Ada waktunya ketika batas antara seni dan politik menjadi cair (ini belum termasuk kalau kita berbicara tentang “seni berpolitik” yang entah masuk kategori seni atau kategori politik). Batas ini sebenarnya memang cair bahkan boleh dibilang tidak ada, karena baik “seni” maupun “politik” merupakan salah satu aspek saja dalam dimensi kemanusiaan kita. Keduanya merupakan ekspresi dari hakikat kemanusiaan kita.
Seni – apa pun bentuknya – adalah ekspresi jiwa manusia dan sejenis refleksi atas kenyataan yang dituangkan dalam untaian atau urutan bentuk-bentuk yang dapat diapresiasi dari segi estetika. Tentu, “bentuk-bentuk” yang dimaksud di sini dapat mencakup pelbagai ekspresi, seperti lukisan, tarian, lagu, pahatan atau apa pun yang tidak dapat dibatasi dalam kaidah-kaidah baku seni (kita, misalnya, tidak mengenal apa yang disebut sebagai “seni instalasi” pada abad ke-19 – tentunya kita tidak akan masuk dalam diskusi apakah istilah “seni instalasi” merupakan istilah yang tepat dan “non-problematis”).
Jika tadi dikatakan bahwa seni merupakan refleksi atas kenyataan, itu bukan berarti kasusnya harus demikian. Seni bisa saja tidak merupakan refleksi tetapi lebih merupakan hasil “kontemplasi lepas”. Namun, orang boleh berdebat apakah memang ada suatu seni yang tidak terkait dengan kenyataan.
Toh, kita sering menyaksikan betapa seni hampir selalu merupakan refleksi atas kenyataan – entah kenyataan itu berada di alam khayalan murni atau berada secara riil konkret di dalam kantong/dompet si seniman, entah kenyataan itu adalah sebentuk utopia surealis atau semacam lanskap yang terbentang secara telanjang di depan mata.
Slank adalah seniman. Seni yang mereka geluti adalah seni musik. Jadi, bentuk-bentuk yang lahir dari hasil ekspresi atau refleksi Slank adalah bentuk-bentuk yang bersifat “bebunyian” yang dapat diapresiasi indah atau jelek oleh kuping kita (walaupun konser Slank tampaknya dapat juag diapresiasi oleh mata kita – tapi kita tidak berbicara tentang ini karena ini bukan blog musikJ).
John Lennon dulu hampir mirip dengan Slank. Bono dari U2 juga demikian. Juga Bob Dylan. John Lennon pernah menulis “Give Peace a Chance” bersama band pribadinya dan juga pernah menulis beberapa track bersama Beatles – band yang melegenda – yang berisi syair-syair “sosial”. John dan banyak musisi lain merasa tidak kebal terhadap panggilan hati nurani mereka untuk merefleksikan kenyataan sosial yang ada di depan mereka atau yang mereka alami. Oleh karena itu, lahirlah lagu-lagu anti-perang, anti-kemampanan, kritik atas kapitalisme dan sebagainya.
Dalam minggu-minggu terakhir ini, beberapa media massa di Indonesia memberitakan kabar tentang rencana Dewan Kehormatan DPR untuk menggugat Slank (silakan cari sendiri beritanya via Google). Mengapa? Slank dianggap menghina DPR di dalam lagunya yang berjudul “Gosip Jalanan”. Belakangan, orang-orang di DPR tersebut membatalkan rencana ini – entah apa alasan di balik pembatalan ini.
Sudah banyak tanggapan diberikan atas rencana orang-orang di DPR itu, termasuk yang resmi berasal dari Gank Potlot sendiri – nama markas Slank. Salah satunya adalah: “Jika akan menggugat Slank, justru DPR membuktikan bahwa gosip itu memang kenyataan.”
Kita tidak akan masuk ke diskusi tentang benar-tidaknya isi lagu “Gosip Jalanan” (Walaupun begitu, kita akan terhenyak heran kalau lagu itu justru memang benar-benar cuma gosip). Namun, kita akan bertanya: apakah Slank masih menjadi seniman ketika mereka menulis lagu seperti itu? Jawabannya, jika mengacu definisi “seni” di atas: tentu saja mereka tetap menjadi seniman – justru lagu itu semakin mengukuhkan jati diri mereka sebagai seniman. Barangkali, Slank mirip pelukis Dede Eri Supria, yang lukisan-lukisannya memperlihatkan realisme tertentu, tetapi “dipotret” (atau tepatnya: disajikan) sedemikian rupa sehingga tampak agak “surealis” (sori, saya tidak terlalu paham ilmu seni rupa. Jadi, istilahnya mungkin tidak begitu tepat, tetapi Anda semua pasti paham apa yang saya maksud kalau melihat lukisan Dede Eri Supria). Suatu realitas yang sedikit didandani dengan teknik “seni” sedemikian rupa, agar orang dapat menikmatinya, menyelaminya, dan mengamini kebenarannya. Dede dan Slank mungkin agak mirip di sini.
Begitulah. Slank adalah seniman. Namun, apakah lagu “Gosip Jalanan” membuat mereka menjadi semacam politisi? Sama seperti John Lennon, Bob Dylan, dan Bono – kecuali barangkali Bono – tetap menjadi pemusik atau seniman saja, begitu juga Slank. Satu atau dua lagu mengenai kenyataan yang bersifat sosial atau politis, tidak akan pernah membuat seorang seniman menjadi politisi atau ilmuwan sosial. Mungkin mereka malah terlalu jujur saja sebagai seniman – atau lebih tepat: mempunyai daya refleksi yang kuat atas kenyataan, suatu kenyataan yang tidak dibatasi oleh sekat ruang dan waktu.
Sebagai seniman, Slank bebas berekspresi dan berefleksi. Masak mereka hanya boleh merefleksikan kisah anak sekolah yang jatuh cinta, anak gadis yang ditaksir tetangganya, atau sepasang muda-mudi yang didamprat oleh si ayah pemudi karena pulang malam? Jangkauan refleksi seniman tak terbatas. Boleh dong, kalau seniman merefleksikan kejadian di Senayan juga?
Jika sudah begini persoalannya, saya justru berdoa agar Slank-lah yang menjadi wakil saya di DPR, di Senayan. Mengapa? Daya refleksi dan ekspresi mereka luas, tulus, jujur dan to the point. Semoga ini bukan cuma gosip jalanan…
Jumat, 18 April 2008
Rabu, 09 April 2008
Fitna: Siapa Difitnah dan Siapa Memfitnah?
Masih ingat The Da Vinci Code? Film yang diangkat dari novel Dan Brown dan dibintangi Tom Hanks itu ternyata menjadi suatu film yang cukup laris juga ketika diputar (tidak semua film yang berasal dari novel yang cukup laris juga ikut-ikutan laris).
Orang tentu menduga: masuk akal jika film tersebut laris, karena toh novelnya pun laris (bahkan novelnya jauh lebih laris di mana filmnya tidak selaris ketimbang novelnya – ini kebalikan dari trilogi The Lord of the Rings di mana filmnya jauh lebih laris ketimbang novelnya). Tidak heran jika mereka yang sudah membaca novelnya juga masih ingin melihat bagaimana versi layar lebar novel tersebut.
Namun, kita dapat memikirkannya dari sisi lain: isi film tersebut. Orang berpikir bahwa isi filmlah yang seharusnya membuat orang tertarik untuk menonton film. Lalu, apa isi film The Da Vinci Code? Isinya kurang lebih sama dengan isi novelnya: suatu kisah thriller yang bersendikan pada plot “terbongkarnya” rahasia sepanjang hampir 2000 tahun, yaitu bahwa Yesus ternyata menikah dengan Maria Magdalena. Rahasia ini ditutup-tutupi oleh Gereja selama masa tersebut dan baru terbongkar oleh seorang detektif (Mr. Langdon) dalam petualangannya. Jelas, gagasan “Yesus menikah dengan Maria Magdalena” merupakan penjungkirbalikkan atas akidah dari tradisi keagamaan tertentu.
Kini muncul film Fitna, hasil karya Geert Wilders, seorang anggota parlemen Belanda. Saya sudah lihat filmnya. Filmnya biasa-biasa saja. Saya mengira film itu berisi suatu kisah cerita, ternyata hanya suatu potongan-potongan dokumenter saja. Banyak dari potongan-potongan film dokumenter tersebut sebenarnya sudah diketahui oleh umum, karena potongan-potongan film tersebut berasal dari berita yang disiarkan oleh berbagai stasiun televisi internasional.
Lalu di mana letak menarik atau sisi kontroversial film tersebut? Potongan-potongan film dokumenter tersebut terutama berisi berita terkait aksi-aksi terorisme semenjak peristiwa 11 September 2001, termasuk cuplikan hasil aksi-aksi tersebut. Kalau itu masih belum cukup, si pembuat film juga memasukkan berbagai khotbah keagamaan yang terasa “galak” yang menurut si pembuat film memiliki kontribusi dalam mendorong aksi-aksi terorisme tadi. Tentu kita tahu, aksi terorisme dan khotbah-khotbah keagamaan tersebut berasal dari kelompok mana.
Masalahnya adalah: apakah film tersebut menggambarkan apa sebenarnya dari agama yang dimaksud? Atau, lebih tepat, apakah ideologi yang dianut kelompok tersebut memang mewakili agama tersebut?
Ada fakta yang tidak dapat disangkal: kelompok teroris – entah yang diperlihatkan cuplikan aksinya dalam film tersebut atau tidak – memang memiliki pandangan dunia atau ideologi tersendiri. Pandangan dunia ini muncul sebagai hasil dari interpretasi atas tradisi sebagaimana yang termaktub dalam suatu agama, entah dalam bentuk kitab suci atau yang lain. Kita dapat berdebat apakah interpretasi kelompok ini sahih atau tidak – apalagi jika ternyata kelompok ini bukan satu-satunya dalam tradisi keagamaan tersebut. Tidak heran jika terjadi “perang interpretasi” dalam tradisi keagamaan tersebut, yaitu perang yang terjadi di antara berbagai kelompok di dalam tradisi agama tersebut untuk memperebutkan wacana “siapa penafsir paling benar”.
Sejauh “perang” tersebut terjadi secara fair, terbuka, tidak terjadi pemaksaan, bersifat dialogis dan tidak mengikutsertakan kekerasan atau tindak kriminal yang melanggar Hak Asasi Manusia, barangkali “perang” itu menjadi sah-sah saja. Perbedaan wacana dan interpretasi adalah biasa. Namun tidak boleh suatu kelompok memaksakan penafsirannya kepada kelompok lain, apalagi dengan menggunakan kekerasan.
Jelaslah, kelompok yang digambarkan dalam film Fitna adalah kelompok yang memaksakan penafsirannya. Lucunya, mereka memaksakan penafsirannya bukan hanya kepada kelompok lain di dalam tradisi agamanya sendiri, tetapi mereka memaksakannya kepada semua umat manusia di muka bumi.
Kembali ke film Fitna. Film itu hanya memotret satu sisi dalam suatu tradisi keagamaan tertentu. Ia tidak memotret keseluruhan kenyataan. Dari segi itu, film ini memang kurang atau “cacat”. Namun, dari segi lain – yaitu potret atas suatu kelompok dalam suatu tradisi keagamaan – film itu cukup akurat.
Orang tentu tidak boleh melebih-lebihkan film itu. Film itu memiliki kelebihan, tetapi hanya sampai batas tertentu. Ia benar dalam satu sisi, tetapi keliru, bahkan sangat keliru dari sisi lain. Dari sudut ini, kita tidak perlu tersinggung terlalu jauh atas film ini. Film ini hanya memotret kelompok tertentu dari suatu tradisi keagamaan yang besar, namun hanya sampai sebatas itu. Film ini tidak dan memang gagal memotret tradisi keagamaan tersebut secara luas dan menyeluruh.
So, kita tidak perlu naik darah. Biasa saja. Toh, The Da Vinci Code boleh beredar di Indonesia – suatu film yang sebenarnya langsung menusuk akidah tradisi keagamaan tertentu di Indonesia. Kita memang harus fair, rendah hati, dan tetap membaca tanda-tanda zaman.
Orang tentu menduga: masuk akal jika film tersebut laris, karena toh novelnya pun laris (bahkan novelnya jauh lebih laris di mana filmnya tidak selaris ketimbang novelnya – ini kebalikan dari trilogi The Lord of the Rings di mana filmnya jauh lebih laris ketimbang novelnya). Tidak heran jika mereka yang sudah membaca novelnya juga masih ingin melihat bagaimana versi layar lebar novel tersebut.
Namun, kita dapat memikirkannya dari sisi lain: isi film tersebut. Orang berpikir bahwa isi filmlah yang seharusnya membuat orang tertarik untuk menonton film. Lalu, apa isi film The Da Vinci Code? Isinya kurang lebih sama dengan isi novelnya: suatu kisah thriller yang bersendikan pada plot “terbongkarnya” rahasia sepanjang hampir 2000 tahun, yaitu bahwa Yesus ternyata menikah dengan Maria Magdalena. Rahasia ini ditutup-tutupi oleh Gereja selama masa tersebut dan baru terbongkar oleh seorang detektif (Mr. Langdon) dalam petualangannya. Jelas, gagasan “Yesus menikah dengan Maria Magdalena” merupakan penjungkirbalikkan atas akidah dari tradisi keagamaan tertentu.
