konsep/hipotesis tandingan: Tuhan memang tidak ada. Buktikan Ron…”
BADU: “Hei! Jangan curang! Kamu tidak dapat membuktikan konsep/hipotesis bahwa Tuhan memang ada secara memuaskan. Mengapa saya harus membuktikan konsep/hipotesis Tuhan tidak ada?”
AGUS: “Setidaknya, saya sudah mencoba membuktikan. Sekarang giliran kamu untuk membuktikan. Tidak masalah deh, kalau pembuktian kamu tidak memuaskan.”
BADU: “Oke. Alam semesta sudah ada begitu saja, mulai dari ‘sel purba’, terjadi Big Bang, lalu alam semesta mengembang, kemudian mengerut, dan kembali menjadi ‘sel purba’ lagi, Big Bang lagi, dst, dst.”
AGUS: “Dan itu bukti bahwa Tuhan tidak ada?”
BADU: “Ya. Setidaknya Tuhan tidak perlu di sini.”
AGUS: “Lha gimana sih? Tuhan itu tidak ada atau Tuhan tidak perlu. Itu 2 konsep yang sangat berbeda. Konsep ‘Tuhan tidak perlu dalam semua proses yang terjadi di alam semesta’ sama sekali tidak bertentangan dengan konsep ‘Tuhan memang ada’. Soalnya dari konsep ‘Tuhan tidak perlu’, ini berarti Tuhan bisa saja ada, tetapi memang Dia tidak terlibat atau tidak perlu ikut campur dalam alam semesta. Itu beda banget…”
BADU: “Astaga, mau mu apaan sih?”
AGUS: “Ya bukti dari konsep/hipotesis bahwa Tuhan memang tidak ada. Itu yang saya inginkan!”
BADU: “Hei, saya sudah membuktikan bahwa alam semesta tidak diciptakan Tuhan. Itu sudah cukup.”
AGUS: “Sebenarnya itu belum cukup. Tapi saya gak mau persoalkan itu. Saya mau persoalkan ini: Tuhan tidak ada, karena ternyata alam semesta dan segala isinya tidak diciptakan Tuhan. Coba bandingkan ini: Saya tidak menciptakan Susilo (Susilo diciptakan oleh ayah dan ibunya sendiri lewat persetubuhan dan proses biologis antara sel telur ibunya dan sperma ayahnya). Apakah ini bukti bahwa saya tidak ada?”
BADU: “Brengsek! Apakah saya harus menunjuk batang hidung Tuhan untuk membuktikan bahwa dia tidak ada?”
AGUS: “Hahahahaha. Itulah dilema paradoksal yang harus kamu lakukan! Mencari sesuatu untuk membuktikan bahwa sesuatu tersebut memang tidak ada.”
BADU: “Bukankah itu contradictio in terminis?”
AGUS: “Tidak, kalau menurut Karl Popper. Menurutnya, jalan pembuktian yang valid adalah justru mencari sesuatu yang bertentangan atau dapat menjatuhkan suatu hipotesis atau premis universal.”
BADU: “Apa itu?”
AGUS: “Anggap saja ini hipotesisnya: Tuhan memang ada. Nah, sebagai ilmuwan, kamu harus mencari bukti/premis minor yang dapat menjatuhkan premis universal tersebut. Sebelum dapat menemukan premis minor – yang biasanya bersifat empiris – hipotesis atau premis universalnya dianggap benar.”
BADU: “Bukankah dapat dibalik, saya punya premis universal: Tuhan tidak ada. Dan giliran kamu mencari bukti empiris yang dapat menjatuhkan premis univesal tersebut.”
AGUS: “Astaga, kita muter lagi kalau begini. Saya sudah mencari, dan sudah ketemu: Alam semesta dan seisinya. Itulah bukti empiris yang dapat menjatuhkan premis/hipotesis Tuhan tidak ada.”
BADU: “Itu bukti yang meragukan.”