Kini muncul film Fitna, hasil karya Geert Wilders, seorang anggota parlemen Belanda. Saya sudah lihat filmnya. Filmnya biasa-biasa saja. Saya mengira film itu berisi suatu kisah cerita, ternyata hanya suatu potongan-potongan dokumenter saja. Banyak dari potongan-potongan film dokumenter tersebut sebenarnya sudah diketahui oleh umum, karena potongan-potongan film tersebut berasal dari berita yang disiarkan oleh berbagai stasiun televisi internasional.
Lalu di mana letak menarik atau sisi kontroversial film tersebut? Potongan-potongan film dokumenter tersebut terutama berisi berita terkait aksi-aksi terorisme semenjak peristiwa 11 September 2001, termasuk cuplikan hasil aksi-aksi tersebut. Kalau itu masih belum cukup, si pembuat film juga memasukkan berbagai khotbah keagamaan yang terasa “galak” yang menurut si pembuat film memiliki kontribusi dalam mendorong aksi-aksi terorisme tadi. Tentu kita tahu, aksi terorisme dan khotbah-khotbah keagamaan tersebut berasal dari kelompok mana.
Masalahnya adalah: apakah film tersebut menggambarkan apa sebenarnya dari agama yang dimaksud? Atau, lebih tepat, apakah ideologi yang dianut kelompok tersebut memang mewakili agama tersebut?
Ada fakta yang tidak dapat disangkal: kelompok teroris – entah yang diperlihatkan cuplikan aksinya dalam film tersebut atau tidak – memang memiliki pandangan dunia atau ideologi tersendiri. Pandangan dunia ini muncul sebagai hasil dari interpretasi atas tradisi sebagaimana yang termaktub dalam suatu agama, entah dalam bentuk kitab suci atau yang lain. Kita dapat berdebat apakah interpretasi kelompok ini sahih atau tidak – apalagi jika ternyata kelompok ini bukan satu-satunya dalam tradisi keagamaan tersebut. Tidak heran jika terjadi “perang interpretasi” dalam tradisi keagamaan tersebut, yaitu perang yang terjadi di antara berbagai kelompok di dalam tradisi agama tersebut untuk memperebutkan wacana “siapa penafsir paling benar”.
Sejauh “perang” tersebut terjadi secara fair, terbuka, tidak terjadi pemaksaan, bersifat dialogis dan tidak mengikutsertakan kekerasan atau tindak kriminal yang melanggar Hak Asasi Manusia, barangkali “perang” itu menjadi sah-sah saja. Perbedaan wacana dan interpretasi adalah biasa. Namun tidak boleh suatu kelompok memaksakan penafsirannya kepada kelompok lain, apalagi dengan menggunakan kekerasan.
Jelaslah, kelompok yang digambarkan dalam film Fitna adalah kelompok yang memaksakan penafsirannya. Lucunya, mereka memaksakan penafsirannya bukan hanya kepada kelompok lain di dalam tradisi agamanya sendiri, tetapi mereka memaksakannya kepada semua umat manusia di muka bumi.
Kembali ke film Fitna. Film itu hanya memotret satu sisi dalam suatu tradisi keagamaan tertentu. Ia tidak memotret keseluruhan kenyataan. Dari segi itu, film ini memang kurang atau “cacat”. Namun, dari segi lain – yaitu potret atas suatu kelompok dalam suatu tradisi keagamaan – film itu cukup akurat.
Orang tentu tidak boleh melebih-lebihkan film itu. Film itu memiliki kelebihan, tetapi hanya sampai batas tertentu. Ia benar dalam satu sisi, tetapi keliru, bahkan sangat keliru dari sisi lain. Dari sudut ini, kita tidak perlu tersinggung terlalu jauh atas film ini. Film ini hanya memotret kelompok tertentu dari suatu tradisi keagamaan yang besar, namun hanya sampai sebatas itu. Film ini tidak dan memang gagal memotret tradisi keagamaan tersebut secara luas dan menyeluruh.
So, kita tidak perlu naik darah. Biasa saja. Toh, The Da Vinci Code boleh beredar di Indonesia – suatu film yang sebenarnya langsung menusuk akidah tradisi keagamaan tertentu di Indonesia. Kita memang harus fair, rendah hati, dan tetap membaca tanda-tanda zaman.
Nominasi AMI Award 2008
BIDANG POP
Artis Solo Wanita Terbaik
Astrid / Jadikan Aku Yang Kedua (Cilapop 2006)
Bunga Citra Lestari / Aku Tak Mau Sendiri (Cinta Pertama)
Gita Gutawa / Bukan Permainan (Gita Gutawa)
Melly / Gantung (Mindnsoul)
Rossa / Ayat Ayat Cinta (Ost. Ayat Ayat Cinta)
Artis Solo Pria Terbaik
Ari Lasso / Cinta Terakhir (Selalu Ada)
Glenn Fredly / Kisah Yang Salah (Happy Sunday)
Ihsan / Bunga (Karena Aku Lelaki) (The Winner)
Iwan Fals / Masih Bisa Cinta (50:50)
Rio Febrian / Jenuh (Rio F3brian)
Duo/Kolaborasi/Grup Terbaik
Ari Lasso & Bunga Citra Lestari / Aku dan Dirimu (The Best Of)
GIGI / Nakal (Peace, Love ‘n Respect)
Letto / Sebelum Cahaya (Don’t Make Me Sad)
Peterpan / Dibalik Awan (Hari Yang Cerah….)
Ungu / Kekasih Gelapku (Untukmu Selamanya)
Lagu Terbaik
11 Januari / Dewa Bujana & Armand Maulana (GIGI)
Andai Ku Tahu / Pasha (Ungu)
I’m Sorry Goodbye / Melly (Krisdayanti)
Kekasih Gelapku / Enda (Ungu)
Sebelum Cahaya / Noe & Cornel (Letto)
Produser / Penata Musik Terbaik
11 Januari / Armand Maulana, Thomas Ramdhan & Gusti Hendy (GIGI)
Andai Ku Tahu / Pasha, Oncy, Enda, Rowman & Makki (Ungu)
Dibalik Awan / Ariel, Reza, Uki & Loekman (Peterpan)
I’m Sorry Goodbye / Anto Hoed & Melly (Krisdayanti)
Luluh / Irfan (Samsons)
Sebelum Cahaya / Patuh, Arian, Noe, Dedi (Letto)
Album Terbaik
50 : 50 / Iwan Fals (Indrawati Widjaja – Musica Studios)
Breaktrhu (English Version) / Nidji (Noey, Capung,Indrawati Widjaja – Musica Studios)
Gita Gutawa / Gita Gutawa (Erwin Gutawa – SBME)
Hari Yang Cerah…. / Peterpan (Noey, Capung - Musica Studios)
Peace, Love ‘n Respect / GIGI (Armand Maulana, Dewa Bujana, Thomas Ramdhan, Gusti Hendy – SBME)
Surgamu / Ungu (Krisna J. Sandrach, Ungu – Trinity Optima)
BIDANG ROCK
Artis Solo Pria / Wanita Rock Terbaik
Aby / Tuhan Kirim Kamu (Ost. D’ Bijis)
Izzy / Kamu Nyata (Ost. D’ Bijis)
Melanie Subono / Gua Rock n Roll (My Self)
Malenie Subono / Lagi Gampang (My Self)
Duo / Kolaborasi / Grup Rock Terbaik
Andra & The Backbone / Musnah (Andra & The Backbone)
Padi / Sang Penghibur (Tak Hanya Diam)
Pas Band / Gladiator ( The Best Of)
Slank Featuring Nirina / Pandangan Pertama (Ost. Get Married)
The Rock / Munajat Cinta (Master Mister Ahmad Dhani)
Album Rock Terbaik
Andra & The Backbone / Andra & The Backbone (Arnel Affandi, Andra Ramadhan – EMI Music Indonesia)
Master Mister Ahmad Dhani / The Rock (Ahmad Dhani - EMI Music Indonesia)
Slow But Sure / Slank (Slank Rec – Virgo Ramayana)
Tak Hanya Diam / Padi (Piyu, Jan Djuhana – Sony BMG Music Entertainment)
Top Up / Nidji (Noey, Capung, Indrawati Widjaja – Musica Studios)
BIDANG ALTERNATIVE
Karya Produksi Alternative Terbaik
Efek Rumah Kaca / Cinta Melulu (Efek Rumah Kaca) ( Paviliun Records)
Mocca / The Best Thing (Colours) (Ari ‘Aru’, Mocca – Ffwd Records)
Santamonica / Anais Lullaby (Todays Of Yesterday) (Joseph Saryuf)
Ubiet / (Cerke) (Tony Prabowo – Musikita Records)
White Shoes & The Couples Company / Aksi Kucing (Skenario Masa Muda) (Akasara Records)
BIDANG RHYTHM & BLUES
Karya Produksi R&B Terbaik
Dewi Sandra / Bukan Salah Diriku (RRP – Universal Music Ind.)
Maliq & D’Essentials / Heaven (Eki Puradiredja, A. Puradiredja – Swara Bumi – Warner Music Ind.)
Ressa Herlambang / Janji Putih ( Ressa Herlambang – Sony BMG Music Entertainment)
Tofu / Takkan (Iso Eddy – Sony BMG Music Entertainment)
Tompi / Salahkah (E_Motion Rnt – RPM)
BIDANG RAP
Karya Produksi Rap Terbaik
Bondan & F2B / Kroncong Protol (Jan Djuhana, Bondan Prakoso - Sony BMG Music Entertainment)
Daviuz / Gong Xi Fat Cai (Tori S - AIM Rec – Aquarius)
Gunkz / Alien (Andika Naliputra – EMI Music Indonesia)
Neo / Boss (AIM Rec – Aquarius)
Soul Id / Ini Rindu (Rizky Rekordz – Universal Music Ind.)
BIDANG DANCE / ELECTRONIC
Karya Produksi Dance / Electronic Terbaik
Agrikulture / Gosip (Agrikulture – Aquarius)
Andezz / Pergi ( Cat 2 Records)
David Fanreza / E.G.P. (Emang Gua Pikirin) (Maheswara)
DJ Rommy / Unity In Diversity (Dj Romy – Platinium Records)
Melly Featuring BBB / Let’s Dance Together (Anto Hoed – Aquiarius)
BIDANG REGGAE
Karya Produksi Reggae Terbaik
Iwan Fals / Mabok cinta (Indrawati Widjaja – Musica Studios)
Ras Muhammad / Musik Reggae Ini ( Mohamad Edgar – Jah Star Records)
Slank / Slalu Begitu (Slank Records – Virgo Ramayana Records)
Souljah / Bersamamu (Souljah – Offbeat Music)
Tipe X / Kamu Penipu (MS Aji, Tipe X – PopsMusik – Aquarius)
BIDANG KOLABORASI
Karya Produksi Kolaborasi Terbaik
Ari Lasso & Bunga Citra Lestari / Aku Dan Dirimu (Ari Lasso – Aquarius)
Harvey Malaihollo & Dian PP / Aku Sadari (Seno M. Hardjo, Target Pop – RPM)
Melly & Andhika / Butterfly (Anto Hoed, Melly – Aquarius)
Musisi Jalanan & GIGI / Ikan Laut (Jan Djuhana - Sony BMG Music Entertainment)
Slank Featuring Nirina / Pandangan Pertama (Slank Records – Virgo Ramayana Records)
BIDANG PENUNJANG PRODUKSI
Produser Rekaman Terbaik
Andra & The Backbone / Arnel Affandi, Andra Ramadhan – EMI Music Indonesia (Andra & The Backbone)
Cinta Pertama / Arie S. Widjaja – Aquarius (Bunga Citra Lestari)
Gita Gutawa / Erwin Gutawa - Sony BMG Music Entertainment (Gita Gutawa)
Hari Yang Cerah…. / Noey, Capung – Musica Studios (Peterpan)
Peace, Love ‘n Respect / Armand, Budjana, Thomas, Hendy - Sony BMG Music Entertainment (GIGI)
Grafis Desain Terbaik
Don’t Make Me Sad / Agustinus Supredo, mocko feedback VGA (Letto)
Sahabat (Selamanya) / Just_ibn (Aikon)
Slow But Sure / Dj Brique, Bembeng (Slank)
Tak Hanya Diam / Udisain (Padi)
Colours / Ryoichi, Indra (Mocca)
Peramu Rekam Terbaik
11 Januari / Stephan Santoso (GIGI)
Aku Tak Mau Sendiri / Tommy (Bunga Citra Lestari)
Bersama Bintang / Eko Sulistyo (Drive)
Bukan Permainan / Eko Sulistyo (Gita Gutawa)
Musnah / Don I Bart, Edot “ Edit, Andra & The Backbone (Andra & The Backbone)
BIDANG UMUM (BEST OF THE BEST)
Pendatang Baru Terbaik
Gita Gutawa / Gita Gutawa (Gita Gutawa)
Drive / Tak Terbalas (Esok Lebih Baik)
D’Cinnamons / Ku Yakin Cinta (Good Morning)
Bibus / Bukan Pacarmu (Love Love Love)
The S.I.G.I.T. / Horse (Visible Idea Of Perfection)
Album Terbaik
Gita Gutawa / Gita Gutawa (Erwin Gutawa - Sony BMG Music Entertainment)
Peace, Love ‘n Respect / GIGI (Armand, Budjana, Thomas, Hendy - Sony BMG Music Entertainment)
Andra & The Backbone / Andra & The Backbone (Arnel Affandi, Andra Ramadhan – EMI Music Indonesia)
Tak Hanya Diam / Padi (Piyu, Jan Djuhana - Sony BMG Music Entertainment)
Top Up / Nidji (Noey, Capung, Indrawati Widjaja – Musica Studios)
Karya Produksi Terbaik
11 Januari / GIGI (Armand, Budjana, Thomas, Hendy - Sony BMG Music Entertainment)
Andai Ku Tahu / Ungu ( Krisna J. Sandrach, Ungu – Trinity Optima)
Bersama Bintang / Drive (Piyu, E-Motion Ent – RPM)
Biarlah / Nidji (Noey, Capung, Indrawati Widjaja – Musica Studios)
Bukan Permainan / Gita Gutawa ( Erwin Gutawa - Sony BMG Music Entertainment)
NB: Kategori nominasi di atas hanya sebagian saja. Kalau mau lengkap, silakah Anda baca sendiri majalah Rolling Stone Indonesia edisi April 2008. Oke?
Artis Solo Wanita Terbaik
Astrid / Jadikan Aku Yang Kedua (Cilapop 2006)
Bunga Citra Lestari / Aku Tak Mau Sendiri (Cinta Pertama)
Gita Gutawa / Bukan Permainan (Gita Gutawa)
Melly / Gantung (Mindnsoul)
Rossa / Ayat Ayat Cinta (Ost. Ayat Ayat Cinta)
Artis Solo Pria Terbaik
Ari Lasso / Cinta Terakhir (Selalu Ada)
Glenn Fredly / Kisah Yang Salah (Happy Sunday)
Ihsan / Bunga (Karena Aku Lelaki) (The Winner)
Iwan Fals / Masih Bisa Cinta (50:50)
Rio Febrian / Jenuh (Rio F3brian)
Duo/Kolaborasi/Grup Terbaik
Ari Lasso & Bunga Citra Lestari / Aku dan Dirimu (The Best Of)
GIGI / Nakal (Peace, Love ‘n Respect)
Letto / Sebelum Cahaya (Don’t Make Me Sad)
Peterpan / Dibalik Awan (Hari Yang Cerah….)
Ungu / Kekasih Gelapku (Untukmu Selamanya)
Lagu Terbaik
11 Januari / Dewa Bujana & Armand Maulana (GIGI)
Andai Ku Tahu / Pasha (Ungu)
I’m Sorry Goodbye / Melly (Krisdayanti)
Kekasih Gelapku / Enda (Ungu)
Sebelum Cahaya / Noe & Cornel (Letto)
Produser / Penata Musik Terbaik
11 Januari / Armand Maulana, Thomas Ramdhan & Gusti Hendy (GIGI)
Andai Ku Tahu / Pasha, Oncy, Enda, Rowman & Makki (Ungu)
Dibalik Awan / Ariel, Reza, Uki & Loekman (Peterpan)
I’m Sorry Goodbye / Anto Hoed & Melly (Krisdayanti)
Luluh / Irfan (Samsons)
Sebelum Cahaya / Patuh, Arian, Noe, Dedi (Letto)
Album Terbaik
50 : 50 / Iwan Fals (Indrawati Widjaja – Musica Studios)
Breaktrhu (English Version) / Nidji (Noey, Capung,Indrawati Widjaja – Musica Studios)
Gita Gutawa / Gita Gutawa (Erwin Gutawa – SBME)
Hari Yang Cerah…. / Peterpan (Noey, Capung - Musica Studios)
Peace, Love ‘n Respect / GIGI (Armand Maulana, Dewa Bujana, Thomas Ramdhan, Gusti Hendy – SBME)
Surgamu / Ungu (Krisna J. Sandrach, Ungu – Trinity Optima)
BIDANG ROCK
Artis Solo Pria / Wanita Rock Terbaik
Aby / Tuhan Kirim Kamu (Ost. D’ Bijis)
Izzy / Kamu Nyata (Ost. D’ Bijis)
Melanie Subono / Gua Rock n Roll (My Self)
Malenie Subono / Lagi Gampang (My Self)
Duo / Kolaborasi / Grup Rock Terbaik
Andra & The Backbone / Musnah (Andra & The Backbone)
Padi / Sang Penghibur (Tak Hanya Diam)
Pas Band / Gladiator ( The Best Of)
Slank Featuring Nirina / Pandangan Pertama (Ost. Get Married)
The Rock / Munajat Cinta (Master Mister Ahmad Dhani)
Album Rock Terbaik
Andra & The Backbone / Andra & The Backbone (Arnel Affandi, Andra Ramadhan – EMI Music Indonesia)
Master Mister Ahmad Dhani / The Rock (Ahmad Dhani - EMI Music Indonesia)
Slow But Sure / Slank (Slank Rec – Virgo Ramayana)
Tak Hanya Diam / Padi (Piyu, Jan Djuhana – Sony BMG Music Entertainment)
Top Up / Nidji (Noey, Capung, Indrawati Widjaja – Musica Studios)
BIDANG ALTERNATIVE
Karya Produksi Alternative Terbaik
Efek Rumah Kaca / Cinta Melulu (Efek Rumah Kaca) ( Paviliun Records)
Mocca / The Best Thing (Colours) (Ari ‘Aru’, Mocca – Ffwd Records)
Santamonica / Anais Lullaby (Todays Of Yesterday) (Joseph Saryuf)
Ubiet / (Cerke) (Tony Prabowo – Musikita Records)
White Shoes & The Couples Company / Aksi Kucing (Skenario Masa Muda) (Akasara Records)
BIDANG RHYTHM & BLUES
Karya Produksi R&B Terbaik
Dewi Sandra / Bukan Salah Diriku (RRP – Universal Music Ind.)
Maliq & D’Essentials / Heaven (Eki Puradiredja, A. Puradiredja – Swara Bumi – Warner Music Ind.)
Ressa Herlambang / Janji Putih ( Ressa Herlambang – Sony BMG Music Entertainment)
Tofu / Takkan (Iso Eddy – Sony BMG Music Entertainment)
Tompi / Salahkah (E_Motion Rnt – RPM)
BIDANG RAP
Karya Produksi Rap Terbaik
Bondan & F2B / Kroncong Protol (Jan Djuhana, Bondan Prakoso - Sony BMG Music Entertainment)
Daviuz / Gong Xi Fat Cai (Tori S - AIM Rec – Aquarius)
Gunkz / Alien (Andika Naliputra – EMI Music Indonesia)
Neo / Boss (AIM Rec – Aquarius)
Soul Id / Ini Rindu (Rizky Rekordz – Universal Music Ind.)
BIDANG DANCE / ELECTRONIC
Karya Produksi Dance / Electronic Terbaik
Agrikulture / Gosip (Agrikulture – Aquarius)
Andezz / Pergi ( Cat 2 Records)
David Fanreza / E.G.P. (Emang Gua Pikirin) (Maheswara)
DJ Rommy / Unity In Diversity (Dj Romy – Platinium Records)
Melly Featuring BBB / Let’s Dance Together (Anto Hoed – Aquiarius)
BIDANG REGGAE
Karya Produksi Reggae Terbaik
Iwan Fals / Mabok cinta (Indrawati Widjaja – Musica Studios)
Ras Muhammad / Musik Reggae Ini ( Mohamad Edgar – Jah Star Records)
Slank / Slalu Begitu (Slank Records – Virgo Ramayana Records)
Souljah / Bersamamu (Souljah – Offbeat Music)
Tipe X / Kamu Penipu (MS Aji, Tipe X – PopsMusik – Aquarius)
BIDANG KOLABORASI
Karya Produksi Kolaborasi Terbaik
Ari Lasso & Bunga Citra Lestari / Aku Dan Dirimu (Ari Lasso – Aquarius)
Harvey Malaihollo & Dian PP / Aku Sadari (Seno M. Hardjo, Target Pop – RPM)
Melly & Andhika / Butterfly (Anto Hoed, Melly – Aquarius)
Musisi Jalanan & GIGI / Ikan Laut (Jan Djuhana - Sony BMG Music Entertainment)
Slank Featuring Nirina / Pandangan Pertama (Slank Records – Virgo Ramayana Records)
BIDANG PENUNJANG PRODUKSI
Produser Rekaman Terbaik
Andra & The Backbone / Arnel Affandi, Andra Ramadhan – EMI Music Indonesia (Andra & The Backbone)
Cinta Pertama / Arie S. Widjaja – Aquarius (Bunga Citra Lestari)
Gita Gutawa / Erwin Gutawa - Sony BMG Music Entertainment (Gita Gutawa)
Hari Yang Cerah…. / Noey, Capung – Musica Studios (Peterpan)
Peace, Love ‘n Respect / Armand, Budjana, Thomas, Hendy - Sony BMG Music Entertainment (GIGI)
Grafis Desain Terbaik
Don’t Make Me Sad / Agustinus Supredo, mocko feedback VGA (Letto)
Sahabat (Selamanya) / Just_ibn (Aikon)
Slow But Sure / Dj Brique, Bembeng (Slank)
Tak Hanya Diam / Udisain (Padi)
Colours / Ryoichi, Indra (Mocca)
Peramu Rekam Terbaik
11 Januari / Stephan Santoso (GIGI)
Aku Tak Mau Sendiri / Tommy (Bunga Citra Lestari)
Bersama Bintang / Eko Sulistyo (Drive)
Bukan Permainan / Eko Sulistyo (Gita Gutawa)
Musnah / Don I Bart, Edot “ Edit, Andra & The Backbone (Andra & The Backbone)
BIDANG UMUM (BEST OF THE BEST)
Pendatang Baru Terbaik
Gita Gutawa / Gita Gutawa (Gita Gutawa)
Drive / Tak Terbalas (Esok Lebih Baik)
D’Cinnamons / Ku Yakin Cinta (Good Morning)
Bibus / Bukan Pacarmu (Love Love Love)
The S.I.G.I.T. / Horse (Visible Idea Of Perfection)
Album Terbaik
Gita Gutawa / Gita Gutawa (Erwin Gutawa - Sony BMG Music Entertainment)
Peace, Love ‘n Respect / GIGI (Armand, Budjana, Thomas, Hendy - Sony BMG Music Entertainment)
Andra & The Backbone / Andra & The Backbone (Arnel Affandi, Andra Ramadhan – EMI Music Indonesia)
Tak Hanya Diam / Padi (Piyu, Jan Djuhana - Sony BMG Music Entertainment)
Top Up / Nidji (Noey, Capung, Indrawati Widjaja – Musica Studios)
Karya Produksi Terbaik
11 Januari / GIGI (Armand, Budjana, Thomas, Hendy - Sony BMG Music Entertainment)
Andai Ku Tahu / Ungu ( Krisna J. Sandrach, Ungu – Trinity Optima)
Bersama Bintang / Drive (Piyu, E-Motion Ent – RPM)
Biarlah / Nidji (Noey, Capung, Indrawati Widjaja – Musica Studios)
Bukan Permainan / Gita Gutawa ( Erwin Gutawa - Sony BMG Music Entertainment)
NB: Kategori nominasi di atas hanya sebagian saja. Kalau mau lengkap, silakah Anda baca sendiri majalah Rolling Stone Indonesia edisi April 2008. Oke?
Kamis, 27 Maret 2008
Semoga Memang Hanya Situs Porno yang akan Diblokir…
Pemerintah Indonesia cukup sibuk akhir-akhir ini. Setelah ribut-ribut BLBI, kasus jaksa, dan penolakan calon gubernur BI oleh DPR, kini pemerintah meluncurkan “program sampingan”: pemblokiran situs-situs porno. Rencananya, pemblokiran ini akan dilakukan pada bulan April 2008. Anda dapat membaca beritanya, antara lain, di sini: http://www.chip.co.id/special-reports/wawancara-khusus-dengan-menkominfo-m-nuh.html (wawancara dengan majalah Chip-Online)
Ini menarik. Entah dari mana ide tersebut datang, rencana ini seyogianya ditanggapi secara positif. Bahkan, orang bertanya-tanya: mengapa baru sekarang?
Situs porno sudah hadir semenjak internet muncul di Indonesia pada awal atau pertengahan dasawarsa 1990-an. Situs tersebut memang sangat “menarik”, tetapi juga “mengganggu”. Ia “menarik” terutama bagi mereka yang menggemari “ketelanjangan” sebagai hiburan – apakah “ketelanjangan” sebagai seni dapat dicari dalam situs porno, itu adalah lain soal (saya agak meragukannya karena kedua “ketelanjangan” itu memiliki dimensi yang berbeda). Dan, tentu saja situs itu “mengganggu”. Saya bukan seorang moralis atau semacam penganut agama yang fanatik dan buta (walaupun itu ada sisi benarnya juga). Namun, kategori “mengganggu” di sini lebih bernuansa edukatif, ketimbang moral.