AGUS: “Setidaknya saya sudah mengajukan bukti empiris. Sekarang giliran kamu mengajukan bukti empiris yang dpt menjatuhkan hipotesis/premis universal bahwa Tuhan memang ada. Ingat, buktinya harus empiris.”
BADU: “Gila. Mencari bukti empiris atas ketidakadaan, ketiadaan, ketidakberadaan sesuatu. Karena memang tidak ada, bagaimana cara membuktikannya secara empiris? Itu sih gila!”
AGUS: “Itu dia. Cari batang hidung Tuhan, untuk membuktikan bahwa Tuhan memang tidak ada. Aneh bukan? Sayangnya, kamulah yang berada dalam posisi tersebut. Saya cuma minta 1 bukti empiris saja yang dapat menjatuhkan hipotesis atau premis universal bahwa Tuhan memang ada…Cari 1 bukti empiris tersebut, Ron. Jika tidak mencoba mencarinya, dan bahkan kamu tidak mempunyai bukti tersebut, maka ke-ateis-anmu tidaklah lebih dari seperangkat keyakinan fanatik, mirip dengan sejenis blind faith yang dimiliki oleh para teroris. Gimana?”
............[to be concluded]
AGUS: “Benar. Kata Tuhan dan pengertian di dalamnya memang konsep dan sebagai konsep dapat dikonsep ulang, diperbaiki, bahkan dibuang kalau sudah gak diperlukan lagi.”
BADU: “Bukankah itu bukti bahwa Tuhan memang hanya konsep?”
AGUS: “Konsep tentang Tuhan berbeda dengan Tuhan itu sendiri.”
BADU: “Kita tidak dapat berpikir tanpa konsep, di luar konsep. Ingat itu!”
AGUS: “Maksudnya?”
BADU: “Konsep dalam arti tertentu adalah suatu realitas…”
AGUS: “Tunggu, tunggu. Berarti, karena Tuhan ada konsepnya, bukankah kamu harus konsekuen dengan mengatakan bahwa Tuhan juga harus ada dalam realitas…”
BADU: “Bukan begitu. Hanya konsep yang logis dan rasionallah yang ada dalam realitas.”
AGUS: “Contohnya?”
BADU: “Konsep2 dalam ilmu eksakta dan sebagainya. Konsep tentang relativitas dalam fisika, konsep tentang evolusi dalam biologi, dan konsep2 lain.”
AGUS: “Pernahkah kamu mendengar bahwa konsep geosentris – matahari dan semuanya mengelilingi bumi dan bumi adalah pusat alam semesta – menjadi sesuatu yang dipegang oleh banyak orang pada masa tertentu?”
BADU: “Ya, saya pernah dengar, tetapi…”
AGUS: “Tunggu, tunggu. Aristoteles, Ptolemeus, dan banyak ilmuwan pada masa tertentu berpegang pada suatu konsep. Ini wajar. Konsep digunakan sbg hipotesis. Hipotesis harus dianggap benar kalau belum dibuktikan keliru. Datang Nicolaus Copernicus dan Galileo Galilei. Walaupun agak sulit, akhirnya hipotesis tandingan mereka – baca ‘konsep mereka’ – dianggap lebih benar dan memang akhirnya dibuktikan sebagai benar. Ini artinya apa? Dalam dunia ilmiah, konsep2 datang dan pergi; yang lama diganti dengan yang baru, diperbaiki, dipertajam dsb.”
BADU: “Bukankah itu bukti bahwa konsep tentang Tuhan dapat keliru sehingga Tuhan sebenarnya kemungkinan bisa tidak ada.”
AGUS: “Hahahahaha. Ron, Ron. Kita muter2 lagi. Lha, seperti Copernicus dan Galileo, ajukan konsep atau hipotesis tandingan terhadap konsep/hipotesis orang beragama yang mengatakan bahwa Tuhan itu ada. Ajukan konsep atau hipotesis bahwa Tuhan tidak ada! Ini baru namanya ilmiah…”
BADU: “Gimana saya dapat mengajukan konsep atau hipotesis bahwa Tuhan tidak ada jika saya yakin akan ketidakberadaan Dia?”
AGUS: “Justru itu. Suatu konsep atau hipotesis harus bersedia diuji secara ilmiah, bukan berdasarkan keyakinan.”
BADU: “Oke. Buktikan konsep/hipotesis kalian bahwa Tuhan memang ada.”
AGUS: “Tuhanlah yang menjadi penggerak pertama yang tidak digerakkan. Tuhanlah yang meletakkan ‘sel purba’, yang pada saat Big Bang menjadi ribuan bahkan jutaan galaksi. Sekarang ajukan konsep/hipotesis tandingannya dari sudut pandang ateis…”
BADU: “Tunggu. Dari mana kamu tahu, bahwa Tuhanlah yang meletakkan sel purba dan membuat Big Bang?”
AGUS: “Berdasarkan penalaran logis secara induktif. Segala sesuatu di dunia ini ada penyebabnya. Dan di antara semua penyebab itu, ada yang menjadi sebab bagi yang lain, yaitu suatu sebab yang tidak disebabkan. Semacam: penyebab awal, suatu penggerak awal, yang tidak digerakkan dan tidak disebabkan.”
BADU: “Gila! Apakah penyebab ini dapat dilihat dan dibuktikan?”
AGUS: “Tidak dapat dilihat, tetapi dapat dibuktikan dengan menggunakan logika. Itulah yang namanya logika induktif.”
BADU: “Tetapi tetap kelihatan tidak logis di dalam pikiran saya.”
AGUS: “Sekali lagi. Buktikan atau ajukan konsep atau hipotesis yang logis mengenai munculnya sel purba tersebut.”
BADU: “Saya bukan ahli kosmologi atau astronomi. Seharusnya keberadaan sel purba tersebut dapat dibuktikan secara logis dan ilmiah tanpa membawa-bawa konsep ‘penyebab awal’.”
AGUS: “Buktikan dong…Selama belum dapat dibuktikan, saya masih akan berpegang pada hipotesis awal saya: Tuhan memang ada. Kamu dapat menyanggahnya hanya dengan mengajukan konsep/hipotesis tandingan: Tuhan memang tidak ada. Buktikan Ron…”
BADU: “Hei! Jangan curang! Kamu tidak dapat membuktikan konsep/hipotesis bahwa Tuhan memang ada secara memuaskan. Mengapa saya harus membuktikan konsep/hipotesis Tuhan tidak ada?”
AGUS: “Setidaknya, saya sudah mencoba membuktikan. Sekarang giliran kamu untuk membuktikan. Tidak masalah deh, kalau pembuktian kamu tidak memuaskan.”
BADU: “Oke. Alam semesta sudah ada begitu saja, mulai dari ‘sel purba’, terjadi Big Bang, lalu alam semesta mengembang, kemudian mengerut, dan kembali menjadi ‘sel purba’ lagi, Big Bang lagi, dst, dst.”
AGUS: “Dan itu bukti bahwa Tuhan tidak ada?”
BADU: “Ya. Setidaknya Tuhan tidak perlu di sini.”
AGUS: “Lha gimana sih? Tuhan itu tidak ada atau Tuhan tidak perlu. Itu 2 konsep yang sangat berbeda. Konsep ‘Tuhan tidak perlu dalam semua proses yang terjadi di alam semesta’ sama sekali tidak bertentangan dengan konsep ‘Tuhan memang ada’. Soalnya dari konsep ‘Tuhan tidak perlu’, ini berarti Tuhan bisa saja ada, tetapi memang Dia tidak terlibat atau tidak perlu ikut campur dalam alam semesta. Itu beda banget…”
BADU: “Astaga, mau mu apaan sih?”
AGUS: “Ya bukti dari konsep/hipotesis bahwa Tuhan memang tidak ada. Itu yang saya inginkan!”
BADU: “Hei, saya sudah membuktikan bahwa alam semesta tidak diciptakan Tuhan. Itu sudah cukup.”