“Ketelanjangan” begitu saja merupakan gejala yang normal dalam hidup manusia. Namun, tidak ada yang “begitu saja” di bawah langit kapitalisme. Kapitalisme – entah apa Anda artikan kata ini – siap mengubah apa saja yang di bawah kolongnya menjadi segepok uang, atau setidaknya setumpuk kepentingan. “Ketelanjangan” juga menjadi salah satu korbannya. Tidak ada yang dapat “telanjang” dengan bebas, murni, dan innocent di bawah langit kapitalisme. “Telanjang” selalu berarti uang, keuntungan, posisi, dan kepentingan di bawah langit kapitalisme.
Coba pikirkan: si model yang difoto telanjang mendapat uang (tentu, ia tidak akan mau difoto telanjang jika ada pekerjaan lain yang lebih memadai dengan penghasilan yang kurang lebih sama). Si fotografer – dengan sedikit dibumbui seni dan hobi/minat – pasti juga tertarik mengambil gambar si model karena… dibayar. Tidak ada fotografer yang menjepret kameranya tanpa diiming-imingi akan dibayar. Si pemilik situs tentunya bukan orang bodoh yang mau saja memajang hasil jepretan si fotografer jika tanpa keuntungan.
Logika di atas berlaku untuk “media porno” mana pun: video atau yang lain. Semua bergerak karena ada “invisible hand”, yaitu sesuatu yang menggerakkan roda uang berputar, supaya setidaknya memperoleh uang yang sedikit berlebih (kalau perlu lebihnya banyak).
“Ketelanjangan” sudah menjadi komoditas: ia bisa diekspor, diimpor, diperbanyak, dibakukan, dan diorganisir sedemikian rupa sehingga mudah diperoleh, massal, dan instan. “Ketelanjangan” bukan lagi sesuatu yang alami dan innocent.
Rencana pemerintah sangatlah baik dan harus ditanggapi positif. Namun…
Namun, benarkah pemerintah akan konsisten dengan HANYA memblokir situs-situs porno. Di beberapa tempat, ada kekhawatiran bahwa pemerintah bisa saja dititipi oleh pihak-pihak tertentu untuk memblokir situs-situs lain juga. Situs-situs lain ini adalah – boleh jadi – situs-situs yang kritis terhadap pemerintah, situs-situs yang berisi forum diskusi yang sering mengkritik kebijakan pemerintah atau berisi diskusi yang cukup pans, entah masalah budaya, politik, agama, atau topik-topik lain.
Jika kekhawatiran ini terbukti, pemerintah benar-benar menghapuskan “ketelanjangan” lain yang masih tersisa, dan masih bersifat alami dan “innocent”, yaitu “ketelanjangan” dalam berbicara, berpendapat, dan beropini. Pemerintah sedang membunuh “ketelanjangan” yang fungsional, suatu “ketelanjangan” yang perlu dan pokok dalam sistem demokrasi seperti yang sering menjadi jargon dalam rapat-rapat politik berbagai partai di negeri ini.
Pemerintah seharusnya bisa mengajari rakyatnya untuk berpikir secara “telanjang”, terbuka, apa adanya, tanpa ditutupi, mengenai suatu pokok yang dipergumulkan. Rakyat punya hak bertanya, hak menjawab. Biarlah rakyat sendiri yang mendiskusikan masalah-masalah mereka, masalah-masalah yang mereka pergumulkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dapat berpikir kritis, atau setidaknya: mereka dapat dilatih untuk berpikir kritis. Itu adalah tanda masyarakat yang sehat dan dewasa; suatu masyarakat yang tidak takut dengan isu-isu, tetapi justru menanggai isu dengan pikiran dan diskusi yang terbuka.
Semoga pemerintah dapat membedakan: mana “ketelanjangan” yang perlu diberangus dan mana “ketelanjangan” yang perlu dalam kehidupan demokrasi yang sehat. Semoga…
Ini menarik. Entah dari mana ide tersebut datang, rencana ini seyogianya ditanggapi secara positif. Bahkan, orang bertanya-tanya: mengapa baru sekarang?
Situs porno sudah hadir semenjak internet muncul di Indonesia pada awal atau pertengahan dasawarsa 1990-an. Situs tersebut memang sangat “menarik”, tetapi juga “mengganggu”. Ia “menarik” terutama bagi mereka yang menggemari “ketelanjangan” sebagai hiburan – apakah “ketelanjangan” sebagai seni dapat dicari dalam situs porno, itu adalah lain soal (saya agak meragukannya karena kedua “ketelanjangan” itu memiliki dimensi yang berbeda). Dan, tentu saja situs itu “mengganggu”. Saya bukan seorang moralis atau semacam penganut agama yang fanatik dan buta (walaupun itu ada sisi benarnya juga). Namun, kategori “mengganggu” di sini lebih bernuansa edukatif, ketimbang moral.
“Ketelanjangan” begitu saja merupakan gejala yang normal dalam hidup manusia. Namun, tidak ada yang “begitu saja” di bawah langit kapitalisme. Kapitalisme – entah apa Anda artikan kata ini – siap mengubah apa saja yang di bawah kolongnya menjadi segepok uang, atau setidaknya setumpuk kepentingan. “Ketelanjangan” juga menjadi salah satu korbannya. Tidak ada yang dapat “telanjang” dengan bebas, murni, dan innocent di bawah langit kapitalisme. “Telanjang” selalu berarti uang, keuntungan, posisi, dan kepentingan di bawah langit kapitalisme.
Coba pikirkan: si model yang difoto telanjang mendapat uang (tentu, ia tidak akan mau difoto telanjang jika ada pekerjaan lain yang lebih memadai dengan penghasilan yang kurang lebih sama). Si fotografer – dengan sedikit dibumbui seni dan hobi/minat – pasti juga tertarik mengambil gambar si model karena… dibayar. Tidak ada fotografer yang menjepret kameranya tanpa diiming-imingi akan dibayar. Si pemilik situs tentunya bukan orang bodoh yang mau saja memajang hasil jepretan si fotografer jika tanpa keuntungan.
Logika di atas berlaku untuk “media porno” mana pun: video atau yang lain. Semua bergerak karena ada “invisible hand”, yaitu sesuatu yang menggerakkan roda uang berputar, supaya setidaknya memperoleh uang yang sedikit berlebih (kalau perlu lebihnya banyak).
“Ketelanjangan” sudah menjadi komoditas: ia bisa diekspor, diimpor, diperbanyak, dibakukan, dan diorganisir sedemikian rupa sehingga mudah diperoleh, massal, dan instan. “Ketelanjangan” bukan lagi sesuatu yang alami dan innocent.
Rencana pemerintah sangatlah baik dan harus ditanggapi positif. Namun…
Namun, benarkah pemerintah akan konsisten dengan HANYA memblokir situs-situs porno. Di beberapa tempat, ada kekhawatiran bahwa pemerintah bisa saja dititipi oleh pihak-pihak tertentu untuk memblokir situs-situs lain juga. Situs-situs lain ini adalah – boleh jadi – situs-situs yang kritis terhadap pemerintah, situs-situs yang berisi forum diskusi yang sering mengkritik kebijakan pemerintah atau berisi diskusi yang cukup pans, entah masalah budaya, politik, agama, atau topik-topik lain.
Jika kekhawatiran ini terbukti, pemerintah benar-benar menghapuskan “ketelanjangan” lain yang masih tersisa, dan masih bersifat alami dan “innocent”, yaitu “ketelanjangan” dalam berbicara, berpendapat, dan beropini. Pemerintah sedang membunuh “ketelanjangan” yang fungsional, suatu “ketelanjangan” yang perlu dan pokok dalam sistem demokrasi seperti yang sering menjadi jargon dalam rapat-rapat politik berbagai partai di negeri ini.
Pemerintah seharusnya bisa mengajari rakyatnya untuk berpikir secara “telanjang”, terbuka, apa adanya, tanpa ditutupi, mengenai suatu pokok yang dipergumulkan. Rakyat punya hak bertanya, hak menjawab. Biarlah rakyat sendiri yang mendiskusikan masalah-masalah mereka, masalah-masalah yang mereka pergumulkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dapat berpikir kritis, atau setidaknya: mereka dapat dilatih untuk berpikir kritis. Itu adalah tanda masyarakat yang sehat dan dewasa; suatu masyarakat yang tidak takut dengan isu-isu, tetapi justru menanggai isu dengan pikiran dan diskusi yang terbuka.
Semoga pemerintah dapat membedakan: mana “ketelanjangan” yang perlu diberangus dan mana “ketelanjangan” yang perlu dalam kehidupan demokrasi yang sehat. Semoga…
Humor Orde Baru (1): Soeharto, Teolog Katolik yang Gagal
Dalam sejarah sampai sekarang (2008), Presiden Republik Indonesia pernah 3 kali bertemu dengan seorang paus. Bung Karno pada tahun akhir tahun 1950-an (atau awal 1960-an?) berkunjung ke Vatikan dan bertemu dengan Paus Yohanes XXIII, sementara Presiden Soeharto bertemu dengan Paus Paulus VI di Jakarta pada tahun 1970 dan dengan Paus Yohanes Paulus II di Jakarta pada tahun 1989.
Konon, pada pertemuan pertamanya dengan Paus Paulus VI di Jakarta pada tahun 1970, Soeharto sempat tidak bisa menjawab suatu pertanyaan, sehingga Presiden Republik Indonesia tersebut kabarnya sangat malu – apalagi hal ini sempat tersebar di antara anggota rombongan dari Vatikan.
Kini, dalam rangka kedatangan Paus Yohanes Paulus II ke Jakarta pada bulan Oktober 1989, ia sudah siap-siap untuk melakukan revenge atas “nama buruk” yang sempat diterimanya 19 tahun lalu. Kali ini, Soeharto mau menyombongkan pengetahuan Katoliknya di hadapan Paus. Ia sudah meminta Mgr. Leo Soekoto SJ – Uskup Jakarta, sudah almarhum – agar membantunya bila ia kesulitan. Persiapan dilakukan dengan membuat alat komunikasi wireless yang tak terlihat (Jadi, Mgr. Leo bisa mendengar pertanyaan paus dari jarak jauh dan langsung memberi tahu Soeharto mengenai jawabannya).
Sebenarnya Paus sangat enggan dengan hal ini, karena ia ke Indonesia hanya untuk menjumpai umat Katolik di negeri ini dan menikmati sedikit keramahtamahan warga Indonesia. Namun, Soeharto memohon dengan sangat agar Sri Paus dari Polandia ini sudi untuk mengetes pengetahuan Katolik Soeharto, walaupun Presiden RI ini bukan Katolik.
Akhirnya, Sri Paus setuju walaupun tetap tidak nyaman dengan hal ini. Setelah berbincang-bincang mengenai banyak hal, akhirnya, sampailah mereka di penghujung acara pertemuan 4 mata tersebut.
“Silaken, Bapak Paus, boleh tanya apa saja tentang iman Katolik, kepada saya,” ujar Soeharto dengan kalem dan sambil senyum-senyum seperti biasanya.
“Yaaaah…. Kalau ini memang maunya Anda. Anggap saja ini semacam selingan santai setelah perbincangan serius kita tadi,” kata Sri Paus.
“Iya, iya. Silaken, jangan sungkan-sungkan!”
“Oke. Pertanyaan pertama: Siapa nama rasul yang menjadi ketua dari 12 rasul dan menjadi paus pertama?”
“Petrus,” jawab Soeharto tegas setelah Mgr. Leo Soekoto yang berada di ruang samping memberikan jawaban bocoran. Soeharto tampak yakin dengan jawabannya.
“Benar. Sekarang pertanyaan kedua: Siapa nama salah seorang rasul Yesus yang menyangkal Yesus tiga kali?”
Soeharto agak terbatuk-batuk sedikit, sebelum menjawab: “Petrus.” Ia tampak agak bingung.
“Wah, Anda hebat sekali, walaupun bukan Katolik,” kata Paus. “Kini pertanyaan terakhir: Siapa nama rasul Yesus yang menjadi batu karang gereja dan diserahi kunci kerajaan surga?”
Soeharto terloncat dari tempat duduknya sambil berteriak: “Ini gila. Anda mau mempermainkan saya, ya, Monsiyur?”
“Ada apa, Mr. Presiden?” Sri Paus bertanya dengan kaget melihat Presiden Republik Indonesia tersebut jungkir balik.
“Bapak Paus yang terhormat, bagaimana salah seorang uskup Anda berani-beraninya mempermainkan saya di depan Anda? Coba dengar apa yang dia bilang. Ketua para rasul dan paus pertama adalah Petrus. Bolehlah. Kemudian dia bilang, rasul yang menyangkal Yesus 3 kali adalah Petrus juga. Aneh. Akhirnya, yang paling gila, setelah dia bilang begitu, mengapa dia ngotot bahwa Petrus juga yang menjadi batu karang gereja dan diserahi kunci kerajaan surga. Saya, Soeharto, tidak dapat dibohongi!”***
Konon, pada pertemuan pertamanya dengan Paus Paulus VI di Jakarta pada tahun 1970, Soeharto sempat tidak bisa menjawab suatu pertanyaan, sehingga Presiden Republik Indonesia tersebut kabarnya sangat malu – apalagi hal ini sempat tersebar di antara anggota rombongan dari Vatikan.
Kini, dalam rangka kedatangan Paus Yohanes Paulus II ke Jakarta pada bulan Oktober 1989, ia sudah siap-siap untuk melakukan revenge atas “nama buruk” yang sempat diterimanya 19 tahun lalu. Kali ini, Soeharto mau menyombongkan pengetahuan Katoliknya di hadapan Paus. Ia sudah meminta Mgr. Leo Soekoto SJ – Uskup Jakarta, sudah almarhum – agar membantunya bila ia kesulitan. Persiapan dilakukan dengan membuat alat komunikasi wireless yang tak terlihat (Jadi, Mgr. Leo bisa mendengar pertanyaan paus dari jarak jauh dan langsung memberi tahu Soeharto mengenai jawabannya).
Sebenarnya Paus sangat enggan dengan hal ini, karena ia ke Indonesia hanya untuk menjumpai umat Katolik di negeri ini dan menikmati sedikit keramahtamahan warga Indonesia. Namun, Soeharto memohon dengan sangat agar Sri Paus dari Polandia ini sudi untuk mengetes pengetahuan Katolik Soeharto, walaupun Presiden RI ini bukan Katolik.
Akhirnya, Sri Paus setuju walaupun tetap tidak nyaman dengan hal ini. Setelah berbincang-bincang mengenai banyak hal, akhirnya, sampailah mereka di penghujung acara pertemuan 4 mata tersebut.
“Silaken, Bapak Paus, boleh tanya apa saja tentang iman Katolik, kepada saya,” ujar Soeharto dengan kalem dan sambil senyum-senyum seperti biasanya.
“Yaaaah…. Kalau ini memang maunya Anda. Anggap saja ini semacam selingan santai setelah perbincangan serius kita tadi,” kata Sri Paus.
“Iya, iya. Silaken, jangan sungkan-sungkan!”
“Oke. Pertanyaan pertama: Siapa nama rasul yang menjadi ketua dari 12 rasul dan menjadi paus pertama?”
“Petrus,” jawab Soeharto tegas setelah Mgr. Leo Soekoto yang berada di ruang samping memberikan jawaban bocoran. Soeharto tampak yakin dengan jawabannya.
“Benar. Sekarang pertanyaan kedua: Siapa nama salah seorang rasul Yesus yang menyangkal Yesus tiga kali?”
Soeharto agak terbatuk-batuk sedikit, sebelum menjawab: “Petrus.” Ia tampak agak bingung.
“Wah, Anda hebat sekali, walaupun bukan Katolik,” kata Paus. “Kini pertanyaan terakhir: Siapa nama rasul Yesus yang menjadi batu karang gereja dan diserahi kunci kerajaan surga?”
Soeharto terloncat dari tempat duduknya sambil berteriak: “Ini gila. Anda mau mempermainkan saya, ya, Monsiyur?”
“Ada apa, Mr. Presiden?” Sri Paus bertanya dengan kaget melihat Presiden Republik Indonesia tersebut jungkir balik.
“Bapak Paus yang terhormat, bagaimana salah seorang uskup Anda berani-beraninya mempermainkan saya di depan Anda? Coba dengar apa yang dia bilang. Ketua para rasul dan paus pertama adalah Petrus. Bolehlah. Kemudian dia bilang, rasul yang menyangkal Yesus 3 kali adalah Petrus juga. Aneh. Akhirnya, yang paling gila, setelah dia bilang begitu, mengapa dia ngotot bahwa Petrus juga yang menjadi batu karang gereja dan diserahi kunci kerajaan surga. Saya, Soeharto, tidak dapat dibohongi!”***
Rabu, 19 Maret 2008
Mengapa Saya Bukan Ateis? (1)
Saya merasa ini adalah suatu diskusi yang cukup baik antara seorang ateis (BADU) dan seorang teis (AGUS). Anda barangkali akan menilai dialog ini kabur, tidak adil dan berat sebelah bagi pihak tertentu, tetapi saya menjadikannya sebagai salah satu alasan mengapa saya bukan ateis – atau lebih tepat: menjadi ateis adalah posisi yang kurang/tidak dapat dipertahankan secara rasional (bagi yang ateis, dengan segala hormat, saya tetap menghormati pandangan Anda. Kita tetap bersaudara :) Oke? Okelah...)
BADU: “Gus, coba kamu buktikan bahwa Tuhan itu memang ada...”
AGUS: "Kamu tanya seperti itu. Bagi saya, Tuhan itu ada karena buktinya banyak."
BADU: "Apa contohnya?".
AGUS: " Kamu lihat bulan? Siapa yang menciptakan bulan? Saya, karena percaya Tuhan, percaya bahwa Tuhanlah yang menciptakan bulan."
BADU: [menyanggah dengan berbagai macam cara -- biasanya ilmiah -- mengenai proses terjadinya bulan].
AGUS: "Lihat. Saya bisa saja mengatakan bahwa big bang dibuat oleh Tuhan. Tapi kamu pasti akan membantah lagi. Intinya, bukti dan contoh apapun pasti kamu tidak akan percaya. Jadi, aku tidak akan berusaha membuktikan Tuhan, tetapi kamulah yang harus membuktikan: mengapa kita seharusnya tidak percaya pada keberadaan Tuhan?"
BADU: "Bukti keberadaan Tuhan tidak lengkap, tidak cukup, dan tidak masuk akal."
AGUS: "Kalau begitu, buktikan sebaliknya: bahwa bukti ketidakberadaan Tuhan lebih masuk akal, lebih lengkap."
BADU: "Saya tidak mau membuktikan sesuatu yang tidak ada."
AGUS: "Memang. Kamu tidak perlu membuktikan keberadaan Tuhan. Kamu cukup membuktikan ketidakberadaan-Nya. Tunjukkan dengan akal dan pancaindramu bahwa Dia memang tidak ada."
BADU: "Tuhan memang tidak ada. Itu sudah cukup."
AGUS: "Ini tidak fair. Ketika saya mencoba membuktikan keberadaan Tuhan, saya mencoba menunjukkan bukti -- walaupun kamu akhirnya tidak percaya. Masak' kamu gak mau menyebutkan satu bukti pun tentang ketidakberadaan Tuhan? Ayo buktikan!"
BADU: "Oke. Tuhan tidak ada, karena tidak bisa dilihat."
AGUS: "Tidak bisa dilihat oleh Anda maksudnya?"
BADU: "Banyak yang tidak bisa melihatnya."
AGUS: "Tetapi ada orang yang mengaku pernah dan bisa melihatnya. Para mistikus mengaku pernah 'melihat' dan 'mengalami' Tuhan."
BADU: "Itu hanya gejala psikologis saja."
AGUS: "Tapi faktanya: mereka mengaku 'mengalami' dan 'melihat' Tuhan dalam satu dan lain cara. Jadi, alasan 'tidak dapat dilihat' sendiri tidak kuat karena pengertian 'tidak dapat melihat' sama psikologisnya dengan pengertian 'dapat melihat'. Tolong, cari bukti yang berlaku untuk semua orang. Ada orang yang mengaku pernah dan bisa melihat Tuhan, ada yang tidak. Ini bukan bukti."
BADU: "Tapi 'tidak dapat melihat' yang saya maksud adalah 'tidak dapat melihat' secara fisik."
AGUS: "Saya tidak pernah dan tidak dapat melihat kakek buyut saya: dia tidak punya foto, kuburannya tidak ada yang tahu. Intinya, saya tidak pernah melihat dia secara fisik. Apa ini bukti bahwa kakek buyut saya tidak ada dan tidak pernah ada. Ayolah...cari bukti yang lebih kuat. Lagi pula argumen 'tidak dapat melihat/dilihat' hanya valid kalau mengandaikan kamu dapat melihat semua tempat yang ada di alam semesta ini. Ingat, sesuatu diandaikan dapat dilihat, kalau kita punya kesempatan untuk mencapai tempat keberadaan sesuatu tersebut. Boleh saja kamu bilang: Tuhan tidak ada. Saya bilang: Dia tidak ada.... memang... di bumi. Why? Selalu ada kemungkinan bahwa Tuhan ada si suatu pojok gelap di salah satu galaksi yang letaknya miliaran tahun cara dari bumi. Kamu harus pergi kesana untuk membuktikan bahwa Tuhan memang tidak ada di sana. Bagaimana?"
BADU: "Baik. Kita coba yang lain. Ini dia: konsep tentang Tuhan bertentangan dalam dirinya sendiri (contradictio in terminis). Contohnya: Tuhan tidak dapat membuat batu yang tidak dapat diangkatnya sendiri. Juga, Tuhan tidak mahakuasa karena tidak dapat menghilangkan penderitaan manusia, atau Tuhan tidak mahakasih karena ia membiarkan penderitaan manusia."
AGUS: "Itu konsep bukan? Konsep Tuhan selalu dapat dibuat dan diperbaiki, sama halnya dengan konsep dalam ilmu-ilmu lain. Tapi itu semua tidak dapat dijadikan bukti bahwa Tuhan tidak ada. Konsep tentang Tuhan boleh keliru dan tidak ada sama sekali, tetapi Tuhan tidak perlu konsep."
BADU: "Astaga!!! Kalau begitu, mengapa saya harus membuktikan sesuatu yang tidak dapat dikonsepkan?"
AGUS: "Justru itu, Ron. Ateisme-mu pun sebenarnya hanya konsep. Kalau Tuhan punya konsep, ketidakberadaan Tuhan pun punya konsep. Ayo, kamu punya kesempatan sekali lagi untuk membuktikan -- tanpa konsep -- ketidakberadaan Tuhan. Tunjuk suatu bukti yang rasional dan sesuai dengan pancaindra bahwa Tuhan tidak ada."
BADU: "Tuhan tidak ada...itu cukup rasional dan sesuai dengan pancaindra."
AGUS: "Oke. Kamu kelihatannya cukup intelek. Tahu metode ilmiah. Kamu tahu kalau metode ilmiah menggunakan hipotesis? Sebagai orang yang tidak percaya keberadaan Tuhan, bagaimana kalau hipotesis kamu adalah ini: Tuhan itu ada, sampai dia dibuktikan sebaliknya."
BADU: "Lho bukannya hal yang sama bisa saya katakan untuk kalian yang percaya Tuhan: hipotesisnya adalah 'Tuhan itu tidak ada, sampai dibuktikan sebaliknya."
AGUS: "Masalah itu sudah terpecahkan oleh kami orang beragama. Hipotesis: Tuhan tidak ada. Lalu setelah kami beriman, ini menjadi bukti bahwa hipotesis itu keliru: ternyata Tuhan memang ada. Sebagai orang beriman, saya boleh menggantungkan metode ilmiah saya pada iman saya. Sebaliknya, kamu tidak boleh menggantungkannya pada iman. Ingat, iman hanya menyangkut keberadaan Tuhan, bukan ketidakberadaan-Nya. Mana mungkin kalian orang ateis beriman pada 'ketidakberadaan Tuhan'? Kamu gak bisa bilang: 'saya tidak percaya pada keberadaan Tuhan, itu sudah cukup; saya cukup mengimaninya saja.' Itu posisi orang yang ber-Tuhan."
BADU: "Maksudnya?"
AGUS: "Ateisme adalah pilihan rasional dan logis. Orang gak bisa jadi ateis hanya karena alasan praktis. Seorang ateis dituntut untuk menjelaskan keateisannya secara nalar, logis, rasional. Ia tidak dapat 'beriman' membabi buta. Sebaliknya, orang beragama/ber-Tuhan dalam batas tertentu, boleh beriman tanpa mengetahui kelogisan atau kerasionalan imannya -- toh dia masih bisa selamat tanpa mengetahui kelogisan atau kerasionalan imannya. Tapi ateisme tidak. Pilihan menjadi ateis harus lebih dapat dipertanggungjawabkan secara intelek dan rasional. Kalau tidak, ateismenya akan runtuh dan terdengar omong kosong. Bagaimana?"
............[to be continued]
BADU: “Gus, coba kamu buktikan bahwa Tuhan itu memang ada...”
AGUS: "Kamu tanya seperti itu. Bagi saya, Tuhan itu ada karena buktinya banyak."
BADU: "Apa contohnya?".
AGUS: " Kamu lihat bulan? Siapa yang menciptakan bulan? Saya, karena percaya Tuhan, percaya bahwa Tuhanlah yang menciptakan bulan."
BADU: [menyanggah dengan berbagai macam cara -- biasanya ilmiah -- mengenai proses terjadinya bulan].
AGUS: "Lihat. Saya bisa saja mengatakan bahwa big bang dibuat oleh Tuhan. Tapi kamu pasti akan membantah lagi. Intinya, bukti dan contoh apapun pasti kamu tidak akan percaya. Jadi, aku tidak akan berusaha membuktikan Tuhan, tetapi kamulah yang harus membuktikan: mengapa kita seharusnya tidak percaya pada keberadaan Tuhan?"
BADU: "Bukti keberadaan Tuhan tidak lengkap, tidak cukup, dan tidak masuk akal."
AGUS: "Kalau begitu, buktikan sebaliknya: bahwa bukti ketidakberadaan Tuhan lebih masuk akal, lebih lengkap."
BADU: "Saya tidak mau membuktikan sesuatu yang tidak ada."
AGUS: "Memang. Kamu tidak perlu membuktikan keberadaan Tuhan. Kamu cukup membuktikan ketidakberadaan-Nya. Tunjukkan dengan akal dan pancaindramu bahwa Dia memang tidak ada."