AGUS: “Sebenarnya itu belum cukup. Tapi saya gak mau persoalkan itu. Saya mau persoalkan ini: Tuhan tidak ada, karena ternyata alam semesta dan segala isinya tidak diciptakan Tuhan. Coba bandingkan ini: Saya tidak menciptakan Susilo (Susilo diciptakan oleh ayah dan ibunya sendiri lewat persetubuhan dan proses biologis antara sel telur ibunya dan sperma ayahnya). Apakah ini bukti bahwa saya tidak ada?”
BADU: “Brengsek! Apakah saya harus menunjuk batang hidung Tuhan untuk membuktikan bahwa dia tidak ada?”
AGUS: “Hahahahaha. Itulah dilema paradoksal yang harus kamu lakukan! Mencari sesuatu untuk membuktikan bahwa sesuatu tersebut memang tidak ada.”
BADU: “Bukankah itu contradictio in terminis?”
AGUS: “Tidak, kalau menurut Karl Popper. Menurutnya, jalan pembuktian yang valid adalah justru mencari sesuatu yang bertentangan atau dapat menjatuhkan suatu hipotesis atau premis universal.”
BADU: “Apa itu?”
AGUS: “Anggap saja ini hipotesisnya: Tuhan memang ada. Nah, sebagai ilmuwan, kamu harus mencari bukti/premis minor yang dapat menjatuhkan premis universal tersebut. Sebelum dapat menemukan premis minor – yang biasanya bersifat empiris – hipotesis atau premis universalnya dianggap benar.”
BADU: “Bukankah dapat dibalik, saya punya premis universal: Tuhan tidak ada. Dan giliran kamu mencari bukti empiris yang dapat menjatuhkan premis univesal tersebut.”
AGUS: “Astaga, kita muter lagi kalau begini. Saya sudah mencari, dan sudah ketemu: Alam semesta dan seisinya. Itulah bukti empiris yang dapat menjatuhkan premis/hipotesis Tuhan tidak ada.”
BADU: “Itu bukti yang meragukan.”
AGUS: “Setidaknya saya sudah mengajukan bukti empiris. Sekarang giliran kamu mengajukan bukti empiris yang dpt menjatuhkan hipotesis/premis universal bahwa Tuhan memang ada. Ingat, buktinya harus empiris.”
BADU: “Gila. Mencari bukti empiris atas ketidakadaan, ketiadaan, ketidakberadaan sesuatu. Karena memang tidak ada, bagaimana cara membuktikannya secara empiris? Itu sih gila!”
AGUS: “Itu dia. Cari batang hidung Tuhan, untuk membuktikan bahwa Tuhan memang tidak ada. Aneh bukan? Sayangnya, kamulah yang berada dalam posisi tersebut. Saya cuma minta 1 bukti empiris saja yang dapat menjatuhkan hipotesis atau premis universal bahwa Tuhan memang ada…Cari 1 bukti empiris tersebut, Ron. Jika tidak mencoba mencarinya, dan bahkan kamu tidak mempunyai bukti tersebut, maka ke-ateis-anmu tidaklah lebih dari seperangkat keyakinan fanatik, mirip dengan sejenis blind faith yang dimiliki oleh para teroris. Gimana?”
............[to be concluded]
Rabu, 19 Maret 2008
Mengapa Saya Bukan Ateis? (1)
Saya merasa ini adalah suatu diskusi yang cukup baik antara seorang ateis (BADU) dan seorang teis (AGUS). Anda barangkali akan menilai dialog ini kabur, tidak adil dan berat sebelah bagi pihak tertentu, tetapi saya menjadikannya sebagai salah satu alasan mengapa saya bukan ateis – atau lebih tepat: menjadi ateis adalah posisi yang kurang/tidak dapat dipertahankan secara rasional (bagi yang ateis, dengan segala hormat, saya tetap menghormati pandangan Anda. Kita tetap bersaudara :) Oke? Okelah...)
BADU: “Gus, coba kamu buktikan bahwa Tuhan itu memang ada...”
AGUS: "Kamu tanya seperti itu. Bagi saya, Tuhan itu ada karena buktinya banyak."
BADU: "Apa contohnya?".
AGUS: " Kamu lihat bulan? Siapa yang menciptakan bulan? Saya, karena percaya Tuhan, percaya bahwa Tuhanlah yang menciptakan bulan."
BADU: [menyanggah dengan berbagai macam cara -- biasanya ilmiah -- mengenai proses terjadinya bulan].
AGUS: "Lihat. Saya bisa saja mengatakan bahwa big bang dibuat oleh Tuhan. Tapi kamu pasti akan membantah lagi. Intinya, bukti dan contoh apapun pasti kamu tidak akan percaya. Jadi, aku tidak akan berusaha membuktikan Tuhan, tetapi kamulah yang harus membuktikan: mengapa kita seharusnya tidak percaya pada keberadaan Tuhan?"
BADU: "Bukti keberadaan Tuhan tidak lengkap, tidak cukup, dan tidak masuk akal."
AGUS: "Kalau begitu, buktikan sebaliknya: bahwa bukti ketidakberadaan Tuhan lebih masuk akal, lebih lengkap."
BADU: "Saya tidak mau membuktikan sesuatu yang tidak ada."
AGUS: "Memang. Kamu tidak perlu membuktikan keberadaan Tuhan. Kamu cukup membuktikan ketidakberadaan-Nya. Tunjukkan dengan akal dan pancaindramu bahwa Dia memang tidak ada."
BADU: "Tuhan memang tidak ada. Itu sudah cukup."
AGUS: "Ini tidak fair. Ketika saya mencoba membuktikan keberadaan Tuhan, saya mencoba menunjukkan bukti -- walaupun kamu akhirnya tidak percaya. Masak' kamu gak mau menyebutkan satu bukti pun tentang ketidakberadaan Tuhan? Ayo buktikan!"
BADU: "Oke. Tuhan tidak ada, karena tidak bisa dilihat."
AGUS: "Tidak bisa dilihat oleh Anda maksudnya?"
BADU: "Banyak yang tidak bisa melihatnya."
AGUS: "Tetapi ada orang yang mengaku pernah dan bisa melihatnya. Para mistikus mengaku pernah 'melihat' dan 'mengalami' Tuhan."
BADU: "Itu hanya gejala psikologis saja."
AGUS: "Tapi faktanya: mereka mengaku 'mengalami' dan 'melihat' Tuhan dalam satu dan lain cara. Jadi, alasan 'tidak dapat dilihat' sendiri tidak kuat karena pengertian 'tidak dapat melihat' sama psikologisnya dengan pengertian 'dapat melihat'. Tolong, cari bukti yang berlaku untuk semua orang. Ada orang yang mengaku pernah dan bisa melihat Tuhan, ada yang tidak. Ini bukan bukti."
BADU: "Tapi 'tidak dapat melihat' yang saya maksud adalah 'tidak dapat melihat' secara fisik."
AGUS: "Saya tidak pernah dan tidak dapat melihat kakek buyut saya: dia tidak punya foto, kuburannya tidak ada yang tahu. Intinya, saya tidak pernah melihat dia secara fisik. Apa ini bukti bahwa kakek buyut saya tidak ada dan tidak pernah ada. Ayolah...cari bukti yang lebih kuat. Lagi pula argumen 'tidak dapat melihat/dilihat' hanya valid kalau mengandaikan kamu dapat melihat semua tempat yang ada di alam semesta ini. Ingat, sesuatu diandaikan dapat dilihat, kalau kita punya kesempatan untuk mencapai tempat keberadaan sesuatu tersebut. Boleh saja kamu bilang: Tuhan tidak ada. Saya bilang: Dia tidak ada.... memang... di bumi. Why? Selalu ada kemungkinan bahwa Tuhan ada si suatu pojok gelap di salah satu galaksi yang letaknya miliaran tahun cara dari bumi. Kamu harus pergi kesana untuk membuktikan bahwa Tuhan memang tidak ada di sana. Bagaimana?"