BADU: "Tuhan memang tidak ada. Itu sudah cukup."
AGUS: "Ini tidak fair. Ketika saya mencoba membuktikan keberadaan Tuhan, saya mencoba menunjukkan bukti -- walaupun kamu akhirnya tidak percaya. Masak' kamu gak mau menyebutkan satu bukti pun tentang ketidakberadaan Tuhan? Ayo buktikan!"
BADU: "Oke. Tuhan tidak ada, karena tidak bisa dilihat."
AGUS: "Tidak bisa dilihat oleh Anda maksudnya?"
BADU: "Banyak yang tidak bisa melihatnya."
AGUS: "Tetapi ada orang yang mengaku pernah dan bisa melihatnya. Para mistikus mengaku pernah 'melihat' dan 'mengalami' Tuhan."
BADU: "Itu hanya gejala psikologis saja."
AGUS: "Tapi faktanya: mereka mengaku 'mengalami' dan 'melihat' Tuhan dalam satu dan lain cara. Jadi, alasan 'tidak dapat dilihat' sendiri tidak kuat karena pengertian 'tidak dapat melihat' sama psikologisnya dengan pengertian 'dapat melihat'. Tolong, cari bukti yang berlaku untuk semua orang. Ada orang yang mengaku pernah dan bisa melihat Tuhan, ada yang tidak. Ini bukan bukti."
BADU: "Tapi 'tidak dapat melihat' yang saya maksud adalah 'tidak dapat melihat' secara fisik."
AGUS: "Saya tidak pernah dan tidak dapat melihat kakek buyut saya: dia tidak punya foto, kuburannya tidak ada yang tahu. Intinya, saya tidak pernah melihat dia secara fisik. Apa ini bukti bahwa kakek buyut saya tidak ada dan tidak pernah ada. Ayolah...cari bukti yang lebih kuat. Lagi pula argumen 'tidak dapat melihat/dilihat' hanya valid kalau mengandaikan kamu dapat melihat semua tempat yang ada di alam semesta ini. Ingat, sesuatu diandaikan dapat dilihat, kalau kita punya kesempatan untuk mencapai tempat keberadaan sesuatu tersebut. Boleh saja kamu bilang: Tuhan tidak ada. Saya bilang: Dia tidak ada.... memang... di bumi. Why? Selalu ada kemungkinan bahwa Tuhan ada si suatu pojok gelap di salah satu galaksi yang letaknya miliaran tahun cara dari bumi. Kamu harus pergi kesana untuk membuktikan bahwa Tuhan memang tidak ada di sana. Bagaimana?"
BADU: "Baik. Kita coba yang lain. Ini dia: konsep tentang Tuhan bertentangan dalam dirinya sendiri (contradictio in terminis). Contohnya: Tuhan tidak dapat membuat batu yang tidak dapat diangkatnya sendiri. Juga, Tuhan tidak mahakuasa karena tidak dapat menghilangkan penderitaan manusia, atau Tuhan tidak mahakasih karena ia membiarkan penderitaan manusia."
AGUS: "Itu konsep bukan? Konsep Tuhan selalu dapat dibuat dan diperbaiki, sama halnya dengan konsep dalam ilmu-ilmu lain. Tapi itu semua tidak dapat dijadikan bukti bahwa Tuhan tidak ada. Konsep tentang Tuhan boleh keliru dan tidak ada sama sekali, tetapi Tuhan tidak perlu konsep."
BADU: "Astaga!!! Kalau begitu, mengapa saya harus membuktikan sesuatu yang tidak dapat dikonsepkan?"
AGUS: "Justru itu, Ron. Ateisme-mu pun sebenarnya hanya konsep. Kalau Tuhan punya konsep, ketidakberadaan Tuhan pun punya konsep. Ayo, kamu punya kesempatan sekali lagi untuk membuktikan -- tanpa konsep -- ketidakberadaan Tuhan. Tunjuk suatu bukti yang rasional dan sesuai dengan pancaindra bahwa Tuhan tidak ada."
BADU: "Tuhan tidak ada...itu cukup rasional dan sesuai dengan pancaindra."
AGUS: "Oke. Kamu kelihatannya cukup intelek. Tahu metode ilmiah. Kamu tahu kalau metode ilmiah menggunakan hipotesis? Sebagai orang yang tidak percaya keberadaan Tuhan, bagaimana kalau hipotesis kamu adalah ini: Tuhan itu ada, sampai dia dibuktikan sebaliknya."
BADU: "Lho bukannya hal yang sama bisa saya katakan untuk kalian yang percaya Tuhan: hipotesisnya adalah 'Tuhan itu tidak ada, sampai dibuktikan sebaliknya."
AGUS: "Masalah itu sudah terpecahkan oleh kami orang beragama. Hipotesis: Tuhan tidak ada. Lalu setelah kami beriman, ini menjadi bukti bahwa hipotesis itu keliru: ternyata Tuhan memang ada. Sebagai orang beriman, saya boleh menggantungkan metode ilmiah saya pada iman saya. Sebaliknya, kamu tidak boleh menggantungkannya pada iman. Ingat, iman hanya menyangkut keberadaan Tuhan, bukan ketidakberadaan-Nya. Mana mungkin kalian orang ateis beriman pada 'ketidakberadaan Tuhan'? Kamu gak bisa bilang: 'saya tidak percaya pada keberadaan Tuhan, itu sudah cukup; saya cukup mengimaninya saja.' Itu posisi orang yang ber-Tuhan."
BADU: "Maksudnya?"
AGUS: "Ateisme adalah pilihan rasional dan logis. Orang gak bisa jadi ateis hanya karena alasan praktis. Seorang ateis dituntut untuk menjelaskan keateisannya secara nalar, logis, rasional. Ia tidak dapat 'beriman' membabi buta. Sebaliknya, orang beragama/ber-Tuhan dalam batas tertentu, boleh beriman tanpa mengetahui kelogisan atau kerasionalan imannya -- toh dia masih bisa selamat tanpa mengetahui kelogisan atau kerasionalan imannya. Tapi ateisme tidak. Pilihan menjadi ateis harus lebih dapat dipertanggungjawabkan secara intelek dan rasional. Kalau tidak, ateismenya akan runtuh dan terdengar omong kosong. Bagaimana?"
............[to be continued]
Selasa, 18 Maret 2008
Mengapa Partai Demokrat di Amerika Dibenci Katolik “Saleh”?

Apa komentar Anda tentang gambar di atas? Tahukah Anda siapa “Mrs. Clinton” yang dimaksud dalam tulisan yang tertera pada potongan kardus di atas? Juga “St. Patrick” dan “Pro-Life”?
Itu adalah gambar yang mendemonstrasikan mengenai suatu pertempuran ide-ide. Anak di pembawa potongan kardus di atas juga menjadi bagian dari pertempuran ini. Ia dilatih oleh si orang tua – sejak masih usia dini – untuk memperjuangkan nilai-nilai yang dianggap oleh orang tuanya sebagai nilai-nilai yang benar: Pro-Life. Pro-Life adalah sikap yang dianut oleh mereka yang menentang aborsi dan juga hak melaksanakan aborsi. Mereka yang menganut posisi tersebut berkewajiban untuk mengkampanyekan keyakinan ini, menentang kelompok oposisi mereka: Pro-Choice atau kelompok pro-aborsi, yaitu kelompok yang mendukung kebebasan atau hak asasi bagi siapa saja yang memang ingin melakukan aborsi.
Itu adalah “pertempuran klasik” di tempat-tempat lain di seluruh dunia – bukan hanya Amerika. Foto di atas diambil dalam suatu parade St. Patrick di Pittsburgh pada 17 Maret 2008 yang lalu (http://www.lifesitenews.com/ldn/2008/mar/08031709.html). Jelaslah, kelompok Pro-Life di atas juga “bertempur” secara riil di lapangan: yaitu melawan Mrs. Clinton – yaitu Hilary Clinton – yang hadir pada acara tersebut. Kelompok Pro-Life menentang kehadiran Clinton dengan 2 alasan: St. Patrick – yang menjadi alasan adanya parade ini karena hari itu adalah hari peringatas atas orang kudus ini – dianggap sebagai seorang yang Pro-Life alias anti-aborsi. Lalu, apa kaitannya dengan Hilary Clinton? Ini terkait dengan alasan kedua: Hilary Clinton – sama seperti orang dari partai demokrat lainnya – adalah seoarng pro-choice alias pro-aborsi.
Kelompok pendemo di acara tersebut melihat kehadiran Nyonya Clinton sebagai hal yang kontradiksi: seorang pro-aborsi hadir dan ikut serta dalam parade peringatan seorang santo yang anti-aborsi!
Jelaslah, para pendemo dapat dipastikan berasal dari kelompok “Katolik yang saleh” alias orang-orang Katolik yang – jika tidak dapat dikatakan “tradisionalis” – adalah orang-orang yang konsisten dengan ajaran Katolik selama berabad-abad (at least, begitulah mereka menilai diri mereka sendiri). Mereka ditandai dengan sikap yang non-kompromistis dengan nilai-nilai modern dan liberal. Saya tidak akan masuk ke dalam diskusi apakah kelompok ini benar atau tidak dari sudut pandang Katolik (ini topik yang menarik – tapi lain kali saja ah…)
Hal yang menarik adalah: mengapa orang-orang Katolik itu membenci para demokrat yang biasanya liberal mengenai isu-isu moral? (Saya tahu persis, orang-orang Katolik itu tidak membenci pribadi-pribadi, tetapi membenci pandangan/posisi yang dianut oleh para politisi demokrat yang liberal tersebut).
Kadang, saya merasa ada keanehan – sebenarnya tidak aneh juga. Jumlah anggota kongres dan senator yang beragama atau mengaku Katolik sebenarnya cukup banyak, bahkan yang paling banyak ketimbang mereka yang mengaku berasal dari denominasi lain. Hampir di setiap aras politik di Amerika Serikat ada setidaknya 1-2 orang Katolik.
Keanehan lain – atau tepatnya sebagai “penambah seru” dari keanehan di atas – adalah bahwa walaupun orang Katolik “saleh” di Amerika sangat fanatik terhadap imannya, namun mereka tidak ragu-ragu untuk memberikan dukungan pada calon-calon dari Partai Republik yang kebanyakan beragama non-Katolik (mereka kebanyakan berasal denominasi Baptis, Methodis, atau Injili). Jadi, dari sekian banyak politisi Katolik, orang Katolik jarang mau memilih di antara orang Katolik sendiri, entah sebagai anggota legislatif, senator atau presiden. Rupanya, orang Katolik di sana juga tidak mempercayai sesama Katolik jika menyangkut urusan moral – apalagi moral publik.
Ini sebenarnya dapat disoroti dari sudut pandang teori sosial tertentu – yaitu pergeseran kelas sosial orang Katolik dalam 1 abad terakhir di Amerika – dan berbagai analisis politik lainnya (tapi sekali lagi, saya tidak mau omong tentang topik ini sekarang).
Ternyata, kesamaan platform dan visi-misi terkait bagaimana dunia ini dapat dikelola, telah membawa orang-orang yang berbeda denominasi untuk bersatu dan saling mendukung. Orang-orang Katolik “saleh” dan kaum Kristen fundamentalis di Amerika ternyata satu dan sama dalam isu-isu seperti, aborsi, homoseksualitas, dan sebagainya (ada beberapa pokok di mana mereka berbeda pendapat – tetapi itu tampaknya sering diabaikan oleh kedua kubu).
Menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2008 ini, orang-orang Katolik “saleh” lebih mendukung calon-calon dari partai republik ketimbang calon-calon dari partai Demokrat seperti Hilary Clinton dan Barrack Obama. Calon-calon dari Republik seperti John McCain dan Fred Thompson dianggap “moderat” dan “layak” oleh banyak orang Katolik “saleh” di Amerika.
Saya masih ingat ketika John F. Kerry (demokrat) maju melawan George W. Bush (republik) pada tahun 2000, orang-orang Katolik “saleh” berkampanye untuk tidak memilih Kerry – walaupun Kerry adalah seorang Katolik. Mereka mencatat reputasi Kerry yang buruk sebagai seorang Katolik – proaborsi dan sebagainya. Mereka pun sama tidak bangganya dengan satu-satunya presiden Katolik di Amerika sampai saat ini: John F. Kennedy. Bagi mereka, kedua JFK (Kerry dan Kennedy memiliki inisial huruf yang sama) tidak memberikan contoh yang baik tentang bagaimana seorang Katolik menjadi politisi dan negarawan.
Dalam wacana demokrasi, semuanya sah-sah saja. Sama seperti Hilary Clinton yang tertawa melihat tulisan yang dibawa seorang bocah yang ikut berdemonstrasi menentangnya dalam parade St. Patrick di atas, begitu juga orang lain yang anti-demokrat atau anti-Hilary atau anti-Obama harus menerima jika ternyata Hilary atau Obamalah yang akhirnya memenangkan kursi kepresidenan Amerika Serikat tahun ini.
Itulah harga yang harus dibayar oleh semua orang yang menerima sistem demokrasi. Demokrasi bukanlah tujuan; ia sekadar alat atau sarana. Saya mengartikannya lebih jauh: demokrasi adalah wahana pembelajaran bagi kita untuk menerima sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kita terima.