BADU: "Baik. Kita coba yang lain. Ini dia: konsep tentang Tuhan bertentangan dalam dirinya sendiri (contradictio in terminis). Contohnya: Tuhan tidak dapat membuat batu yang tidak dapat diangkatnya sendiri. Juga, Tuhan tidak mahakuasa karena tidak dapat menghilangkan penderitaan manusia, atau Tuhan tidak mahakasih karena ia membiarkan penderitaan manusia."
AGUS: "Itu konsep bukan? Konsep Tuhan selalu dapat dibuat dan diperbaiki, sama halnya dengan konsep dalam ilmu-ilmu lain. Tapi itu semua tidak dapat dijadikan bukti bahwa Tuhan tidak ada. Konsep tentang Tuhan boleh keliru dan tidak ada sama sekali, tetapi Tuhan tidak perlu konsep."
BADU: "Astaga!!! Kalau begitu, mengapa saya harus membuktikan sesuatu yang tidak dapat dikonsepkan?"
AGUS: "Justru itu, Ron. Ateisme-mu pun sebenarnya hanya konsep. Kalau Tuhan punya konsep, ketidakberadaan Tuhan pun punya konsep. Ayo, kamu punya kesempatan sekali lagi untuk membuktikan -- tanpa konsep -- ketidakberadaan Tuhan. Tunjuk suatu bukti yang rasional dan sesuai dengan pancaindra bahwa Tuhan tidak ada."
BADU: "Tuhan tidak ada...itu cukup rasional dan sesuai dengan pancaindra."
AGUS: "Oke. Kamu kelihatannya cukup intelek. Tahu metode ilmiah. Kamu tahu kalau metode ilmiah menggunakan hipotesis? Sebagai orang yang tidak percaya keberadaan Tuhan, bagaimana kalau hipotesis kamu adalah ini: Tuhan itu ada, sampai dia dibuktikan sebaliknya."
BADU: "Lho bukannya hal yang sama bisa saya katakan untuk kalian yang percaya Tuhan: hipotesisnya adalah 'Tuhan itu tidak ada, sampai dibuktikan sebaliknya."
AGUS: "Masalah itu sudah terpecahkan oleh kami orang beragama. Hipotesis: Tuhan tidak ada. Lalu setelah kami beriman, ini menjadi bukti bahwa hipotesis itu keliru: ternyata Tuhan memang ada. Sebagai orang beriman, saya boleh menggantungkan metode ilmiah saya pada iman saya. Sebaliknya, kamu tidak boleh menggantungkannya pada iman. Ingat, iman hanya menyangkut keberadaan Tuhan, bukan ketidakberadaan-Nya. Mana mungkin kalian orang ateis beriman pada 'ketidakberadaan Tuhan'? Kamu gak bisa bilang: 'saya tidak percaya pada keberadaan Tuhan, itu sudah cukup; saya cukup mengimaninya saja.' Itu posisi orang yang ber-Tuhan."
BADU: "Maksudnya?"
AGUS: "Ateisme adalah pilihan rasional dan logis. Orang gak bisa jadi ateis hanya karena alasan praktis. Seorang ateis dituntut untuk menjelaskan keateisannya secara nalar, logis, rasional. Ia tidak dapat 'beriman' membabi buta. Sebaliknya, orang beragama/ber-Tuhan dalam batas tertentu, boleh beriman tanpa mengetahui kelogisan atau kerasionalan imannya -- toh dia masih bisa selamat tanpa mengetahui kelogisan atau kerasionalan imannya. Tapi ateisme tidak. Pilihan menjadi ateis harus lebih dapat dipertanggungjawabkan secara intelek dan rasional. Kalau tidak, ateismenya akan runtuh dan terdengar omong kosong. Bagaimana?"