Itu adalah gambar yang mendemonstrasikan mengenai suatu pertempuran ide-ide. Anak di pembawa potongan kardus di atas juga menjadi bagian dari pertempuran ini. Ia dilatih oleh si orang tua – sejak masih usia dini – untuk memperjuangkan nilai-nilai yang dianggap oleh orang tuanya sebagai nilai-nilai yang benar: Pro-Life. Pro-Life adalah sikap yang dianut oleh mereka yang menentang aborsi dan juga hak melaksanakan aborsi. Mereka yang menganut posisi tersebut berkewajiban untuk mengkampanyekan keyakinan ini, menentang kelompok oposisi mereka: Pro-Choice atau kelompok pro-aborsi, yaitu kelompok yang mendukung kebebasan atau hak asasi bagi siapa saja yang memang ingin melakukan aborsi.
Itu adalah “pertempuran klasik” di tempat-tempat lain di seluruh dunia – bukan hanya Amerika. Foto di atas diambil dalam suatu parade St. Patrick di Pittsburgh pada 17 Maret 2008 yang lalu (http://www.lifesitenews.com/ldn/2008/mar/08031709.html). Jelaslah, kelompok Pro-Life di atas juga “bertempur” secara riil di lapangan: yaitu melawan Mrs. Clinton – yaitu Hilary Clinton – yang hadir pada acara tersebut. Kelompok Pro-Life menentang kehadiran Clinton dengan 2 alasan: St. Patrick – yang menjadi alasan adanya parade ini karena hari itu adalah hari peringatas atas orang kudus ini – dianggap sebagai seorang yang Pro-Life alias anti-aborsi. Lalu, apa kaitannya dengan Hilary Clinton? Ini terkait dengan alasan kedua: Hilary Clinton – sama seperti orang dari partai demokrat lainnya – adalah seoarng pro-choice alias pro-aborsi.
Kelompok pendemo di acara tersebut melihat kehadiran Nyonya Clinton sebagai hal yang kontradiksi: seorang pro-aborsi hadir dan ikut serta dalam parade peringatan seorang santo yang anti-aborsi!
Jelaslah, para pendemo dapat dipastikan berasal dari kelompok “Katolik yang saleh” alias orang-orang Katolik yang – jika tidak dapat dikatakan “tradisionalis” – adalah orang-orang yang konsisten dengan ajaran Katolik selama berabad-abad (at least, begitulah mereka menilai diri mereka sendiri). Mereka ditandai dengan sikap yang non-kompromistis dengan nilai-nilai modern dan liberal. Saya tidak akan masuk ke dalam diskusi apakah kelompok ini benar atau tidak dari sudut pandang Katolik (ini topik yang menarik – tapi lain kali saja ah…)
Hal yang menarik adalah: mengapa orang-orang Katolik itu membenci para demokrat yang biasanya liberal mengenai isu-isu moral? (Saya tahu persis, orang-orang Katolik itu tidak membenci pribadi-pribadi, tetapi membenci pandangan/posisi yang dianut oleh para politisi demokrat yang liberal tersebut).
Kadang, saya merasa ada keanehan – sebenarnya tidak aneh juga. Jumlah anggota kongres dan senator yang beragama atau mengaku Katolik sebenarnya cukup banyak, bahkan yang paling banyak ketimbang mereka yang mengaku berasal dari denominasi lain. Hampir di setiap aras politik di Amerika Serikat ada setidaknya 1-2 orang Katolik.
Keanehan lain – atau tepatnya sebagai “penambah seru” dari keanehan di atas – adalah bahwa walaupun orang Katolik “saleh” di Amerika sangat fanatik terhadap imannya, namun mereka tidak ragu-ragu untuk memberikan dukungan pada calon-calon dari Partai Republik yang kebanyakan beragama non-Katolik (mereka kebanyakan berasal denominasi Baptis, Methodis, atau Injili). Jadi, dari sekian banyak politisi Katolik, orang Katolik jarang mau memilih di antara orang Katolik sendiri, entah sebagai anggota legislatif, senator atau presiden. Rupanya, orang Katolik di sana juga tidak mempercayai sesama Katolik jika menyangkut urusan moral – apalagi moral publik.
Ini sebenarnya dapat disoroti dari sudut pandang teori sosial tertentu – yaitu pergeseran kelas sosial orang Katolik dalam 1 abad terakhir di Amerika – dan berbagai analisis politik lainnya (tapi sekali lagi, saya tidak mau omong tentang topik ini sekarang).
Ternyata, kesamaan platform dan visi-misi terkait bagaimana dunia ini dapat dikelola, telah membawa orang-orang yang berbeda denominasi untuk bersatu dan saling mendukung. Orang-orang Katolik “saleh” dan kaum Kristen fundamentalis di Amerika ternyata satu dan sama dalam isu-isu seperti, aborsi, homoseksualitas, dan sebagainya (ada beberapa pokok di mana mereka berbeda pendapat – tetapi itu tampaknya sering diabaikan oleh kedua kubu).
Menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2008 ini, orang-orang Katolik “saleh” lebih mendukung calon-calon dari partai republik ketimbang calon-calon dari partai Demokrat seperti Hilary Clinton dan Barrack Obama. Calon-calon dari Republik seperti John McCain dan Fred Thompson dianggap “moderat” dan “layak” oleh banyak orang Katolik “saleh” di Amerika.
Saya masih ingat ketika John F. Kerry (demokrat) maju melawan George W. Bush (republik) pada tahun 2000, orang-orang Katolik “saleh” berkampanye untuk tidak memilih Kerry – walaupun Kerry adalah seorang Katolik. Mereka mencatat reputasi Kerry yang buruk sebagai seorang Katolik – proaborsi dan sebagainya. Mereka pun sama tidak bangganya dengan satu-satunya presiden Katolik di Amerika sampai saat ini: John F. Kennedy. Bagi mereka, kedua JFK (Kerry dan Kennedy memiliki inisial huruf yang sama) tidak memberikan contoh yang baik tentang bagaimana seorang Katolik menjadi politisi dan negarawan.
Dalam wacana demokrasi, semuanya sah-sah saja. Sama seperti Hilary Clinton yang tertawa melihat tulisan yang dibawa seorang bocah yang ikut berdemonstrasi menentangnya dalam parade St. Patrick di atas, begitu juga orang lain yang anti-demokrat atau anti-Hilary atau anti-Obama harus menerima jika ternyata Hilary atau Obamalah yang akhirnya memenangkan kursi kepresidenan Amerika Serikat tahun ini.
Itulah harga yang harus dibayar oleh semua orang yang menerima sistem demokrasi. Demokrasi bukanlah tujuan; ia sekadar alat atau sarana. Saya mengartikannya lebih jauh: demokrasi adalah wahana pembelajaran bagi kita untuk menerima sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kita terima.
Jumat, 14 Maret 2008
"Abbey Road" dalam kenangan…
Saya sebulan ini lagi “sibuk” mendengar kembali koleksi lawas favorit saya: The Beatles. Saya suka band ini sejak saya duduk di sekolah menengah pertama (SMP) tahun 1980-an dulu. Saya masih ingat, waktu itu format media musik yang paling umum adalah … KASET.
Harga kaset waktu itu tidak lebih dari 2000 rupiah (persisnya saya agak lupa). Tentu, itu jangan dinilai dengan nilai mata uang sekarang. Saya tidak tahu apakah uang sebesar itu lumayan besar atau justru lumayan “murah” untuk ukuran sekarang.
Saya hampir selalu membeli kaset-kaset Beatles dengan menggunakan uang jajan yang diberikan oleh orang tua. Lumayan. Saya masih ingat, waktu itu saya sering mendapat sekitar 500 rupiah sebagai uang jajan saya setiap hari. Jika 1 kaset waktu itu sekitar 2000 rupiah, berarti saya harus tidak jajan sebanyak 4 hari (kebetulan saya berjalan kaki untuk berangkat dan pulang sekolah).
Pengorbanan itu – kalau mau disebut pengorbanan :) -- tidaklah sia-sia. Saya menjadi kolektor kaset Beatles yang cukup lengkap. Waktu itu saya membeli seri “The Compleat Beatles” keluaran Aquarius.
Tapi… itu adalah dulu.
Pada tahun 1990an (sekitar 10-15 tahun kemudian), saya mulai memutuskan untuk mengubah format media musik favorit saya. Masih dengan sistem menabung :), saya mulai mengganti kaset-kaset Beatles saya dengan format CD.
Well, beberapa minggu terakhir saya sering mendengarkan Abbey Road, salah satu masterpiece band asal Liverpool, Inggris, ini. Lagu-lagu dalam album tersebut sungguh mempesona saya, apalagi jika mengingat bahwa mereka membuatnya pada tahun 1960-an (akhir). Saya sering menyebut lagu-lagu dalam album tersebut sebagai “alternatif rock”. Iringan lagu-lagu yang dibawakan secara medley pada side B (ini kan sebutan khas media kaset, ya?) benar-benar memperlihatkan rock n roll dalam tahapnya yang paling lanjut – tanpa berubah menjadi progresif rock atau hard rock (2 jenis yg terakhir ini diteruskan secara baik oleh band2 seperti Yes dan Led Zeppelin). Ya, Abbey Road (dan juga White Album serta Sgt. Pepper’s – kebetulan tahun rilisnya berurutan: 1967, 1968, 1969) adalah salah satu jembatan budaya dan musik rock pada waktu itu.

.gif)

Harga kaset waktu itu tidak lebih dari 2000 rupiah (persisnya saya agak lupa). Tentu, itu jangan dinilai dengan nilai mata uang sekarang. Saya tidak tahu apakah uang sebesar itu lumayan besar atau justru lumayan “murah” untuk ukuran sekarang.
Saya hampir selalu membeli kaset-kaset Beatles dengan menggunakan uang jajan yang diberikan oleh orang tua. Lumayan. Saya masih ingat, waktu itu saya sering mendapat sekitar 500 rupiah sebagai uang jajan saya setiap hari. Jika 1 kaset waktu itu sekitar 2000 rupiah, berarti saya harus tidak jajan sebanyak 4 hari (kebetulan saya berjalan kaki untuk berangkat dan pulang sekolah).
Pengorbanan itu – kalau mau disebut pengorbanan :) -- tidaklah sia-sia. Saya menjadi kolektor kaset Beatles yang cukup lengkap. Waktu itu saya membeli seri “The Compleat Beatles” keluaran Aquarius.
Tapi… itu adalah dulu.
Pada tahun 1990an (sekitar 10-15 tahun kemudian), saya mulai memutuskan untuk mengubah format media musik favorit saya. Masih dengan sistem menabung :), saya mulai mengganti kaset-kaset Beatles saya dengan format CD.
Well, beberapa minggu terakhir saya sering mendengarkan Abbey Road, salah satu masterpiece band asal Liverpool, Inggris, ini. Lagu-lagu dalam album tersebut sungguh mempesona saya, apalagi jika mengingat bahwa mereka membuatnya pada tahun 1960-an (akhir). Saya sering menyebut lagu-lagu dalam album tersebut sebagai “alternatif rock”. Iringan lagu-lagu yang dibawakan secara medley pada side B (ini kan sebutan khas media kaset, ya?) benar-benar memperlihatkan rock n roll dalam tahapnya yang paling lanjut – tanpa berubah menjadi progresif rock atau hard rock (2 jenis yg terakhir ini diteruskan secara baik oleh band2 seperti Yes dan Led Zeppelin). Ya, Abbey Road (dan juga White Album serta Sgt. Pepper’s – kebetulan tahun rilisnya berurutan: 1967, 1968, 1969) adalah salah satu jembatan budaya dan musik rock pada waktu itu.
BTW, isi postingan saya ini sebenarnya gak ada hubungannya dengan isi album, tetapi terkait dengan gambar2 yg saya temukan di dunia online terkait dengan cover album tersebut. Gambar di atas adalah gambar asli dari cover album tersebut. Semua orang pasti sudah banyak yang tahu (kalau gak tahu, ya sekarang mulai diketahui secara resmi...)
Namun bagaimana dengan gambar berikut ini? Itu adalah versi resmi (eh, resmi gak sih ya?) plesetan ala the Simpsons atas album tersebut.

Cukup meyakinkan memang: Homer paling depan (wajar karena dia adalah kepala keluarga seperti John yang adalah frontman band ini); Marge di tempat kedua, mengambil tempat Ringo (Ringo = Marge = tipe pengalah dalam suatu band/keluarga?); Bart di tempat ketiga, persis di posisi Paul (Paul = Bart = karakter utama di belakang layar band ini atau keluarga ini. Maksudnya sering menjadi “pencetus” karya2: entah bermutu [Paul] atau tak bermutu [Bart]… Hehehehe); Lisa di tempat keempat, mengambil tempat persis George (jelas personifikasinya: Lisa adalah orang yang juga pendiam, tetapi sebenarnya intelek dan cukup soulful/spiritualis, sama dengan George).
Ada beberapa versi lagi seperti di bawah ini:
Ada beberapa versi lagi seperti di bawah ini:
.gif)

Bagaimana? Sudah ada gambar yang menurut Anda cukup mewakili suasana hati, minat, dan imajinasi Anda? Kalau belum, coba cari saja di jagat online, masukkan keyword: Abbey Road, mungkin Anda akan menemukan yg serupa!