............[to be continued]
BADU: “Gus, coba kamu buktikan bahwa Tuhan itu memang ada...”
AGUS: "Kamu tanya seperti itu. Bagi saya, Tuhan itu ada karena buktinya banyak."
BADU: "Apa contohnya?".
AGUS: " Kamu lihat bulan? Siapa yang menciptakan bulan? Saya, karena percaya Tuhan, percaya bahwa Tuhanlah yang menciptakan bulan."
BADU: [menyanggah dengan berbagai macam cara -- biasanya ilmiah -- mengenai proses terjadinya bulan].
AGUS: "Lihat. Saya bisa saja mengatakan bahwa big bang dibuat oleh Tuhan. Tapi kamu pasti akan membantah lagi. Intinya, bukti dan contoh apapun pasti kamu tidak akan percaya. Jadi, aku tidak akan berusaha membuktikan Tuhan, tetapi kamulah yang harus membuktikan: mengapa kita seharusnya tidak percaya pada keberadaan Tuhan?"
BADU: "Bukti keberadaan Tuhan tidak lengkap, tidak cukup, dan tidak masuk akal."
AGUS: "Kalau begitu, buktikan sebaliknya: bahwa bukti ketidakberadaan Tuhan lebih masuk akal, lebih lengkap."
BADU: "Saya tidak mau membuktikan sesuatu yang tidak ada."
AGUS: "Memang. Kamu tidak perlu membuktikan keberadaan Tuhan. Kamu cukup membuktikan ketidakberadaan-Nya. Tunjukkan dengan akal dan pancaindramu bahwa Dia memang tidak ada."
BADU: "Tuhan memang tidak ada. Itu sudah cukup."
AGUS: "Ini tidak fair. Ketika saya mencoba membuktikan keberadaan Tuhan, saya mencoba menunjukkan bukti -- walaupun kamu akhirnya tidak percaya. Masak' kamu gak mau menyebutkan satu bukti pun tentang ketidakberadaan Tuhan? Ayo buktikan!"
BADU: "Oke. Tuhan tidak ada, karena tidak bisa dilihat."
AGUS: "Tidak bisa dilihat oleh Anda maksudnya?"
BADU: "Banyak yang tidak bisa melihatnya."
AGUS: "Tetapi ada orang yang mengaku pernah dan bisa melihatnya. Para mistikus mengaku pernah 'melihat' dan 'mengalami' Tuhan."
BADU: "Itu hanya gejala psikologis saja."
AGUS: "Tapi faktanya: mereka mengaku 'mengalami' dan 'melihat' Tuhan dalam satu dan lain cara. Jadi, alasan 'tidak dapat dilihat' sendiri tidak kuat karena pengertian 'tidak dapat melihat' sama psikologisnya dengan pengertian 'dapat melihat'. Tolong, cari bukti yang berlaku untuk semua orang. Ada orang yang mengaku pernah dan bisa melihat Tuhan, ada yang tidak. Ini bukan bukti."
BADU: "Tapi 'tidak dapat melihat' yang saya maksud adalah 'tidak dapat melihat' secara fisik."
AGUS: "Saya tidak pernah dan tidak dapat melihat kakek buyut saya: dia tidak punya foto, kuburannya tidak ada yang tahu. Intinya, saya tidak pernah melihat dia secara fisik. Apa ini bukti bahwa kakek buyut saya tidak ada dan tidak pernah ada. Ayolah...cari bukti yang lebih kuat. Lagi pula argumen 'tidak dapat melihat/dilihat' hanya valid kalau mengandaikan kamu dapat melihat semua tempat yang ada di alam semesta ini. Ingat, sesuatu diandaikan dapat dilihat, kalau kita punya kesempatan untuk mencapai tempat keberadaan sesuatu tersebut. Boleh saja kamu bilang: Tuhan tidak ada. Saya bilang: Dia tidak ada.... memang... di bumi. Why? Selalu ada kemungkinan bahwa Tuhan ada si suatu pojok gelap di salah satu galaksi yang letaknya miliaran tahun cara dari bumi. Kamu harus pergi kesana untuk membuktikan bahwa Tuhan memang tidak ada di sana. Bagaimana?"
BADU: "Baik. Kita coba yang lain. Ini dia: konsep tentang Tuhan bertentangan dalam dirinya sendiri (contradictio in terminis). Contohnya: Tuhan tidak dapat membuat batu yang tidak dapat diangkatnya sendiri. Juga, Tuhan tidak mahakuasa karena tidak dapat menghilangkan penderitaan manusia, atau Tuhan tidak mahakasih karena ia membiarkan penderitaan manusia."
AGUS: "Itu konsep bukan? Konsep Tuhan selalu dapat dibuat dan diperbaiki, sama halnya dengan konsep dalam ilmu-ilmu lain. Tapi itu semua tidak dapat dijadikan bukti bahwa Tuhan tidak ada. Konsep tentang Tuhan boleh keliru dan tidak ada sama sekali, tetapi Tuhan tidak perlu konsep."
BADU: "Astaga!!! Kalau begitu, mengapa saya harus membuktikan sesuatu yang tidak dapat dikonsepkan?"
AGUS: "Justru itu, Ron. Ateisme-mu pun sebenarnya hanya konsep. Kalau Tuhan punya konsep, ketidakberadaan Tuhan pun punya konsep. Ayo, kamu punya kesempatan sekali lagi untuk membuktikan -- tanpa konsep -- ketidakberadaan Tuhan. Tunjuk suatu bukti yang rasional dan sesuai dengan pancaindra bahwa Tuhan tidak ada."
BADU: "Tuhan tidak ada...itu cukup rasional dan sesuai dengan pancaindra."
AGUS: "Oke. Kamu kelihatannya cukup intelek. Tahu metode ilmiah. Kamu tahu kalau metode ilmiah menggunakan hipotesis? Sebagai orang yang tidak percaya keberadaan Tuhan, bagaimana kalau hipotesis kamu adalah ini: Tuhan itu ada, sampai dia dibuktikan sebaliknya."
BADU: "Lho bukannya hal yang sama bisa saya katakan untuk kalian yang percaya Tuhan: hipotesisnya adalah 'Tuhan itu tidak ada, sampai dibuktikan sebaliknya."
AGUS: "Masalah itu sudah terpecahkan oleh kami orang beragama. Hipotesis: Tuhan tidak ada. Lalu setelah kami beriman, ini menjadi bukti bahwa hipotesis itu keliru: ternyata Tuhan memang ada. Sebagai orang beriman, saya boleh menggantungkan metode ilmiah saya pada iman saya. Sebaliknya, kamu tidak boleh menggantungkannya pada iman. Ingat, iman hanya menyangkut keberadaan Tuhan, bukan ketidakberadaan-Nya. Mana mungkin kalian orang ateis beriman pada 'ketidakberadaan Tuhan'? Kamu gak bisa bilang: 'saya tidak percaya pada keberadaan Tuhan, itu sudah cukup; saya cukup mengimaninya saja.' Itu posisi orang yang ber-Tuhan."
BADU: "Maksudnya?"
AGUS: "Ateisme adalah pilihan rasional dan logis. Orang gak bisa jadi ateis hanya karena alasan praktis. Seorang ateis dituntut untuk menjelaskan keateisannya secara nalar, logis, rasional. Ia tidak dapat 'beriman' membabi buta. Sebaliknya, orang beragama/ber-Tuhan dalam batas tertentu, boleh beriman tanpa mengetahui kelogisan atau kerasionalan imannya -- toh dia masih bisa selamat tanpa mengetahui kelogisan atau kerasionalan imannya. Tapi ateisme tidak. Pilihan menjadi ateis harus lebih dapat dipertanggungjawabkan secara intelek dan rasional. Kalau tidak, ateismenya akan runtuh dan terdengar omong kosong. Bagaimana?"
............[to be continued]
Langganan:
Postingan (Atom)