Humor Mister Bean
1. TUMOR OTAK
Dokter: Dengan menyesal harus saya katakan pada Anda bahwa Anda terkena tumor di otak.
Mr. Bean: Horee!!! (melompat kegirangan)
Dokter: Anda mengerti maksud saya bukan?
Mr. Bean: Tentu saja, apakah Anda kira saya bodoh?
Dokter: Mengapa Anda begitu gembira?
Mr. Bean: Karena itu membuktikan bahwa saya mempunyai otak.
2. MR. BEAN DI SEKOLAH
Guru: Berapakah 5 plus 4?
Mr. Bean: 9
Guru: Berapakah 4 plus 5?
Mr. Bean: He, he, Anda mau menjebak saya, Anda hanya membalik hitungannya, jawabnya 6!!
3. MR. BEAN DI APOTIK
Mr. Bean: Saya ingin membeli vitamin untuk cucu saya.
Karyawan: Vitamin apa, A, B atau C?
Mr. Bean: Apa saja, cucu saya belum bisa membaca!!
4. MR. BEAN SEDANG DI BELAKANG ORANG YANG MENGANTRI DI ATM
Orang: Apa yang kamu lihat?
Mr. Bean: Saya tahu nomor PIN Anda, hee, hee...
Orang: OK, berapakah nomor PIN saya?
Mr. Bean: Empat buah asterisk (*).
(red. Asterisk = tanda bintang)
5. MR. BEAN SEDANG MENGOBROL DENGAN TEMAN
Teman: Bagaimana dengan kaset video yang Anda pinjam dari saya kemarin? Bagus?
Mr. Bean: Apanya yang bagus, tadinya saya kira itu sebuah film horor. Ternyata tidak ad gambarnya.
Teman: Apa judul film itu?
Mr. Bean: Head Cleaner.
6. IBU MR. BEAN MENINGGAL
Mr. Bean: (menangis) Dokter bilang, ibu saya meninggal.
Teman: Saya ikut berduka cita, sahabatku.
Dua menit kemudian Mr. Bean menangis lagi bahkan lebih keras.
Teman: Ada apa lagi?
Mr. Bean: Kakak saya baru menelepon, ibunya juga meninggal.
7. MR. BEAN MENGHADIRI RAPAT
Rekan: Maaf saya terlambat. Saya terjebak di dalam lift selama 4 jam karena listrik padam.
Mr. Bean: Tidak apa, saya juga … saya terjebak di eskalator selama 3 jam.
8. PELAJARAN MENGEJA
Anak Mr. Bean: Pa, bagaimana ejaan kata “successful” … dengan satu c atau dua c?
Mr. Bean: Beri saja tiga agar yakin.
9. MR. BEAN KE BIOSKOP
Teman: Mengapa kamu mengajak 18 teman menonton bioskop.
Mr. Bean: Karena di bawah 18 tidak boleh.
10. MR. BEAN MEMBELI TV
Mr. Bean: Apakah ada TV warna?
Penjual: Ya!
Mr. Bean: Beri saya yang hijau.
11. MR. BEAN MEMBELI TERMOS
Mr. Bean: Barang apakah ini?
Penjual: Ini adalah termos.
Mr. Bean: Untuk apa itu?
Penjual: Membuat yang panas tetap panas, yang dingin tetap dingin.
Mr. Bean: Ha, ha. Saya akan beli.
Besoknya Mr. Bean ke kantor dengan membawa termos.
Bos: Mengapa Anda membawa termos?
Mr. Bean: Karena membuat yang panas tetap panas, yang dingin tetap dingin.
Bos: Anda isi apa?
Mr. Bean: Dua gelas kopi dan secangkir es krim.
12. MR. BEAN DI KANTOR
Mr. Bean sangat teliti, setelah membuat fotocopy ia selalu mengecek apakah hasil kopiannya cocok dengan aslinya.
13. MR. BEAN DI TENGAH BADAI PETIR
Mr. Bean selalu tersenyum ketika ada badai petir karena ia mengira sedang dipotret.
14. MR. BEAN MENELPON
Mr. Bean bingung tidak bisa menelpon 911.
Karena di situ tidak ada angka 11.
15. MR. BEAN BEKERJA DENGAN KOMPUTER
Mr. Bean membeli komputer baru dan menggunakannya. Ketika ia menemui kesulitan, ia
memutuskan untuk menekan tombol “Help”.
Tak lama kemudian ia menjadi bingung dan menelpon toko komputer.
Mr. Bean: Saya menekan tombol F1 untuk meminta bantuan, tetapi sudah setengah jam tidak ada orang datang membantu saya.
16. MR. BEAN KE DOKTER
Mr. Bean datang ke dokter dengan kedua telinganya luka bakar.
Dokter: Apa yang terjadi?
Mr. Bean: Saya sedang menyeterika dan telepon berdering, saya salah mengambil
gagang telepon,
tidak sengaja saya mengangkat seterika dan menempelkannya di telinga saya.
Dokter: Wow..! Tetapi apa yang terjadi dengan telinga Anda yang satu lagi?
Mr. Bean: Teman saya yang goblok itu menelepon lagi.
17. MR. BEAN BERMAIN JISSAW PUZZLE
Setelah berhasil menyusun suatu jigsaw puzzle dengan bangga ia memperlihatkan pada temannya.
Mr. Bean: Saya hanya memerlukan 5 bulan untuk menyusunnya.
Teman: Mengapa begitu lama?
Mr. Bean: Lama? Lihat ini dikotaknya tertulis “Untuk 4-7 tahun”.
Senin, 04 Februari 2008
Renungan Basi: Banjir Jakarta…
Benar. Anda tidak keliru membacanya. Ini renungan basi. Benar-benar basi: banjir. Mengapa basi? Sudah banyak refleksi dan renungan – tentunya tidak termasuk analisis ilmiah dan opini “tingkat tinggi – terkait dengan banjir di Jakarta.
Lebih dari sekadar menjadi bahan renungan, bahan diskusi, bahan analisis atau malah debat kusir di kursi-kursi kosong di parlemen, banjir di Jakarta sudah memasuki tahap berikut ini: tahap acuh tak acuh. Banjir di Jakarta sudah memasuki tahap ketika orang-orang malas lagi membahasnya, membicarakannya atau sekadar mengingatnya dalam doa-doa mereka.
Itu yang terjadi pada banjir yang melanda Jakarta pada Jumat 1 Februari 2008 kemarin. Saya heran. Benar-benar heran, karena ketika pulang dari kantor pada hari itu dan ikut rapat dalam suatu perkumpulan, saya tidak memperoleh tanggapan yang “memadai” (baca: diharapkan) dari rekan-rekan dalam rapat ketika saya membicarakan banjir. Bukannya mereka orang yang rajin ikut rapat sehingga materi di luar rapat diharamkan untuk dibicarakan, tetapi mereka benar-benar tidak berminat lagi dengan masalah banjir ini. Mereka tidak lagi berbicara tentang betapa hebohnya ketika mereka harus berkeliling atau “memutar” atau “mencari-cari jalan” karena terhadang banjir. Mereka memang mengalaminya, tetapi tersirat atau tersurat, mereka merasa tidak asyik lagi membicarakan hal itu. Entah mengapa. Apakah karena mereka sudah bosan?
Atau, apakah karena mereka bukan korban banjir yang sesungguhnya, yaitu orang-orang yang rumahnya tergenang sekian sentimeter atau sekian meter oleh air banjir? Eiiits, jangan salah paham. Dari orang-orang yang rumahnya tergenang pun, saya tidak memperoleh tanggapan yang “memadai”. Mereka hanya bilang, “Iya. Air naik mulai kemarin siang, dan baru surut menjelang dini hari tadi. Cuma selutut.” Lalu mereka mulai beralih ke topik lain. Apakah mereka malu karena rumah mereka kebanjiran? Rupanya tidak. Mereka tetap memberikan “informasi” yang diperlukan oleh orang-orang yang ingin tahu, seperti berapa ketinggian banjir, kapan surutnya, etc, etc. Apakah mereka sudah “kebal” dan “terbiasa” dengan banjir? Ini masih bisa diperdebatkan. Sesaat, mereka tampaknya memang sudah “terbiasa” sehingga agak “bosan” berbicara tentang soal kebanjiran ini.
Di balik fenomena ini, tampaknya ada semacam “pelembagaan sikap”, entah dari korban banjir, baik langsung maupun tidak langsung. Sikap yang “terlembagakan” tersebut – sayangnya – adalah sikap “acuh tak acuh” atau semacam “apa boleh buat”. Hal yang paling parah adalah sikap sikap ini juga menjadi umum di kalangan wakil rakyat (DPRD Jakarta) dan para decision maker di kota ini (baca: gubernur dan para aparatnya). Bayangkan, bagaimana jika para wakil rakyat dan gubernur juga memiliki sikap yang sama: apa boleh buat, mau diapakan lagi.
Barangkali, gubernur dan wakil rakyat menjadi orang-orang yang paling males dalam membicarakan banjir. Mereka sudah semakin terbiasa, rakyat semakin terbiasa – dan gilanya para korban banjir pun semakin terbiasa (karena toh tidak ada gunanya mengharapkan perubahan).
Bahkan, saya pun memiliki sikap sama karena tulisan ini pun diberi judul: “renungan basi: banjir Jakarta”. Apa memang benar renungan tentang banjir di Jakarta sudah memasuki tahap “basi” sehingga tidak enak lagi untuk dibicarakan atau dibahas. Benar-benar gila…
Lebih dari sekadar menjadi bahan renungan, bahan diskusi, bahan analisis atau malah debat kusir di kursi-kursi kosong di parlemen, banjir di Jakarta sudah memasuki tahap berikut ini: tahap acuh tak acuh. Banjir di Jakarta sudah memasuki tahap ketika orang-orang malas lagi membahasnya, membicarakannya atau sekadar mengingatnya dalam doa-doa mereka.
Itu yang terjadi pada banjir yang melanda Jakarta pada Jumat 1 Februari 2008 kemarin. Saya heran. Benar-benar heran, karena ketika pulang dari kantor pada hari itu dan ikut rapat dalam suatu perkumpulan, saya tidak memperoleh tanggapan yang “memadai” (baca: diharapkan) dari rekan-rekan dalam rapat ketika saya membicarakan banjir. Bukannya mereka orang yang rajin ikut rapat sehingga materi di luar rapat diharamkan untuk dibicarakan, tetapi mereka benar-benar tidak berminat lagi dengan masalah banjir ini. Mereka tidak lagi berbicara tentang betapa hebohnya ketika mereka harus berkeliling atau “memutar” atau “mencari-cari jalan” karena terhadang banjir. Mereka memang mengalaminya, tetapi tersirat atau tersurat, mereka merasa tidak asyik lagi membicarakan hal itu. Entah mengapa. Apakah karena mereka sudah bosan?
Atau, apakah karena mereka bukan korban banjir yang sesungguhnya, yaitu orang-orang yang rumahnya tergenang sekian sentimeter atau sekian meter oleh air banjir? Eiiits, jangan salah paham. Dari orang-orang yang rumahnya tergenang pun, saya tidak memperoleh tanggapan yang “memadai”. Mereka hanya bilang, “Iya. Air naik mulai kemarin siang, dan baru surut menjelang dini hari tadi. Cuma selutut.” Lalu mereka mulai beralih ke topik lain. Apakah mereka malu karena rumah mereka kebanjiran? Rupanya tidak. Mereka tetap memberikan “informasi” yang diperlukan oleh orang-orang yang ingin tahu, seperti berapa ketinggian banjir, kapan surutnya, etc, etc. Apakah mereka sudah “kebal” dan “terbiasa” dengan banjir? Ini masih bisa diperdebatkan. Sesaat, mereka tampaknya memang sudah “terbiasa” sehingga agak “bosan” berbicara tentang soal kebanjiran ini.
Di balik fenomena ini, tampaknya ada semacam “pelembagaan sikap”, entah dari korban banjir, baik langsung maupun tidak langsung. Sikap yang “terlembagakan” tersebut – sayangnya – adalah sikap “acuh tak acuh” atau semacam “apa boleh buat”. Hal yang paling parah adalah sikap sikap ini juga menjadi umum di kalangan wakil rakyat (DPRD Jakarta) dan para decision maker di kota ini (baca: gubernur dan para aparatnya). Bayangkan, bagaimana jika para wakil rakyat dan gubernur juga memiliki sikap yang sama: apa boleh buat, mau diapakan lagi.
Barangkali, gubernur dan wakil rakyat menjadi orang-orang yang paling males dalam membicarakan banjir. Mereka sudah semakin terbiasa, rakyat semakin terbiasa – dan gilanya para korban banjir pun semakin terbiasa (karena toh tidak ada gunanya mengharapkan perubahan).
Bahkan, saya pun memiliki sikap sama karena tulisan ini pun diberi judul: “renungan basi: banjir Jakarta”. Apa memang benar renungan tentang banjir di Jakarta sudah memasuki tahap “basi” sehingga tidak enak lagi untuk dibicarakan atau dibahas. Benar-benar gila…
Langganan:
Postingan (Atom)